
Papa : "papa gak mau tau, kamu harus bisa memenuhi standar buat nerusin perusahaan kita"
Arsa : "iya pa aku paham, ganen masuk kamar dulu"
Mama : "nen, ganen" memanggil Arsa
Mama : "papa si terlalu keras, jadi murung kan anaknya"
Papa : "dia anak kita satu-satunya ma, kalau kita terus manjain, dia gak bakal jadi apa-apa, ganen anak yang genius dia tidak akan mengecewakan kedua orangtuanya untuk kedua kalinya"
Mendengar percakapan orang tuanya Arsa hanya mampu memutar bola matanya, dan menjatuhkan tubuhnya di kasur mengingat betapa tidak puasnya orangtuanya akan pencapaian Arsa selama ini.
......................
# : "ikut gak lo nanti?"
Arsa : "gak, males gue!"
# : "biar gue tebak, bokap lo?"
Arsa : "gak habis pikir gue, ada ya seorang ayah lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada kebahagiaan anaknya"
# : "ya, mereka cuma pengen yang terbaik buat anaknya"
Arsa : "gue ragu le"
# : "sudahlah Leon akan menghiburmu sekarang"
Arsa : "gak ada yang bisa menghiburku sebaik dia, jangan ngarep deh lo"
Leon : " hemm apa Rama sedang merindukan Shinta?"
Arsa : "bukan Shinta tapi Srikandi lah yang merindukan Arjuna"
Arsa tersenyum misterius, Leon yang melihatnya hanya kebingungan dengan apa yang Arsa pikirkan sebenarnya.
Leon : "hei sehebatnya Arjuna memiliki banyak istri, lebih hebat Nakula yang sudah tampan sejak lahir" tersenyum bangga
Arsa : "udah halunya? kalau udah, temenin gue sholat"
Leon : "temenin dan mengikutsertakan itu berbeda bro"
Arsa : "kenapa si, sholat itu bikin hati dan pikiran adem"
Leon : "gue tau, masalahnya gue non muslim!!!"
Arsa : "gue lupa" tertawa terbahak-bahak
Leon : "lo masih berpikir gue mau login ya?"
Arsa : "apa salahnya si itung-itung menyebarkan hal positif, dapet pahala kan?"
Leon yang mendengarnya hanya tersenyum kaku sembari mengikuti Arsa menuju masjid terdekat basecamp mereka.
Arsa yang terlihat seperti seorang playboy, berandal, dan tidak kompeten sebenarnya memiliki sisi yang lembut, genius, dan taat akan agama yang dianutnya. Meskipun ayahnya sangat menentang impiannya dan terlalu mengatur hidupnya, tapi beliau sangat memperhatikan moral dan nilai religius putranya.
Nada dering ponsel membangunkan lamunan Leon yang tengah menunggu sahabatnya.
~ ROAD RACE MALAM INI~
JAM : 22.00 WIB
PESERTA : UMUM
HADIAH : JUARA 1 UANG Rp. 5.000.000,00
JUARA 2 UANG Rp. 2.500.000,00
JUARA 3 NOVEL KISAH CINTA 2 SRIKANDI
Karya : The Secret of Rhea.
Mata Leon membelalak terkejut membuat Arsa yang menuju ke arahnya keheranan.
Arsa : "kenapa Lo?"
Leon : menepuk-nepuk punggung Arsa "bro liat, ini novel yang viral itu kan?"
Arsa yang mendengarnya merebut hp Leon terburu-buru
Arsa : "ini buku kesukaan gue bro, daftarin gue sekarang!!"
Leon : "udah, gak habis pikir gue apa si hebatnya buku membosankan itu?"
Arsa : "lo kira, buku ini baru diterbitkan dan cetakannya belum diperjualbelikan, isinya beuhhh mantap bro"
Leon : "online lah, gak mungkin gak ada"
Arsa : "ada, tapi berbayar tiap episodenya, makanya gue harus dapetin buku itu"
Leon yang termenung berfikir "gak mungkin yang ngadain sang penulis sendiri kan" membuatnya bingung hingga menghiraukan semangat dan ambisi Arsa, di sisi lain ada seorang gadis bersandar sembari menutup matanya seperti menanyakan pendapat dengan dirinya sendiri.
# : "kamu pelit deh re, kan kamu bisa cetak lagi ayolah" memohon kepada gadis didepannya
Rhea : "kamu tau kan seberapa langka buku yang kau minta itu?"
# : "iya kamu kan punya dua, jadi apa masalahnya?"
Rhea : "ndre, buku ini akan diperjualbelikan 3 minggu lagi, kamu tunggu aja sampai harinya tiba!"
Andre : "re ayolah, gak mungkin kan aku memecahkan seluruh tabunganku untuk membayar taruhan itu"
Rhea : "lalu untuk apa bertaruh jika itu tidak menguntungkan? kamu yang bermasalah kamu juga yang harus menyelesaikannya sendiri "
Andre : "aku tahu re itu salah namanya juga khilaf, kami cuma bercanda tapi mereka justru menganggapnya serius, kami harus memberikan hal berharga kami untuk membayarnya, yang lain punya uang sedangkan aku gak punya apa-apa, aku ingat kamu penulis novel terkenal jadi, aku minta tolong sama kamu re boleh ya"
# : "kasian kangmas, mbak gak mau bantuin?"
Rhea : "ini bukan masalah bantuin atau nggak, kangmas aja gak merasa bersalah sama sekali lalu apa jaminannya kalau ini gak bakal terulang, Laras mending kamu masuk"
Laras : "gak mau, sebelum mbak bilang iya ke kangmas"
Rhea : "jangan keras kepala, mbak bilang masuk kamar sekarang"
Laras : "gak mau, kalau mbak gak bisa nolong kangmas lara aja yang nolongin"
Melihat adiknya yang sangat kekanak-kanakan dan keras kepala tentang sesuatu yang berkaitan dengan Andre membuat Rhea pusing, mau tidak mau Rhea harus menuruti adiknya jika tidak ingin adiknya berbuat hal yang tidak semestinya.
Rhea akhirnya menyetujui permintaan Andre, Laras yang bahagia langsung memeluk kedua kakaknya itu, niat Laras sebenarnya hanya ingin membantu Andre yang paling dia sayang dalam hidupnya, karena Andre selalu perhatian dan penuh kasih membuat Laras begitu menyayanginya.