A Dream, Can It Come True?!

A Dream, Can It Come True?!
episode 01 {Apakah mimpi dapat menjadi sebuah kenyataan?!}



...Sebuah Mimpi, Apakah Bisa Menjadi Kenyataan?...


Sebuah pemandangan penuh mayat terus terlihat sejauh mata memandang, ratusan dan ribuan mayat yang terpisah-pisah menjadi awalan dari sebuah tulisan. Dari banyaknya mayat, di penghujung tembok yang tinggi, terlihat seseorang dengan pakaian mewah berlapiskan besi dan baja. Dia seorang pria setengah baya, dan seorang wanita muda dengan pedang tajam yang tertusuk di perutnya.


Pria setengah baya itu menangis, terisak kecil sembari terus memeluk wanita muda yang sudah terlelap. Ia terus bergumam tentang banyaknya kata Maaf, tampa memperdulikan beberapa anak panah yang sudah menempel cantik dipunggung lebar miliknya. Raut wajah pria setengah baya itu dipenuhi oleh ekspresi bersalah, hatinya penuh dengan rasa bersalah yang menumpuk.


Cukup lama pria setengah baya itu terisak, sampai akhirnya terdengar sebuah suara yang tidak asing bagi dirinya. "Kau masih hidup rupanya..!" itu suara seorang pria, dari nada yang ia keluarkan sepertinya ia sedikit kecewa.


Seorang pria dengan armor silver yang menyelimuti tubuhnya, tinggi dan memiliki kaki yang jenjang. Ditangan pria itu terdapat sebuah mahkota dengan banyak bercak darah. pria itu memiliki rambut berwarna putih berkilau, sangat cocok dengan mahkota emas dan banyak batu ruby merah yang gemerlap. "Oh.. Sepertinya kekasih yang kau cintai sudah tiada, sangat di sanyangkan…." nada suara pria itu merendah. Dan perlahan pria itu mendekat, sembari mengelap banyak bercak darah yang menempel di pedang kesayangannya.


'Jleb!'


...♩✧♪●♩○♬☆♩✧♪●♩○♬☆♩✧♪●♩○♬☆...


Dia seorang Grand Duke, orang paling berkuasa di balik bayangan, yang bahkan seorang kaisar-pun tidak dapat menyentuh dirinya. Namun, karena itu pula dirinya tiada. Kekuasan yang melimpah membuat dirinya dibunuh, membuat terjadi perang yang membunuh banyak nyawa, bahkan nyawa untuk orang yang ia cintai, istrinya yang tengah mengandung.


"Aku hanya ingin hidup tenang. Tak pernah ada pikiran busuk bagiku untuk menggulingkan Kekaisaran, namun kenapa? Kenapa aku harus kehilangan orang paling berharga yang aku punya? Aku tidak serakah, apa karena itu aku mati? Konyol..!


Kumohon, untuk Tuhan. Berikan aku kesempatan untuk menyelamatkan keluarga kecil yang aku punya, bahkan jika itu dapat membuat diriku menjadi iblis sekalipun..! Bisakah sebuah mimpi menjadi kenyataan?!"


sebuah bunga berwarna putih melayang dan turun entah dari mana, bunga itu mendarat tepat di samping mayat pria setengah baya, bunga yang semula putih bersih nan cantik kini terlumurkan oleh banyak bercak darah. Sesuatu yang berwarna putih memang cepat kotor, berbeda dengan warna hitam, jika terkena noda ia tak akan terlalu terlihat. sayang sekali...


...



...


...----------------...


Ruangan serba putih menyambut awal dari sebuah tulisan, dan disana terdapat pria setengah baya yang sudah meninggal. Jiwanya berwarna kehitaman, penuh penyesalan dan dendam yang tak dapat dibalas. Jiwa itu dengan perlahan namun pasti berubah menjadi hitam gelap yang pekat, perasaan sedih dan dendam juga penyesalan menjadi satu. Memilukan…


Ruangan yang tadi berwarnakan putih berkilau kini perlahan menghitam, jiwa itu kini hilang, menyatu dengan warna dari ruangan yang menyelimuti dirinya. Sangat lama, atau hanya sebentar? Sang jiwa kini benar-benar menjadi tidak terlihat.


Namun, sebuah cahaya datang padanya. Satu persatu cahaya mengelilingi sang jiwa yang telah senada dengan warna ruangan. Para cahaya yang melayang membuat sedikit warna gelap menjadi terang. Salah satu dari cahaya mendekat, berputar penasaran pada jiwa hitam yang tertidur. "Apa dia sesedih itu? Aku belum pernah melihat jiwa sehitam ini sebelumnya, bahkan jiwa penjahat paling kejam sekalipun tidak berwarna sehitam ini?" setelah mengucapkan kata-kata itu, jiwa yang lain ikut tertarik, meneliti apa masa lalu dari jiwa hitam tersebut.


Jiwa putih lain menanggapi "Oh astaga, hidupnya menyedihkan. Aku bahkan dapat merasakan bagaimana perasaannya saat itu, kupikir iblis adalah makhluk paling kejam di dunia, ternyata aku salah..!" jiwa putih itu merasakan iba, ia hendak mendekat namun, sebuah suara yang tidak asing terdengar oleh semua jiwa putih yang lainnya.


"Berhenti..!"


Ruangan yang semula gelap, dengan sedikit penerangan dari beberapa jiwa-jiwa putih kini menjadi terang benderang. Jiwa paling bersinar berkata "Kita tidak seharusnya disini, itu adalah pelanggaran..! Dan lagi, siapa yang memperbolehkan kalian untuk sebarangan melihat masalalu para jiwa?! Itu sebuah privasi..!"


Mendengar penuturan dari jiwa paling bersinar, para jiwa putih merasa bersalah namun, rasa kasihan yang mereka tunjukan untuk jiwa hitam masih lebih besar dari segalanya. "Kami hanya merasa kasihan pada jiwa hitam kecil ini…" salah satu jiwa putih berucap, dan ucapan yang ia tuturkan di iyakan oleh semua jiwa putih yang lain.


"Bisakah, bisakah kita membantu jiwa malang ini sang penulis?" salah satu jiwa putih terkecil berkata.


"Bisakah? Kami mohon.." semua jiwa putih yang lain menanggapi.


Namun, sepertinya para jiwa putih lain benar-benar merasa iba akan nasip jiwa hitam. Mereka mendesak "kami mohon, kami akan menerima konsekuensi dari apa yang kamu perbuat, bukankah ini yang pertama bagi kami untuk memohon? Tolonglah…"


Sang penulis kewalahan, pasalnya ini bukan yang pertama, sungguh. Membalikan manusia ke masa lalu memang bukan tugasnya, tapi ini permintaan dari jiwa-jiwa tersayang milik semesta, bagaimana mungkin ia menolak? Lagipula ini pertama kali bagi dirinya melihat jiwa sehitam ini, mungkin tak masalah jika melakukan ini, iyakan? "Baiklah, aku kalah..!"


Para jiwa putih berbahagia, mereka menari-nari mengelilingi sang jiwa hitam. "Kami menyelamatkan dirimu, dan kami bahagia.."


...♛┈⛧┈┈•༶༶•┈┈⛧┈♛...


Marceliano Azerentra, seorang Duke paling muda dalam sejarah berdirinya keluarga Azerentra. Secara garis besar ia, sang Duke muda naik tahta dengan cara paling logis yang pernah ada..! Lahir sebagai satu-satunya putra dari penguasa paling terhormat, dengan sang ibu yang adalah seorang putri Kekaisaran, bagaimana mungkin dunia tidak merasa iri pada dirinya? Bukan seperti para pewaris lainya, yang harus memperebutkan kursi tahta untuk dapat duduk diatasnya. Dia, Tuan muda pertama dan terakhir Azerentra, Marceliano. Telah mendapatkan tahta sejak ia masih di dalam kandungan sang nyonya. Dia bagaikan putra mahkota, dengan semua fasilitas dan keagungan yang ada, bukankah ia dapat dikatakan lebih dari pada Putra mahkota Kekaisaran..?!


Namun, sepertinya sang penulis berkata lain, ia benar-benar tidak ingin membuat para tokoh merasakan kebahagiaan abadi. Tak terkecuali untuk orang yang sejak hidupnya sudah menjadi Pemeran utama. Seperti sebuah tulisan, hidup Marcel perlahan namun pasti menjadi lebih menyedihkan, seakan penulis benar-benar membenci dirinya dan ingin membuat ia menjadi lebih menderita. Siapa yang bilang menjadi pemeran utama itu menyenangkan?!


Hidupnya mulai menuju ambang paling menakutkan bagi dirinya. Ibunya, Alyafathikaa Merdelio Vanessi. Sang ibu yang adalah putri Kekaisaran, meninggal dunia saat ia tengah melahirkan sang putra. Tidak berhenti disana, dari ia masih balita hingga dewasa, setiap manusia selalu melakukan percobaan pembunuhan untuk dirinya. Malangnya, keluarga Satu-satunya yang ia punya, sang ayah yang sangat sibuk tidak pernah seharipun berdiam diri dirumah, ia selalu merasa kesepian. Perasaan ditinggalkan, sedih, marah, kecewa, semua menyatu dalam satu perasaan Benci…! Perasaan seakan kau memiliki segalanya namun serasa tak ingin memilikinya.


"Aku hanya butuh ayah, bisakah untuk sehari habiskan waktu hanya untuk kita berdua? Jangan pergi, ayah…."


Perasaan penuh kebencian memakan habis hati nurani kecil sang tuan muda, aura tak tersentuh membuat dirinya dijauhi oleh semua bangsawan. Bukan, bukan karena aura tak tersentuh itu para bangsawan menjauhi calon Duke, namun karena perbedaan kasta yang secara terang-terangan diberikan oleh Marcel. "Dari sisi mana kalian merasa pantas, untuk hanya menatap sepatu yang aku kenakan?!" Namun, jika ia bisa mengulang waktu mungkin ia tak akan hanya mengatakan itu, jika bisa ia akan langsung membunuh mereka…!


"Kalian sampah…!"


"Orang bodoh yang hanya tau untuk makan. Tunggu dulu, memang kalian punya otak?"


Seakan kaset rusak yang dipaksa untuk tetap memutar sebuah film, kenangan tiap kenangan berputar. Menampilkan setiap adegan dengan tak beraturan, memusingkan. Setiap perasaan yang ada di sana benar-benar menusuk hatinya,, seakan ia ingin mengulang waktu hanya untuk membunuh setiap orang yang ada di dalam kenangannya. Namun, bagaimana caranya? Itu tidak masuk kedalam akan sehat manusia…! Tidak logistik.


…Cell.


Marcel…


"Marceliano Azerentra..?!"


Sebuah suara teriakan mengacaukan lamunan dari seorang remaja. Remaja itu nampak bingung dan dengan linlung melihat sekeliling, ia benar-benar nampak kacau..! Pria paruh baya yang dari tadi memperhatikan gerak-gerik sangat remaja terus terdiam, ia hanya diam dan meneliti apa yang salah dengan Putranya.


"Marcel, kamu baik-baik saja?" pria paruh baya memberanikan diri untuk bertanya, namun respon yang ia dapatkan benar-benar diluar dugaan. Marcel, pria yang tadinya telah meninggal karena ditusuk oleh pedang, kini kembali hidup?! Pasti ini alam baka…! Benar, ini pasti alam baka.


Marcel menatap sosok yang sangat-sangatlah ia kenal, Nerlion Azerentra, Sang ayah dan orang paling ia dambakan kasih sayang. Namun, ia jelas ingat jika sangat ayah sudah tiada dan sekarang kenapa ia ada dihadapannya? Ada dua kemungkinan, pertama ia tengah dialam baka dan kemungkinan kedua jika ini adalah kenyataan, namun sepertinya ia ada di opsi pertama.


"Marcel?" sekali lagi Narlion memanggil nama putranya, namun kali ini respon yang ia dapatkan lebih daripada hanya diam. Marcel mengambil pisau makan yang tengah tergeletak disamping piringnya, dan tanpa aba-aba ia langsung menancapkan pisau itu tepat kearah tangannya.


'Jleb! Brak!'


"MARCELIANO AZERENTRA?!"


Aku terdiam, melihat banyaknya cairan merah yang menetes dari pergelangan tangan yang aku tusuk sendiri. Terlihat bingung dan bodoh. "Ini cukup sakit, dan jelas ini bukan mimpi..!" aku berbicara sendiri di dalam hati, berkonspirasi tentang beberapa kemungkinan yang sedang aku alami saat ini. Mimpi atau kenyataan?!


......BERSAMBUNG......