'Antaqil Fisabilillah

'Antaqil Fisabilillah
Part 2



***


" ical mau pelgi ke suatu tempat yang mungkin ical ga beltemu aya lagi... Maaf aya"


πŸƒπŸƒπŸƒ


Seorang gadis sedang duduk termenung di kelasnya. Mengingat lagi kejadian beberapa tahun yang lalu saat terakhir kali mereka bertemu. Beribu pertanyaan yang belum sempat terjawab olehnya. Yah, semenjak sahabat kecilnya berkata seperti itu, esoknya ia tidak ada lagi bagaikan lenyap ditelan bumi.


Bagaimana tidak? Satu,, Tidak ada pamit, mungkin kata-kata itu dianggap pamit oleh haikal (ical) tapi tetap saja zahra (aya) tidak menganggapnya, ia masih tidak mengerti akan kata-kata itu. Dua,, Saat Zahra dan keluarga nya berkunjung ke rumah Haikal, anehnya pemilik rumah itu bukanlah keluarga Haikal melainkan orang lain yang Zahra tidak kenal. Padahal, hampir semua tetangganya pasti Zahra kenal, tetangganya Haikal juga tau Zahra, ya karena Zahra sering banget main di komplek ini bareng Haikal. Kecuali orang yang di depannya ini, Zahra sama sekali tidak kenal di ingat-ingat pun tetap saja tidak ingat.


Saat bertanya juga, katanya mereka tidak sama sekali mengenal atas nama bapa Ammar(ayah Haikal) selaku pemilik rumah itu sebelumnya. Mereka malah mengaku-ngaku kalau mereka adalah pemilik asli rumah itu. Zahra sangat geram, tangannya sudah mengepal, mata tajam yang melotot seakan berkata kalau mereka bohong, dusta. Sungguh keterlaluan, pikir Zahra. Zahra terus saja berdumel dalam pikirannya mengutuk-ngutuk pada orang itu yang seenaknya mengaku-ngaku pemilik rumah sahabat kecilnya.


Daripada terus berdebat dengan orang kurang waras, akhirnya keluarga Zahra lebih memilih mengalah dan bertanya pada tetangganya saja. Saat bertanya lagi pun, jawabannya hampir semuanya sama. Tidak tau. Bahkan sebagiannya ada yang bilang, kalau Haikal tuh kena penyakit apa(ntah) terus meninggal, ada juga yang bilang kalau keluarga Haikal korban kecelakaan, dll. Zahra menangis tersedu-sedu tidak ingin mempercayai jika ternyata Haikal meninggal. Meskipun kemungkinan itu bohong. Kedua orang tuanya ikut sedih begitu juga kakanya.


Semenjak itu, kakanya selalu menyemangati adiknya agar jangan terlalu larut dalam kesedihan mencoba mengiklashkan apa yang terjadi. Mencoba apalagi mengiklaskan adalah hal yang sangat berat bagi Zahra. Ia kehilangan sosok yang selalu menjaganya kapanpun. Dan sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Zahra, ia masih yakin kalau Haikal masih hidup. Hanya keberadaannya saja yang Zahra tidak tau.


🍁🌿🍁🌿🍁


Tidak terasa suara bel istirahat pun berbunyi. Semua murid berhamburan keluar, menyerbu dagangan kantin guna mengisi perut yang sudah mulai bersenandung meminta makan. Adapun yang membawa bekal dari rumah pergi ke taman (biasanya) untuk menyantapnya.


Semua kelas sudah sepi tidak ada orang, kecuali kelas 4 orang ini. Yah, tinggal Zahra dan ketiga sahabatnya itu yang masih betah di kelas. Karena, ya ketiga sahabatnya masih nulis menyalin dari papan tulis, sedangkan Zahra,, ya..boleh dibilang dia itu masih melamun. Dari tadi Zahra melamun terus sampai lupa waktu. Nulis pun tidak, satu huruf pun belum ia tulis. Kertas buku itu masih putih bersih belum ternoda.


Serasa sudah hatam menyalin, ketiga sahabatnya merapikan meja, menyimpan semua alat tulis termasuk buku ke tempat semula. Lalu beranjak dari kursinya menuju meja Zahra, guna mengajak ke kantin bareng.


" Ra.., ke kantin yuk.." ajak salah satu temannya, Vira


Krikk..krikk..krik.. 20 detik berlalu tanpa ada jawaban sama sekali dari sang pelamun.


Vira dan lainnya saling pandang.


" Woyy..ra...Ara.." panggil teman yang lainnya, Hani. Dengan tangan melambai-lambai tepat depan wajah cantik Zahra.


Masih tidak dijawab. Mata buka, Kedua tangannya menopang dagu, telinga? Pikiran? Entah.


" Astaghfirullah, nih anak bener- bener ya"


" Itu telinga masih berfungsi kan?" tanya Farah.


" Ya masihlah, dia hidup telinga juga fungsi. Masalahnya pikirannya itu yang sedang menjelajah ke alam lain"


" Hahh?!..ke alam lain?? Han, Far kita tolongin Ara yuk kasian..takut nyasar"


" Aww..duhh sakit tau, humph. Kenapa sih pake acara mukul segala, kalau mau mukul tuh panci aja atau apa gitu yang kuat biar ga sakit." protes Vira sambil terus mengusap keningnya yang sakit.


" Makanya, kalau mau ngomong hati-hati. Maksud gue, alam lain tu alam pikiran. Hadeuh. Lo kira alam apaan? Alam barzah? Lo ma.."


" Shhutt..iya iya gue tau, gue salah. Dah ya diem, oke" ucap Vira membungkam mulut Hani, dan akhirnya dilepas juga.


" Dari tadi ke, damainya. Tuh, Zahra gimana jadinya?" tanya Farah.


" Zahra gue yang urus" ucap Vira percaya diri.


Dan..


" AZ-ZAHRA NUR LAILA AKIRA!! BANGUNLAH..!!! BISMILLAHIRRAHMANNIRRAHIM!! WOYY!!" Teriak Vira menyadarkan Zahra dengan hebohnya.


Yah, usaha membuahkan hasil.


" Astaghfirullah, Ya Allah. Ishh..Vira, ngagetin aja untung ga punya penyakit jantung..pake teriak-teriak segala lagi, pelan juga bisa kali Vir. Terus apa tadi? Bismilah? Lo kira gue keserupan, hah?!!" kaget Zahra dengan tangan yang mengelus-elus dadanya.


" iya maaf deh..habisnya kamu sih di panggil panggil beribu kali kaga nyaut balik, ya kita takut lah kamu kenapa-napa. Pelan lagi tapi ga dijawab- jawab, ya udah aku teriak deh." ucap Vira enteng.


" lagian nih ya ra, kamu ngelamun apa sih..liat tuh jam bentar lagi juga masuk, kita mau ngajak kamu kantin bareng. Iya kan Han?" tambah Farah


" iyain aja deh, biar cepet selesei."


" Ooh..gitu. Ya udah ayok, aku juga dah laper." jawab Zahra beranjak dari kursinya menuju kantin.


" Udah gitu doang? Ya Allah.."


" Ehh..tungguin gue. Jahat banget kalian.." ucap Vira sedikit teriak dan berlari mengejar temannya yang telah tega meninggalkannya.


.


.


.


.


Bersambung...