Zwischen Uns

Zwischen Uns
Revealed



Satu malam berlalu, matahari kembali terbit. Namun, cahaya nya tidak dapat menembus kabut di hutan. Menjadikan hutan tidak begitu terang.


Yuda membuka pintu gubuk, kemudian meregangkan badannya di mulut pintu. Ashura menyenggol Yuda ketika keluar gubuk.


"Hei!"


"Menghalangi jalan."


Rizka, Laura, Rio, dan Maudy berjalan keluar gubuk. Rizka mengikatkan lengan hoodie di pinggangnya. Kemudian, menggendong sebuah tas yang berisi beberapa peralatan untuk pertahanan diri mereka.


"Enggak ada yang perlu dibawa lagi?" Tanya Rizka pada Ashura.


"Enggak." Ashura meminta tas yang digendong Rizka. "Sini aku yang bawa."


"Biar aku aja."


"Masa cewek bawa barang berat begitu?" Ashura merebut tas tersebut. Kemudian, ia berjalan kearah gua yang Rizka temui. Disusul oleh Rizka dan yang lainnya.


Beberapa dari mereka yang tetap berada di gubuk terlihat cemas ketika Rizka dan rombongannya mulai meninggalkan gubuk. Windy melambai dengan wajah cemas nya. Rizka menyusul Ashura yang berjalan didepan.


"Kamu ingat jalannya?" Tanya Rizka.


"Lumayan." Ashura memerhatikan sekeliling.


"Kamu kelihatan waspada. Bukannya mereka udah di bantai?" Maudy tiba-tiba saja berada di samping Ashura.


"Aku enggak yakin itu."


"Kan masih ada satu lagi." Rizka terlihat kesal karena Maudy cukup dekat dengan Ashura. "Enggak usah terlalu nempel! Kegatalan."


Maudy tersenyum. "Kegatalan? Lihat pakaianmu, tanktop doang. Pamer-pamerin aja terus didepan Ashura."


"Hah?!" Rizka terlihat semakin kesal. "Papan diam aja!"


"Apa?!" Senyum di wajah Maudy seketika hilang.


"Berisik!" Bentak Ashura. Kemudian mempercepat langkah untuk menjauhi Rizka dan Maudy.


Rio dan Laura saling pandang. Kemudian, menghela nafas.


***


Setelah cukup jauh mereka berjalan, mulut gua yang besar berada tepat di hadapan mereka. Maudy, Rio, dan Laura menganga lebar. Terdengar seseorang tengah menelan ludah. Tanpa basa-basi, Ashura berjalan masuk ke dalam gua.


"Ashura!" Rizka berlari menyusul.


Maudy, Rio, dan Laura serentak menutup rapat mulut mereka ketika Rizka berlari menyusul Ashura dan meninggalkan mereka. Kemudian, mereka pun ikut masuk ke dalam gua.


Rizka tiba di tempat yang sebelumnya ia melihat tumpukan tubuh makhluk putih, cahaya matahari masih sama seperti sebelumnya. Cahaya terangnya masuk ke dalam gua lewat lubang besar di langit-langit. Cahaya nya lebih terang, berbeda ketika berada di hutan. Maudy, Rio, dan Laura terengah-engah ketika sampai di dalam gua.


"Kalian, kemari!" Panggil Ashura.


Rizka dan yang lainnya berjalan ke tempat Ashura memanggil. Terlihat sebuah patung besar berbentuk manusia yang sedang duduk di sebuah singgasana. Tak jauh didepan patung tersebut ada sebuah meja batu lebar, namun tingginya seperti meja biasanya. Ashura mengerutkan dahinya sembari meraba-raba permukaan meja.


"Disini ada ukiran tulisan. Tolong artikan." Kata Ashura. Lalu, ia pergi mendekati patung.


Rizka melihat tulisan di meja. Mencoba untuk mengartikannya.


"Persembahan ini untuk sang Ratu." Rizka melihat ke Ashura.


"Hmm. Laura, kemarilah! Sepertinya ini tulisan Jerman."


Laura mendekati patung. Ia mengerutkan dahinya.


"Bagaimana bisa ada tulisan Jerman?" Tanya Laura.


"Entahlah. Aku juga enggak mengerti." Ashura memeriksa bagian lain patung.


Maudy dan Rio hanya terdiam. Mereka tidak bisa membantu apapun.


"Antara. Mereka ada di antara pengikut. Antara ada di antara pendatang. Bukan pendatang yang berada di meja. Namun, antara perlu darah pendatang." Laura sedikit memiringkan kepalanya ketika selesai mengartikan tulisan di patung.


"Hah?" Rio memasang wajah bodoh.


"A-aku enggak mengerti dari susunan kalimatnya. Kalau di artikan terlalu banyak kata 'antara'. Tapi, ada beberapa kata 'antara' itu di tulis berbeda."


"Berbeda? Beda gimana?" Maudy berkacak pinggang.


"Seperti di awal kalimat. Kata 'antara' itu di tulis 'Zwischen' seperti kata itu sengaja dipisah."


Ashura melipat tangan di dadanya. Ia melihat tulisan yang di artikan Laura. Lalu, ia berjalan ke bagian lain patung yang baru saja ia periksa.


"Disini juga ada yang seperti itu. Ada tulisan 'Zwischen'." Kata Ashura.


Laura mendekati Ashura. Melihat tulisan yang dimaksud.


"Tidak semua Zwischen berada di atas meja. Zwischen terpilih yang berada di atas meja. Meminta sesuatu. Tidak dengan tahta." Laura memandangi teman-temannya yang daritadi menyimak.


"Zwischen?" Rizka melihat Ashura.


Ashura terdiam sejenak. Ia tengah memikirkan sesuatu. "Itu nama makhluk putih."


"Apa?" Maudy dan Rio serentak.


"Ya. Aku rasa juga begitu. Karena cara penulisannya seperti sengaja ingin menyebutkan sesuatu." Kata Laura.


"Ta-tapi, aku masih belum mengerti dari semua tulisan yang Laura artikan tadi. Apa maksudnya?" Maudy mengangkat bahunya sedikit.


Ashura menghela nafas. "Zwischen. Makhluk putih itu ada di antara kita. Mereka membutuhkan darah kita, entah apa maksudnya. Kita enggak bisa berada di atas meja. Hanya Zwischen terpilih yang bisa berada di atas meja. Lalu, Zwischen tersebut bisa meminta sesuatu kepada sang Ratu. Mungkin maksudnya patung inilah sang Ratu itu." Jelas Ashura.


Mereka semua terdiam untuk beberapa saat. Laura memandangi patung. Karena mereka berada dekat dan tepat di bawah patung tersebut, menjadikan patung semakin terlihat besar dan menjulang hingga ke langit-langit gua.


"Jadi, para Zwischen ini memperebutkan posisi sebagai yang terpilih? Dan sekarang mungkin hanya tinggal tersisa satu Zwischen." Rizka berjalan mondar-mandir.


"Sekarang dia lah yang bakal jadi yang terpilih." Tambah Rio.


Rizka memandang Ashura yang membelakangi mereka. Dari belakang punggung nya, Ashura terlihat tertunduk dan beberapa kali ia membuang nafas kasar.


"Ashura?" Rizka memanggilnya.


Ashura membalikkan badan dengan wajah datar. "Kenapa?"


"Ah, ti-tidak." Rizka tersenyum konyol.


"Kau terlihat sedang berpikir keras. Apa yang kau pikirkan?" Rio memasukkan tangannya ke saku celana.


"Enggak ada. Ayo coba berkeliling, mana tahu ada petunjuk lainnya." Kata Ashura.


Mereka berpencar untuk mencari sesuatu yang sekiranya bisa menjadi sebuah petunjuk.


Namun sudah puluhan menit mereka mencari, tidak ada satupun hal yang bisa dijadikan sebagai petunjuk. Mereka kembali berkumpul di dekat patung.


"Menemukan sesuatu?" Tanya Ashura.


"Enggak." Maudy menggeleng.


"Sepertinya, cuma tulisan di patung dan meja batu ini yang bisa kita jadikan sedikit petunjuk." Ashura meraba permukaan meja batu.


"Tapi itu bukan petunjuk untuk kita keluar dari hutan ini." Laura berkacak pinggang.


Maudy mendekati Ashura. Sedikit berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke telinga Ashura, seperti hendak membisikkan sesuatu.


Ashura sedikit menghindar. "Hah? Kenapa harus berbisik?" Ashura menutup telinganya.


Maudy tersenyum. "Aku kebelet nih. Ada yang mau temenin?"


Rizka mengerutkan dahinya. "Ayo!"


"Enggak. Aku aja. Kamu tetap disini!" Ujar Ashura.


"Eh? Hah?" Rizka menghentikan langkahnya.


"Aku juga mau keluar untuk melihat situasi. Kalian coba terus mencari sesuatu lagi."


"Tapi--"


Ashura membalikkan badannya. Kemudian berjalan meninggalkan Rizka, Laura, dan Rio. Di ikuti Maudy di belakangnya.


Laura memerhatikan Rizka yang bermuka masam. Ia mengepalkan tangannya. Laura merasa bahwa ada api yang membara di dalam tubuh Rizka.


"Ka, Ashura cuma temenin Kak Maudy buang air kok. Enggak yang aneh-aneh." Laura mencoba menenangkan Rizka.


Rio cekikikan tidak jelas. "Kau yakin? Ashura itu memang pendiam. Tapi isi kepalanya bejat."


"Itu tanganmu kan cuma patah.." Rizka menatap Rio. "Mau ku buat sampai tercabut dari badanmu?"


Rio seketika pucat. Terlihat dari bibirnya yang berubah warna menjadi sedikit ke abu-abuan. Bahkan ia sedikit melangkah mundur.


"Sudahlah. Ayo, kita coba untuk nyari sesuatu lagi." Ajak Laura.


Sudah cukup lama Ashura dan Maudy pergi meninggalkan gua, mereka belum juga kembali. Rizka, Laura, dan Rio bahkan sudah tidak lagi mencari petunjuk di dalam gua. Mereka sedang beristirahat duduk didekat patung. Rizka merasa ada sesuatu yang terjadi pada Ashura dan Maudy.


"Mereka belum juga kembali. Ayo, kita cek keluar!" Rizka beranjak dari tempat ia duduk.


Rizka, Laura, dan Rio keluar dari gua. Mereka hendak mencari Ashura dan Maudy, namun tidak tahu akan mencari ke arah mana?


"Kita coba pergi ke gubuk? Mungkin aja mereka berada di sekitar jalan menuju gubuk." Kata Laura.


"Ya, bisa jadi. Ayo!" Ajak Rizka.


***


Setelah cukup jauh mereka berjalan, mereka hampir tiba di gubuk. Namun, dari kejauhan terdengar suara kegaduhan dan teriakan beberapa orang. Sontak Rizka, Laura, dan Rio berlari secepat mungkin menuju gubuk. Ada sesuatu yang terjadi.


Hampir sampai di gubuk, Rizka tiba-tiba mendadak berhenti berlari. Laura dan Rio terkejut dengan apa yang mereka lihat. Sesosok makhluk putih --Zwischen baru saja mencabut tangannya yang menusuk dan melubangi tubuh seseorang. Darah menggenang di sekitar gubuk dan sebagian menempel di dinding depan gubuk. Tubuh tak bernyawa dari teman-teman mereka berserakan.


Yang paling mengejutkan mereka adalah hoodie dan celana yang dipakai makhluk itu, sama dengan yang Ashura pakai. Bahkan terlihat perban-perban yang membaluti tubuh nya.


Kaki Rizka tiba-tiba lemas kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Rizka hampir terjatuh, namun Laura dan Rio menahannya.


"Rizka! Sadarlah! Ayo, kita pergi dulu!" Laura berusaha membopong Rizka.


"Ashura?" Suara Rizka lirih.


"Bodoh! Dia itu Zwischen!" Rio membantu Laura.


Mereka pun bergegas menjauhi gubuk yang sudah menjadi tempat kesadisan dan kebrutalan Ashura. Di sepanjang perjalanan, Rizka tidak sadarkan diri dan ia terus di bopong oleh Rio.


"Kita mau ke arah mana?" Tanya Laura.


"Kemanapun itu asalkan enggak melalui jalan yang pernah kita lewati." Rio ngos-ngosan.


"Rio! Ada apa?!" Laura menghentikan langkahnya dan mendekati Rio.


"Rizka! Hei! Sadarlah!" Rio terlihat sangat kelelahan. Ia mencoba menyadarkan Rizka.


"Rizka!" Laura menampar-nampar pipi Rizka sedikit kuat.


Rizka tersadar. Ia terkejut. Nafasnya tidak beraturan seperti baru saja berlari. Air mata mengalir dipipi nya.


"Rizka? Hei, lihat aku!" Kata Laura.


Rizka terisak-isak melihat wajah Laura yang juga kelihatan hendak menangis.


"Kita pergi ke tempat yang aman dulu, ya? Kamu bisa bangkit dan berjalan kan?" Laura mencoba untuk tersenyum.


Rizka mengangguk. Ia mencoba bangkit dibantu Rio dan Laura. Kemudian, mengelap air matanya.


"Maaf, hiks. Mau kemana kita?" Tanya Rizka ketika baru saja mengelap air matanya dan menenangkan diri.


Rio menggelengkan kepalanya. "Kami enggak tahu, pokoknya kita pergi sejauh mungkin jangan sampai ketahuan oleh Ash-"


"Bodoh, aku tahu tempat ini." Kata Ashura yang masih dalam wujud Zwischen-nya. Tiba-tiba ia muncul di belakang Rio entah darimana.


Rio yang terkejut tidak berani melihat ke belakangnya. Rizka dan Laura yang tepat sekali di hadapan Ashura, tubuh mereka langsung berubah dingin dan pucat.


"Kemana pun kalian pergi.." Keluar --seperti asap dari mulut Ashura. "Pasti aku temukan. Bahkan, itu ada di lubang semut."


Dengan reflek cepat, Rizka melemparkan hoodie-nya tepat ke wajah Ashura dan langsung menarik Rio dan Laura untuk lari.


***


Seperti sebelumnya, mereka kembali berlari menjauhi Ashura dan sesekali menoleh kebelakang. Tanpa sadar, mereka justru berlari menuju gua besar.


"Hei, bukannya ini gua yang tadi?" Laura ngos-ngosan.


"Sial, kenapa kita malah kesini?" Rio memegang lengannya yang terasa nyeri.


"Aku ada rencana. Ikut aku!" Rizka berlari masuk ke dalam gua. Kemudian disusul Rio dan Laura.


"Itu tas yang kita bawa tadi?" Tanya Laura.


"Iya, aku lupa membawanya tadi." Rizka menghampiri tas dan segera membukanya.


"Emang apa yang mau kita lakukan dengan tas itu?" Rio tidak mengalihkan pandangannya dari arah pintu masuk gua.


Rizka mengeluarkan beberapa benda panjang berwarna merah. "Dinamit."


"Bagaimana bisa ada dinamit?" Rio keheranan.


"Ashura yang memasukkannya kedalam tas ketika kita pergi dari bunker dan dia menyuruhku untuk tidak mengeluarkan dinamit ini." Rizka kembali membongkar isi tas.


"Kamu tahu cara menggunakannya?" Tanya Laura.


"Aku tahu." Kata Rio.


"Bagus, sekarang pasang itu di dinding lorong masuk gua." Ujar Rizka.


Rizka mengeluarkan sebuah tas kecil. Kemudian, membukanya dan mengeluarkan sebilah pisau berwarna putih.


Laura memerhatikan pisau putih tersebut. "Bukannya pisau it-"


"Ya, pisau ini bisa.." Rizka menghentikan bicaranya sesaat. Ia tertunduk.


"Membunuh Zwishen." Kata Laura. "Tapi, apa itu benar?" Laura merasa tidak yakin.


"Zaki dan Ashura pernah menggunakannya dan berhasil membunuh Zwischen. Jadi, pasti itu benar. Tapi.." Rizka meneteskan air matanya.


Laura mendekati Rizka. Kemudian, memeluknya dan mengelus kepalanya.


"Aku ingin mengatakan satu hal." Laura melepaskan pelukannya. "Ingat, ketika kamu aku suruh ambil air ke sungai?"


Rizka menganggukkan kepalanya. "Ya."


"Ashura memberiku sepucuk kertas berukuran kecil dan dikertas itu ada tulisan '..darah mereka yang terpilih, berada diatas meja.. yang dibawa oleh mereka yang ada dihati sang terpilih' dengan bahasa Jerman." Laura memegang bahu Rizka sembari tersenyum. "Tapi, aku enggak memberitahu artinya pada Ashura. Aku memberitahunya 'darah mereka yang terpilih.. berada di atas meja' Itu saja."


"Apa?" Rizka yang mendengar hal tersebut, kembali meneteskan air matanya. "Siapa yang ada dihati sang terpilih?" Rizka terisak-isak.


"Kamu menanyakan siapa orang itu?"


Rizka menatap Laura.


"Aku tahu kamu enggak mau melakukannya. Begitu juga aku." Laura tiba-tiba menangis. "Tapi, kamulah orang yang dihati sang terpilih. Jadi, kumohon lakukan demi kita yang tersisa!" Laura menunduk. Tangannya jatuh ketika memegang bahu Rizka.


Rio berlari menghampiri Laura dan Rizka yang menangis. Ia memasang wajah yang seolah berkata "Hah? Apa? Ada apa?"


Ketika Rio baru saja menghampiri Rizka dan Laura, tiba-tiba bulu kuduk mereka berdiri. Perasaan ngeri datang dari arah luar gua.


"Dia datang. Kapan aku harus menekan trigger-nya?" Tanya Rio ke Rizka yang sedang mengelap air matanya.


Rizka mengambil sebuah shotgun dari tas. "Ikut aku!" Bergegas ke arah lorong gua.


"Kenapa kita malah mendekat? Kita jadi sasaran mudah baginya." Rio kebingungan.


"Justru mengalahkannya itu harus jarak dekat. Aku enggak menjamin ledakan dinamit bakalan membunuhnya." Rizka mengokang barrel shotgun.


Mereka bersembunyi di sekitar lorong gua. Sedikit lebih jauh dari area ledakan dinamit.


"Aku enggak menyangka kalian sebodoh ini. Padahal sudah mahasiswa. Gimana nanti mau penelitian? Pikiran dangkal." Kata Ashura yang berjalan perlahan didalam lorong gua. Suara ocehan tidak jelasnya menggema ke seluruh gua.


Rizka mengangkat tangannya ke atas. Seperti memberikan kode ke Rio.


"Kabel dinamitnya saja tidak disembunyikan sama sekali. Kerjaan Rio emang enggak ada becusnya." Suara Ashura semakin dekat.


Rio menepuk jidatnya hingga menimbulkan bunyi yang menggema.


"Bahkan dia menepuk jidatnya. Bodoh."


Rizka dan Laura menatap Rio yang berusaha tidak membalas tatapn mereka berdua.


"Hei, fokus!" Kata Ashura yang tiba-tiba saja kepalanya muncul di hadapan Rizka dan Laura sembari menatap ke arah mereka.


Seketika itu pula Rio menekan trigger dinamitnya. Ledakan besar membuat tanah yang mereka injak terasa bergetar kuat. Bebatuan dari langit-langit berjatuhan menimpa Ashura dan menimbulkan debu yang cukup tebal.


"Uhuk, uhuk! Apa kita berhasil?!" Tanya Laura.


"Uhuk! Kurasa!" Rizka bersiap dengan pisau putih di tangannya.


Setelah debu menghilang, terlihat bebatuan besar telah menutupi lorong masuk gua. Genangan darah mengalir keluar dari balik bebatuan. Rio menjatuhkan trigger dinamit. Rizka terlihat cemas.


"Bersiaplah, aku rasa dia hanya terluka." Rio merebut shotgun dari Rizka. "Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kau yang bunuh dia!"


Rizka menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, menghembuskannya. "Baiklah."


Tangan putih tiba-tiba saja muncul dari balik bebatuan dan menusuk tepat ke dada Laura yang sedang berdiri disamping kanan Rizka terlalu dekat dengan bebatuan. Rizka dan Rio terkejut dan tidak sempat melakukan apapun. Gerakan itu terlalu tiba-tiba.


Darah keluar dari mulut Laura. Laura melirik Rizka dan Rio. Lalu, ia tersenyum. Ashura keluar dari balik bebatuan dengan tubuh yang seharusnya putih berubah menjadi hitam darah Zwischen. Ashura mencoba untuk bangkit. Namun karena luka yang parah, ia beberapa kali terjatuh berlutut. Laura menahan tangan Ashura yang masih menancap di dadanya.


"Lakukan!" Laura berusaha berteriak sekeras mungkin. Tetapi, suara yang hampir hilang justru yang keluar.


Rizka yang kembali menangis, segera menyerang Ashura. Ashura tidak hanya diam, ia pun segera mengayunkan tangannya yang lain ke arah Rizka. Rio menembakkan shotgun dan tepat mengenai tangan Ashura. Membuat tangan itu hancur sebagian.


Rizka tepat di hadapan Ashura. Namun, ia bingung harus membunuhnya dibagian mana?


"Jantung."


Suara Ashura tiba-tiba terdengar di kepala Rizka. Tanpa pikir panjang, Rizka menusukkan pisau tepat di jantung Ashura. Seketika lapisan kulit berwarna putih diseluruh tubuh Ashura terlepas. Mengeluarkan bunyi seperti sebuah kemarik yang pecah. Setiap serpihannya berjatuhan ke tanah. Kemudian, hancur menjadi debu. Tangan Ashura tidak lagi menancap di dada Laura. Laura terjatuh tak bernyawa tersungkur ke tanah. Ashura berlutut. Memandangi langit-langit gua. Rizka melepaskan pisau yang masih menancap di jantung Ashura.


"Huaaaaaa!!!" Rizka berteriak keras. Ia menangis sekencang-kencangnya. Memukul-mukul tanah yang tergenangi darah merah dan hitam.


Rio tidak tahu harus melakukan apa, hanya terdiam berdiri melihat semua hal yang baru saja terjadi.


"C-cabut pisau ini, letakkan di-di atas meja." Ujar Ashura dengan suara yang terbata-bata.


Rizka memegang tangan Laura yang dingin. Kemudian, ia bangkit dan memeluk Ashura. "Bagaimana kamu tahu? Hiks."


"Jadi, Laura benar-benar melakukannya?"


"Apa maksudmu?"


Ashura tersenyum. "Cepat cabut dan letakkan di atas meja! Pisau ini akan menjadi debu."


Rizka melepaskan pelukannya dan melihat pisau yang masih menancap di jantung Ashura. Benar saja, perlahan gagang pisau mulai menjadi butiran debu halus.


"Hiks, Ji-jika ini kucabut?" Rizka panik.


Ashura tersenyum. Air matanya mengalir cukup deras. "Dengar, sampaikan permintaan maafku pada orang tuaku. Aku enggak benar-benar membenci mereka. Hiks, aku menyayangi mereka. Maaf karena selalu tertutup. Maaf kepada teman-teman. Maaf soal Laura dan yang lainnya. Hiks, aku minta maaf karena untuk kesekian kali enggak menepati janji. Maaf karena aku enggak bisa ada disisimu lagi, menemani nge-gym dan boxing lagi. Maaf karena aku belum menjawab perasaanmu sampai sekarang. Aku juga menyukai mu. Maaf karena aku enggak tahu mau ngomong apalagi."


"Itu cukup, hiks. Itu cukup."


"Sekarang cabutlah, aku akan membawa kalian pulang. Aku sudah mengatakan keinginanku."


Rizka mengenggam pisau. "Aku enggak sanggup, hiks."


"Lakukan, kalian akan pulang."


"Maaf. Maaf."


"Kamu enggak ada salah. Cepat, lakukan!"


Dengan air mata yang terus mengalir. Hati yang sakit. Dada yang sesak. Seluruh badan terasa sakit dan lelah. Rizka dengan berat hati mencabut pisau dari jantung Ashura. Ashura tersenyum dan perlahan memejamkan matanya. Ia tidak lagi bernafas. Berlutut dan menunduk. Tepat di hadapannya ada tubuh Laura yang terbaring.


Rizka perlahan berjalan menuju meja. Seluruh badannya terasa lemas. Karena hampir tumbang, Rio membantu Rizka berjalan.


"Kita bakalan pulang, pengorbanan mereka enggak sia-sia. Mereka melakukannya demi kita." Rio berusaha menyemangati Rizka.


Mereka tiba didepan meja. Rizka meletakkan pisau yang berlumuran darah hitam di atas meja. Pisau tersebut pun hancur menjadi debu dan berterbangan ke langit. Di hadapan mereka, muncul Laura namun tubuhnya terlihat transparan.


"La-laura?" Rizka mencoba mendekat. Namun, di tahan Rio.


Kemudian, muncul teman-teman yang lainnya. Termasuk Rizal. Anehnya, Faiz dan Windy tidak terlihat oleh mereka. Ashura muncul didepan teman-teman yang lain.


"Ashura?" Rizka mencoba menggapai Ashura.


Ashura menyodorkan tangannya. Namun, ketika disentuh Rizka tubuh Ashura seketika hancur menjadi debu putih dan terbang ke langit. Di susul oleh teman-teman mereka yang lain. Rizka dan Rio menyaksikannya. Ketika mereka berkedip, tiba-tiba saja mereka berada diluar gua tengah berbaring. Rizka dan Rio segera bangkit dan melihat suasana sekitar.


"Kalian?" Suara seorang perempuan tiba-tiba saja terdengar di belakang mereka.


Rizka dan Rio membalikkan badan. "Windy?!" Rizka segera memeluk Windy dengan erat.