
Sang penulis, sesuatu yang diberikan kekuasaan atas semua takdir umat manusia yang ia pilih. Tidak jarang, sang penulis berganti banyak manusia yang menurutnya menarik, ia menulis setiap kejadian dan tindakan yang dilakukan oleh manusia pilihannya, menangis, marah, benci, menderita semua adalah kehendak sang penulis. Namun, jika manusia itu sudah tak berguna di dalam cerita, apa yang akan dilakukan sang penulis? Dibunuh..!
Dibunuh adalah pilihan paling mengerikan, namun ada yang tidak dibunuh tapi dihilangkan, keberadaan dan semua yang ada hubungan dengan dirinya. Atau, ada yang lebih mengerikan daripada itu semua, dilupakan..! Sang penulis melupakan dirinya dan membuat Main Character lain. Apa kau pikir Main Character dan Protagonis itu sama?! Jelas saja mereka berbeda..!
"........"
Sang penulis terdiam, ia hanya diam dan melihat punggung Dewa Kematian Azura yang telah menjauh. Ia tertunduk, menatap lantai putih di bawah kakinya "Kau pikir aku yang membuat ini semua? Jelas sekali jika ini semua salah Author yang telah membuat cerita ini, ini bukan salahku, karena aku hanya salah satu dari banyaknya Main Character yang telah ia buat..!"
A Dream, Can It Come True?! Salah satu dunia yang telah ia ciptakan dan Aku adalah salah satu Main Character yang telah ia buat. Sebuah cerita dimana Main Character adalah penentu alur dari cerita, sebuah cerita tanpa ada protagonis dan sebuah cerita dimana para Main Character dapat berfikir semau mereka tentang "Bahwa aku adalah protagonis di dalam cerita ini..!" Padahal kenyataannya berbanding terbalik.
Di lain tempat, disebuah ruangan. Terlihat gelap dan sunyi, tidak dapat terlihat apapun di dalam kegelapan.
'Tok..tok..!'
Suara ketukan terdengar disetiap inci ruangan, bergema. Suara pintu terbuka terdengar, decitan halus saat pintu terbuka dan tertutup benar-benar menggema di dalam ruangan. "Yang Mulia Pangeran, apa anda merasa baik-baik saja tinggal di tempat berantakan ini? Padahalkan anda adalah pangeran Kekaisaran, seorang pangeran harusnya tinggal di sebuah Mansion besar bukan?" Suara berat dari seorang pria terdengar, suara yang sedikit mengerikan namun lembut secara bersamaan.
Seorang remaja laki-laki muncul di balik kegelapan, tubuhnya nampak kurus dan tidak terurus. Mata kemerahan milik sang remaja laki-laki terlihat sangat kosong, iris merah bak berlian yang seharusnya bersinar malah terlihat tidak ada cahaya. "Siapa anda? Kenapa membicarakan hak kepada seorang anak haram berdarah campuran seperti saya? Dan kenapa pula anda menyebut saya dengan pangilan kehormatan seperti itu, itu jelas tidak cocok dengan saya yang anak haram ini. Tuan, mungkin anda salah mencari seseorang, saya mohon cepat pergi..!"
Remaja laki-laki nampak menatap sendu pria tinggi yang ada di hadapannya, ia kembali berkata "Tuan, saya mohon pergi. Tidak ada apapun yang akan anda dapatkan dari menghampiri saya! Saya mohon, tolong pergilah..!" Ia berteriak, sedikit menatap kesal pada pria paruh baya di hadapannya.
"Siapa yang memberitahu dirimu jika saya salah mengenal orang? Tidak ada bukan, saya datang dengan kedua kaki saya sendiri dan saya juga akan pergi dengan kedua kaki saya sendiri, namun setelah saya menyelesaikan urusan saya dengan anda terlebih dahulu, urusan ini sedikit mendesak..!" Tanpa diminta pria paruh baya tersebut duduk diatas tempat tidur milik sang remaja laki-laki, hanya itu tempat duduk yang layak bagi dirinya.
Remaja laki-laki menunduk, berbisik kecil sambil berharap pria paruh baya itu tidak akan mendengarkan "Apa dia akan membunuhku? Sungguh.." Iris berwarna Marah yang ibaratkan Berlian ia tutup, sekujur tubuhnya gemetar ketakutan.
"Tidak, saya mana mungkin akan mencabut nyawa sorang anak kecil seperti anda. Jelas sekali itu bukan tugas saya, saya hanya mencabut nyawa seekor binatang, bukan tanggung jawab saya jika mencabut nyawa manusia..!" Pria paruh baya tertawa, entah apa yang lucu dari setiap perkataan mereka. Aneh..!
"Kemari, mendekatlah sedikit padaku.." Ia melambaikan tangan, isyarat pada remaja laki-laki untuk mendekat pada dirinya.
Sedikit ragu, remaja laki-laki mendekat, berjalan lambat kearah pria paruh baya.
'Shus..Hap!'
Pria paruh baya mencengkram dagu mungil milik sang remaja laki-laki. "Tu-tuan, apa yang anda lakukan?!" Remaja laki-laki ketakutan, ia memejamkan matanya, berharap dan berharap jika semua hanyalah mimpi. Namun itu sakit, dan menurut buku yang ia baca jika manusia dapat merasakan sakit maka itu bukanlah mimpi, tapi kenyataan.
"Buka matamu, aku ingin melihatnya…"
Sang remaja membuka kelopak matanya dengan perlahan, ia takut, sekujur tubuhnya gemetar. Iris mata merah bagaikan berlian ruby terlihat, cantik walaupun tanpa sinar. Pria paruh baya merasa terpukau "Indah, indah sekali..!" Ukapnya dengan semakin kuat mencengkram wajah mungil sang remaja laki-laki.
'Whuss..!'
"Uhuk..uhuk…!"
Kilatan hitam penuh ambisi mengisi penuh warna mata sang pria paruh baya, ia menatap wajah remaja laki-laki dengan penuh ambisi. "Kau, apa kau ingin menjadi penguasaThe Emperor? Apa kau tak ingin mengubah nasibmu?! Ingin terus hidup bagai tikus got, tidak bukan?!"
"Kau, apa kau tak ingin membalaskan dendam pada orang yang telah membuang dirimu, membalaskan dendam pada mereka yang telah menindasmu?! Ingin bukan?"
"Tidak, walau ingin saya tidak bisa. Mereka terlalu…"
"Berkuasa? Apa kau ingin kekuasaan untuk dapat membalaskan dendam pada mereka?"
Sebuah kilatan penuh ambisi muncul dari mata berwarna merah, tanpa ragu ia berkata "Ya, saya ingin itu!" Penuh dengan kepercaya diri ia berucap sunguh-sunguh.
Namun, kepercayaan dirinya langsung hilang "tapi, bagaimana caranya? Saya tidak bisa mengalahkan kakak saya yang telah jadi putra mahkota.."
Sang pria paruh baya tertawa dengan lentang "Putra mahkota? Siapa yang menyebar kepalsuan, dimasa depan hanya ada dua kandidat yang akan menaiki kursi The Emperor, yaitu Kau dan Calon Grand Duke Azerentra..! Si penjahat dan si pemeran utama, itulah peran yang telah ditentukan..!"
Mata berwarna merah tanpa cahaya kini mulai mengeluarkan sinarnya, sinar ambisi dan nafsu yang tak terhitung jumlahnya "Siapa yang akan jadi penjahat dan siapa yang akan menjadi pemeran utama?"
"Kau, kau adalah pemeran utama, buatlah dirimu berfikir seperti itu.."
"Jadi maksudmu, Tuan muda Azerentra adalah penjahat?"
"Tidak, dia juga akan dibuat berpikir sebagai pemeran utama, karena di cerita ini belum ada pemeran utama, belum ada..!"
Di sebuah lorong yang hanya terdengar langkah kaki, suara bersin yang cukup kuat terdengar, itu cukup mengagetkan beberapa orang yang ada disana. "Hidungku gatal, ada apa ini?" Seorang remaja laki-laki dengan rambut merah dan mata biru, ia tengah berjalan menyusuri lorong yang berkilau dengan pakaian mewah berwarna hitam. Dua pelayan wanita dan lima orang pengawal berjalan dibelakangnya, mereka nampak bingung dengan aksi tuan mudanya yang berbicara sendiri.
Salah satu pelayan perempuan mengajaknya berbicara, nada suaranya ceria "Tuan muda, konon katanya kalau anda bersin tanpa alasan, itu artinya seseorang yang tidak menyukai anda tengah berbicara atau berniat buruk pada anda. Menurut anda, adakah yang tidak menyukai anda di Grand Duchy?"
"Entahlah, aku belum pernah keluar dari rumah ini sebelumnya, jadi aku tidak yakin apakah ada yang tidak menyukai diriku"
"Oh anda benar.."
Lorong yang berkilau dan panjang itu kini menjadi hening, tidak ada yang berbicara, hanya suara sepatu yang terus menyapa lantai saja yang terdengar. Salah satu pelayan lain memberanikan diri untuk berbicara, nadanya sama ceria dengan pelayan yang tadi "Tidak usah bersedih tuan muda, bukankah dua hari lagi adalah ulang tahun anda, dan itu artinya anda akan diumumkan secara resmi kepada seluruh dunia, wajah anda akan terpanjang dimana-mana, kepopuleran anda pasti akan sampai ke negri elf ataupun demon, dan pasti akan banyak orang yang suka atau tidak pada anda, siapa yang tidak iri pada penerus tanpa pesaing dari keluarga Paling terhormat di benua ini?!"
Seharusnya perkataan itu dapat menghibur Tuan Muda Azerentra, namun itu diluar perkiraan. "Apa? Katamu ulang tahunku dua hari lagi? Bercanda ya, usiaku sekarang 12 tahun dan dua hari lagi akan mencapai 13, kau benar-benar tidak lucu jika menyebutkan ini candaan..!" Marcel marah, wajahnya memerah. Iris mata biru miliknya memancarkan kilatan membunuh, dia bahkan sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya.
"Tu-tuan muda…"
Kenapa dia marah? Apa yang salah dengan hari ulang tahunnya, dia tidak akan cepat mati hanya karena bertambah satu tahun usia bukan? Apa aku salah bicara, dan sepertinya itu iya.
Pedang telah ada tepat di leher sang pelayan wanita, sedikit darah telah keluar dari tempat yang seharusnya. Goresan yang cukup besar sudah ada di leher putih, warna merah sudah menetes ke lantai dengan karpet yang juga sama merahnya, itu menjadi semakin cantik saat darah segar jatuh ke atasnya. Karpet itu seakan sudah terkena banyak noda darah yang tidak terhitung jumlahnya, merah, melambangkan sebuah bahaya..!
......BERSAMBUNG......