7 Days With Jungkook

7 Days With Jungkook
Tujuh



Mereka berlari panik, hingga akhirnya mereka melewati kami.  Tubuhku hampir limbung, derai air mata mengalir begitu saja. Kakiku pun terasa lemas. Itu Jungkook. Tubuh Jungkook. Kulihat dia masih membuka matanya. Walaupun di sekitar wajahnya penuh lebam dan darah yang mengalir. Dia berlalu dari hadapanku, tatapan sendunya menusuk jantungku. Hingga ketika tangannya menyentuhku, noda darah mewarnai tanganku, aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Napasku seolah terhenti. Aku tak bergerak selangkah pun menyusul ayah Jungkook yang sudah dengan tangisan berderai mengikuti mereka menuju UGD. 


“Jungkook …”


Dunia berputar-putar di kepalaku. Kejadian dari awal hingga terakhir kali bersama Jungkook terulang kembali di memoriku. Juga kondisinya saat ini. Hal itu membuat tubuhku lemas, tak berdaya. Mendadak semuanya hitam pekat, berubah gelap di mataku.


*


Perlahan, aku membuka kedua mata, kusadari aku bersandar di bahu ayahnya Jungkook. Pria separuh baya itu menangis, tetapi tak ingin menunjukkan dia lemah saat ini. 


“Kau sudah sadar, Lisa?”


“Paman, kenapa dengan Jungkook? Bagaimana keadaan Jungkook?”


Ayah Jungkook menunduk, tidak menjawab seluruh pertanyaanku dengan pipi yang berderai air mata. Hingga ketika seorang dokter keluar dari UGD, aku dan ayah Jungkook berdiri dengan perasaan cemas. 


“Tidak ada luka luar yang serius, lebam di wajahnya sudah bisa diatasi. Dan juga …, 2 tulang iganya patah karena hantaman benda tumpul.”


Aku menghela napas sesaat, tak paham entah itu kabar baik atau justru sebaliknya.


“Hanya tulang iga saja, kan, yang patah, Dok? Tidak ada yang serius lagi, 'kan?” Ayah Jungkook memastikan sendiri keadaan puteranya. Dia ingin memastikan kalau puteranya tidak mengalami luka yang cukup serius.


Dokter itu menghela napas panjang, wajahnya cukup serius. “Tapi, 2 tulang iga yang patah itu adalah tulang iga di bagian dada, tulang iga yang mengurung jantungnya. Kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah … dia akan mengalami kebocoran jantung.”


Kurasakan hantaman keras menghujam jantungku. Ayah Jungkook menangis. Aku tak tahu lagi hendak berbuat apa. Rasanya tak punya tenaga lagi untuk berdiri. Dengan tenaga yang tersisa, aku berlari menembus perawat yang saat ini menjaga ruangan Jungkook. Tangisan berderaiku terus mengalir. Langkahku akhirnya terhenti. Kulihat Jungkook masih terkulai lemah di kasur. Matanya perlahan terbuka menyambut kehadiranku.


“Jungkook … ini aku, Lisa. Sadarlah,” lirihku dengan suara bergetar.


Aku menggenggam tangannya saat dia mengerang kesakitan. Aku bahkan tak sanggup ketika dia mulai menutup matanya perlahan, “Aku… sangat …,” rintihnya terakhir terdengar perlahan. 


Hingga akhirnya dia menutup matanya, untuk terakhir kali. Hanya tinggal raganya yang ada dihadapanku. Tangannya yang kugenggam mulai dingin. Bersamaan dengan itu, tangisanku meledak. Aku pun tak punya lagi tenaga untuk menyanggah ketegaranku. Aku pingsan seketika.


*


Sudah seminggu semenjak kepergian Jungkook. Aku masih memandangi gundukan tanah merah dan nisannya di salah satu area pemakaman. Mataku selalu sembab jika mengingat lagi seminggu kebersamaanku bersama Jungkook. Begitu singkat, tetapi begitu sakit dan membekas. 


Hujan turun begitu derasnya, menuntun langkahku pergi meninggalkan pemakaman dan akhirnya terhenti di depan rumah Jungkook. Sudah 3 hari terakhir aku tinggal di rumah Jungkook bersama ibunya yang kini sudah memiliki cahaya kehidupan. Mata yang selalu bersinar ramah padaku, saat ini ada di dalam tatapan ibunya Jungkook. Jungkook meminta Paman Chan untuk menjalankan operasi transplantasi kornea sebelum Jungkook pergi. Dadaku selalu sesak jika melihat mata itu, selalu terkenang akan sosoknya yang hanya singgah sebentar dalam hidupku.


“Kau sudah pulang? Menemui Jungkook?” tanya ibunda Jungkook.


Aku hanya mengangguk. Ibu Jungkook sedang duduk bersama suaminya. Aku masuk ke dalam kamar Jungkook yang saat ini kutinggali, mengambil diary yang sempat Jungkook titipkan untukku. Ayah tak ingin membacanya. Dia yang memintaku membaca sendiri untuknya.


“Ayah, kenapa seperti ini? Kenapa meninggalkan kami? Apakah aku juga pantas dihukum atas kematian Jung Eun? Apa cuma Jung Eun anak Ayah? Apa aku tidak? Apa aku tidak bisa menjadi alasan untuk Ayah tetap tinggal di sisi ibu? Maaf, jika aku memang tidak bisa membanggakanmu seperti yang Jung Eun lakukan. Tapi aku ingin Ayah tetap di sini, menjaga ibu untukku, menjaga ibu untuk Jung Eun. Terkadang aku tidak sanggup menjalaninya, Yah! Aku juga sangat merindukan Ayah. Apakah dengan aku pergi Ayah akan kembali pada ibu? Aku tahu Ayah sangat membenciku.”


Air mataku berderai membaca tulisan tangan Jungkook. Ayah Jungkook juga menangis sejadi-jadinya mendengar curahan hati Jungkook. Aku tak tahu begitu dalam luka hati yang Jungkook miliki. Karena selama ini, senyum yang selalu dia ulaskan seolah mengaburkan goresan luka di batinnya.


“Maafkan Ayah, Jungkook. Maaf.”


Aku tak sanggup menatap lagi kesedihan itu, apalagi kulihat ibu Jungkook menangis. Mata yang pernah Jungkook punya itu menangis. Kristal cokelat itu berair. Aku berlalu begitu saja meninggalkan mereka. Aku duduk di depan meja belajar di kamar Jungkook. Parfum Jungkook masih membekas di sekitar udara kamar. Bau parfum yang kurasakan ketika berada di dekatnya, dan pernah berada di pelukannya. Kubuka lagi diary itu. Ada goresan pena lagi, goresan tangan Jungkook. Hatiku bergetar ketika membacanya.


Terima kasih, Lisa, bidadari cantik yang pernah singgah dalam hidupku. Terima kasih karena memberikan hari-hari indah yang tak pernah kumiliki selama ini. Aku sangat mencintaimu, aku benar-benar sangat mencintaimu. Tapi, Tuhan tak memberikan waktu yang banyak. Ah, entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Suatu saat aku akan menyatakan perasaanku ini padamu, memintamu untuk menjadi kekasih hatiku sepanjang hitungan hari yang tersisa. I Love You, Lisa. 


Aku menangis sejadi-jadinya. Menangisi kepergian Jungkook. Menangisi semua yang pernah kujalani bersama Jungkook, menyesali kenapa pertemuan ini begitu singkat. Seakan aku mengutuk takdir yang memisahkanku dengan Jungkook. 


“Pergilah …, pergilah dengan tenang, Jungkook.”


Aku membuka lembaran berikutnya, kugoreskan pernyataan hati yang ingin kusampaikan padanya. Pernyataan akan sakitnya hatiku ini. Perasaan yang aku ingin Jungkook mengetahuinya juga.


Aku sudah tahu. Terima kasih karena kau mencintaiku. Aku setuju untuk menjadi anak angkat ayahmu. Itu atas permintaanmu, 'kan? Mereka telah kehilangan Jung Eun, dan sekarang kehilangan dirimu. Tak sanggup rasanya jika aku harus menolaknya.


Jungkook, tadi siang, polisi sudah menangkap Namjoon. Kalau saja hari itu aku melarangmu pergi, kalau saja aku melarangmu bertarung dengannya, kejadian buruk ini tidak akan pernah terjadi. Jungkook, aku sangat merindukanmu. Aku merindukan senyumanmu. Aku tak menyangka senyuman terindah yang telah kau berikan itu adalah senyuman terakhir untukku. Lihatlah kebahagiaan yang telah kau ciptakan ini, Jungkook. Lihatlah dari atas surga sana. 


Terima kasih telah mengukir sepenggal kisah cinta dalam hidupku. Sepenggal kisah manis bersamamu. Aku mencintaimu. Love for you, Jungkook.


Kuambil selembar foto terakhir yang kupunya. Foto kenanganku bersama Jungkook. Senyuman yang sangat manis. Kuletakkan foto itu di dadaku. Aku menangis sesunggukan. Menangisi semuanya. Ingin menghentikan semua mimpi buruk ini. Rasanya dadaku begitu sesak. Menangis penuh penyesalan. Menangis untuk Jungkook. Hingga aku lebih memilih untuk menutup kedua mataku. Perlahan-lahan, akan kuhapus segala kesedihan ini, dan menganggap kehadiran Jungkook yang hanya seminggu ini bagai simfoni indah yang menghiasi hidupku. Walau hanya seminggu. Sepenggal kisahku bersama Jungkook.


“Damailah di sana. Aku mencintaimu, Jungkook.”


TAMAT