
Namjoon tertawa lebar. Besar sekali nyali Jungkook, mungkin itu yang ada dipikirannya. Aku juga tak bisa mengerti arah dan tujuan Jungkook melakukan itu semua.
"Baik!" sambut Namjoon.
"Sabtu ini, setelah ujian blok berakhir. Di aula sekolah. Kalau bisa, jangan sampai ada kedengaran pihak sekolah."
"Hh, sepertinya persiapanmu sudah matang. Aku belum mengatakan taruhanku. Kalau aku yang menang, aku mau .... dia!"
Jungkook terkejut, begitupun aku. Ketika jari Namjoon menunjuk padaku, yang dia maksud adalah aku.
"Berikan gadis pengemis itu padaku. Sekalipun dia hanya pengemis dan penjaga sekolah, tapi dia sangat cantik. Bagaimana?"
Tanpa berpikir dua kali, Jungkook menyetujui persyaratannya. Aku terkejut mengetahui tindakan bodoh Jungkook yang dengan mudahnya mengorbankanku demi hubungan buruknya bersama Namjoon. Aku tak bisa bicara apa pun, hingga Namjoon dan genknya lenyap dari pandanganku.
PLAKKK! Tamparan kerasku menghantam pipinya. Tanpa peduli alasan yang hendak dilontarkan Jungkook padaku. Pembelaan atau apa pun itu, aku tak menghendakinya. Tak menyangka saja ternyata aku tidak begitu berarti untuknya. Kebersamaan kami yang baru berjalan 5 hari ternyata memang benar omong kosong adanya.
"Aku pikir aku istimewa. Kupikir, kau anggap aku sama seperti remaja lain, tak membedakan status dan pendidikan. Akhirnya, kau menyadarkanku akan derajatku yang sebenarnya. Terima kasih karena kau menyadarkan kalau aku terlalu bermimpi bisa berteman denganmu!"
Jungkook membuang pandangannya. Aku kecewa sekali. Tak terasa, kristal bening mengalir perlahan di pipiku, bagai sungai kecil yang berisi kepedihan dan kekecewaan.
"Aku tak akan memberi pembelaan apa pun. Maaf ..."
Dia membawa sepeda motornya, meninggalkanku. Aku hanya bisa terduduk, menangis, seolah asaku lenyap bersamaan dengan tangisan dan napas panjang yang kuhela.
*
Sehari kulewati tanpa bertegur sapa dengan Jungkook, dia juga tak terlihat menghampiriku. Ternyata selama ini aku tertipu akan senyuman dan kebaikannya. Aku tak berharga sama sekali untuknya. Hampa sekali hari-hariku tanpanya. Tak ada sedetik pun waktu yang kulewatkan tanpa mengukir indah senyumannya di pikiranku. Bahkan setelah pulang sekolah, aku menatap rumah sederhana Jungkook dari kejauhan. Aku melihat senyuman tulusnya. Di serambi kecil itu, Jungkook sedang tersenyum pada ibunya. Sekalipun ibunya tidak bisa melihat, dia pasti tahu senyuman tulus yang diukirkan puteranya untuknya.
Namun, jantungku seolah berhenti berdetak melihat wajah cemas Jungkook yang berusaha menolong ibunya. Mungkin ibunya mengalami sakit di bagian matanya. Hatiku tergerak untuk menolongnya, tetapi kakiku enggan melangkah. Aku hanya bisa terpaku melihat Jungkook membawa ibunda tercinta ke rumah sakit. Aku ikut menyusulnya.
Langkah gontaiku berjalan mendekati Jungkook yang sedang terduduk di lantai lorong rumah sakit dengan cemasnya. Menunggui ibundanya diperiksa oleh dokter. Lemah sekali batinnya saat ini.
“Bibi kenapa?” tanyaku.
Jungkook menoleh ke arahku. Namun dia tak ingin bangkit, hanya membuang pandangan cemasnya agar aku tidak mengetahuinya. “Ada sedikit gangguan pada matanya. Aku tak tahu pasti, semoga tidak parah.”
Aku terdiam sejenak, tak mau bicara lagi. Hingga kehadiran dokter memecah keheningan, dia mendekati Jungkook dengan perasaan kecewa.
“Jungkook, ini harus segera ditangani.”
Jungkook terkejut mendengar pernyataan dokter separuh baya itu, “Apa maksud Paman?”
Dia memanggil dokter itu dengan sebutan paman, mungkin masih ada hubungan keluarga dengannya. Wajah pria itu juga terlihat simpati pada Jungkook.
“Kita harus mengoperasi segera mata ibumu, kemungkinan sel kanker matanya mulai menyebar.”
“Mintalah bantuan biaya pada ayahmu, paman sudah menyampaikan hal ini sejak kemarin. Pergilah menemuinya. Jangan membencinya lagi. Ini demi ibumu. Perbaiki hubunganmu dengan beliau sebelum terlambat.”
Paman Dokter pergi, ingin sekali rasanya aku menjadi sandaran kesakitan Jungkook saat ini. Namun, mungkinkah ini terjadi mengingat sebagian hatiku masih merasa jengkel dengan aksi taruhan yang dia lakukan bersama Namjoon.
“Kau marah?” ucapnya perlahan tanpa mau sedikit pun menatap mataku.
“Memangnya kau peduli?”
Jungkook menghela napas, menoleh ke arahku sejenak. “Terserah kalau kau benci padaku. Tapi, apa kau bisa bantu aku kali ini?”
Aku menguatkan hatiku, beban yang dia tanggung saat ini lebih berat daripada taruhan itu. Aku meredamkan egoku, mencoba mendengarkan permintaan hatinya.
“Baiklah.”
Entah apa yang dia inginkan dariku, ingin rasanya aku meledakkan semua emosi yang membungkus hati dan perasaanku. Namun, segores luka kini membekas di hatinya, akan lebih kejam jika aku menghantamnya saat ini dengan binar kebencian dan kemarahan. Aku hanya terdiam, mengikutinya pergi ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan, aku membisu, begitupun dengannya. Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam sebuah gedung pencakar langit, sebuah gedung perkantoran.
Tak lama, langkahnya terhenti. Aku mengikutinya. Dia mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan, ruangan direktur perusahaan itu. Hingga tampak di depan mataku, seorang pria separuh baya yang aku yakin pasti beliau adalah ayahnya Jungkook. Beliau mewariskan kemiripan wajahnya melalui gen pada puteranya yang saat ini menggenggam jemariku.
“Hari ini ibu harus dioperasi, Paman Chan khawatir sel kanker di matanya semakin menyebar. Bantulah aku untuk membiayai operasi ibu, Yah. Saat ini, cuma Ayah yang bisa menolongku. Jika bukan demi aku, lakukan demi ibu, seseorang yang pernah Jung Eun punya.”
Aku hanya terdiam, begitu dalam luka di hatinya, begitu besar harapan yang dia miliki saat ini. Kulihat ayah Jungkook mendekat, lalu memeluk puteranya dengan lengan hangatnya. Hingga tampak Jungkook menghela napas panjang, terasa seperti melepaskan beban yang selama ini dia pikul sendiri di punggungnya.
“Oh, iya, Ayah. Ini Lisa.” Jungkook mengenalkanku pada ayahnya. Dengan perasaan hormat, kucium punggung tangannya.
Beliau hanya tersenyum, “Kau mungkin seumuran Jung Eun.”
Aku tersenyum, senang sekali rasanya melihat kelegaan hati yang Jungkook rasakan saat ini.
Bahagia sekali. Hingga akhirnya dia menoleh padaku, tersenyum manis, sangat manis. Senyuman tulus dan ikhlas, senyuman termanis yang pernah kulihat. Senyuman termanis dari seluruh senyuman yang dia untaikan untukku.
Malam akhirnya menjemput, dia mengantarku pulang ke rumah. Rasanya, aku tak ingin menjemput hari esok, tak ingin mengingat aksi taruhan yang Jungkook janjikan pada Namjoon.
“Terima kasih untuk hari ini, Lisa!”
Aku hanya mengangguk, tak mau bicara banyak. Ketika hendak berbalik, dia menarik tanganku.
“Maafkan aku untuk besok. Aku mau minta maaf dengan sepenuh hati untuk apa yang terjadi besok.”
Aku menarik tanganku, mencoba menghindari pandangannya. “Aku tak mau bahas itu!”
Aku terkejut ketika tanganku ditarik lagi oleh Jungkook. Untuk sesaat, aku merasa dunia membisu, bumi berhenti berputar. Untuk durasi sekian detik, aku merasakan ciuman hangatnya di pipiku. Degupan jantung seolah menyatu dengan hangatnya perasaan yang aku dan Jungkook miliki saat ini. Hingga dia berlalu, tanpa sepatah kata pun. Begitu pula denganku, ikut membisu bersama heningnya malam.
*