
Air hujan dengan ganas membasahi bumi malam ini, petir dan kilat menyanyi juga menari-nari riang di atas langit malam gelap tak berbintang. Di bawah derasnya air hujan, seorang pria setengah baya berdiri. Tubuhnya basah kerena air yang turun dari langit, rambutnya yang merah menyala menjadi terang benderang di kala kilat menari, wajahnya yang tertunduk menatap tanah basah, mendongak. Wajahnya ibaratkan sebuah kesempurnaan, matanya biru bagaikan langit di siang hari, alisnya yang tebal dengan bulu mata yang lentik membuat wajahnya seakan sempurna, hidungnya, bibirnya, bagaikan sebuah karya seni hidup..!
Semua yang ada di pria itu benar-benar "Kegagalan…!" Apa?!
"Kegagalan..!" Bahu pria itu gemetar, ia menatap ke arah tangannya, merah. Tengannya di penuhi warna merah yang indah, iris biru pria itu beralih menghadap ke arah belakang.
Sebuah tumpukan tinggi terus terlihat sejauh mana mata memandang. Tangan, kaki, kepala semuanya terpisah-pisah. Mayat manusia, tumpukan mayat manusia! Itulah yang pria setengah baya lihat…
"PADAHAL KAU SUDAH MEMBUNUH BEGITU BANYAK NYAWA, TAPI BAGAIMANA BISA KAU TETAP KALAH?! BAJINGAN TIDAK BERGUNA!!"
"KAU MEMBUNUH ISTRIMU, CALON ANAK YANG ADA DI PERUTNYA, SEMUA RAKYAT BIASA TAK BERSALAH, PARA PRAJURIT. KAU MEMBUNUH MEREKA SEMUA! DASAR BRENGSEK!!"
Tangan-tangan dari tumpukkan mayat mulai bergerak, memegangi kaki pria setengah baya yang terus mengamuk. "Kenapa? Kenapa kau membunuh kami? Apa salah kami?"
"Sayang, kau membunuh diriku dan calon anak kita? Bagaimana mungkin kau bisa setidak berperasaan ini?! Aku membencimu!"
"Yang mulia Grand Duke Marcel, kami mempercayai dirimu sepenuh hati, tapi kenapa kami tewas dengan begitu mengenaskan?! Kenapa?!"
"Itu semua salah Grand Duke!!"
Suara-suara kebencian yang entah darimana terus terdengar, mereka berteriak, marah, menangis semua suara itu menyuarakan isi hati yang mereka telah pendam. Semua tumpukan mayat menenggelamkan pria setengah baya, membawa dirinya pergi ke dalam penderitaan.
Kilat yang tengah menari indah di atas langit malam tak berbintang, membuat langit gelap menjadi terang benderang. Di sebuah ruangan, seorang remaja pria terbangun dari istirahatnya. Remaja itu nampak bingung, penik dan ketakutan. Ia melihat kedua tangan miliknya, tangan yang lumayan kecil itu tidak di penuhi oleh darah, terlihat bersih walau sedikit terlihat goresan dan sayatan benda tajam. "Hosh..hosh.." Napasnya tidak beraturan, sesak.
Remaja pria bangkit dari ranjang tidur, menghampiri cermin yang ada di pojok ruangan. Ia melihat pantulan yang ada di cermin, menatap dan menyentuh setiap bagian wajahnya yang sempurna. Iris mata birunya yang bagaikan langit pada siang hari, alis tebal dan bulu mata lentik yang menambah kesempurnaan, hidung dan bibir yang bagaikan karya seni hidup. Wajahnya benar-benar mendekati kata sempurna..!
Remaja itu terdiam, terus melihat pada pantulan cermin. "Apa-apaan? Jadi ini semua mimpi di dalam mimpi? Atau memang kenyataan yang nyata?!" Remaja pria itu bergumam, berbicara sendiri seakan orang gila.
"Marcel?"
Sebuah suara yang tidak asing di telinganya terdengar, itu suara ayahnya. "Ada apa? Bermimpi buruk?" Suara sang ayah semakin mendekat, dan akhirnya ayah benar-benar ada di belakang cermin, di belakang diriku.
Hening, keterdiaman menyapa kami saat ayah dan aku saling melihat di pantulan cermin. Rambut ayah yang hitam gelap sangat berbanding terbalik dengan rambutku yang merah menyala. Entah hanya perasaanku atau apa, setiap kali ayah melihat rambutku pandangan matanya selalu terlihat sedih.
"Sudah hampir pagi rupanya…" Ayah mengalihkan pandangan matanya, melihat kearah jendela besar yang menampilkan pemandangan langit gelap tak berbintang, tidak ada hujan ataupun petir dan kilat.
"....."
Sekali lagi, keheningan menyapa. Aku masih terdiam, tak merespons apapun yang telah ayah katakan. Pikiranku masih sibuk berkonspirasi, membayangkan berapa banyak kemungkinan tentang setiap perubahan sikap yang telah ayah tunjukkan dan sedikit mencerna tentang banyak situasi, serta kemungkinan lain yang mengatakan kalau ini adalah kenyataan. Jujur saja, aku masih tidak dapat percaya jika ini benar-benar kenyataan…!
Aku bukan tidak suka, hanya saja, sang penulis di ceritaku ini sedikit berbeda, ia seakan suka melihat sang tokoh menderita.
Sebuah tangan besar mendarat di atas rambutku yang merah menyala, aku mendongak, menatap seseorang yang menepuk kepalaku dengan lumayan lembut, sedikit sakit. Mata biru milikku dan ayah saling bertemu, membuat diriku sedikit penasaran atas tingkah laku ayah saat ini.
"Kenapa?" Iris biru langit milikku sedikit menajam. Bukan tidak suka atas perlakuannya, tapi akukan sudah dewasa, pernah menjadi Grand Duke pula, ini sedikit memalukan..!
"Kenapa reaksimu begitu? Padahal, menurut buku yang saya baca anak-anak suka jika kepalanya ditepuk dengan perasaan sayang.."
"Ayah, aku ini anakmu, tuan muda Azerentra sekaligus pewaris yang akan menduduki kursi tahta milikmu. Jadi, apa kau pikir aku akan sama dengan semua anak yang lain?!"
Aku malu, tolong hentikan…!
Ayah mengangkat kedua tangannya keatas, seakan menunjukkan dengan gerakan jika ia menyerah. "Baiklah, baiklah. Jadi, apakah tuan muda Azerentra ini ingin jalan-jalan di taman?"
"Ya, terserah saja.."
Mendengar jawaban dariku, ayah hanya menanggapi dengan senyuman. Ia tidak mengucapkan kata-kata lagi, hanya mendahului diriku menuju pintu dan keluar. Aneh, melihat dirinya menunjukkan punggung yang kokoh itu, aku seakan ingin memeluknya dan mengatakan "Betapa beruntungnya diriku lahir sebagai anakmu.."
Di lain tempat, di antah berantah. Di sana, di sebuah ruangan, perdebatan besar terjadi. Suara teriakan terus terdengar dari dalam ruangan.
"Penulis, bagaimana mungkin anda bisa mempermainkan nyawa manusia? Hari ini, seharusnya Grand Duke Azerentra tiada, acara pemakaman di adakan di kediaman Azerentra dan pewarisnya naik kedalam kursi tahta. Namun, namun anda malah membuat dirinya tetap hidup? Penulis, ini melanggar aturan dunia..!" Seseorang berteriak, ia mengacungkan jari telunjuknya pada seseorang yang tengah membelakangi dirinya diatas sana.
Sebuah pulpen dengan bulu-bulu cantik melayang kearah seseorang yang semula protes, pulpen berbulu itu hampir mengenai mata berwarnakan hitam gelap tak berbintang miliknya. Sang penulis, sebut saja dia seperti itu, tak ada yang tau dia wanita atau laki-laki. Berjubah putih, dengan rambut hitam gelap dan sedikit warna merah. "Kau, tidak setuju? Lagipula, akulah yang menyelamatkan dirinya dan sudah keharusan baginya untuk membalas budi, benar bukan? Dewa kematian, Azura?!" Dengan sekelip mata, sang penulis sudah ada di hadapan sang dewa kematian.
"Anda, anda bukan menyelamatkannya, tapi memanfaatkan dirinya untuk menjadi salah satu tokoh yang entah akan berakhir tragis atau happy end!"
"Oh ya? Aku tidak merasa seperti itu.." Sang penulis mengedipkan salah satu matanya, tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kau, memanfaatkan para jiwa putih untuk mendapatkan salah satu Main Character, kau memanfatkan dirinya sebagai salah satu penentu alur cerita dan membuangnya jika sudah tidak berguna..!"
"......." Sang penulis terdiam, menatap sendu wajah sang dewa kematian Azura. "pfftt.. Hahahahaha..!" Sang penulis tertawa, ia menyeka beberapa bulir air mata yang turun dari pelupuk. "Oh dewa kematian Azura, apakah kau pikir kau dapat bebas dari penglihatan kertas-kertas dan pulpenku? Ingin menghentikan diriku? Bagaimana caranya?!"
"......"
"tak dapat menjawab? kalau begitu pergilah, dan jangan pernah kembali ke atas singgasana milikku..!"
Dewa kematian Azura menatap tajam "Kau pikir kau bisa menjadi Tuhan hanya kerena dia memberi wewenang tinggi pada dirimu? Mimpimu terlalu tinggi penulis!" Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Dewa kematian Azura melangkah pergi, perasaannya kacau. Walau sebenarnya dia diciptakan tanpa memiliki perasaan, namun penulis sialan itu telah mengubah dirinya, menjadikannya Main Character yang telah ditinggalkan.
......BERSAMBUNG......