
Pagi hari yang terik dengan suasana orang berlalu lalang mengangkat kerangka panggung dan sebagainya, untuk pertunjukan wayang nanti malam dalam rangka merayakan kelulusan putranya menjadi taruna TNI angkatan darat.
# : "ramene massyallah" herannya seorang gadis muda membawa pemukul gong yang sedang dia mainkan
Andre : " wes mestine, nek aku sing rabi ora ming kampung sak kutha bakal rame" ( sudah semestinya, jika aku yang menikah jangankan kampung satu kota pasti ramai )
Rhea : "iki ora rabi tapi syukuran kangmas" (ini bukan pernikahan tapi syukuran kakak)
Andre : "itu hanya sebuah pengandaian nyimas, karena Laras yang polos ini membuatku ingin melahapnya, jika saja dia tidak menjaga perkataannya"
Laras : "yo rak ngono barang to mas" (ya tidak begitu juga dong kak)
Rhea hanya bisa memutar bola matanya melihat kakak sepupunya yang tidak bisa menahan amarah jika berhadapan dengan Laras, adik kecilnya yang notabenenya adalah keponakan Rhea sendiri. Rhea memilik seorang kakak tiri perempuan yang usianya terpaut jauh, ibu dari kakak Rhea meninggal akibat kecelakaan saat umurnya masih 10 tahun, 2 tahun kemudian ayahnya menikah dengan ibu Rhea dan lahirlah Rhea Prita Srikandi, walaupun Rhea adalah seorang adik tiri namun kakaknya sangatlah menyayanginya, kakak Rhea sudah menikah dan memiliki seorang putri bernama Laras, umur Laras hanya terpaut 4 tahun dari Rhea, sehingga Rhea menganggapnya seperti adik kecilnya.
Laras : "mbak liat deh mas itu nyebelin kan" memeluk Rhea.
Rhea yang mudah luluh dengan tingkah manja adiknya tidak tahan untuk tidak tersenyum.
Rhea : "memang kangmas itu nyebelin, jadi kue brownies di dapur buat kamu aja ya" mengedipkan mata dengan senyum nakalnya
Laras : "wleee, kue brownies khusus buatan mbak Rhea buat aku semua, mas gak boleh minta sedikitpun!!" meledek Andre
Andre : "gak bisa gitu dong, mas juga punya hak makan kue itu"
Rhea hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol keduanya.
......................
*room chat*
Zena : "hari ini ada pertunjukan wayang di kampung lo kan re? gimana kalau kita ajak kak Anjani dan lain lain mungkin mereka bisa dapat inspirasi dan lebih termotivasi lagi"
Rhea : "hm gue tanyain dulu itu umum atau khusus buat kampung gue aja"
Nayla : " ada oppa oppa nya juga gak re? hehe"
Zena : "oppa apaan mending lo jagain ayang lo siapa tu namanya je..."
Nayla : "Jeno"
Zena : "nah jagain si Jeno biar gak kabur"
Rhea : "udah lah zen kalau Nayla ikut kan jadi lebih terinspirasi dia nya"
Nayla : "nah bener tuh Zen, @Rhea gomawoyo"
Rhea : "gue udah tanya, katanya si boleh boleh aja"
lembaran buku diary yang tertiup angin membuka sajak baru dan kehidupan baru "harmoni dan irama menyelaraskan keceriaan, pukulan demi pukulan menyeimbangkan ritme, menambah gelora kebajikan dan kemurnian" upload...
Rhea : "okey chapter ini selesai, jadi gue bisa siap siap untuk nanti" meregangkan otot-otot lengannya yang kaku
Tidak disangka tulisan yang awalnya iseng bisa sepopuler ini ( ujar Rhea dalam hati ), hati Rhea yang begitu gembira tiba-tiba teringat seseorang yang tengah melafalkan syair buatannya dibawah pohon rindang dengan mata yang memikat.
Rhea : "astaghfirullah, kenapa jadi pria gila itu yang gue pikirin, sadarlah Rhea sadar"
Andre : "sudah istighfar nya? bisa bantuin aku sebentar?"
Rhea : "sejak kapan kamu datang ngagetin aja, ya udah ayo".
Malam yang dingin, jalan jalan berhiaskan ornamen lampu yang menyilaukan ketiga bersaudara berjalan membuka jalan kegelapan menuju sinar rembulan.
Laras : "mas duduk sana aja yuk" menggandeng tangan Andre.
Andre : " sek to duk" (bentar dong nak)
Rhea : "kangmas duluan aja sama Laras aku mau nungguin temen temen dulu"
Laras : "mbak aja mau kita duluan ayo si mas udah mau mulai itu"
Andre : "kamu yakin?"
Rhea : "Iya tolong jaga Laras yaa"
Andre : "nggih nggih, kalau ada apa-apa bilang"
Rhea mengangguk, mempersilahkan kedua saudaranya pergi dia juga pergi ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya untuk bertemu teman-teman organisasinya.
brukkk....
Rhea : "eh...maaf mas..." melotot dengan terkejut
# : "don't worry nona manis" tersenyum merekah
Rhea : "Lo lagi"
# : "panggil orang itu yang sopan dengan namanya nona manis"
Rhea : "berhenti menggodaku dasar pria gila" meninggalkan pria tersebut
# : " tidak kali ini jangan tinggalin gue kaya biasanya re" menahan pergelangan tangan Rhea.
Rhea menghela nafas sangat panjang betapa tidak beruntungnya dia bertemu orang yang seharusnya dia hindari selamanya.