
Aku terdiam memandangi sampah yang berada di sekelilingku. Kuletakkan dagu di atas sapu lidi, mataku tak henti menjalari tiap sudut tanah yang penuh dengan sampah. Aku menoleh ke arah jam sekolah yang terpajang besar di dinding gedung luar ruang kantor. Bel masuk baru berbunyi 15 menit yang lalu, tetapi pekarangan sekolah sudah kotor lagi. Padahal baru setengah 7 tadi aku menghabiskan tenaga untuk menyapu tiap sendi pekarangan sekolah. Sekolah remaja memang seperti ini.
Aku hanya seorang gadis anak penjaga sekolah, namaku Lisa. Mengurusi sekolah sudah menjadi kegiatan harianku, dan pagi ini juga sama seperti biasa. Aku menghela napas panjang. SMU swasta ini, SMU yang sudah setahun ini kujaga bersama ayah. Aku ingin sekali duduk di salah satu bangku kelas dan menimba ilmu, tetapi mungkin cita-cita itu terlalu sulit dicapai. Makan dari hasil kerja ayah saja sudah cukup untukku.
Aku tak mau berkhayal terlalu jauh lagi. Hanya beberapa buku koleksi perpustakaan saja yang bisa kubaca. Itu pun yang sudah usang, mungkin hilang beberapa lembar di awal, tengah, atau tidak bersampul lagi. Ayah yang memintanya pada guru piket perpustakaan. Mungkin ayah juga berharap aku bisa belajar dan pintar seperti anak yang lain.
Lamunanku terhenti ketika seorang guru piket menghampiriku yang sedari tadi tak memulai aktifitas biasanya.
“Lisa, kenapa melamun? Masih banyak sampah bertebaran di sini. Cepat, bersihkan! Oh iya, satu lagi, lima belas menit yang lalu sudah bel jam pertama. Kalau ada siswa yang terlambat dan masuk melalui tembok ini, cepat melapor ke saya. Saya ada di meja piket.”
“Iya, Bu.”
Aku hanya mengangguk menurutinya, tentu saja harus seperti itu. Guru piket pergi dan membuyarkan semua angan tentang asa dan cita-cita yang sedari tadi menari di kepalaku. Menghela napas perlahan, aku mulai menyapu lagi. Sudah hampir lima menit, hampir sebagian pekarangan bersih, aku hanya mengulum senyum singkat.
BRUKK!
Aku terkejut ketika sebuah benda menghantam keras kepalaku. Sakit sekali rasanya. Sebuah tas ransel. Aku mendengus kesal. Dari atas tembok, kulihat gapaian tangan hendak memanjat tembok, siswa sekolah ini tampaknya. Dengan lincah, dia melompat turun dan berdiri di hadapanku. Dia menawarkan senyumnya ketika melihat wajahku yang kesal. Dia pun mengambil tas yang ada di genggamanku.
“Kamu terlambat, 'kan? Akan kulapor ke piket!” ujarku kesal.
Wajah siswa itu terkejut. Ketika aku melangkah pergi, dia menarik lenganku dan membungkam mulutku dengan telapak tangannya.
"Please ..., jangan lapor, ya! Hari ini aku ada ulangan. Kalau aku harus dihukum karena terlambat, aku tak akan bisa ikut ujian, 'kan?"
Aku kesal sekali. Memangnya itu urusanku? Pikirku. Aku mencoba melepaskan diri dari genggamannya, namun terasa sulit.
"Ikut aku sebentar ya, Lisa!" ucapnya.
Dia mengenalku. Dia memaksaku dan menarik langkahku mengikutinya. Dia membawaku masuk ke toilet yang berada di ujung lorong. Setelah tiba di tempat itu, dia baru melepaskanku.
“Hei!”
Aku berteriak saking geramnya. Wajahnya terlihat sungkan. Wajah yang jarang sekali kulihat, walaupun aku tahu dia siswa di sekolah ini.
“Jangan lapor, ya! Ini, kan, hari pertama ujian blok akhir semester. Aku harus mengikuti semuanya. Aku tak bisa bilang untuk alasan apa, tapi aku harus menyelesaikan ini semua dalam seminggu. Bisakah kau membantuku? Biarkan aku selamat hari ini.”
Dengan wajah yang memohon seperti itu, aku jadi tak tega. Apalagi alasannya sangat bagus. Untuk ujian, untuk belajar, demi cita-cita yang selalu ingin kuraih. Akhirnya kuredakan amarah, menatap sinar keseriusan dari pancaran matanya.
“Aku berhutang ini padamu, aku pasti akan menggantinya dengan yang jauh lebih baik dari ini. Aku janji padamu!”
Dia mengurai senyumnya, manis sekali. Sempat terselip rasa kagum dengan untaian senyum di bias wajah tampannya. Dia meraih tanganku dan meletakkan sebatang cokelat di atas telapak tanganku. Cokelat batang yang dia keluarkan dari saku celananya.
Aku hanya terdiam. Setelah itu, dia pergi meninggalkanku yang dipenuhi dengan kebingungan, juga perasaan yang tak menentu ini. Perasaan yang tak pernah hadir, tetapi memang seharusnya hadir di usiaku yang sekarang ini menginjak remaja. Rasa ketertarikan pada lawan jenis, cinta atau apalah itu namanya. Yang jelas, dia memberikan kesan pertama yang mendalam untukku. Entah siapa namanya.
*
Jam istirahat sudah berdentang 3 menit lalu, cafetaria sekolah juga sudah dipadati oleh siswa-siswi yang ingin menyegarkan pikiran dan perut mereka. Usaha cafeteria ini dibuat oleh bibi, akulah yang selalu membantunya menyajikan pesanan siswa. Bisa dibilang pramusaji. Cukup luas juga cafeteria ini. Beberapa bangku dan meja yang ada di ruangan sudah dipadati oleh siswa. Seperti biasa, aku mondar-mandir menyiapkan pesanan mereka.
“Lisa, nasi gorengku mana? Aku sudah pesan dari tadi, loh!” seru salah seorang siswa yang kudekati.
Aku tersenyum ramah, "Sebentar, ya. Aku ambilkan dulu,” balasku tersenyum.
Aku melangkah menuju bibiku. Dia selalu dengan cekatan menyiapkan makanan penghilang lapar para siswa, sekalipun bibiku ini bertumbuh gempal. Aku salut padanya yang bisa kerja cepat dibandingkan aku yang bertubuh langsing seperti ini, namun kerjaku sangat lambat.
“Lisa, antar jus ini ke meja 10!” seru bibi.
“Baik, Bi!”
Aku membawa beberapa gelas berisi jus dengan langkah hati-hati, apalagi ruangan begitu sesak. Beberapa pelayan yang lain juga sedikit kualahan. Meja no. 10 yang ingin kutuju. Namun, mataku beralih pada meja sebelahnya. Di sudut itu, siswa bersandar dengan wajah yang serius membaca buku Biologi di tangannya. Siswa pagi tadi.
Aku suka melihat wajahnya, juga semangatnya yang menggebu menempuh ujian blok seminggu ini. Aku tak tahu karena tidak berhati-hati atau apa, aku terpeleset.
PRANGGG! Gelas pecah dan minuman yang harusnya kuhidangkan tadi malah berserakan di lantai. Aku yakin, aku sudah berhati-hati. Bukan karena aku melihat siswa itu jadi tidak berkonsentrasi, tetapi karena merasa ada kaki yang mencekal langkahku. Aku pun limbung, untung saja tidak terjatuh ke lantai.
“Hei! Bisa kerja, hah?!”
Aku mulai panik, suasana satu ruangan jadi ribut karena semua pandangan tertuju padaku. Aku bingung harus bertindak apa, apalagi ketika siswa bertubuh kekar itu mendekatiku. Mungkin karena minumanku mengenai baju dan bukunya yang ada di meja.
“Maaf, aku tak sengaja …,” lirihku mulai takut.
Dia Namjoon, putra pemilik sekolah ini. Selama setahun ini, aku berusaha tidak terlibat masalah apa pun dengannya. Karena nafkah keluarga kami bergantung pada keberadaan kami di sekolah ini.
“Kau tahu, kan, siapa aku? Harusnya kau tak berada di sekolah ini! Aah..., atau sudah bosan, ya, menjadi penjaga sekolah? Perlu bantuan ayahku untuk pergi dari tempat ini?”