Zwischen Uns

Zwischen Uns
Beginning



Sabtu, satu hari sebelum pendakian. Rizka sibuk dengan persiapan untuk mendakinya. Memasukkan beberapa barang yang pernah digunakan papa-nya untuk mendaki kedalam tas carrier. "Tenda sudah, sleeping bag, pakaian.." Gumam Rizka yang memeriksa lagi semua barang yang dibutuhkan. Sesekali ia membaca daftar barang yang dikirim Windy lewat chat. "Sarung tangan? Iya, sarung tangan." Ucap Rizka. Lalu, bergerak keluar kamar.


"Papa! Ada sarung tangan?!" Tanya Rizka dengan suara lantang.


"Ada! Kemari!"


Rizka segera turun. Menuju dimana papa-nya berada. "Mana?" Tanya Rizka ketika baru saja sampai di garasi mobil. Papa-nya menoleh dan memberikan sarung tangan kain yang seharusnya berwarna putih. Namun, sudah ditutupi dengan warna hitam oli. Rizka menjatuhkan sarung tangan tersebut. Kemudian, menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Senyum, dong." Ujar papa-nya yang cekikikan.


"Rizka lagi serius, papa."


"Coba cari dilaci TV. Kemarin Ashura ninggalin sepasang sarung tangan. Katanya itu untuk kamu."


Rizka terkejut. Menganga cukup lebar selama beberapa detik. Ia berbalik badan, melangkah menuju laci TV. Benar saja, ada sepasang sarung tangan hitam yang cukup tebal. Rizka mengangkat sarung tangan tersebut tinggi-tinggi. Kemudian, memeluknya. "Dasar si Tuan Misterius." Ucap Rizka dengan senyuman lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya.


"Aduh, anak gadis yang cintanya lagi berbunga-bunga." Ucap papa-nya yang berjalan kearah kamar mandi dengan tangan berlumuran oli. "Padahal cuma ditinggalin sarung tangan bekas."


Eh? Rizka melihat papa-nya yang memasuki kamar mandi. Lalu, melihat sarung tangan yang dipegangnya. Ia mencoba mencium sarung tangan tersebut. Bau detergen. Rizka tersenyum. "Apa sih yang aku harapkan?" Ucapnya. Rizka kembali ke kamarnya. Menyusun beberapa barang yang sebelumnya ia tinggal.


***


Minggu. Beberapa menit sebelum pendakian, Rizka menata rambut pendeknya didepan kaca pintu mobil papa-nya yang hendak pergi. Rizka sudah berada dilokasi pendakian, hanya saja ia tidak melihat Windy dan rombongan. Ia melambaikan tangan ketika mobil papa-nya terus menjauh pergi.


Rizka mencoba untuk menghubungi Windy. Baru saja ia membuka kunci smartphone­-nya menggunakan kata sandi yang cukup rumit, sudah ada sepuluh notifikasi panggilan tidak terjawab dari Windy. Sejenak, Rizka merasa sangat bersalah karena tidak menghidupkan nada dering. Masih ditengah merasa bersalahnya, Windy kembali menelpon nya.


"Woi! Tidur ya?!" Teriakan seorang gadis yang terdengar ketika Rizka baru saja mengangkat telpon. "Sepuluh kali! Sepuluh kali!" Mendengar Windy marah, Rizka menggaruk kepalanya.


"Sorry, aku lupa hidupkan nada deringnya. Aku udah dilokasi kok."


"Yaudah, kesini buruan."


Rizka melihat ada jalan kecil diantara kedai-kedai yang sedang tutup. "Oh, kalian udah disana?"


"Udah dari jam setengah tujuh tadi malahan."


"Oke. Masuk aja ngikutin jalan kecil ini kan?"


"Iya, ngga jauh kok."


Rizka berjalan mengikuti jalanan kecil tersebut dengan sedikit arahan dari Windy.


lima menit berjalan, Rizka melihat ada dua orang di kejauhan dan salah satu dari mereka sedang mengangkat tangannya. Ia pun bergegas kearah orang tersebut.


"Lumayan jauh juga ya ketempat ngumpulnya." Kata Rizka sedikit ngos-ngosan ketika baru saja sampai ke tempat Windy.


"Ka, bukannya itu tas yang biasanya untuk cowok?" Tanya Laura. Laura gadis berdarah Jerman, bermata biru, kulit putih, dan berambut setengah blonde. Ia merupakan teman dekat Rizka dan Windy sejak SMA dan bahkan ia juga se-universitas dengan Rizka dan Windy. Hanya saja, ia berada di jurusan yang berbeda, yaitu Astronomi sedangkan Rizka dan Windy berada di jurusan DKV.


"Iya, ini punya papa. Punyaku udah rusak."


"Ngga berat?"


"Ngga terlalu sih."


"Kamu lupa ya, Ra? Dia itu Rizka yang bisa mengangkat mobil dengan satu tangan." Ujar Windy yang sedang mengikat rambut pirangnya. Lalu, tertawa. "Ayo, ke tempat teman yang lain."


"Eh, mereka udah ada disini juga?" Tanya Rizka. Daritadi ia hanya melihat Windy, Laura, dan beberapa rombongan yang mungkin baru saja selesai pendakian atau baru akan mendaki bersama mereka.


Ketika berjalan, Rizka menoleh kesana kemari. Ia keheranan, karena ada cukup banyak orang disana. Namun, tidak ada satu orang pun yang mengeluarkan suara. Ia hanya mendengar Windy dan Laura yang asik mengobrol tanpa memperdulikan sekelilingnya. Karena merasa aneh, Rizka menundukkan kepalanya dan memerhatikan setiap langkah kakinya saja.


Beberapa meter kedepan, Rizka mendengar ada kebisingan. Mereka telah sampai ke tempat teman-teman yang lainnya berkumpul. Tampak dua orang lelaki yang sedang beradu mulut. Sedangkan satu orang lagi hanya diam mendengarkan.


"Rio, ada apa?" Tanya Laura yang penasaran apa yang sebenarnya terjadi. "Jangan bikin keributan dong."


Rio menatap sinis ke Laura. "Sudahlah. Kalau kalian masih mau menunggu dua senior itu, aku akan mendaki duluan." Rio mengambil tas nya yang ada di tanah dan hendak mendaki lebih dulu sendirian. Namun, ditahan oleh Windy. Rio berasal dari jurusan Teknik Elektro dan termasuk salah satu teman dekat Rizka dan Windy sejak SMP.


"Tunggu sebentar lagi. Tolong." Ucap Windy dengan ekspresi memelas. Rio melihat semua teman-temannya yang juga memasang ekspresi memelas. Kecuali, Rizka yang daritadi memerhatikan sekeliling.


"Faiz, ada apa?" Laura bertanya dengan lelaki yang tadi beradu mulut dengan Rio.


"Senior belum ada yang datang daritadi. Padahal mereka yang menyuruh kita datang cepat." Faiz menjelaskan. Anak seumuran dengan yang lainnya dari jurusan Informatika.


"Bukankah, mereka ada dikedai itu?" Rizka menunjuk kearah sebuah kedai yang tidak jauh dari mereka. "Mereka daritadi melihat kita, bahkan sesekali tertawa."


Mereka semua langsung melihat ke kedai yang ditunjuk Rizka. "Berengsek! Ngapain kalian, sialan?!" Teriak Rio yang masih berapi-api. Dua orang senior itupun tertawa sembari berjalan mendekati mereka.


"Wah, bukankah itu terlalu kasar?" Kata Rizal. Salah satu senior tersebut. Ia merupakan senior dari Faiz. "Padahal lagi masuk ke bagian panas-panasnya."


"Hahaha, maaf ya. Kami cuma bercanda kok. Biar asik aja pagi hari ini." Sambung Maudy senior dari Rizka dan Windy.


Rio ingin mendekati dua senior tersebut. Windy melarangnya. "Tenanglah, jangan memperpanjang lagi." Windy mencoba untuk menenangkan Rio. Membuang nafas kasar, Rio duduk diatas sebuah batu besar didekatnya.


"Mana Roja?" Yuda terkejut dan merinding. Tiba-tiba saja Rizka berbisik di telinganya. Rizka tersenyum, menepuk pundak Yuda beberapa kali.


"Dia ada urusan mendadak, jadi harus ngebatalin pendakian." Jawab Yuda. Lelaki seumuran dengan Rizka yang satu jurusan dengan Rio. "Begitu ya." Ucap Rizka.


Tepat jam 07.00, Rizal menepuk tangannya untuk mengambil perhatian semuanya. "Oke, kita berangkat. Sebelumnya, berdoa menurut kepercayaan masing-masing." Mereka menundukkan kepala. Berdoa agar selamat ketika pergi maupun pulang nanti. "Baiklah. Ingat formasi yang sudah saya berikan di grup. Kita berangkat!"


***


Cuaca mendung dan berembun tidak mengganggu pendakian mereka. Karena masalah-masalah tersebut sudah biasa mereka hadapi. Ya, ini bukanlah pendakian pertama mereka. Mereka semua memiliki beberapa pengalaman dalam mendaki termasuk Rizka yang sudah menaklukkan beberapa gunung di pulau Jawa bersama papa-nya.


"Hatchi!" Terdengar suara bersin dari seorang gadis di barisan ketiga dari belakang. Rizka sedikit menggigil, gigi-giginya mulai saling beradu.


"Ka? Pakai nih." Windy yang berjalan tepat didepan Rizka memberikan sebuah kantong silikon berisi air hangat. "Ya ampun, sweater mu ini kurang tebal. Kenapa ngga pakai hoodie atau jaket aja? Ngga pakai baju dalaman lagi?"


"Pakai tanktop aja sih" Ucap Rizka sembari memasukkan kantong hangat kedalam sweater nya.


"Anak ini menganggap remeh cuaca di gunung." Windy membuang nafas kasar.


"Oh, hei. Waktu kita jalan sebelum ketempat Rio ribut itu.. bukannya ada beberapa rombongan juga? Mereka baru turunkah?". Tanya Rizka penasaran sembari menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya.


"Mana ada rombongan lain selain kita. Aku juga bingung kenapa cuma kita yang mendaki?". Windy menyilangkan kedua tangannya didepan dada.


"Jangan nakutin deh, ga ada itu. Udah ya". Windy tersenyum sedikit.


"Hei, kalian yang dibelakang kenapa melambat?" Tanya Rizal dibarisan terdepan.


"Perasaan kau saja." Rio melangkah dengan cepat melewati Rizal bermaksud untuk mendahului yang lain.


"Anak itu ga punya sopan santun ya?" Rizal kesal. Terdengar suara berisik dari mulut Rizal yang sedang mengunyah permen karet. "Hei, mata satu! Jangan asal pergi mendahului yang lain! Kalau kau kenapa-kenapa aku yang repot." Rizal menyindir gaya rambut Rio yang hampir menutup mata kirinya.


"Mata ku dua! Cepatlah menyusul. Sialan."


"Hei! Perhatikan tempat kalau mau mengumpat!" Maudy yang geram ingin melempar botol air ke Rio. Namun, ditahan oleh Laura.


Disaat semuanya sedang ribut, Rizka melihat ada sebuah tas career tergeletak di semak-semak. Karena penasaran, Rizka mengambil tas tersebut yang ternyata cukup berat. Membuka dan memeriksanya. Rizka mendapatkan sebuah botol berisi air dengan sebuah nama yang tertulis dengan spidol permanen.


"Diva?" Rizka merasa pernah mengetahui nama itu. Kembali memeriksa barang lainnya. Hanya tinggal beberapa pakaian.


"Rizka, ayo lanjut!" Windy memanggil.


"Lihat apa yang aku dapat!" Rizka mengangkat tas tersebut. Semuanya melihat Rizka dengan ekspresi terkejut.


"Tas siapa itu?" Tanya Laura.


"Di botol air minumnya bertuliskan 'Diva', ada yang kenal?"


"Diva? Nama lengkap nya?" Lanjut Yuda.


"Ntahlah. Disini cuma tertulis 'Diva' aja."


"Apa mungkin Diva Permata? Soalnya dia juga mendaki di gunung ini sekitar dua hari yang lalu kalau ngga salah bersama Wahyudi Putra.. em.. Putra itulah."


"Kamu kenal si Diva itu, Yud?" Tanya Windy.


"Tung-tunggu! Wahyudi? Mereka mendaki gunung ini juga?" Tanya Rizka mengerutkan dahinya. "Berarti Ashura.."


"Hmm? Ashura? Maksudmu anak cowok yang sok populer itu?" Sambung Rio yang berada paling depan barisan. "Sok cool.. Ukh!" Rio bersujud gemetaran, karena baru saja Windy menyikut perut nya.


"Terus? Kenapa tas itu bisa ada disana? Bukankah seharusnya mereka sudah pulang?" Rizal bertanya karena merasa ada suatu hal yang menimpa kelompok Diva.


Seketika suasana menjadi hening. Semuanya terdiam. Mereka mulai berpikir hal-hal yang biasanya terjadi dengan para pendaki. Menghilang atau tersesat. Namun dengan ditemukannya tas tersebut, mereka langsung beranggapan bahwa Diva tersebut menghilang.


Tidak berlangsung lama suasana hening tersebut, Windy memasang wajah keheranan kemudian melihat jam di smartphone-nya.


"Berapa lama kita mendaki?" Tanya Windy yang masih melihat jam di smartphone. Tangannya mulai gemetaran. Keringat mengalir di dahinya.


Rizal melihat jam tangannya. "Sekarang jam 08.15, mungkin udah satu jam lebih. Kenapa?"


Windy menunjuk sesuatu yang tidak begitu jauh dari mereka. "Ke-kenapa kedai ta-tadi masih kelihatan jelas be-begitu?". Karena shock, Windy mulai terbata-bata ketika berbicara.


Semuanya melihat kearah yang ditunjuk Windy. Betapa terkejutnya mereka semua, kedai yang sebelumnya ada di lokasi mereka mulai mendaki masih terlihat jelas dan tidak jauh dari mereka. Seolah mereka hanya berjalan sejauh 50 meter saja. Rizka perlahan berjalan mundur mendekati teman-temannya dan meninggalkan tas yang ia temukan sebelumnya.


Tiba-tiba saja embun kian menebal dan mulai menutupi pandangan mereka. Kini pandangan mereka hanya sejauh 5 meter kedepan. Sekilas, Rizka mendengar suara tepukan tangan seseorang dari kejauhan.


"Siapa itu?!"


"Ada apa Rizka?!" Tanya Yuda yang berada disamping Rizka.


"Ada suara tepukan tangan dari arah punca-"


"Gu-guys, dimana Faiz?" Potong Maudy terlihat sangat panik.


Mereka pun baru menyadari bahwa Faiz tidak ada bersama mereka. Rio dan Yuda menghidupkan senter untuk mencari Faiz. Namun embun yang tebal, cahaya kuning senter tidak mampu menembusnya. Suhu di lokasi pun mulai semakin dingin.


"Faiz!" Semuanya berteriak memanggil nama teman mereka itu. Mereka berkeliling disekitar lokasi tanpa berpisah. Namun, mereka tidak menemukan Faiz.


"Kapan terakhir kali dia terlihat?" Rizal mencoba menelpon Faiz. Tetapi di lokasi mereka saat ini tidak ada sinyal sedikit pun. "Ah, percuma."


"Terakhir aku melihat dia beberapa menit sebelum Rizka mendengar suara tepuk tangan tadi." Maudy memberi penjelasan sembari mengigit ujung jempol tangannya.


"Udah ngga bener nih, ayo kita kembali! Kita berpegangan tangan jangan sampai ada yang terpisah." Rizal mengajak semuanya untuk kembali turun dan membatalkan pendakian. "Untuk urusan Faiz, kita laporkan ke tim SAR."


Mereka pun berjalan kembali dan berpegangan tangan agar tidak ada yang terpisah.


Beberapa menit mereka berjalan, Rizka kembali mendengar suara tepukan tangan yang cukup keras dan terdengar sangat dekat.


"Su-suara tepuk tangan lagi!" Rizka menghentikan langkahnya. Menoleh ke kiri, karena suara tersebut terdengar sangat jelas dari kirinya.


"A-aku juga dengar." Ucap Laura.


"Lihat orang yang kalian pegang! Pastikan kita ngga kehilangan teman kita lagi!" Tegas Rizal.


Masing-masing dari mereka mulai melihat orang yang dengan mereka pegang tangannya.


"Aman!" Ucap mereka serentak.


"Baguslah. Ayo lanjutkan, kalau dengar suara itu lagi kita harus mengecek teman kita."


Mereka melanjutkan langkah mereka. Tetapi ketika hendak melangkahkan kaki, Rizka sadar tali sepatunya lepas.


"Maaf, tunggu sebentar. Tali sepatuku lepas."


"Ikat aja dulu, Windy tetap terhubung dengan Rizka." Kata Rizal.


Rizka mengikat tali sepatunya dan Windy memegang bahu Rizka. Rizka merasa bahwa embun sedikit berkurang, namun suhu semakin terasa dingin, dan bahunya sedikit lebih ringan seolah Windy melepaskan pegangannya. Rizka selesai mengikat tali sepatunya. Lalu, kembali berdiri.


Betapa terkejutnya Rizka. Seluruh teman-temannya tidak ada di sekitarnya dan tempat ia berdiri sekarang sangat berbeda. Pepohonan yang tinggi dan besar, Semak-semak setinggi paha orang dewasa, Suhu yang dingin namun tak berembun, dan gelap seperti suasana menjelang malam. Rizka melihat bahu nya yang dipegang Windy sebelumnya. Sweaternya koyak tepat dimana Windy memegang bahunya.


Rizka menoleh ke kanan dan ke kiri. Seluruh tubuhnya mulai gemetaran. Keringat dingin bercucuran di punggungnya. Sunyi dan gelap. Tidak ada siapapun disekitarnya. Rizka sempoyongan. Kakinya mulai hilang tenaga dan kepala nya pusing menerima kejadian tersebut.


"Si-si-siapapun.." Terbata-bata. Air matanya menetes dan ia mulai terisak. "Kumohon, siapapun.." Ia terduduk ditanah yang dipenuhi dedaunan kering. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan sesekali membukanya. Berharap kejadian tersebut adalah halusinasi.


Kepalanya pusing. Seluruh tubuhnya seperti tidak memiliki tenaga sedikitpun. Rizka semakin menunduk hingga bersujud. Air matanya tak lagi terbendung. Namun, ia menahan suara tangisnya.