ABHINAYA SRIKANDI

ABHINAYA SRIKANDI
CHAPTER 4



Rhea : " udah gue bilang gak usah pegang-pegang bukan muhrim, lo emang susah dibilangin apa gimana sih!!" pinta Rhea memarahi


# : "makanya diajak ngobrol itu dengerin bukannya ditinggal mulu"


Rhea : "ya udah maaf..."


# : "bilang apa lo tadi, gak denger gue..." meledek Rhea


Rhea : "gue minta maaf sama lo Arsa Riya Ganendra, puas lo"


Arsa : "tulus gak sih, lo jutek amat dah tiap kali ketemu gue"


Rhea : "tadinya tulus cuman lo yang ngeselin, udah ah minggir gue mau pergi.


Sinar rembulan menyinari sepasang sejoli dalam pertengkaran memilukan, bintang-bintang yang menonton sebagai juri menilai keduanya, langit malam menjadi tim netral dalam perselisihan.


Arsa : "wait a minute, pretty girl" menghentikan Rhea


# : "siapa anda berani menghalangi adik perempuan saya" ucap seseorang memecahkan suasana malam ini


Rhea : "ndre, kenapa kamu disini Laras mana?"


Andre mengacuhkan pertanyaan Rhea, dan memfokuskan diri dengan pria yang menahan tangan Rhea.


Andre : "Rhea, sebaiknya kamu temui Laras, biar aku selesain ini!!" pinta Andre dengan tegas


Rhea : "temen-temen ku belum pada dateng ndre, gimana kalau mereka tersesat nanti?"


Andre : "aku yang urus, udah sana"


Rhea akhirnya meninggal kedua pria tersebut, pikirannya berkecamuk tak tentu, apakah aman meninggalkan dua burung hantu yang tengah mengobarkan api di malam gelap seperti ini? Rhea hanya bisa percaya bahwa kakak sepupunya tidak akan membuat masalah seperti dirinya.


Andre : "lo siapa berani ganggu adek gue ha?" menarik kerah Arsa.


Rhea salah jika Andre tidak membuat masalah, sedangkan Andre sendiri tidak bisa menahan emosi jika menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan adik sepupunya itu.


Arsa : "astaga santai dong mas, gue cuman ngobrol sama dia" memenangkan Andre


Andre : "kalau lo macem-macem, abis lo ma gue"


# : "mas Andre? loh ini kan..." seorang gadis melerai pertengkaran mereka


Andre : "lo kenal dia Zen?"


Zena : "iya, dia yang waktu itu minta maaf sama Rhea kan? kalau gak salah namanya..."


Arsa : "(menyambung Zena) Arsa Riya Ganendra"


Zena : "ah ya, ngapain disini?"


Andre membawa Zena dan lainnya menemui Rhea mereka semua akhirnya menikmati pertunjukan wayang itu dengan nyaman.


......................


Senin pagi yang sibuk dan menyibukkan orang-orang sibuk berlalu lalang berangkat melakukan aktivitasnya masing-masing tak terkecuali Rhea, dia sibuk menyiapkan berbagai berkas dan buku-buku untuk kelasnya hari ini, jadwal Rhea yang selalu padat khususnya di hari senin membuatnya lesu kurang bersemangat.


Rhea : "buk, Rhea budhal rumiyen nggih" (Bu, Rhea berangkat dulu ya)


Ibu : "duk, ampun kesupen mangkih menyang Simbah nggih" (nak, jangan lupa nanti pergi ke rumah kakek ya)


Rhea :" nggih buk" (iya Bu)


Setidaknya hari ini Rhea tidak mendengar ceramah ayahnya seharian, karena dia akan pergi ke rumah kakeknya dan tinggal di sana selama 3 hari, kakek Rhea adalah seorang dalang beliau tidak peduli Rhea ingin meneruskan jejaknya atau tidak asalkan Rhea bahagia dan mencintai pekerjaannya berbeda dengan ayah Rhea yang masih menuntut agar dia menjadi dalang seperti dirinya, karena kakak Rhea tidak memiliki bakat sedikitpun dalam hal ini.


Rhea : "hoaaaammmm"


Zena : "kurang tidur lo?"


Rhea : "gak, gue cuman agak males hari ini"


Nayla : "jinja? seorang Rhea males? ini tagar terbaru sepertinya"


Zena : "wah apa ada badai topan tadi malam, untuk pertama kalinya bocah ini benar"


Rhea : "sudahlah, gue masuk kelas dulu"


Bunga berbincang dengan embun pagi mengisahkan sebuah cerita dan kenangan baru, langit biru membentang melukiskan kedamaian dan keselamatan.


sketsa kertas putih mensucikan cinta Arjuna dan Srikandi.


# : "apa srikandi secantik itu?"


Rhea mengangkat kepalanya, menghela nafas panjang


Rhea : "of course"


# : "Really? i doubt it"


Rhea : "kenapa tiap gue pergi selalu ada serangga kaya lo dimana-mana"


# : "Arsa artinya kebahagiaan tentu saja gue dimana-mana, karena kebahagiaan berada di sekeliling orang yang memiliki aura positif, dan auramu..."


Rhea : "diam dan tolong jangan ganggu gue hari ini" meninggalkan Arsa


Arsa : "eh hei..."


Arsa : "mana mungkin gue ninggalin orang dengan aura campuran kaya lo " menyeringai kegirangan.