
Tubuhku gemetar, rasanya aku ingin menutup telingaku. Ketika bel usai hari ujian blok berakhir, seluruh siswa berlarian menuju aula. Benarkah Jungkook akan tetap bertarung dengan Namjoon? Bagaimana jika Jungkook kalah, apa yang akan terjadi padaku? Harusnya dia tak menepati janji itu. Tak peduli sekalipun harus dikatakan bernyali kecil, tetap saja aku tak pantas menjadi taruhan untuk kebencian dan kemelut masa lalu mereka.
Aku hanya terdiam di bangku luar aula, tanganku basah karena gugupnya. Pertarungan sudah berjalan entah berapa menit, aku juga tidak tahu siapa yang mengungguli, aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Aku takut hal buruk menimpa Jungkook. Minggu lalu, Namjoon juga bertarung dengan sepupuku, dan sampai sekarang dia masih koma.”
Kudengar seorang siswi berbicara dengan temannya, mereka berlalu dari hadapanku dan masuk ke aula. Tentu saja hal itu semakin membuat jantungku berdebar. Membuatku tersadar. Yang kukhawatirkan saat ini harusnya Jungkook. Karena kalau terjadi hal buruk padanya, tak ada seorang pun lagi yang akan peduli padaku, juga pada senyumanku yang selama ini selalu memudar.
Dengan segenap cinta dan asa yang kumiliki, aku bangkit dari kekakuanku, mengejar harapan yang hampir hilang. Ketika sampai di aula, tak terbayangkan betapa gemetarnya tubuhku. Jungkook justru memenangkan pertarungan. Dia tersenyum dan terlihat Namjoon sudah babak belur di wajahnya. Jungkook berhasil menang. Jungkook berhasil menyelamatkanku dari cengkraman Namjoon. Aku meluapkan semua ketakutanku dengan helaan napas panjang.
“Jungkook …”
Air mataku pun berderai di pipi. Jungkook menerima bayaran dari Namjoon, amplop berisi 50 juta kini berada di tangannya. Ingin sekali mendekatinya dan mengucapkan terima kasih. Namun, aku lebih memilih membiarkan satu per satu siswa meninggalkan aula. Jungkook juga melakukan hal yang sama. Aku berjalan dan berdiri di hadapannya. Dia tersenyum manis. Tangan hangatnya menyentuh pipiku.
“Aku melakukan ini semua bukan demi uang lagi, tapi untuk menyelamatkanmu. Dasar cengeng!” Dia menghapus setitik air mata yang jatuh di pipiku.
Aku terdiam. Tak tahu apa yang ingin kuucapkan lagi. Dia bergerak mengambil tasnya, kemudian menghampiriku lagi dengan wajah penuh kebahagiaan. Dia menarik tanganku, ingin mengabadikan kebahagiaan ini dengan kamera polaroit yang saat ini dipegangnya.
“Satu, dua, tiga, say cheese …,” ucapnya.
Selembar foto kenangan ada di tanganku. Sebuah bukti kalau aku begitu berarti untuknya. Hangat sekali suasana seperti ini. Ingin rasanya aku mengatakan pada ayah kalau aku memiliki seseorang yang baik saat ini. Yang menganggapku begitu istimewanya.
Belum sempat aku bicara apa pun, tubuhku gemetar, tetapi begitu hangat. Jungkook memelukku. Kurasakan degupan jantungnya ketika aku menyandarkan kepalaku di bidang dadanya. Dia menyandarkan dagunya di atas kepalaku. Hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Pelukan hangat dari seorang Jungkook, benar-benar hangat.
“Ke- kenapa kau memelukku?” Aku mulai bersuara, dengan begitu banyak tenaga yang kuhimpun demi bisa bertanya seperti itu di tengah jantungku yang berdentum keras.
“Karena aku ingin!”
“Kenapa kau ingin memelukku?”
Jungkook menghela napas, “Entahlah, ingin memelukmu saja. Hatiku yang berkata seperti itu!”
Aku tersenyum manis, “Memangnya hatimu berkata apa?”
Aku tersenyum, jawaban apa itu? Aku mendengarnya. Ya, detakan jantung yang begitu cepat. Benarkah ketika aku di sampingnya saat ini dadanya begitu berdebar? Begitu istimewakah aku? Untuk sesaat, Jungkook terdiam. Hampir dua menit dia tak melepaskan dekapannya. Hingga akhirnya aku mengangkat wajahku, menatap wajahnya yang berada sedikit lebih tinggi di atas kepalaku. Wajah tampan yang selalu tersenyum manis, menyuguhkan untaian senyuman hangat penentram jiwa. Aku sedikit berjinjit, mencium pipinya. Aku tersipu malu melihat senyuman itu. Sangat manis dan mendamaikan hatiku.
“Sebenarnya, bagaimana perasaanmu padaku?” Dengan memberanikan diri, untuk kedua kalinya aku berinisiatif melakukan tindakan bodoh lagi.
“Akan kukatakan padamu, tapi tidak sekarang. Suatu saat kau akan tahu perasaanku padamu seperti apa. Maukah kau menunggu hingga hari itu tiba?”
Hari mulai sore, Jungkook mengambil tasnya dan kami bergegas meninggalkan aula. Ketika sampai di parkiran, dia terhenti sejenak. Dia mengeluarkan amplop uang tadi dan menyerahkan padaku.
“Kenapa?” tanyaku.
“Peganglah. Bayarkan uang administrasi rumah sakit ibuku. Kata paman, operasinya berjalan lancar. Tapi ibu belum sadar. Setelah aku mengantarkanmu ke rumah sakit, aku harus ke apotek dulu untuk menebus obat. Masuklah lebih dulu, dan temani ibuku. Bisa, kan, membantuku?”
Aku mengangguk paham. Lalu dia mengeluarkan sebuah buku kecil, bersampul hijau tua dan menyerahkan lagi padaku.
“Ini buku harian Jung Eun, aku temukan sehari sebelum kecelakaan itu. Tolong berikan pada ayahku ketika kamu sampai, karena mungkin aku tak sanggup memberikan ini langsung. Mungkin aku akan datang terlambat.”
Aku menerimanya dengan senang hati. Sepeda motor melaju kencang, hingga kurasakan dadaku berdegup kencang. Entah perasaan cinta atau apa. Degupan yang berbeda ketika aku dipeluk Jungkook, entah perasaan aneh apa ini.
*
Aku tersenyum menatap ayah Jungkook yang setia menunggu ibu Jungkook di luar bersamaku. Aku duduk di sampingnya. Pria separuh baya yang punya senyuman hangat seperti Jungkook. Dia tersenyum ke arahku.
“Jung Eun meninggal dalam kecelakaan bersama ibunya Jungkook. Saat itu, kami bertengkar hebat dan ibu Jungkook dalam keadaan mabuk. Paman benar-benar marah saat itu. Dan paman pikir meninggalkan beliau adalah hukuman yang pantas dia terima. Paman tak peduli dengan Jungkook yang memang sangat tidak bisa paman andalkan saat itu. Tapi akhirnya saat ini paman sadar, Jungkook sudah berubah. Dia benar-benar bisa menjaga ibunya. Akhirnya dia bisa dewasa. Setelah ibu Jungkook membaik, paman akan berkumpul lagi dengan mereka. Tak peduli sekalipun ibu Jungkook tidak bisa melihat, tak peduli dengan kesalahannya di masa lalu, yang ingin paman lakukan adalah menebus semua kesalahan paman yang telah meninggalkan Jungkook. Membiarkan Jungkook mencari uang sendiri demi hidup mereka. Jungkook harus tetap hidup normal seperti remaja lainnya. Mulai seterusnya, dia akan hidup kembali menjadi Jungkook yang pantas untuk paman banggakan.”
Aku tersenyum lega. Hidup Jungkook akan normal lagi setelah ini. Lepas dari bayang-bayang Namjoon yang ternyata selama ini merupakan sumber pemasukan dana untuk hidup Jungkook. Jungkook harus hidup lebih baik setelah ini. Jungkook akan hidup bersama ayah dan ibu yang sangat dia cintai. Tak lama lagi kebahagiaan itu akan Jungkook raih.
Suara riuh merusak keheningan damai yang saat ini kurasakan bersama ayah Jungkook. Dari kejauhan, terlihat beberapa personil rumah sakit membawa penghuni baru yang akan menjalani perawatan di tempat ini. Pemandangan umum yang selalu terjadi.
“Pasien kritis! Siapkan ruang IGD!”