
...A dream, can it come true?!...
𝘈𝘻𝘦𝘳𝘦𝘯𝘵𝘳𝘢, keluarga bangsawan paling tua dan paling bersejarah. Konon katanya, tidak ada yang tau bagaimana asal mulai keluarga ini dibentuk. Banyak rumor dan gosip yang menyertai bayang-bayang tinggi nama Azerentra.
"Kaisar dibalik bayangan..!"
"Penguasa sesungguhnya The Emperor..!"
"Sang keturunan Naga…"
Semua orang berkonspirasi tentang bagaimana keluarga ini dibentuk, membandingkan antara The Emperor dan Grand Duchy, siapa yang terkuat jika peperangan terjadi?!
Mulia…
Yang mulia..
"Yang mulia, apa anda mendengarkan kata-kata saya?!"
Tiba-tiba lamunan dan semua konspirasi yang ada di dalam otakku terhenti, kembali membawa diriku kepada kenyataan, mungkin. Aku melihat kearah pergelangan tangan, itu sudah diobati dan diperban dengan baik juga sangat rapi. Kembali mengalihkan pandangan, aku melihat seseorang yang tengah berjongkok, sedikit seperti berlutut. Dia seorang dokter, melihat dari baju dan koper yang ia bawa sepertinya ia pergi kemari dengan sangat tergesa-gesa. "Kapan kau datang?" kebiasaan paling buruk, bukannya mengucapkan kata terimakasih aku malah bertanya, salahkan gen ayahku soal ini…!
Sang dokter nampak sedikit terkejut, namun selang beberapa detik raut wajahnya langsung berubah tersenyum. "Saya datang tepat saat Yang Mulia Grand Duke memanggil, sekitar beberapa menit yang lalu" jawabannya, ia berdiri dari posisi duduknya dan membereskan serta memasukkan semua alat medis kedalam koper dengan serapi dan secepat mungkin.
Aku tak menjawab, hanya diam dan terus memperhatikan sekeliling. Tempatnya masih diruang makan, dan hanya di isi oleh aku dan sang dokter, semua makanan masih tertata secara rapi dan darah bekas diriku masih tercetak jelas di lantai juga meja. Menjijikkan…!
Kedua alis hitam tebal milikku bertaut menyatu, semua ekspresi jijik tak dapat aku sembunyikan, itu benar-benar terlihat sangat jelas. "Apa mereka belum membersihkan ini semua?" ucapku bertanya pada diriku sendiri, namun itu di dengar oleh sang dokter dan ia menjawabnya.
"Grand Duke terlalu panik, anak samata wayang yang ia punya menusuk tangannya sendiri. Bagaimana ia bisa berfikir dengan benar?" jawab sang dokter dengan tertawa renyah diakhir kalimat.
"Sungguh…" aku hanya diam dan berbicara sendiri di dalam hati, berfikir tentang bagaimana raut wajah ayahku atas kejadian beberapa menit yang lalu. Bagaimana ya? Apa dia mengeluarkan ekspresinya? Apa dia khawatir denganku? Bagaimana perasaannya? Aku penasaran…
Bagaimana pendapat ayah saat memandang diriku? Apa perasaannya? Bagaimana cara dirinya melihatku? Benci, sayang atau bagaimana? Aku ingin tau semuanya…! Aku ingin lebih dekat dengannya, lebih dari apapun. Namun kurasa, itu mustahil untuk aku dapatkan, dan kenyataan itu membuat dadaku sesak..
"Tuan muda, kita sudah tiba di ruang tidur anda..!"
"...iya"
Aku tak tau bagaimana bisa aku sudah ada di depan ruang tidurku, namun terserah aku tidak peduli, toh semua ini hanya akan menjadi mimpi nanti. Aku yakin itu…!
'Blam!'
Aku berjalan gontai kearah tempat tidur besar milikku, menghempaskan tubuh remaja yang sudah sangat mengantuk ini untuk tiba ke alam mimpi, lebih tepatnya untuk bangun dari mimpi.
'Tok..tok..clik..'
Suara ketukan dari pintu membuat mataku kembali terbuka, dengan cepat aku langsung bangkit dan duduk. Dari arah pintu aku melihat seseorang mulai masuk, dia ayahku. Datang kemari sambil membawa nampan bersisi makanan dan minuman, untukku mungkin..?
'Blam!'
Sedikit senyuman tipis terlihat diwajahnya, ia nampak bahagia. " Baguslah kalau begitu!" ucapnya, ia mulai melangkah kearah sofa di dekat jendela kamar tidur milikku, meletakkan nampan makanan yang entah apa itu dan segelas susu. Ia duduk di sofa, iris mata berwarna kebiruan miliknya menatap diriku "Kemari, kau belum makan malam ini. Nanti sakit..!" ucapannya terdengar seperti perintah, namun lebih lembut.
Tanpa sepatah kata aku mulai bangkit dari tempat tidur, menghampiri dirinya yang tengah santai duduk di sofa. Aku duduk dan mengambil makanan yang ia bawa, itu cukup aneh. Memberanikan diri untuk bertanya, aku melihat mata kebiruan milik ayah "Apa ini?" tanyaku padanya.
"Namanya roti isi, aku membuatnya sendiri. Koki pasti telah tidur atau sedang sibuk, jadi aku membuatnya sesederhana mungkin, intinya itu masih cukup bisa dimakan. Tidak ada racun jadi, makanlah.."
"Ayah, membuatnya sendiri? Memasak?"
Mendengar perkataan yang terlontar dari mulutku ia nampak terkejut, aku tak tau di bagian mana yang membuat dirinya terkejut, namun selang beberapa detik raut wajahnya kembali tak berekspresi. "Ya, itu makanan di medan perang. Roti isi, roti tawar yang ditumpuk dengan keju,selada,tomat dan daging bakar jika bisa, agar lebih enak aku mencoba untuk sedikit membakarnya. Jika tidak suka jangan dimakan! Itu tak masalah!"
"Ini enak.."
"Baguslah!" ayah tersenyum tipis, mengangguk beberapa kali, seakan ia sangat bangga tentang apa yang ia lakukan dan itu cukup lucu..
Aku menatap mata kebiruan milik ayah "Aku tidak tau kalau ayah pandai memasak, sepertinya ayah akan cocok untuk menjadi chef" aku tertawa renyah diakhir kalimat.
"Kau akan menjadi anak seorang kepala koki kalau begitu.." ayah ikut menimpali, ikut tertawa bersama.
Malam itu, dibawah cahaya bulan yang memantul dari arah jendela, kami tertawa bahagia. Tidak pernah membayangkan jika kami bisa mengobrol sebanyak ini, entah kenapa sekarang aku mulai berharap, jika semua yang aku alami saat ini benar-benar kenyataan, bukan hanya sekedar mimpi.
"Boleh ayah tidur disini? Ruangan ayah sangat jauh, tapi ayah sudah mengantuk.."
"Untuk apa ayah bertanya? Inikan rumah ayah, semuanya milik ayah, ayah bisa tidur dimana saja yang ayah inginkan tidak akan ada yang protes!" aku menjawab pertanyaannya, kembali tertawa kecil saat ayah tertawa atas jawaban yang aku berikan.
"Kamu benar, kalau begitu bagaimana jika ini jadi kamar tidur ayah juga? Bukankah boleh, tuan muda Azerentra?"
"Mana bisa begitu, ini ruang tidurku, ayah hanya boleh menginap jika aku izinkan!" aku memprotes, dan dibalas dengan gelak tawa dari ayah. Wahh.. Jika ini di kehidupan lalu, aku mungkin tak akan pernah bisa melihat situasi ini, berbicara saja bisa dihitung jari.
"Ya kau benar, hanya malam ini.."
"Hanya malam ini.." ucapku mengulangi perkataan ayah. Aku mulai bangkit dan berjalan menuju tempat tidur, membaringkan diri dengan tengkurap.
'Bruk!'
"Ayah! Aku hampir jatuh!"
"Maaf"
Malam ini benar-benar malam paling terbaik yang aku punya, seandainya ini tak akan pernah berakhir dan seandainya ini benar-benar kenyataan, seandainya. "Apa saat aku membuka mata nanti, ini semua akan berakhir? Bisakah aku berharap ini semua kenyataan, seandainya memang benar kenyataan. Seandainya saja…" aku berbicara sendiri di dalam hati, berharap jika ini benar-benar kenyataan. Yahh, terserah jika ini kenyataan atau mimpi tujuanku hanya satu Menghancurkan Kekaisaran, baik menjadi hantu atau memang benar kembali ke masa lalu.