Zwischen Uns

Zwischen Uns
Trusted?



"Kau-" Rio terkejut hingga hampir tidak dapat berbicara.


"Senior Rizal?" Kata Windy ketika melihat seorang laki-laki yang memegang busur panah.


Rizka yang melihat kedatangan empat orang tersebut memasang ekspresi tidak senang sama sekali. Marah. Bagaimana tidak? Mereka lah yang menembakkan anak panah ke punggung Ashura. Anak panah tersebut menancap cukup dalam. Ashura mendesah kesakitan.


"Jangan pura-pura kesakitan. Kau bisa menyembuhkan luka itu dalam waktu beberapa menit saja bukan?" Kata seorang perempuan dengan rambut panjang terurai.


"Adin, apa maksudmu?!" Teriak Rizka sembari membantu Ashura untuk berdiri.


Farah Adina. Biasa dipanggil Adin. Seorang mahasiswi yang ikut mendaki bersama Ashura sebelumnya.


"Rizka, biarkan Ashura duduk aja dulu. Anak panah itu masih menancap." Windy khawatir.


"Aku tahu. Tapi dia-" Rizka melirik Ashura.


"Kenapa kalian ada disini? Adin, Diva, dan kau Wahyu?" Tanya Ashura yang masih menahan rasa sakit.


Wahyudi Putra dan Diva Permata. Dua orang mahasiswa/i yang sebelumnya juga ikut mendaki bersama Ashura.


"Kami mencari mu. Karena pembunuh enggak boleh sampai bebas berkeliaran di hutan ini." Adin menyilangkan tangan di dadanya.


Wahyu menancapkan sebuah tombak ke tanah. "Dia benar." Lalu, meludah.


Rizka yang masih sangat marah, berjalan mendekati Adin dengan kepalan tangan yang siap untuk memukul wajahnya.


"Kau mau memukul ku?" Adin terlihat tenang dengan senyuman.


Rizka mengayunkan tinjunya. Namun, ditahan oleh Rizal. Tidak terima tangan kanannya di tahan, Rizka menendang tengkuk Rizal. Membuat nya tersungkur ke tanah dan tinju Rizka juga mengenai pipi kanan Adin disaat yang hampir bersamaan. Semua yang berada di tempat itu pun terkejut menyaksikannya. Kecuali, Ashura yang baru saja mencabut anak panah yang ada di punggungnya.


Rizka menatap Wahyu dan Diva. Wahyu seketika terlihat pucat. Sedikit menggeser kakinya ke belakang. Seolah tatapan dari Rizka menimbulkan shockwave. Diva tertunduk.


Rizal bangkit dari tanah. "Wah, baru kali ini aku merasakan tendangan seorang perempuan." Katanya sembari memegang tengkuk dan menggoyang-goyangkan kepalanya.


"Sialan! Wajahku!" Teriak kesal Adin ketika baru saja bangkit. Terlihat matanya yang berkaca-kaca menahan tangis.


Rizka masih sangat marah. Kepalan tangannya tidak melemas sedikit pun.


"Cukup. Disini enggak ada rumah sakit." Ujar Ashura yang sedang di baluti perban oleh Windy.


Rizka mengatur emosi nya. Beberapa kali ia menarik nafas panjang, lalu membuangnya. Rizka berjalan menghampiri teman-temannya sembari membuka setengah resleting hoodie-nya. Mengibaskan tangannya. "Panas." Katanya.


"Kami menemukan sebuah gubuk. Kalian bisa bergabung dengan kami." Kata Diva yang dari tadi menunduk.


"Hei!" Teriak Adin.


"Enggak nanya." Rizka membuka hoodie-nya. Kemudian mengikatkan kedua lengan hoodie ke pinggangnya.


Diva tertegun. Ia melirik Adin. Seolah memberikan sebuah kode. Adin membuang nafas kasar.


"Ayo ikut! Kami punya banyak stok makanan." Adin mengajak Rizka dan yang lainnya dengan wajah yang terlihat kesal. "Oh ya, kecuali Ashura."


Rizka tersenyum kecil. "Kamu pikir kami-"


"Pergilah!" Ujar Ashura. Ia mengenakan hoodie-nya.


"Apa?!" Rizka dan Windy serentak.


"Kau gila? Mereka baru aja tadi menembak mu pakai panah." Kata Rio.


"Kau mau mati kelaparan? Di bunker udah enggak ada stok makanan." Kata Ashura. Melirik Rio.


"Enggaklah."


"Kami enggak akan ikut kalau Ashura enggak di perbolehkan ikut." Kata Rizka.


"Kau bodoh? Dia itu pembunuh." Adin menunjuk Ashura.


Rizka, Windy, dan Rio memandang Ashura. Seperti biasa, Ashura hanya memasang wajah datarnya.


Rio mengerutkan dahinya. "Kenapa kau bisa bilang begitu?"


"Faiz. Teman kalian. Ashura yang membunuh nya." Ungkap Wahyu.


Rio dan Windy kembali memandang Ashura. Rizka yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Wahyu barusan, mengepalkan tangannya. Namun, ditahan oleh Ashura. Rizka melihat wajah Ashura yang seolah berkata "Dia benar."


"Dia membunuhnya ketika Faiz baru saja di pindahkan ke tempat ini. Aku melihatnya. Ashura memegang sebuah pisau yang berlumuran darah. Di hadapannya ada tubuh Faiz yang tersandar di pohon." Jelas Diva.


Rizka tersenyum kepada Ashura yang masih memegang tangannya. "Itu pasti kesalahpahaman lagi kan? Seperti ketika Rio dan Win-" Rizka menghentikan bicaranya. Melihat Ashura yang mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ternyata kau memang seorang pembunuh. Sialan." Rio mundur beberapa langkah.


Rizka menepis tangan Ashura. Perlahan melangkah mundur. Ashura tetap berwajah datar. Ia melihat Rizal yang berjalan mendekati Rizka. Lalu, memegang bahunya.


"Biarkan si pembunuh ini tinggal di bunker itu. Setidaknya dia masih punya tempat berlindung." Kata Rizal. Ia tersenyum kepada Rio dan Windy.


Rizka memandang Ashura yang kali ini sedikit merubah ekspresi wajahnya. Terlihat sedikit kerutan di dahinya. "Biarkan Ashura ikut dengan kita."


"Ha?!" Rio terkejut. "Rizka, bucin ada batasnya." Ujar Rio.


"Aku hanya bersifat manusiawi." Kata Rizka. Ia tertunduk.


"Manusiawi? Dia aja enggak manusiawi. Untuk apa kau memanusiawikan manusia yang enggak memanusiawikan manusia?" Rio berkacak pinggang.


"Kau ngomong apa bodoh?" Rizal dan Ashura serentak.


"Ashura akan tetap ikut." Tegas Rizka.


Adin memegang kepalanya. Membuang nafas kasar. "Baiklah. Wahyu berikan tali tambang itu ke senior Rizal. Ikat tangannya! Aku udah menduga hal ini akan terjadi."


Wahyu memberikan tali tambang kepada Rizal. Dengan senyuman lebar, Rizal mengikatkan tali tambang ke tangan Ashura. Tiba-tiba saja Ashura meludahi wajah nya. Kesal. Rizal memukul wajah Ashura. Dari belakang, Rizka menarik rambut Rizal dengan kuat. Terdengar suara seperti tulang yang patah dari punggung Rizal.


"Mau ku cabut kulit kepala mu? Hah?" Rizka melotot.


"Ja-Jangan, Jangan!" Rizal pucat. Tubuhnya gemetaran karena berada pada posisi setengah kayang.


Mereka pun berjalan. Mengikuti Adin dan Wahyu yang ada di paling depan. Rio memandang sinis ke Ashura. Sedangkan Ashura hanya diam. Berjalan dengan tangan terikat seperti tahanan.


***


Mereka tiba di sebuah gubuk yang berukuran cukup besar. Hampir terlihat seperti sebuah rumah kayu. Rizka, Windy, dan Rio mematung sesaat. Mulut mereka menganga beberapa senti.


Wahyu mengetuk pintu gubuk. Tak lama terdengar suara beberapa kayu yang jatuh. Pintu terbuka. Muncul seorang laki-laki yang memegang sekop.


Windy menyipitkan matanya. Ia merasa tidak asing dengan orang tersebut. "Yuda?"


Merasa namanya disebut, Yuda menengadahkan kepalanya. "Kalian?"


"Masuklah!" Wahyu memutar kepala nya sedikit ke kiri mempersilahkan Rizka dan yang lainnya masuk.


Sebelum masuk ke dalam gubuk, Rizka melihat Ashura yang dibawa sedikit menjauh dari gubuk oleh Adin dan Rizal. Salah satu ujung tali di ikatkan ke sebuah batang pohon. Ashura hanya diam dengan wajah datar nya.


"Jangan bertingkah. Kami bisa membunuhmu." Kata Adin.


"Aku juga bisa mengatakan hal yang sama." Ashura menatap Adin dan Rizal dengan tatapan mengintimidasi.


"Kau kalah jumlah." Adin membalikkan badannya dan berjalan ke gubuk.


Rizka memerhatikan mereka dari mulut pintu. Di dalam benaknya, ia sama sekali tidak percaya dengan pernyataan Diva yang melihat Ashura membunuh Faiz. Ashura sekilas melirik Rizka. Lalu, membuang mukanya.


"Masuklah. Dia enggak bakalan mati." Rizal menepuk pundak Rizka ketika hendak masuk ke gubuk.


Rizka pun masuk ke dalam gubuk. Tiba-tiba saja seorang perempuan berlari dan memeluknya.


"Kamu selamat."


"E-eh?" Rizka kebingungan.


Perempuan itu melepaskan pelukannya. Mengelap air matanya yang mengalir. Sedikit terisak.


Melihat wajah perempuan yang memeluknya, Rizka seketika tersenyum. Matanya mulai berkaca. "Laura?"


Laura mengangguk dengan senyuman dan air mata. Rizka memerhatikan sekeliling. Dia melihat hampir semua orang yang berada di rombongan mendaki nya ada di dalam gubuk. Kecuali, Faiz. Terlihat juga orang-orang yang satu rombongan dengan Ashura ketika mendaki. Adin menepukkan tangannya dua kali. Wajah Rizka yang tersenyum, berubah masam.


"Ada yang mau aku bicarakan. Udah cukup reuni nya." Kata Adin.


Laura menarik tangan Rizka. Mengajaknya untuk duduk. Semua yang berada dalam gubuk tersebut berkumpul.


"Sekarang di gubuk ini ada seorang pembunuh yang sebelumnya kita-"


"Tunggu." Rio memotong Adin yang sedang berbicara. "Coba ceritakan lebih detailnya. Mengapa kalian mengatakan bahwa Ashura seorang pembunuh?"


Rizka juga ingin menanyakan hal tersebut. Ia menatap Rio. Rio membalas tatapannya.


"Sebelumnya udah aku beri tahu. Aku melihatnya memegang pisau yang berlumuran darah dan ada tubuh Faiz didekatnya." Jawab Diva.


"Ya. Tapikan, bisa aja itu salah paham." Sanggah Rizka.


"Awalnya aku juga menganggap itu salah paham. Tapi, aku juga melihat tangan yang memegang pisau itu berwarna putih seperti tangan makhluk-makhluk yang pernah aku lihat." Tambah Diva.


"Kami mau ngejar Ashura yang pergi dari lokasi kejadian. Tapi, karena kabut cukup tebal waktu itu kami kehilangan dia." Seseorang menambahkan apa yang disampaikan oleh Diva.


Rio mencoba melihat ke arah sumber suara. Dari belakang sebuah tumpukan kayu bakar, muncul seseorang yang hanya memiliki tangan sebelah kirinya.


"Dan tiba-tiba kami di kejar oleh makhluk putih. Membuat kami terpisah. Enggak lama, aku ketemu kalian." Orang tersebut menunjuk Rio dan Windy.


"Zak-" Rio terkejut.


"Kamu selamat?" Tanya Windy. Ia sama sekali tidak menyangka.


Zaki tersenyum kecil. "Ya untungnya. Cuma tangan kanan ku yang enggak selamat."


Rizka menunduk. Mengerutkan dahinya. Mencoba mengingat sesuatu. "Berarti itu kejadiannya.."


"Ketika aku dan Diva pergi dari bunker." Zaki duduk di samping Rio.


"Kenapa?" Tanya Rizka.


"Kami pergi dari bunker?" Zaki melirik Diva. "Aku cuma mau menemani Diva yang ingin buang air kecil di sungai."


"Awalnya aku mengajak Ashura. Tapi, Ashura bilang kalau dia mau memburu binatang untuk di makan. Aku juga bilang ke dia untuk menangkap ikan di sungai aja. Tapi dia menolak." Diva menambahkan.


"Aahhh, pokok nya udah pasti Ashura salah satu dari makhluk putih itu." Wahyu menggaruk kepalanya.


"Kan kami mau tahu detailnya." Rizka kesal.


"Udah cukup. Dia benar." Ujar Rio.


"Apa?! Kamu bilang gitu karena kamu memang membenci Ashura." Rizka meninggikan nada bicaranya.


"Dan kau- terus membelanya karena kau udah terlalu bucin." Rio tidak ingin kalah. Ia juga meninggikan nada bicaranya.


"Sorry, aku mau buang air nih!" Di tengah keributan, Ashura berteriak dari luar.


"Ck. Anak itu." Rizal bangkit dari tempat duduknya. Berjalan keluar dari gubuk untuk menghampiri Ashura.


"Udah di ujung nih."


"Buang aja disitu. Babi!" Terdengar Rizal yang kesal.


Beberapa saat, suasana di dalam ruangan cukup hening. Adin menggelengkan kepalanya. "Ashura bakalan tetap di ikat di pohon itu. Kalau dia melakukan sesuatu, kita bisa menyerangnya bersama. Dia kalah jumlah." Kata Adin.


"Dia dapat jatah makanan kan?" Tanya Maudy yang dari tadi duduk diam menyandar pada dinding kayu.


"Kenapa kau yang menentukan?" Adin terlihat kesal. Ia menatap Rizka.


"Dan juga, kenapa harus kamu?" Rizka membalas tatapannya. Namun, lebih tajam.


Maudy melirik Rizka dari sudut matanya. "Apa enggak bisa kamu pakai aja hoodie mu itu? Pakai tanktop begitu, mau pamer?"


"Iya. Iri ya? Karena enggak ada yang bisa kamu pamerin?" Rizka menyilangkan tangan di dadanya dan tersenyum angkuh.


Maudy menunduk. Melihat ke bagian tubuhnya yang di singgung oleh Rizka. Semua yang berada di ruangan, seketika terdiam. "Pfft." Terdengar beberapa suara orang yang berusaha menahan tawanya.


"Ehem!" Adin mengambil perhatian semua orang. "Karena nambah orang di gubuk ini dan adanya tahanan kita."


"Anjay. Tahanan ga tuh." Kata Yuda yang sedang menuangkan cairan vape-nya.


"Jadi, kita bagi-bagi lagi tugasnya." Sambung Adin.


***


Matahari telah terbenam. Semua orang berkumpul di depan gubuk. Menghidupkan api unggun. Menancapkan beberapa tusuk ikan di depan api unggun. Dari kejauhan, terlihat Ashura yang duduk menatap langit. Rizka menghampiri nya dengan membawa dua ekor ikan yang sudah matang.


"Kamu bakalan di curigai dan di jauhi mereka kalau terus membela ku." Kata Ashura ketika Rizka baru saja duduk di sebelahnya.


"Bodo amat. Seluruh dunia menjauhiku pun aku bodo amat." Rizka meniup ikan yang masih panas.


Ashura tersenyum kecil. Lalu tertunduk. "Maaf."


"Untuk apa?" Tanya Rizka yang tidak jadi memasukkan daging ikan ke mulutnya.


"Untuk yang kalian bahas tadi di dalam." Ashura menyandarkan kepalanya ke batang pohon yang ada di belakangnya.


Rizka mengunyah daging ikan yang masih panas. "Emang kamu dengar? Aku enggak percaya kamu melakukannya."


"Masih panas itu. Gigi mu bisa rusak." Ashura melihat Rizka yang mengibaskan tangannya ke mulut. Kembali menatap langit. "Gimana kalau benar aku melakukannya?"


"Aku akan minta penjelasannya dari mu." Rizka membelah badan ikan. Kemudian, meniupnya.


Ashura terdiam sesaat. "Gimana kalau aku bilang-"


"Makanlah dulu." Rizka menyuapkan daging ikan ke mulut Ashura. "Jangan membuat penjelasan palsu. Jujur aja. Kamu bisa jelasin dulu ke aku. Nanti aku bisa jelasin ke mereka."


Ashura menelan daging ikan yang di suapi Rizka. Beberapa saat mereka hanya diam. Rizka kembali meniup daging ikan dan menyuapi Ashura. Hingga dua ekor ikan yang mereka santap hanya menyisakan tulang dan duri, mereka masih belum mengeluarkan satu kata pun.


Laura datang menghampiri mereka. "Rizka, kamu dimintai tolong untuk mengambil air di sungai."


"Hmm? Kenapa aku? Aku sendiri?" Rizka membuang sisa makanan dan daun yang menjadi piring primitif ke semak-semak yang ada di belakang nya.


"Kamu dan Yuda." Laura menunjuk Yuda yang berdiri memegang dua buah ember logam.


Rizka memerhatikan orang-orang yang sedang sibuk membersihkan bekas api unggun. Membuang nafas kasar. Rizka beranjak. Meninggalkan Ashura dan Laura. Menghampiri Yuda. Lalu, berjalan mengikuti Yuda. Sambil berjalan, Rizka melihat Laura yang sedang mengobrol dengan Ashura.


"Jauh?" Tanya Rizka pada Yuda.


"Enggak."


Melihat Laura yang sedang mengobrol dengan Ashura, muncul sesak di dada Rizka. Rizka mengatur nafas nya. Ia tidak ingin ada rasa cemburu hanya karena sahabatnya mengobrol dengan Ashura. Lagian, dia tidak memiliki hubungan spesial dengan Ashura. Seperti pacar.


"Kamu kuat angkat ember besi itu?" Tanya Yuda yang baru saja mengisi air di ember.


Rizka mengangkat ember yang terisi penuh di atas bahunya. Kemudian melakukan gerakan squad jump beberapa kali. Yuda mematung. Mulutnya menganga lebar.


"O-oke." Kata Yuda yang terbata-bata. Ia mengangkap ember. Terlihat kalau dia hampir tidak bisa mengangkat ember tersebut.


Rizka pergi meninggalkan Yuda yang berjalan mengangkang mengangkat ember yang berat. Setiap langkahnya, air tumpah sedikit demi sedikit.


Ketika kembali ke gubuk, Rizka tidak melihat Laura yang sebelumnya mengobrol dengan Ashura. Rizka meletakkan ember di dalam gubuk.


"Mana Yuda?" Tanya Wahyu.


"Tadi di belakang." Ucap Rizka.


"Kamu tinggal? Dia enggak tersesat kan?" Diva terlihat khawatir.


"Yud, celana mu basah. Hahaha." Tawa Maudy yang melihat Yuda kesulitan mengangkat ember.


"Ha-harga di-riku ha-ha-hancur." Yuda meletakkan ember. Sedikit membantingnya. Tangannya jatuh lemas. Nafasnya kacau.


Wahyu, Diva, dan Maudy tertawa. Rizka celingak celinguk mencari sesuatu.


"Mana Laura?" Tanya Rizka kepada Wahyu, Diva, dan Maudy.


Diva menunjuk ke sudut ruangan. "Disana." Katanya.


Rizka menghampiri sudut ruangan yang terdapat tumpukan kayu bakar. Di balik tumpukan kayu, Laura, Rio, Windy, dan Zaki sedang mengobrol.


"Eh? Rizka?" Windy tersenyum. Ia sedikit bergeser dari tempat duduknya. Memberikan ruang untuk Rizka duduk.


"Enggak sama Ashura lagi?" Tanya Zaki ketika Rizka duduk.


"Nanti." Rizka tidak memandang Zaki yang bertanya.


Zaki sedikit tersenyum. "Kenapa kamu bersih keras membela Ashura?"


"Karena aku percaya dia enggak melakukannya." Jawab Rizka dengan cepat.


"Makhluk putih yang mengejar kami memakai jaket yang sama ketika aku dan Diva melihat nya didekat mayat Faiz. Makanya, aku sangat yakin kalau itu Ashura." Zaki menjelaskan lebih lanjut kepada Rizka.


"Tapi, Ashura bilang kalau kau juga pakai jaket berwarna gelap." Kata Rio.


"Ya. Benar." Zaki mengambil jaket nya yang tergeletak di lantai. Menunjukkannya kepada Rio, Rizka, Windy, dan Laura. "Terus? Ashura bilang apalagi?"


"Dia malah mencurigaimu." Kata Windy.


"Karena, menurutnya aneh kalau kau cuma sendirian di tengah hutan." Tambah Rio.


"Kurasa Ashura berpikiran bahwa bisa aja ada sesuatu yang bisa menjelma atau menyamar gitu." Kata Laura.


Zaki terdiam. Memiringkan kepalanya sedikit. Bola matanya melihat ke atas. Memikirkan sesuatu.


Rizka beranjak dari tempat duduk nya. Menghampiri tasnya. Mengambil suatu barang. Lalu, kembali duduk di tempat semula.


"Kamu pernah membunuh makhluk putih itu dengan ini kan?" Rizka menunjukkan pisau putih yang diberi oleh Ashura.


Zaki terlihat terkejut. Mengambil pisau tersebut dari tangan Rizka.


"Ashura juga pernah membunuh makhluk itu dengan pisau tersebut." Jelas Rizka.


Zaki semakin terkejut. Ia mengerutkan dahinya. Lalu, tiba-tiba ia berdiri.


"Semuanya tolong berkumpul!" Teriak Zaki. "Dan tolong bawa Ashura juga." Ujarnya.


***


Semuanya kembali berkumpul. Termasuk Ashura yang duduk di mulut pintu dengan tangan yang masih terikat.


Zaki meletakkan pisau putih yang diberi oleh Rizka ke tengah-tengah mereka yang sedang berkumpul. "Shura, kamu udah menggunakan pisau ini berapa kali?"


"Sekali." Jawab Ashura dengan wajah datarnya.


"Jujur!" Tegas Zaki.


"Kalau enggak percaya, untuk apa kau bertanya?" Ashura menepuk pipinya. Seperti ada nyamuk yang menggigitnya.


Zaki diam sesaat. Menatap Diva yang juga terkejut melihat pisau yang ada di hadapannya.


"Diva, kamu tahu kan apa aturan tentang pisau ini?" Zaki bertanya pada Diva.


Diva menganggukkan kepalanya. "Tiga kali pemakaian dan pisau itu akan menjadi debu."


"Darimana kau tahu?" Adin terlihat kebingungan.


"Aku, Ashura, dan Zaki menemukan pisau itu tergeletak di lantai bunker dengan sebuah buku tua." Kata Diva.


"Dimana buku itu?" Tanya Zaki.


"Aku tinggal di bunker. Di dalam tas mu." Kata Ashura.


Zaki menepuk jidatnya. Adin penasaran tentang pisau itu.


"Siapa aja yang udah menggunakan pisau itu?" Tanya Adin.


"Pertama kali, Zaki memakainya untuk membunuh makhluk putih dengan pisau itu. Diva melihat Ashura memegang pisau itu juga ketika membunuh Faiz dan Ashura juga memakainya untuk membunuh makhluk putih dengan pisau itu juga." Jawab Rizka dengan menatap Adin.


"Tapi, pisau itu masih utuh." Kata Rizal.


"Diva, apa mungkin kamu salah sangka?" Maudy meragukan Diva.


"Enggak. Aku beneran melihat Ashura memegang pisau dan tangannya berwarna putih." Tegas Diva.


"Emang kalo menggunakan pisau itu, tangan kita akan berubah berwarna putih?" Tanya Yuda.


"Iya. Zaki juga begitu ketika menggunakannya." Jawab Diva. Zaki mengangguk.


Rizka merangkak mendekati Ashura. Menarik kedua lengan hoodie Ashura. Memperlihatkan kedua lengan Ashura yang terbalut perban.


Semua orang terdiam. Diva menelan ludah. Lalu, menunduk dan menutup mulut dengan tangannya.


"Bukannya saat itu suasanya berkabut? Mungkin yang kamu lihat itu perban." Rizka menurunkan lengan hoodie Ashura.


"Ya. Aku ingat. Kedua lengan Ashura di perban karena terluka ketika kami melawan makhluk putih." Kata Zaki.


"Hei, kau jangan diam aja!" Adin membentak Ashura.


Ashura menutup mulutnya karena menguap. "Aku lagi berburu binatang untuk di makan. Enggak sengaja ketemu tubuh manusia yang berantakan. Seperti di cabik-cabik. Aku menjarah barang bawaanya. Mana tau ada yang berguna." Ashura mengucek sebelah matanya. Ia terlihat mengantuk.


"Kamu membawa pisau putih itu?" Tanya Diva.


"Iya. Daripada ditinggal di bunker." Ujar Ashura.


Diva kembali menunduk. Rizka menatap tajam ke arah Diva dan Zaki. Zaki terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Tapi, kenapa makhluk yang mengejar kami bisa menggunakan hoodie yang warnanya sama dengan hoodie mu? Bahkan celananya juga terlihat mirip." Zaki mengerutkan dahinya.


Rizka sedikit terkejut. "Pakai celana juga?" Rizka bertanya di dalam hatinya. Rizka baru ingat dengan makhluk yang melukai lengannya. Makhluk itu juga mengenakan jaket atau -mungkin hoodie dan celana yang berwarna gelap. Karena tidak terlalu memerhatikan, Rizka tidak tahu dengan pasti warna apa jaket dan celananya. Tetapi mendengar cerita Zaki barusan, Rizka merasa bahwa makhluk yang melukai lengannya tersebut dengan yang mengejar Zaki, Rio, dan Windy merupakan makhluk yang sama.


"Gimana dengan makhluk yang kau bunuh? Kau lupa dia juga memakai pakaian berwarna hijau yang hampir mirip dengan jaket mu." Ashura menatap Zaki. Tetap dengan wajah datarnya.


Zaki tertegun dan yang lainnya hanya diam mendengarkan. Beberapa dari mereka bahkan seperti tidak memperdulikan apa yang sedang dibahas.


"Kalau begini terus enggak akan selesai. Jadi, gimana?" Rizka menatap Adin.


Adin menatap Ashura. Ia bingung mengambil keputusan. Beberapa detik dia memegang dagunya, lalu membuang nafas nya. "Oke, yang setuju Ashura dilepas, siapa?"


Rizka mengacungkan tangannya. Windy terlihat ragu-ragu. Beberapa saat, hanya Rizka yang tetap mengacungkan tangannya.


"Lihat? Ashura memang harus tetap kita ikat." Kata Adin.


Rizka menurunkan tangannya. Memandang semua orang. Rizal menepuk-nepuk bahu Rizka sembari tersenyum.


"Cukuplah. Waktunya istirahat. Besok kita bakalan mengejelajahi tempat ini lagi untuk mencari petunjuk." Ujar Adin.


Semua orang pun bubar dari tempat. Zaki mengambil pisau yang berada di tengah-tengah mereka dan memberikannya kembali pada Rizka. Rizal membawa Ashura kembali ke bawah pohon. Mereka menutup pintu dan memblokirnya dengan beberapa kayu balok panjang. Mereka semua mengambil posisi untuk beristirahat. Yuda dan Wahyu duduk di dekat pintu untuk berjaga.