7 Days With Jungkook

7 Days With Jungkook
Empat



Aku terdiam sejenak. Ya, aku baru tersadar. Jungkook, si bayangan Namjoon. Jungkook yang selalu saja menjadi target kejahatan Namjoon. Siswa yang selalu jadi tameng ketika Namjoon membuat masalah. Dia yang selalu dihukum karena mencuri soal ujian untuk Namjoon. Jungkook, siswa yang jadi tameng selama ini ternyata sudah berdiri sendiri. Dia tak ingin lagi menjadi bayang Namjoon, atau apa pun namanya itu. Itulah gosip-gosip yang kudengar dari siswi-siswi sekolah yang selalu membicarakan genk Namjoon ketika mereka duduk di cafeteria.


Aku tak mau bicara lagi hingga dia menyelesaikan pelajarannya. Hujan turun begitu derasnya. Dia segera mendekati sepeda motornya dan memintaku duduk di jok belakang.


"Tidak usah, rumahku dekat dari sini, aku bisa berjalan kaki. Kau pulang aja!" Aku meninggikan nada suara agar terdengar olehnya di bawah derasnya guyuran hujan.


"Sudah, naik saja!"


Aku pun menurut. Ketika dia dengan cekatan menancapkan gasnya, aku terpaksa memeluk dan bersandar di punggungnya. Begitu hangat, hingga rasanya aku tak ingin turun dari perlindungannya saat ini.


*


Langkahku perlahan, hatiku begitu shock. Sesampainya di rumah Jungkook, kulihat dia tersenyum menatap seorang wanita separuh baya yang sedang duduk di sofa. Jungkook hanya tersenyum, pasti dia adalah ibunya Jungkook. Aku menatap Jungkook yang tersenyum mendekat. Akhirnya aku tersadar, ibunya Jungkook ternyata tidak bisa melihat. Jungkook merendahkan tubuhnya, dia jongkok agar ibunya bisa menyentuhnya.


"Aku pulang, Bu!" ucap Jungkook tersenyum.


Kulihat dia sedikit meringis ketika tangan ibunya meraba bagian pipinya yang lebam akibat perkelahian tadi pagi. Dia tidak ingin ibunya tahu kalau wajahnya terluka, pasti beliau sangat cemas.


"Bagaimana hari ini, Jungkook?"


"Baik-baik saja, Bu. Hari ini ulangan berjalan lancar. Oh iya, aku bersama seseorang. Pasti Ibu akan suka."


Jungkook memberi isyarat agar aku mendekati mereka, aku tersenyum memandang hal yang begitu miris. Selama ini, aku selalu mengeluh akan cobaan dan derita hidup yang tiada pernah bosan menghampiri tiap sendi hidupku. Yang sekarang yang ada di hadapanku ini justru lebih memprihatinkan.


"Bibi, aku Lisa." Dengan tersenyum, aku meraih tangan ibu Jungkook dan mencium punggung tangannya pertanda hormat.


Wanita itu tersenyum sambil menyentuh pipiku, meraba tiap lekuk wajahku. Beliau tersenyum melebar, "Jungkook, dia cantik. Dia pacarmu?"


Aku terkejut dengan ucapan ibunya Jungkook. Jungkook yang ditanya seperti itu kembali mengembangkan senyuman manisnya, "Ya, Bu. Dia sangat cantik, tapi dia bukan pacarku. Kami cuma teman."


Aku menghela napas perlahan. Ucapannya begitu tenang, tetapi sedikit menyiratkan kepiluan dan kekecewaan. Entah perasaan apa ini, Tuhan. Selama hujan deras mengguyur kota, tak terasa dingin, justru kehangatan yang aku peroleh di tengah sendunya suasana keluarga kecil itu.


Aku berbicara dan bercanda bersama ibu Jungkook. Jungkook hanya melihat dari kejauhan seraya menguntai senyuman padaku. "Thank you!"


Kulihat, dia mengucapkan itu. Hanya dari gerak bibirnya saja aku sadar bahwa dia mengucapkan rasa terima kasih karena kehadiranku di tengah mereka saat ini.


Malam menjemput. Aku tertegun sejenak di teras rumah, membiarkan hawa dingin menjalari sekujur tubuhku. Jungkook pun menutupi punggungku dengan jaketnya. Dia tersenyum dan menatapku.


"Apa yang kau minta sebagai utang tadi pagi?" Dia membuka pembicaraan.


"Kenapa kau selalu menganggap itu utang?" ucapku.


Jungkook melangkah dan duduk di kursi teras. Dia memandangku dan mendaratkan tangannya ke atas kursi, mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya.


"Bagaimana kalau kuberikan les privat setelah pulang sekolah selama seminggu ini. Oke?" Tawarannya begitu menarik terdengar.


Aku tersenyum dan duduk di sampingnya, tak menyangka kini aku bisa menjalin hubungan akrab dengannya, sekalipun dia mengatakan aku bukan pacarnya. Mungkin suatu saat nanti dia akan menyadari betapa aku sangat mengagumi sosoknya, mencintai senyumannya, bahkan memuja keindahan kristal matanya.


*


"Kornea termasuk bagian mata yang mengizinkanmu untuk bisa melihat. Kau tahu itu, Lisa?" ujarnya setelah dia membaca sedikit buku Biologinya.


Aku mengangguk, "Ya, aku sering melihat di TV."


"Tiga tahun yang lalu, ibu mengalami kecelakaan bersama adikku. Adik perempuanku meninggal, dan ibu mengalami kebutaan karena korneanya rusak. Kejadian itu terlalu cepat terjadi, seperti mimpi buruk."


Aku tersentak, ucapan dan suara lirihnya bagai pisau yang menikam jantungku. Dadaku terasa sesak mendengar ceritanya. Kulihat bening-bening kristal di matanya yang hendak menetes. Sebuah senyuman justru menguatkan batinnya. Dia menghela napas panjang berharap sesak batin ikut lepas bersamanya.


"Lalu, ayahmu?"


Dia tersenyum menatap wajahku. "Ayahku meninggalkan kami setahun yang lalu. Dia tak mau bersama ibu yang sekarang tak bisa melihat. Sepertinya beliau benci pada ibu karena kematian adikku."


Ah, pertanyaan yang salah. Bukannya melegakan perasaannya, justru menanyakan hal yang semakin menghancurkan perasaannya. Aku benar-benar tak berguna.


"Kenapa menangis?" Dia bertanya ketika melihatku meneteskan air mata.


Aku segera menghapusnya, "Maaf, aku hanya membuatmu bersedih, maafkan aku."


Jungkook malah tersenyum. Jemarinya menyentuh pipiku, hingga pipiku merona merah karenanya. Pasti ketahuan sekali bahwa aku sangat malu karena dia menyentuh pipiku.


"Sudahlah. Kan, aku yang lebih dulu buka session curhat. Jangan merasa bersalah!"


Tak terasa, kebahagiaan seolah membuat kami lupa akan hari yang mulai senja. Dia menyentuh dan menggenggam jemariku. Kulihat wajahnya yang tersenyum, wajah yang selalu tersenyum ramah. Kisahku bersama Jungkook bagaikan obat penawar rindu dan lukaku. Jungkook, malaikat yang hadir dalam hidupku, dan akan selalu menerangi hidupku yang kelam ini.


Tawa dan senyumanku terhenti kala dari kejauhan, genk Namjoon mendekat. Jungkook sudah waspada dan memintaku kembali bersembunyi di balik punggungnya.


"Apa yang mau kau lakukan, Joon?" tanya Jungkook dengan ucapan tegas. Dia tak gentar menghadapi kesombongan Namjoon.


Aku takut kejadian di cafeteria terulang lagi. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Jungkook.


"Aku ingin bermain-main denganmu, bagaimana?" ucap sinis Namjoon.


Jungkook menghela napas, sepertinya paham arah pembicaraan Namjoon. "Aku bosan bermain, bagaimana kalau bertaruh?"


Aku terkejut, taruhan apa yang ingin Jungkook lakukan? Kenapa Jungkook malah menggali kuburannya sendiri? Tanganku terasa gemetar, tetapi Jungkook menatap mataku untuk meyakinkanku.


"Ok. Kita bertarung di aula. Kurasa, jurus karatemu masih cukup handal. Akan kubuktikan kalau aku lebih hebat daripada kau!" tukasnya.


Bertarung? Karate? Itu taruhannya nyawa! Aku hanya bisa terdiam, tanpa bisa mencegah tindakan Jungkook.


"Baik, kalau aku yang menang, berikan aku uang 50 juta. Sanggup?" ucap Jungkook.