7 Days With Jungkook

7 Days With Jungkook
Tiga



Aku meninggalkan ruangan BK dengan gontai. Kulihat Jungkook terduduk di lapangan. Dia pasti sangat lelah karena hari begitu teriknya. Aku berlari dengan cemas yang menjalari hatiku. Kudekati wajahnya yang masih bisa tersenyum.


“Ada apa?” 


Begitulah katanya. Aku sudah sangat cemas. Harusnya itu pertanyaanku. Dari mana dia selalu punya kekuatan untuk tersenyum? Aku bahkan sangat jarang tersenyum karena hidup yang begitu berat. Aku ingin belajar darinya cara tersenyum dan menghadapi masalah. Bukan hanya itu, aku juga sangat memuja dan mengagumi senyuman manisnya. 


“Aku baru saja kembali dari ruang BK. Aku melaporkan semua yang diperbuat Namjoon di cafe tadi. Aku tak mau justru kau yang menanggung semuanya. Aku …”


“Bodoh! Kenapa kau begitu bodoh?!”


Aku terkejut. Wajahnya sangat marah dan kecewa. Dia menghela napas dan membuang pandangannya dari tatapanku. Entah di mana letak kesalahan atas tindakanku.


“Kau tahu siapa Namjoon? Bisa saja kau ditendang begitu saja dari sekolah ini. Kalau hanya dihukum seperti ini dan tidak mengikuti ujian, itu tidak masalah untukku, Lisa. Kenapa kau nekat begitu?!” 


Aku tersentak, seolah napasku berhenti sejenak. Dadaku begitu sesak, penuh air mata, entah karena apa. Aku lebih memilih berlari meninggalkannya. Dia pun tak menatapku lagi. Menangis, mungkin terlalu cengeng. Aku menangis karena dia, mungkin seseorang yang saat ini berharga bagiku -setelah ayah- malah memarahiku. Dia pasti kecewa dengan tindakanku. Aku tak tahu, entah setelah ini akan kehilangannya atau tidak. 


*


Aku merasa lelah menjalari bahu dan punggungku. Setelah menyelesaikan tugas kebersihan hari ini, aku ingin pulang. Rumahku tak jauh dari sekolah, memang harusnya seperti itu. Ketika berjalan gontai diantara kelas-kelas, langkahku terhenti. Jungkook sedang mengerjakan soal ujian yang dia tinggalkan tadi.


Wajah seriusnya itu diwarnai lebam akibat kebodohanku. Hampir 10 menit, aku berdiri terpaku menatapnya dari jendela. Hingga setelah selesai dan pengawas pergi, dia masih terduduk di belakang mejanya. Dia membuka buku Matematika dan mengoreskan penanya. Entah dia tahu aku sedari tadi memperhatikannya atau tidak. Namun, aku tetap terpaku dan masih memujanya di kepalaku. Aku bahkan belum sempat minta maaf dan berterima kasih atas yang terjadi hari ini.


"Mau sampai kapan berdiri terus di situ?" Aku terkejut mendengar ucapannya.


Dia menyadari kehadiranku tanpa menatapku. Entah aku harus apa, tetap berdiri atau meninggalkannya.


"Ah, maaf. Aku ... akan pergi," ucapku sungkan.


"Pergi? Apa aku menyuruhmu pergi?"


Aku sedikit kesal, bagaimana bisa dia berbicara tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kau bicara pada siapa? Padaku? Kurasa ... kau tidak menatapku sekarang."


Dia menoleh, wajahnya masih serius. "Sekarang aku sudah melihatmu, lalu apa?"


Kesal sekali mendengar ucapannya, "Ya sudah, aku pergi sekarang!"


"Tunggu!" Dia bangkit dari duduknya, mungkin menyadari bahwa aku begitu kesal akan tingkahnya. "Apa cafeteria masih buka? Bisa kau bantu aku untuk beli es kristal di sana? Eum, juga tolong ambilkan kotak P3K di ruang UKS. Bilang aja aku yang menyuruhmu. Tadi, aku udah bilang pada petugas untuk ke sana selesai ujian. Bisa?"


DEG! Aku tersadar. Harusnya sudah sedari tadi aku menawarkan diri untuk mengobatinya. Itu semua terjadi karena aku. Bagaimana bisa aku ingin meninggalkannya tanpa mengkhawatirkan keadaannya?


"Aku rasa wajahku sakit sekali. Aku tak bisa pulang dengan kondisi seperti ini. Kau ..."


Belum selesai dia bicara, aku sudah meninggalkannya. Aku berlari ke cafeteria untuk mengambil kompres es, lalu ke UKS mengambil kotak P3K. Ketika aku masuk ke kelas dan duduk di hadapannya, dia malah tertawa kecil.


"Kenapa?" tanyaku heran.


Bingung sekali rasanya ditikam dengan pertanyaan seperti itu. Sesaat, aku hanya terdiam. Dia mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus keringatku. Tersenyum manis. Dan lagi-lagi, aku terbuai akan lengkungan bibir tipis itu.


Tak mau dia menyadari akan kebingunganku, aku segera mengambil kompres dan mencoba menghilangkan lebam wajahnya. Aku tak ingin menatap matanya, juga tersihir oleh bening kristal cokelat yang selalu menyentuh perasaanku. Terlalu dalam dan jauh perasaan ini tentu akan menyulitkanku. Aku berharap hanya sebatas mengagumi saja, bukan cinta atau lebih dari itu. Dia pun hanya diam sepanjang aku mengobati lukanya.


"Aku berhutang padamu pagi tadi, 'kan?" ujarnya tiba-tiba.


Aku menoleh menatapnya. Namun, ketika jantungku berdegup begitu keras tak terkendali, aku segera mengalihkan pandangan. "Hu-hutang apa? Bukannya kau sudah kasih aku cokelat sebagai sogokan?"


Dia tertawa lepas. Indah sekali. Ekspresi apa pun yang dia lukiskan, raut wajah apa pun yang tergambar dari wajah tampannya, selalu terlihat sempurna di mataku. Tuhan, aku benar-benar memuja ciptaan-Mu yang saat ini berada di hadapanku. Begitulah aku membatin.


"Itu bukan sogokan. Karena aku berhutang sesuatu padamu, jadi harus kubayar. Bagaimana?" Dia menyunggingkan senyumnya lagi.


Aku mengernyitkan alis tak mengerti, mungkin dia ingin mengerjaiku.


"Bisakah kau temani aku belajar di sini? Sampai jam 5 saja. Katanya kalau lewat jam 3, di ruangan ini ada arwah gentayangan yang selalu mengganggu."


Deg! Apa yang dia katakan? Menakutiku? "Ja-jangan bercanda! Kau menakutiku? Apa gossip itu benar? Gossip tentang hantu di kelas ini?"


Dengan wajah serius dia menatapku, "Hm! Tentu saja. Kalau kita berdua di sini, dia tak akan mengganggu," ucapnya.


Entah dia serius atau mengerjaiku saja, aku tidak peduli, karena nyaman sekali berada di dekatnya.


"Kenapa tidak pulang saja? Apa harus di sini?"


"Aku tak bisa belajar di rumah. Sudah, kau cukup diam saja selama aku belajar."


Aku menuruti kemauannya, melihatnya belajar. Membiarkan dia terlarut sendiri dalam keseriusannya menekuni dunia eksakta itu. Hingga setelah berjalan 10 menit, aku berani berbicara.


"Aku belum tahu namamu!"


Konyol sekali pertanyaan yang kulontarkan memecah keheningan seperti itu. Dia tersenyum menghentikan aktivitasnya, "Jeon Jungkook."


Aku mengangguk mengerti, mencoba mencari topik pembicaraan lain, "Lalu, hubunganmu dengan Namjoon, apa?"


Jungkook menghela napas, terasa berat sekali terlihat dia menyampaikannya. "Apa selama ini kau tidak tahu genk motor Namjoon? Aku salah satu member-nya. Minggu lalu, aku sudah ditendang keluar dari genk hanya karena aku memilih untuk konsentrasi ke pelajaran."


"Aku jarang melihatmu di sekolah ini. Maaf, aku tidak bilang kalau kau tidak terkenal."


Dia tertawa lagi, "Tidak bilang? Itu yang kau bicarakan, apa?"


Aku menunduk malu. Dia mengerjakan lagi perhitungan-perhitungan matematika yang akan dia tempuh besok.


"Jungkook, si anggota genk Namjoon yang berbeda dari yang lain. Jungkook yang jarang masuk dan selalu terlambat. Jungkook, si bayangan Namjoon yang selama ini mereka katakan. Benar kau tak tahu?" Dia melanjutkan lagi, menceritakan sisi lain dirinya yang tak kuketahui.