7 Days With Jungkook

7 Days With Jungkook
Dua



Benar. Ancaman diluncurkan. Begitulah kalau kedudukan di atas. Yang bawah pasti selalu terjepit. Aku melihat sekeliling, beberapa pelayan tak ada yang berani membantu atau sekedar membelaku. Bibi juga tidak bisa berbuat banyak. Aku tak bisa menyalahkannya, dia juga tidak mau ambil resiko. Biaya hidupnya dan ketiga anaknya diperoleh dari cafeteria ini, apalagi dia sudah janda.


Aku hampir menangis. Dengan sedikit gemetar, aku mengeluarkan sapu tangan dari saku. Aku hendak membersihkan baju seragamnya yang menguning karena warna jus jeruk yang mengenai bajunya. Namun, niat baikku tak diterima baik. Tubuhku hampir limbung ketika dia mendorong bahuku. 


“Jangan sentuh bajuku dengan tangan kotormu, Pengemis!”


Dadaku begitu sesak menahan tangis. Sigap, tubuhku diraih oleh lengan dari arah belakang. Aku menoleh, siswa pagi tadi. Wajahnya terlihat kesal, tak seramah tadi. Dia tak bicara padaku, hanya menatap tajam wajah Namjoon yang sudah sangat memuakkan itu.


“Ini hanya masalah kecil, tak perlu kau sampai melaporkan hal ini pada orangtuamu. Mungkin bagimu itu terlihat koto, tetapi bagi orang-orang seperti mereka, melakukan hal seperti ini bisa menyambung hidup mereka,” ucap siswa itu begitu tegas. 


Ucapan yang membuat seisi cafeteria menjadi hening. Tak ada yang berani menyela, mereka mengurungkan diri dan tak mau turut campur dengan keributan itu. 


“Hh, sekarang alih profesi menjadi pahlawan, Jungkook? Setelah kutendang kau dari genk, kau menjadi bagian dari sekumpulan pecundang ini? Ah, beralih menjadi ketua dari orang-orang tak berharga ini?” 


Wajah berang Namjoon terlihat jelas, tatapan sinisnya seolah menikam jantung orang yang menatapnya.  Aku masih gemetar. Takut terjadi apa-apa, berharap akan ada guru yang datang dan menghentikan keributan. Namun, apa yang bisa dilakukan guru saat nanti kepala sekolah mengeluarkanku dari lingkungan sekolah ini hanya demi keegoisan puteranya.


Aku terkejut ketika tanganku terasa hangat, siswa yang bernama Jungkook itu menggenggam jemariku. Dia memberi isyarat untukku bersembunyi di balik punggungnya. Meskipun sudah bersembunyi, tetap saja suara keras Namjoon tak bisa menyurutkan ketakutanku. 


“Berhentilah bersikap seperti ini, kau terlalu sombong. Bukan itu yang saat ini kuharapkan darimu, tetapi kedewasaan. Mungkin dengan aku keluar dari genk, kau bisa menyadari semuanya. Ternyata aku salah. Kau tetap tak mau kalah, selalu menganggap dirimu benar, dan aku sebagai sainganmu!”


Jungkook berujar panjang lebar, konflik internal yang mereka bahas. Aku tak mengerti, dan mungkin tak ingin mengerti. Namjoon menyeringai sinis, mendekati Jungkook dan menarik kerah kemejanya. Jungkook segera menyuruhku menjauhinya. Semakin menakutkan, aku tak ingin ada perkelahian, apalagi sampai terdengar pihak sekolah. 


“Bisa sekarang kita berlatih karate? Sudah lama sekali aku ingin menghajarmu!”


Ruangan jadi bising, perkelahian terjadi. Bersamaan dengan bel masuk berdering, siswa-siswi menjadi bingung dan berlarian. Ada yang ingin mengejar ujian selanjutnya, ada juga yang berusaha melerai. Entah karena takut atau apa, aku segera bergegas lari meninggalkan Jungkook, siswa yang menolongku saat ini. Dia justru menawarkan anggukan yang kulihat dari kejauhan. Senyuman yang dia ulaskan, seolah menjadi embun memudarkan seluruh ketakutanku.


*


Aku hanya terpaku, sudah setengah jam aku berdiri dan terdiam. Dari kejauhan, Jungkook dihukum di bawah tiang bendera. Wajahnya penuh lebam. Itu semua karena aku. Wajahnya sangat cemas. Sedari tadi, dia menatap ruangan kelasnya yang sedang melangsungkan ujian. Tatapannya sedih, namun dia berusaha tersenyum. Berpeluh keringat menetes di dahinya. Aku hanya bisa terdiam dan tak tahu hendak bertindak apa. Aku menyebabkan masalah besar untuknya.


Aku terkejut ketika ayah menghampiri, lalu tersenyum sambil memegang sebotol air mineral.


“Ayah tahu apa yang terjadi, tidak apa-apa, Lisa. Jangan sampai dia seperti itu.”


Ayahku mengulas senyum ikhlas, aku selalu membuat masalah. “Maafkan Lisa, Ayah…” 


Aku mengambil botol mineral dari tangan ayah, berjalan perlahan mendekati Jungkook. Dia tersenyum ke arahku, senyuman yang membuatku merasa semakin bersalah saja.


“Hei, wajahmu keliatan jelek seperti itu. Sudahlah, jangan merasa bersalah. Pertengkaran tadi karena masalah kami di masa lalu. Jangan menjadi sungkan seperti itu, Lisa.”


Aku mengeluarkan sapu tangan dan menghapus keringat yang mengucur di dahinya. Dia masih membalas dengan senyum tulus.


“Bukannya kau ke sini untuk memberiku minuman?”


“Ah, iya, maaf.”


Aku segera membuka tutup botol air mineral itu dan menyodorkan ke arahnya.  Dia segera tersenyum dan sedikit tertawa, hal itu membuatku mengernyitkan alis.


“Kenapa?”


“Kamu tak lihat posisiku bagaimana sekarang? Kalau aku menurunkan tanganku dari posisi hormat seperti ini, waktu hukumanku akan ditambah 10 menit lagi.”


Aku bingung. Dia membuatku salah tingkah saja dengan perhatian dan senyumannya. Padahal aku tak tahu harus berbuat apalagi.


“Aku … ambil sedotan dulu, ya.”


“Haruskah?”


Jantungku berdegup kencang. Dia memintaku untuk membantunya menenggak air mineral. Hanya dengan memegangnya saja, aku merasa napasku seolah terhenti melihat wajahnya dari dekat. Wajah seorang siswa yang selama ini bahkan aku tak tahu siapa dia. Mulai hari ini akan ada bayang wajah dan senyumnya yang menari di otakku. Aku perlahan meninggalkannya. Dia tampak bersinar di mataku, dengan peluh keringat yang seperti kristal bercahaya di bawah sinar matahari terik. Perasaan yang begitu membekas. 


*


Sudah satu jam, satu persatu siswa meninggalkan sekolah. Ujian perdana hari ini sudah selesai. Sesekali aku menoleh ke arah lapangan sekolah. Jungkook masih berdiri di sana. Dia bahkan tak mengikuti ujian tadi. Semakin merasa bersalah saja aku.


Dengan memberanikan diri, aku berlari menuju ruang BK. Kupertaruhkan semua keberanian dan keberadaanku di sekolah ini hanya demi menyelamatkan Jungkook. Di ruangan BK, sudah duduk guru konseling dan seorang guru mata pelajaran yang aku tidak tahu siapa dia.


“Ada apa, Lisa?”


Kuhela napas panjang, lantas duduk di antara mereka dan menceritakan semua yang terjadi di cafeteria sekolah tadi. Memang seharusnya mereka tahu, bukan hanya mendengar dari pihak Namjoon. Apalagi memang banyak siswa di tempat kejadian tadi. Tak ada yang berani membela Jungkook, membiarkan Jungkook seorang diri menghadapi kekuasaan mutlak Namjoon di sekolah itu. Guru konseling mendengarkan dengan seksama seluruh ceritaku. Guru muda di sebelahnya hanya mengangguk paham. 


“Jika memang ada yang harus bertanggung jawab, biarkan aku saja, Bu! Jangan Jungkook, dia ga bersalah. Dia hanya membelaku. Biarkan dia mengikuti ulangan yang dia tinggalkan tadi. Aku yakin ulangan tadi begitu berharga untuknya. Kumohon …,” pintaku sepenuh hati.


Guru konseling hanya tersenyum, begitupun guru muda itu. Kuharap, mereka mau menerima permintaan dan pembelaanku atas diri Jungkook. Tidak seharusnya Jungkook menderita karena aku.