
Ashura menggendong Rizka di belakang dan Rizka masih menutup hidungnya dengan beanie (topi kupluk) miliknya.
"Kepala kamu pusing? Sampai mimisan begitu." Tanya Ashura.
"Enggak. Cuma ada yang muncul terus di kepala ku." Rizka menjelaskan dengan suara yang bindeng.
"Kamu mikirin apa?" Ashura memutar kepalanya berusaha melihat Rizka. Namun, Rizka terus memalingkan wajahnya ke arah lain. "Hei, kamu kenapa?!" Ashura kesal.
"Jangan tunjukkan wajah mu! Nanti aku mimisan lagi!"
"Hah?! Kenapa?!" Ashura terus mencoba melihat Rizka ke kanan dan ke kiri. "Hei!" Tetap saja, Rizka juga terus memalingkan wajahnya.
Prok! Di tengah keributan dua remaja itu, terdengar suara tepuk tangan dari kejauhan. Seketika itu pula mereka terdiam. Tubuh Rizka mendadak dingin dan gemetaran. Trauma akan suara tepuk tangan tersebut kembali muncul. Detak jantungnya sekarang seperti sedang berlari sangat kencang. Karena Rizka digendong oleh Ashura dipunggungnya, Ashura sangat jelas merasakan cepatnya detak jantung Rizka.
"Hei, hei. Tenanglah! Ada aku. Hei!" Ashura mencoba menenangkan Rizka yang terdiam pucat dan gemetaran.
Ashura mulai mempercepat langkahnya. Namun, tetap berusaha tidak membuat banyak suara yang dapat menarik perhatian.
"Shura." Rizka menyebut nama Ashura dengan suara lirih.
"Tenang! Bentar lagi sampai bunker." Terdengar suara Ashura yang terengah-engah.
"Menunduk."
"Hah?! Apa?!" Ashura mendadak bingung dengan apa yang baru saja dikatakan Rizka.
"Menunduk bodoh!" Rizka mendadak berteriak.
Sontak, Ashura menjatuhkan tubuhnya ke tanah tepat sebelum tangan makhluk yang bertepuk tangan tersebut menyambar mereka. Dengan sigap, Ashura mengeluarkan sebuah pisau --entah dari mana-- dan menusuk makhluk tersebut di rahang bawahnya.
"Lari!" Ashura membantu Rizka untuk bangkit dan memberikan ikan yang ia dapat ketika di sungai.
"Ta-tapi.." Rizka keberatan. Mana mungkin dia akan meninggalkan Ashura sendirian melawan makhluk yang dapat melukai lengan kiri nya dengan sangat parah? Rizka juga tidak mau berpisah dengan Ashura.
Namun, Ashura memaksa Rizka untuk pergi. "Bodoh ya?! Jangan lihat ke belakang! Terus lari! Tunggu aku di bunker! Aku janji pasti menyusul!" Tegas Ashura dengan menjanjikan akan menyusul. Dengan berat hati, Rizka menghidupkan senternya kemudian berlari meninggalkan Ashura dan makhluk tersebut. Ia percaya Ashura akan menepati janjinya tersebut.
Semakin jauh. Ashura tidak lagi terlihat. Rizka terus berlari hingga sampai di bunker dan menutup pintu. Rizka terduduk menyandar pada pintu. Menjatuhkan kayu yang menusuk empat ekor ikan. Air matanya menetes. Ia menyesal meninggalkan Ashura.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh!" Rizka memukul-mukul wajahnya karena merasa sangat kesal dan menyesal.
***
Entah sudah berapa lama Rizka duduk memeluk lututnya menunggu Ashura kembali ke bunker. Hingga air matanya tidak lagi mengalir dan bekas nya pun telah kering. Rizka mengambil smartphone-nya dari tas dan melihat jam yang menunjukkan pukul 17.45, Rizka menyadari sesuatu. Ada cahaya yang masuk ke dalam bunker melalui celah pintu, ventilasi kecil yang memanjang dari ujung bunker hingga ke pintu, dan lubang-lubang bekas peluru. Cahaya matahari yang tidak begitu cerah seperti biasanya.
Rizka yang kebingungan, membuka pintu untuk melihat keluar. Tepat didepan pintu, Ashura berdiri dengan tubuh yang berlumuran begitu banyak cairan berwarna hitam.
"Yo." Sapa Ashura yang sempoyongan.
"Ash-" Rizka yang tersenyum bahagia, hendak memeluk Ashura. Namun, Ashura mencegahnya.
"Kotor nanti. Aku mau ambil baju ganti. Minggir!" Kata Ashura sembari memberikan isyarat tangan untuk bergeser dari jalannya.
Wajah Rizka yang sebelumnya tersenyum bahagia, seketika berubah kesal. Bahkan ia ingin mengayunkan tinjunya ke wajah Ashura. Rizka melihat suasana diluar. Sinar matahari yang redup seperti mendung menerangi hutan yang sebelumnya gelap gulita. Rizka kebingungan dengan hal tersebut. Bagaimana bisa?
"Oi, minggir!" Ashura keluar dari bunker dengan membawa salah satu tas.
"Ikut."
"Ya ampun. Aku mau mandi. Kotor nih, darah semua."
"Oh. Enggak apa-apa. Aku nanti enggak lihat." Hidung Rizka kembali mengeluarkan darah tanpa ia sadari.
"Hei, darah!" Ashura panik ingin mendekati Rizka. Namun, ia sadar tubuhnya sangat kotor berlumuran darah hitam.
"Udah. Aman." Rizka berjalan menuju Ashura dan mendahuluinya.
"Kamu ini kenapa? Mimisan terus daritadi." Ashura menyusul di belakang.
"Jangan dekat-dekat! Bau amis!" Rizka menoleh kebelakang dan melihat Ashura yang berjalan mundur menjauhinya. "He-hei, maaf."
Ashura hanya diam dan terus berjalan mundur menjauhi Rizka.
***
Ashura mendekati pinggiran sungai. Meletakkan tas dibawah sebuah pohon yang besar. Rizka duduk dibalik semak-semak yang tidak jauh dari lokasi Ashura.
"Jangan mengintip!" Terdengar suara resleting hoodie yang dibuka.
"Iya. Enggak akan."
"Baguslah. Jangan pula mengambil kesempatan karena hanya ada kita berdua disini."
"Hah?! Aku yang seharusnya bilang begitu! Kamu itu cowok!" Rizka tidak terima perkataan dari Ashura. Ia mematahkan ranting yang ia ambil dari tanah.
"Emang cuma cowok yang begitu? Enggak juga."
"Kan kasus-kasus yang sering terjadi selalu begitu."
"Iya deh."
Rizka duduk memainkan batu, ranting, dan daun yang ada di tanah. Ia hanya mendengar suara air ketika Ashura mandi. Rizka teringat dengan hal yang membuatnya penasaran.
"Shura, bagaimana caramu bisa melihat ketika gelap tanpa senter?" Rizka menanyakan hal yang membuatnya penasaran tersebut.
Beberapa saat, Ashura hanya diam. Lalu, terdengar suara tawa kecilnya. Bukannya menjawab pertanyaan Rizka, Ashura malah balik bertanya. "Kamu tahu kenapa bajak laut ada yang menutup sebelah matanya?"
"Hah? Kenapa malah-"
"Jawab saja!"
Wajah Rizka berubah masam. "Biar beradaptasi dengan situasi gelapnya malam di lautan? Seingatku begitu."
"Ya. Begitu juga aku. Awalnya aku juga memakai senter ketika gelap. Tapi, pasti ada saatnya senterku habis batrai dan aku enggak bawa batrai cadangan. Makanya, aku membiasakan tanpa senter ketika gelap. Akhirnya, yah.. sudah terbiasa. Hei!" Di akhir penjelasannya, Ashura sedikit berteriak.
"Hah?! Ap-. Kamu enggak apa-apa?" Rizka terkejut.
"Y-ya."
"Ada apasih?"
"Enggak ada."
Rizka melihat ke langit. "Lalu, bagaimana bisa jam 17.45 yang seharusnya sore malah menjadi pagi seperti jam 07.00 pagi?"
"Aku juga masih kurang mengerti." Ujar Ashura.
"Bagaimana dengan makhluk itu?" Rizka kembali bertanya.
Ashura tidak menjawab. Beberapa detik, Rizka masih diam menunggu jawaban dari Ashura.
"Mau lihat?" Ashura muncul di samping Rizka dengan senyuman kaku. Rizka yang terkejut sedikit menjarak.
Terlihat tubuh Ashura yang dipenuhi balutan perban. Rizka teringat dengan apa yang telah ia lihat sebelumnya. Tubuh Ashura sebelumnya juga telah dibalut dengan beberapa perban. Ashura memakai baju kaos yang ia ambil dari dalam tas. Hoodie yang berlumuran darah telah ia cuci dan di jemur di dahan pohon pinggir sungai.
Rizka menggosok hidungnya. Tidak ada darah. Rizka mengelus dadanya. "Akhirnya pikiran itu sudah hilang." Ucap syukur Rizka di dalam benak nya.
Ashura melihat tingkah aneh Rizka yang melihat langit dengan mata terpejam. "Ayo, ikut aku!" Ashura mengajak Rizka ke suatu tempat. Menggendong tas yang ia bawa dan berjalan mendahului Rizka.
Rizka mengikuti Ashura dibelakang. Suasana hutan tidak lagi gelap. Rasa cemas dan takut Rizka setidaknya telah berkurang dengan adanya pencahayaan dari matahari. Mereka berjalan ke tempat yang pernah mereka lalui sebelumnya. Terlihat banyak pepohonan yang patah dan tumbang seperti ada sesuatu yang sangat kuat yang dapat melakukannya. Tercium bau amis darah di sekitar mereka. Ashura menghentikan langkahnya. Menunjukkan Rizka sesuatu.
Rizka terkejut. Makhluk yang berukuran lebih besar dari mereka, tergeletak di tanah dengan tangan dan kepala yang terpisah dari tubuhnya. Darah hitam hampir menutupi seluruh tubuh yang tak ditutupi sehelai benang pun dan tidak lagi berwarna putih. Berwarna layaknya kulit manusia yang pucat. Rizka juga baru menyadari bahwa ukuran tubuh makhluk tersebut juga seperti menyusut.
"Bukannya ukuran tubuh dan warna nya berbeda? Mayat ini justru terlihat seperti manusia dewasa pada umumnya." Rizka memerhatikan mayat tersebut dan melihat ada anggota tubuh yang hanya dimiliki seorang perempuan. "Pe-perempuan?" Rizka menutup hidungnya karena tidak tahan mencium bau darah.
"Ya. Aku juga terkejut. Ini pertama kalinya aku membunuh makhluk seperti ini dan ternyata seorang wanita. Sebelumnya Zaki juga pernah berhasil membunuh makhluk seperti ini. Tapi, seorang laki-laki." Jelas Ashura. Mendekati mayat tersebut dan menarik kulit mayat tersebut.
"Hei, menjauhlah! Bau! Kotor!" Rizka menarik baju Ashura.
"Dia mungkin masih berumur yang enggak jauh dari kita. Kulit nya masih kencang." Ashura menjauhi mayat. Menutupi mayat dengan dedaunan.
"Bagaimana cara kamu membunuhnya?" Rizka bertanya karena merasa mungkin mustahil untuk mengalahkan makhluk yang berukuran dua kali lipat dari Ashura.
Ashura menggaruk kepalanya. Berjalan menjauhi mayat dan meninggalkan Rizka.
"Hei, tunggu! Sebenarnya makhluk apa itu?! Kenapa bisa jadi manusia?!" Rizka berlari kecil mengejar Ashura.
"Aku enggak tahu." Ashura membuat jalan baru dengan melewati semak-semak yang tinggi.
"Pisau! Pisau apa itu?!"
Beberapa menit mereka berjalan, di sekitar bunker seperti diselimuti asap tipis. Tercium bau sesuatu sedang di bakar. Ashura yang menyadari sesuatu, berlari menuju bunker. Karena takut ditinggal, Rizka mengejar Ashura.
Terlihat asap putih tipis yang keluar dari ventilasi kecil bunker. Ashura mengisyaratkan untuk tidak membuat suara. Mereka mengendap-endap mendekati bunker. Dari dalam, terdengar suara orang tengah berbicara.
Ashura memberikan sebilah pisau yang terbuat dari benda putih seperti tulang yang di setiap sisinya dibuat tajam dan pegangan yang terbuat dari benda yang sama. Rizka tidak terlalu memperdulikan pisau tersebut. Ashura memberi aba-aba dengan ketiga jarinya. Ketika jari terakhir Ashura turun, dengan serentak mereka membuka pintu.
Dua orang yang tengah berbicara sebelumnya, ternyata juga sedang membakar ikan yang Ashura tangkap di sungai.
"Windy? Rio?" Rizka terkejut karena Windy dan Rio lah yang ada di bunker.
"Rizka!" Windy yang sedang menyantap ikan, dengan cepat beranjak dan memeluk Rizka. "Rizka! Kukira kamu mati!" Windy menangis cukup keras.
"Hahaha, enggak akan. Ada Ashura bersama ku." Rizka mengelus punggung Windy.
"Shura, makasih." Ucap Windy yang melihat Ashura dengan air mata mengalir deras.
Ashura mengangkat kedua alisnya untuk menjawab ucapan terima kasih dari Windy. Lalu, menatap Rio dengan tatapan sinis. Ternyata daritadi Rio juga melakukan hal yang sama. Rizka kebingungan melihat mereka berdua. "Ada apa?" Rizka bertanya di dalam hati.
Ashura duduk dihadapan Rio. Menambahkan beberapa ranting ke api unggun.
"Bagaimana kau bisa ada disini?" Kalimat pertama yang dikeluarkan dari mulut Rio adalah kalimat tanya yang penuh curiga.
Ashura tidak menjawab. Mengambil dua ekor ikan yang belum di bakar. Rio yang kesal karena pertanyaannya tidak dijawab. Menodongkan sebuah pistol ke arah Ashura.
"Hei, pembunuh! Jawab sialan!" Rio menaikkan nada bicaranya. Menarik hammer pistol menandakan ia sudah siap untuk menembak.
Rizka melepaskan pelukan Windy. Mendekati Rio dan merebut pistol dari tangannya. "Apa-apaan kamu ini?! Dari mana kamu dapat pistol ini?!" Rizka mengeluarkan magazine pistol.
"Si pembunuh ini enggak menjawab pertanyaan ku." Rio masih menatap sinis ke arah Ashura yang sedang membolak-balikan ikan.
Windy mengelap air matanya dan mendekati Rio. Ayunan tangan Windy tepat mengenai pipi kanan Rio. Windy mengibaskan tangannya.
"Sudah aku bilang, itu belum tentu Ashura! Sekarang ini bukan ada di dunia kita. Bisa saja suatu makhluk yang bisa menjelma menjadi Ashura." Kata Windy.
Rio memegang pipi yang baru saja ditampar Windy. "Bagaimana kalo itu benar si sialan ini?" Rio menedang lutut Ashura.
Ashura memberikan ikan yang sudah dibakar ke Rizka. Rizka kebingungan. Mengapa Rio menuduh Ashura sebagai seorang pembunuh? Rizka sangat ingin menanyakannya. Tetapi, ia merasa tidak enak jika bertanya seperti itu. Takut Ashura akan merasa dicurigai juga olehnya.
"Ada bukti kalau itu aku?" Ashura bertanya tanpa melihat wajah Rio.
"Hoodie. Sebelum kalian mendaki, aku melihat postingan dari Adin. Hoodie biru dongker." Rio menjelaskan.
Rizka menatap Windy. Windy membalas tatapan Rizka dan duduk di samping Rio. "Ketika aku dipindahkan ke tempat ini, hutan ini sangat gelap. Aku sendirian. Takut. Ada banyak sekali suara-suara aneh di sekitar ku." Windy mulai menceritakan kronologi dirinya sampai ke tempat tersebut.
"Siapa yang dipindahkan setelah aku?" Potong Rizka yang baru saja duduk didepan api unggun yang ada di antara Rio dan Ashura.
"Maudy. Lalu, aku." Jawab Rio.
Windy mengangguk. "Setelah Rio, Laura, Yuda, aku, dan mungkin yang terakhir senior Rizal juga dipindahkan ke tempat ini. Aku sangat takut ketika tiba di tempat ini. Enggak lama, aku ketemu Rio bersama Zaki dari rombongan Ashura."
"Bagaimana bisa? Kami bahkan belum pernah bertemu siapapun selain kalian." Rizka melirik Ashura.
"Aku kebetulan ketemu Zaki ketika berlari menghindari makhluk yang bertepuk tangan." Rio menyambung cerita dari Windy. "Lalu, Zaki mengajakku untuk ke tempat teman-teman yang lain. Di perjalanan, kami ketemu Windy yang menangis dan mengajak nya juga untuk ikut." Rio menyentuh lutut Windy.
"Entah berapa lama kami berjalan, kami di hadang oleh makhluk berkepala putih dan memakai jaket atau hoodie berwarna gelap. Zaki juga mengatakan bahwa itu Ashura." Windy tertunduk. Tidak berani melihat ke Ashura maupun Rizka. Rizka melihat Ashura yang menyimak cerita dari Windy. "Zaki terbunuh karena mencoba menghalangi makhluk itu untuk mengejar kami. Kami berhasil kabur. Tapi, tidak tahu ke arah mana. Terus berjalan tanpa tahu arah. Kami berakhir ketemu bunker yang ada beberapa tas, ikan, dan bekas api unggun didalam nya." Windy menyelesaikan ceritanya. Suasana sejenak menjadi hening.
"Kenapa kalian enggak curiga Zaki yang sendirian di tengah hutan? Kalau katanya ingin mengajak kalian ke teman-temannya, mengapa dia enggak bersama teman-temannya saja? Kenapa justru pergi sendirian? Setidaknya dia bersama seseorang, jika dia benar-benar memiliki teman. Dan juga, kalian berjalan cukup lama bukan? Hanya untuk ke tempat teman-temannya Zaki? Mengapa dia hanya sendirian di tempat yang jauh dari teman-temannya?" Ashura tiba-tiba memberikan banyak pertanyaan kepada Rio dan Windy membuat mereka memandang satu sama lain.
"Windy mengatakan jaket atau hoodie berwarna gelap. Tapi, kenapa kamu justru menuduh Ashura dan tahu kalau hoodie yang dipakai makhluk itu berwarna biru dongker?" Rizka membela Ashura karena pernyataan dari Windy dan Rio sedikit berbeda.
Rio diam beberapa detik. "Ya. Aku melihat berwarna gelap. Tapi karena Zaki mengatakan bahwa itu Ashura, lalu aku mengingat postingan Adin. Terlihat kalau hoodie yang dipakai Ashura juga berwarna cukup gelap. Tentu saja, aku menyimpulkan bahwa itu memang dia." Rio menunjuk Ashura.
"Kenapa yang kamu ingat hanya Ashura? Bisa sajakan ada orang lain yang memakai jaket atau hoodie berwarna gelap?" Rizka masih membela Ashura.
"Zaki juga memakai jaket berwarna gelap. Hijau gelap." Ashura menambahkan.
Rio terdiam. Ekspresinya seperti tidak terima karena yang ia lihat di postingan Adin, Zaki memang mengenakan jaket hijau gelap.
"Ketika bersama kalian, Zaki memakai pakaian apa?" Tanya Ashura.
"Kaos kuning cerah. Celana kain longgar hitam." Jawab Windy.
"Sebelumnya, kami ada bertiga di bunker ini. Aku, Zaki, dan Diva. Mereka pergi karena ingin ke sungai entah mau ngapain. Dan mereka enggak pernah kembali. Ketika Zaki pergi bersama Diva dari bunker ini. Zaki mengenakan jaket hijau gelap." Kata Ashura. Menyusun tas-tas yang terlihat berserakan.
Melihat ada beberapa tas, Rio mengerutkan dahinya. "Mengapa ada tiga tas? Apa kau membunuh semua pemiliknya?" Rio masih tetap menaruh curiga kepada Ashura.
Rizka kesal. "Hei! Ka-" Hendak memarahi Rio karena masih terus menaruh curiga pada Ashura, Rizka dihentikan oleh Ashura.
"Tuli ya? Sebelumnya ada Zaki dan Diva di bunker ini." Tegas Ashura.
"Satu itu punya Zaki, dua-nya lagi punya kami berdua. Punya Diva yang aku temukan ketika awal pendakian." Sambung Rizka yang terlihat sangat kesal.
"Mengapa kau mengganti bajumu? Rusak karena kau berubah menjadi makhluk putih aneh?" Rio kembali bertanya, yang menandakan ia masih tetap tidak percaya kepada Ashura.
"Anak ini." Rizka geram.
Ashura membuka bajunya. Memperlihatkan tubuhnya yang dipenuhi perban cukup tebal. "Aku melawan makhluk itu, aku menerima serangannya. Jaketku koyak dan berlumuran darah. Aku mencuci dan menjemurnya di pinggir sungai." Ashura menjelaskan.
"Lalu, bagaimana makhluk itu?" Tanya Windy.
"Mati. Terpenggal." Ashura kembali mengenakan bajunya.
"Hah? Bagaimana bisa? Zaki saja enggak bisa membunuhnya. Justru dia yang terbunuh." Kata Rio tidak percaya.
Ashura meminta pisau yang ia berikan sebelumnya kepada Rizka. "Aku menggunakan ini." Memperlihatkan pisau yang terbuat dari tulang kepada Rio dan Windy.
"Senjata api apapun hanya melumpuhkan makhluk tersebut. Begitu juga senjata tajam biasa. Tapi, dengan pisau itu kita bisa membunuh makhluk itu." Ashura memberikan pisau tersebut kepada Rizka lagi.
Rizka kebingungan. "Kenapa kamu kasih aku lagi?"
"Pegang saja. Gunakan ketika sangat penting. Ingat!" Ujar Ashura. Rizka yang masih kebingungan, menyimpan pisau tersebut didalam sebuah tas kecil yang ia bawa didalam tas career miliknya.
"Dari mana kau mendapatkan pisau itu?" Tanya Rio.
"Di bunker ini. Pisau itu sudah dua kali di pakai untuk membunuh makhluk putih. Yang pertama Zaki dan kemudian aku."
"Zaki pernah membunuh makhluk putih dengan pisau itu?" Rio terlihat kurang percaya dengan perkataan Ashura.
"Dia enggak sendiri. Ada aku dan Diva yang membantu. Pisau itu dipegang Zaki. Jadi, dia yang memenggal kepala makhluk itu. Setelah mati, makhluk itu berubah menjadi manusia." Kata Ashura.
"Lalu, yang dibunuh Ashura juga berubah menjadi manusia. Ternyata seorang perempuan." Sambung Rizka.
"Ma-manusia? Jadi maksud kalian.. dan perempuan?" Windy terkejut. Begitu juga Rio yang duduk disampingnya.
Rizka melirik Ashura. "Untuk sekarang kami berpendapat begitu. Makhluk yang Ashura bunuh berubah menjadi wanita yang mungkin berumur tidak jauh dari kita."
"Kami enggak tahu pasti bagaimana hal itu bisa terjadi. Yang penting, kita sudah tahu bagaimana mengalahkan mereka. Kita hanya punya satu pisau putih ini. Jadi, kita harus bekerja sama ketika menghadapi makhluk itu." Ashura melihat tas kecil yang dimana Rizka menyimpan pisau putih sebelumnya.
"Hanya ada satu?" Tanya Rio.
"Kurasa. Entah mengapa Zaki dan Diva pergi enggak membawa pisau itu." Ashura tertunduk. Menggaruk kepalanya. Kemudian, menatap langit-langit ruangan.
"Untuk sekarang aku akan percaya padamu. Tapi, kau tetap salah satu orang yang patut dicurigai." Kata Rio.
"Terserah mu. Aku enggak peduli." Ujar Ashura.
Rizka mengambil pistol yang ia rebut dari Rio sebelumnya. "Bagaimana bisa kamu mendapatkan pistol ini?"
"Dari Zaki. Itu terjatuh ketika kami berlari karena dikejar makhluk putih itu." Jelas Rio.
Ashura meminta pistol tersebut. Mengeluarkan tiga buah peluru dari magazine. "Ini pistol dari bunker. Seingatku Zaki membawa pistol ini dan sebilah pisau militer miliknya ketika pergi dari sini." Ashura berjalan ke sudut ruangan.
Ashura mengeluarkan sebuah kotak kayu berukuran besar dan terlihat cukup berat. Membuka kotak kayu tersebut dan memasukkan pistol kedalamnya.
"Apa isi kotak itu?" Tanya Rio yang penasaran.
Rio berjalan mendekati Ashura untuk melihat isi kotak kayu. Ternyata kotak kayu tersebut berisi berbagai senjata api dan amunisinya. Rio hendak mengambil salah satu senjata. Namun, dicegah oleh Ashura.
"Untuk apa?" Tanya Ashura yang menahan tangan Rio untuk mengambil salah satu senjata.
"Hanya melihatnya." Ucap Rio.
"Ya sudah, lihatlah! Jangan mengambilnya. Ambil ketika diperlukan." Ujar Ashura. Menutup kembali kotak kayu tersebut.
Rizka melihat Windy yang terlihat sangat mengantuk. Beberapa kali matanya terpejam dan bersandar pada dinding. Rizka bergegas menyiapkan sleeping bag untuk Windy. Rizka meletakkannya di sudut ruangan. Lalu, mengajak Windy untuk pindah ke tempat yang lebih nyaman. Rizka duduk bersandar dinding disamping Windy yang tertidur pulas. Rizka bersyukur bisa melihat sahabatnya lagi setelah terpisah ketika mendaki. Rizka juga berharap agar bisa melihat Laura lagi.
Melihat Windy yang tertidur pulas, Rizka juga merasa matanya kian mengantuk. Rizka memejamkan matanya. Namun, ia masih dapat mendengar Ashura dan Rio yang terus memperdebatkan sesuatu.