
Rizka terbangun dari tidurnya. Memutar bahunya yang terasa sakit karena tidur diatas lantai papan kayu. Mengucek matanya. Melihat ke arah pintu. Terlihat Rio dan Rizal sedang duduk bermain kartu uno di dekat pintu. Mereka berjaga menggantikan Yuda dan Wahyu. Rizka bangkit, mengenakan hoodie yang diberi Ashura sebelumnya, lalu mengintip keluar melalui jendela gubuk.
"Hei, kenapa? Mengkhawatirkan pacarmu?" Kata Rizal.
Rizka berjalan menuju pintu. Seketika itu pula Rizal bangkit dan menghadang Rizka yang hendak menyingkirkan kayu penghalang pintu.
"Eits, eits. Jangan sembarangan." Rizal sedikit mendorong Rizka.
"Aku mau buang air kecil." Rizka menepis tangan Rizal.
"Bangunin Windy atau Laura untuk menemani mu." Ujar Rio yang masih duduk memegang kartu nya.
"Aku bisa sendiri. Aku bukan penakut. Jadi, minggir lah!" Rizka mendorong Rizal.
"Oke. Tapi, aku juga harus ikut."
Rizka memasang wajah jijik. "A-apa? Enggak."
"Kalau gitu, buang aja di dalam gubuk ini." Rizal menyilangkan tangan di dadanya.
Rizka mengecap. "Ck. Oke. Tapi, Ashura harus ikut juga. Karena aku enggak yakin pada mu." Rizka berkacak pinggang.
Rizal dan Rio saling pandang. "Ya, terserah." Rizal menyingkirkan kayu penghalang. Lalu, membuka pintu.
Ketika pintu terbuka lebar, udara dingin seketika menyentuh kulit wajah Rizka. Rizka menarik nafas panjang. Lalu, membuang nya dengan lembut.
"Mau kemana?"
Rizka melihat ke arah sumber suara. "Buang air. Mu ngapain?"
Ashura sedang bergelantungan pada dahan pohon dengan posisi terbalik.
"Entahlah." Katanya. Ia menggigit sesuatu.
"Apa itu yang kamu makan?" Rizka menghampiri Ashura. Rizal mengikutinya di belakang.
"Jambu air." Sejenak Ashura berhenti mengunyah ketika melihat Rizal yang mengikuti Rizka di belakang. "Dia ngapain?"
Rizka melirik Rizal. "Oh, dia mau menemaniku buang air."
Ashura melompat turun dari dahan pohon. "Apa? Dia?"
"Kau juga ikut. Aku mengawasi kalian berdua." Kata Rizal.
"Oh." Ashura membuang sesuatu. Mungkin biji jambu.
"Jambu darimana?" Tanya Rizka.
Ashura menunjuk ke balik semak-semak yang ada di dekatnya. Terlihat sebuah pohon jambu air yang cukup besar.
Rizal memerhatikan ukuran tali yang mengikat tangan Ashura pada pohon.
"Bukannya itu cukup jauh? Bagaimana bisa?" Rizal memasang ekspresi curiga ke Ashura.
Ashura berjalan sedikit menjauhi Rizka dan Rizal hingga batas panjang tali yang mengikat tangannya. Ashura menjulurkan kakinya berusaha mengambil buah jambu yang ada di tanah. Lalu, mengambilnya dan melemparkannya ke Rizal. Rizal sedikit mengangguk setelah mengetahui caranya.
"Ayolah. Mau berapa lama lagi aku menahan kebelet?" Rizka berkacak pinggang.
Rizal melepaskan tali yang terikat pada pohon. Menarik Ashura yang sedang mengunyah buah jambu. Rizal menyalakan senternya. Mereka pun berjalan menuju sungai.
***
Sesampainya di pinggir sungai, Rizka menyuruh Ashura dan Rizal sedikit menjauh. Rizal memberikan senter yang ia pegang kepada Rizka. Lalu, menarik Ashura ke balik semak-semak yang tinggi.
Merasa Ashura dan Rizal tidak lagi terlihat, Rizka melepaskan beban yang dari tadi ia tahan. Setelah selesai, ia pun membasuh wajah dan rambutnya dengan air sungai yang dingin.
Tiba-tiba dari arah Ashura dan Rizal, terdengar suara berisik semak-semak. Rizka yang terkejut, mengarahkan senternya ke sumber suara. Terdengar pula suara erangan kesakitan. Rizka panik.
"Ashura!" Teriak Rizka memanggil temannya itu.
Bruk! Seseorang tiba-tiba jatuh tepat di hadapan Rizka. Ia seperti baru saja terlempar jauh dari semak-semak.
"Ashura!" Rizka menghampiri orang yang tergeletak di tanah. "Apa yang terjadi?" Rizka membantu Ashura bangkit.
"Lari!" Kata Ashura.
"Apa?" Rizka masih kebingungan.
Terdengar suara teriakan yang sangat keras dan tidak asing di telinga Rizka. Seketika itu Rizka mematung melihat ke arah suara keras. Ashura mendorong Rizka untuk segera berlari. Mereka pun berlari menjauh. Bergegas menuju gubuk.
Di depan gubuk terlihat semua orang telah bangun dan memegang sesuatu yang mungkin bisa digunakan untuk pertahanan. Rio menghampiri Rizka dan Ashura dengan memegang shotgun-nya. Membawa mereka mendekat ke gubuk.
"Hei, mana Rizal?" Tanya Rio.
Ashura mencoba mengatur nafasnya. "Mati. Makhluk itu tiba-tiba muncul di belakangnya." Kata Ashura yang ngos-ngosan.
"Apa?!" Wahyu terkejut mendengar pernyataan Ashura.
Dari kejauhan teriakan makhluk putih itu kembali terdengar. Membuat semua orang yang ada di depan gubuk berkeringat dingin. Maudy menyuruh Adin, Laura, Windy, Diva, dan Zaki untuk masuk ke dalam gubuk. Ashura tiba-tiba memandang ke arah yang berlawanan dari suara teriakan makhluk putih itu. Ia memandang ke arah pohon tempat ia biasanya di ikat.
"Kenapa, Shura?" Tanya Rizka.
Ashura menjulurkan tangannya ke Rio. "Lepaskan tali ini!" Ashura tidak mengalihkan pandangannya dari pohon.
"Ha?" Rio kaget.
"Enggak. Kami masih belum bisa percaya padamu." Ujar Yuda.
"Oke. Kalau begi-" Ashura tiba-tiba tersenyum. "Kita semua bakalan mati." Ashura menunjuk ke arah pohon.
Rio dan Rizka seketika pucat. Rio bahkan seperti tidak memiliki tenaga untuk mengangkat senjatanya. Muncul dua sosok makhluk putih yang memiliki dua buah tanduk di kepalanya, mereka berjalan perlahan keluar dari semak-semak dan pepohonan yang di tunjuk Ashura. Dari arah sungai, makhluk putih yang sebelumnya pun terlihat.
"Rizka! Ambil senja-" Yuda seketika menganga lebar melihat dua makhluk putih yang berjalan mendekati mereka dari belakang.
"Apa-apaan?" Wahyu panik.
Semuanya terlihat kebingungan dengan situasi yang tengah mereka hadapi. Masih fokus menunggu datangnya makhluk putih yang ada di arah sungai, mereka di kejutkan dengan munculnya dua makhluk putih lain dari arah pohon tempat Ashura di ikat. Ya, mereka pun terkepung.
"Rizka, minta kapak yang di pegang Yuda!" Kata Ashura.
Rizka perlahan melangkah mundur mendekati Yuda. "Berikan kapak mu!" Bisik Rizka.
"Apa?"
"Kamu ambil senjata yang lain!" Rizka merebut kapak dari tangan Yuda.
"Hei!"
Rizka berlari kecil menghampiri Ashura. Ashura menjulurkan tangannya yang terikat. Rizka melepaskan tali yang mengikat tangan Ashura. Rio yang melihat itu, berusaha mencegah Rizka.
"Rizka!" Spontan, Rio mengeraskan suaranya.
Dua makhluk putih yang ada di hadapan mereka bertiga seketika berteriak dan mulai berlari untuk menyerang. Ashura juga berlari mendekati kedua makhluk tersebut ketika tali yang mengikat tangannya di lepas. Ia berlari sembari membawa kapak yang sebelumnya di pegang Rizka.
"Ashura!" Teriak Rizka.
"Apa-apaan dia?!" Yuda bingung.
Salah satu makhluk yang tengah berlari, tiba-tiba tersungkur ke tanah. Sepertinya Ashura berhasil melukai salah satu makhluk tersebut.
"Kalian fokus ke makhluk yang ada di arah sungai!" Kata Ashura dari kejauhan.
"Aku akan membantu mu!" Rizka merebut shotgun yang dipegang Rio.
"Jangan!" Teriak Ashura. Ia menghindari serangan dari makhluk putih yang satunya.
"Apa?" Rizka menghentikan langkahnya ketika hendak berlari.
Ashura memandang Rizka. Ia tersenyum. "Aku janji, pasti aku selamat."
Setelah mengatakan itu, Ashura berlari menjauhi gubuk dan yang lainnya. Dua makhluk putih yang sedang di hadapi Ashura pun mengejar Ashura yang berlari.
"Enggak. Enggak. Enggak." Rizka berusaha mengejar Ashura. Namun, di tahan oleh Rio.
"Rizka! Jangan! Kita butuh kamu disini!" Dengan sekuat tenaga Rio menahan berontakan Rizka.
"Enggak! Enggak!" Rizka semakin memberontak.
Dorr!! Dorr!! Dorr!! Beberapa kali suara tembakan terdengar dari belakang Rizka dan Rio. Wahyu dan Yuda menembak makhluk putih yang datang dari arah sungai. Namun, hantaman beebrapa peluru tidak berdampak apapun kepada makhluk tersebut.
Rizka yang melihat teman-temannya berusaha melawan makhluk tersebut, mengurungkan niatnya untuk mengejar Ashura. Ia berlari menghampiri teman-temannya yang lain disusul oleh Rio. Rizka mengambil sebuah parang dan kapak dari dalam gubuk.
"Kamu bantu aku menyerangnya dari jarak dekat." Rizka memberikan kapak pada Rio. Membuka hoodie-nya dan mengikatkannya di pinggang.
"Tunggu, apa?"
"Aku tahu kalau kamu itu terbiasa menebang pohon dan berkelahi."
"Tapi, dia itu bukan pohon ataupun manusia." Rio merasa ragu.
"Anggap seperti itu." Rizka tersenyum. Lalu, ia berlari. "Nanti tembak kepalanya!" Rizka berteriak kepada Yuda dan Wahyu.
Rio berusaha menghilangkan keraguannya. "Yang benar aja." Ia pun berlari menyusul Rizka.
Melihat Rizka dan Rio mendekat, makhluk tersebut bersiap untuk menyerang. Rizka mengarahkan cahaya senter tepat ke mata makhluk tersebut.
"Tembak!"
Yuda dan Wahyu pun serentak menembakkan peluru ke kepala makhluk tersebut. Makhluk tersebut melindungi kepala dengan kedua tangannya. Rizka menebas kaki kanan makhluk tersebut dengan sebilah parang, membuatnya kehilangan keseimbangan. Ketika hendak tumbang, Rio menyerang di bagian perut, membuat kapak yang ia pegang sempat tersangkut. Makhluk tersebut pun tumbang, lalu berteriak. Rizka menempelkan moncong shotgun ke mata kiri makhluk tersebut. Dorr!! Dorr!!. Makhluk tersebut tidak lagi bergerak. Yuda dan Wahyu menurunkan senjata mereka.
Makhluk tersebut terkapar di tanah, matahari pun terbit. Mulai menyinari mereka yang berhasil menumbangkannya dengan kerja sama.
Rio melangkah mundur. "Wajah makhluk ini.." Rio mengatur nafasnya sejenak. "Dia makhluk yang sebelumnya mengejar aku, Windy, dan Zaki." Sambungnya.
"Ya, aku juga pernah melihat makhluk ini sebelumnya." Rizka mengisi amunisi shotgun-nya.
"Apa dia mati?" Tanya Laura yang baru saja keluar dari gubuk.
"Kurasa tid-"
Tiba-tiba terdengar suara teriakan makhluk putih lainnya dari kejauhan. Suaranya sangat keras membuat burung-burung di hutan beterbangan dan tanah seperti bergetar. Suasana menjadi hening. Suara-suara binatang hutan tidak lagi terdengar setelah teriakan barusan.
"A-apa itu?" Laura gemetar ketakutan.
"Entahla-" Rizka terpental cukup jauh. Makhluk putih tiba-tiba saja menepis Rizka yang berdiri di dekat kepalanya.
"Rizka!" Teriak Laura.
"Laura, ayo masuk!" Maudy menarik tangan Laura.
Yuda dan Wahyu bergegas kembali mengisi amunisi senjata mereka. Lalu, membidik dan bersiap untuk menembak. Rio mengangkat tinggi-tinggi kapak yang ia pegang untuk memenggal leher makhluk putih yang berusaha untuk bangkit.
"Rizal?" Tepat sebelum Rio mengayunkan kapak nya, tiba-tiba saja Wahyu mengucapkan nama Rizal dengan ekspresi wajah keheranan melihat ke arah makhluk yang berusaha untuk bangkit tersebut. Begitu pula dengan Yuda yang perlahan menurunkan senjatanya.
Rio yang masih mengangkat kapak ke atas kepalanya dan hendak mengayunkannya, seketika terhenti ketika melihat kedua temannya yang keheranan.
"Rio!" Teriak Rizka dari kejauhan.
Makhluk putih itu menepis kedua tangan Rio yang masih mengangkat kapak di atas kepalanya. Rio terjatuh ke tanah. Lalu, ia mengerang kesakitan. Yuda dan Wahyu kembali mengangkat senjatanya, namun mereka tidak menembakkan satu peluru pun ke makhluk tersebut. Hingga akhirnya ia bangkit dan berlari pergi menjauhi gubuk. Rizka bergegas menghampiri Rio. Disusul oleh Yuda dan Wahyu.
"Lengannya patah. Bawa dia kedalam gubuk!" Ujar Rizka.
Yuda dan Wahyu mengangkat Rio dan membawanya masuk ke dalam gubuk. Membaringkannya di tengah ruangan. Rio masih mengerang kesakitan, sambil memegangi lengan kanannya. Windy terlihat sangat panik. Diva mengambil beberapa tas kecil yang berisi P3K.
"Ashura." Kata Rio.
Semua orang terkejut. Di tengah-tengah Rio mengerang kesakitan, ia menyebutkan nama Ashura dengan melihat ke arah Rizka yang sedang kebingungan mencari sesuatu untuk mengatasi lengan Rio yang patah.
"Apa maksu-"
"Makhluk itu berlari ke arah Ashura pergi."
Rizka terdiam sejenak. Ia merasa tidak enak jika meninggalkan temannya yang sedang terluka parah. Namun, ia juga merasa khawatir dengan Ashura yang belum juga kembali.
"Maaf, aku pergi dulu." Ucap Rizka. Ia mengambil salah satu tas kecil P3K yang di bawa oleh Diva sebelumnya. Kemudian, ia beranjak pergi meninggalkan gubuk.
Rizka berlari ke arah Ashura pergi sebelumnya. Menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari sesuatu yang sekiranya menjadi petunjuk dimana keberadaan Ashura. Rizka melihat beberapa batang pohon yang rusak, seperti bekas cakaran.
"Hei!" Seseorang memanggil Rizka dari belakang.
"Ngapain kamu ikut kesini?" Tanya Rizka ketika Zaki baru saja berhenti di sampingnya.
Zaki memberikan sebilah parang ke Rizka. "Bukannya kamu perlu senjata?"
Rizka mengambil parang yang diberikan Zaki. "Terima kasih, sekarang pergilah!"
"Enggak, aku bakal membantu."
"Dengan satu tangan? Lebih baik enggak usah, kamu hanya bakalan jadi beban." Rizka melepaskan hoodie-nya mengikatkan kedua lengan hoodie di pinggangnya.
Zaki terkejut karena tiba-tiba saja Rizka melepaskan hoodie dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Y-ya, kamu benar. Tapi, setidaknya biarkan aku mati ketika membantu seorang teman."
Rizka berlari ke arah pepohonan yang rusak. "Terserah!" Teriak Rizka dan meninggalkan Zaki.
"Segitu bencinya kah dia sama aku?" Zaki tersenyum kecil. Ia pun berlari menyusul Rizka.
Setelah beberapa menit dan cukup jauh berjalan utnuk mencari keberadaan Ashura dengan mengikuti jejak yang ada, Rizka dan Zaki tiba di depan gua yang besar. Zaki menganga lebar. Rizka menarik baju Zaki. Mengajaknya untuk bersembunyi di balik semak-semak.
"Ada apa?" Tanya Zaki.
"Mungkin ada sesuatu didalam." Kata Rizka.
"Ya, tapi apa?" Zaki menyipitkan matanya.
Rizka berdiri. "Ayo kita masuk!"
"Lah?! Hah?! Kamu gila?!"
"Tujuan ku itu mencari Ashura. Bisa aja dia ada di dalam gua itu."
"Tahu dari mana? Hei!"
Rizka tiba-tiba saja berlari menuju gua meninggalkan Zaki, kotak P3K, dan Parang di semak-semak. Zaki sangat ragu untuk mengikuti Rizka. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
Di dalam gua yang sangat gelap, terdengar suara tetesan air yang menggema. Rizka terus berjalan lebih dalam sembari meraba-raba dinding gua. Di jarak yang tidak begitu jauh didepannya, terlihat ada cahaya. Rizka segera mempercepat langkah nya, namun juga tetap bersiap dengan bahaya yang mungkin muncul secara tiba-tiba.
Dengan mengikuti cahaya, Rizka sampai di bagian lebih dalam gua. Namun bukannya gelap seperti sebelumnya, cahaya matahari menyinari dalam gua melewati lubang besar di langit-langit. Rizka merasa seperti berada di dalam sebuah gunung.
"Kenapa cahaya matahari disini cukup terang? Enggak seperti biasanya."
Rizka yang masih memandangi cahaya matahari, tiba-tiba saja ia terganggu dengan bau amis darah yang sangat menyengat. Rizka melihat ke kakinya. Seketika itu Rizka mundur beberapa langkah karena terkejut. Daritadi ia menginjak genangan cairan hitam yang menjadi sumber bau amis tersebut.
Di luar gua, Zaki menunggu Rizka di semak-semak. Begitu melihat Rizka berlari keluar dari gua, Zaki muncul dari semak-semak dan mengajak Rizka untuk segera pergi dan menjauh dari gua.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Zaki ketika mereka tengah berlari.
"Menjauh dulu dari gua."
Mereka terus berlari. Rizka sesekali menoleh ke belakang. Setelah merasa cukup jauh dari gua, Rizka dan Zaki beristirahat di sebuah pohon yang tumbang.
"Aku enggak tahu bagaimana mau menjelaskannya." Rizka menyandar pada batang pohon setelah mengatur nafasnya.
"Apa yang.. kamu lihat? Bagaimana dengan Ashura?" Zaki masih ngos-ngosan.
"Kenapa denganku?"
Suara Ashura terdengar disebalik pohon tempat mereka beristirahat. Sontak, Rizka beranjak dan melihat ke sebalik batang pohon.
"Ashura? Gimana kamu-"
Ashura hanya melirik Rizka. Ia tengah memasang perban di perut nya. Tubuh nya semakin penuh tertutup oleh perban. Hampir terlihat seperti mumi.
Rizka menghampiri Ashura. Mencoba untuk membantunya.
"Udah kok." Ucap Ashura. Ia mengambil hoodie-nya yang sudah tidak layak untuk di pakai. Lebih pantas di pakai untuk lap dapur atau keset kaki.
"Tubuhmu semakin penuh dengan luka. Kamu baik-baik aja kan?" Rizka sangat cemas. Membantu Ashura untuk berdiri.
"Tenang aja."
"Tenang gimana? Walaupun diobati dan ditutup dengan perban, kamu bisa kekurangan darah."
Ashura tersenyum kecil kepada Rizka. "Setidaknya aku memenuhi janji ku kali ini."
"Aku enggak menuntut mu untuk memenuhi janji. Aku enggak peduli kamu mengingkari janji. Asal kamu selalu ada, itu udah cukup untukku." Mata Rizka berkaca-kaca sembari membopong Ashura. Ia mencoba untuk menahan air matanya. Namun, setetes berhasil mengalir di pipinya.
Ashura menutup wajah dengan tangannya. Terdengar suara hembusan nafas kasar. Kemudian, membuka wajahnya lagi.
"Gimana kamu bisa ada di situ tadi?" Tanya Zaki yang berjalan di belakang.
"Aku udah disitu sebelum kalian datang dengan berlari seperti dikejar setan."
"Aku melihat ada tumpukan mayat makhluk putih didalam gua yang enggak jauh dari tempat kita ketemu tadi." Kata Rizka.
"Apa?" Zaki terkejut dengan pernyataan Rizka.
"Terus?"
"Cuma ada satu makhluk yang masih hidup. Dia lagi duduk di atas tumpukan mayat itu." Tambah Rizka.
Ashura terdiam sejenak. "Apa dia yang membunuh makhluk putih lainnya?"
"Apa maksudmu?" Zaki mengerutkan dahinya.
"Seperti yang dikatakan Rizka barusan. Bukannya kalo di komik-komik action atau film-film action, mereka yang membantai orang banyak pasti selalu duduk di atas tumpukan orang yang dia bantai?"
"Maksudku, untuk apa dia membunuh makhluk yang sejenis dengannya?"
"Ya mana ku tahu." Ashura melihat Rizka yang sedang berfikir keras. "Mikirin apa?"
"Apa mereka rebutan mangsa?" Rizka bertanya. Ia menatap Ashura.
"Bisa aja. Oh ya, ada hal aneh ketika aku melawan dua makhluk putih tadi. Mereka seharusnya membunuhku ketika aku enggak sanggup untuk berdiri. Tapi, mereka malah pergi meninggalkanku ketika terdengar suara teriakan keras dari kejauhan."
"Eh? Bukannya-" Zaki menatap Rizka. Begitu pula Rizka.
"Hmm? Dari ekspresi kalian, sepertinya kalian juga mengalami hal yang sama."
"Iya. Makhluk yang berhasil kami jatuhkan, tiba-tiba aja bangkit lagi ketika mendengar suara itu. Sepertinya-" Rizka kembali mencoba untuk berfikir.
"Udahlah. Nanti aja kita diskusikan dengan teman yang lain. Kita harus mempercepat langkah untuk sampai ke gubuk." Ujar Zaki yang mendahului Rizka dan Ashura.
"Kenapa harus dia yang ikut denganmu?"
"Entahlah. Dia yang maksa mau ikut."
"Bukannya dia bakal jadi beban kalau misalnya ada pertarungan?"
Zaki menghentikan langkahnya. "Woi!" Membalikkan badan. "Kutanya, sekarang siapa yang beban?" Ia memasang wajah yang sangat kesal. Terdengar gertakan gigi di mulutnya.
"Jangan pasang wajah jelek begitu. Enggak bakal ada cewek yang mau denganmu nanti."
"Hah?! Sok sekali ucapanmu barusan. Emang ada cewek yang mau denganmu?!" Zaki semakin kesal.
Rizka tertawa menyaksikan keributan mereka.
"Lah, ini ada." Ashura menunjuk Rizka.
"Eh?!" Rizka terkejut. Wajahnya memerah. "Hahaha." Tertawa konyol.
Zaki hanya diam. Kesal. Segera membalikkan badan dan kembali melangkahkan kakinya. Dari caranya berjalan terlihat bahwa dia sangat kesal.
***
Selama hampir setengah jam berjalan, mereka pun tiba di gubuk. Dari jendela gubuk terlihat siluet seseorang yang mengintip. Tak lama, pintu pun terbuka. Wahyu mempersilahkan mereka masuk.
"Dia kenapa?" Tanya Ashura kepada semua orang ketika baru saja masuk ke dalam gubuk dan melihat Rio yang duduk bersandar dengan tangan yang menggantung pada kain di depan dadanya.
"Kena serangan makhluk putih." Jawab Yuda.
"Aku juga punya pertanyaan yang sama." Kata Rio.
"Maka jawabannya juga sama dengan apa yang dikatakan Yuda barusan." Ashura mengangkat tangannya pertanda ia tidak lagi perlu dibopong. Kemudian ia duduk di sudut ruangan dekat pintu.
"Aku punya pertanyaan yang berbeda." Adin menyilangkan tangannya di dada. "Bagaimana kau bisa selamat? Padahal lawanmu itu dua makhluk putih."
"Kamu masih aja mencurigai Ashura?" Rizka geram. Padahal ia baru saja duduk untuk istirahat.
"Aku hanya bertanya-"
"Aku kuat." Ashura menurunkan sedikit resleting hoodie-nya. "Aku bukan orang yang hanya duduk di dalam gubuk dan enggak bisa melakukan apa pun, kecuali memerintah orang."
Perkataan Ashura barusan membuat beberapa orang menunduk. Seperti tidak berani memperlihatkan wajah mereka. Terkecuali Adin yang justru terlihat kesal.
"Hahahaha.. sudahlah. Kita disini berkumpul untuk bekerja sama. Bukan untuk saling bermusuhan." Zaki mencoba untuk mencairkan suasana.
"Kau, berhentilah mencurigai Ashura!" Rio menatap tajam Adin. Kemudian, mengalihkan tatapannya ke Ashura. "Maaf, karena kami menuduhmu sebagai salah satu makhluk putih. Makhluk yang dari sungai itu.. dia Rizal."
"Hah?!"
"Yuda dan Wahyu juga melihat wajah Rizal dari bekas luka tembakan Rizka. Wajahnya saat itu hancur dan mengeluarkan seperti asap dan cairan hitam. Mungkin itu darah." Sambung Rio.
"Jadi, dia enggak mati ketika di sungai?" Ashura bertanya entah kepada siapa. Suara nya kecil, namun masih dapat di dengar oleh orang yang ada didekatnya.
"Kau bisa jelaskan kejadian saat itu?"
Ashura menatap Rio dan semua orang. "Aku dan Rizal menunggu Rizka di semak-semak. Aku enggak begitu melihat apa yang terjadi karena gelap. Rizal tiba-tiba mengerang kesakitan. Ketika aku ingin bertanya 'apa yang terjadi?' seperti ada sesuatu yang mendorong ku dengan sangat kuat. Makanya aku terpental dan jatuh di dekat Rizka."
"Enggak lama, terdengar suara teriakan makhluk putih dari semak-semak itu." Rizka menambahkan.
"Di saat itulah kita semua terbangun dan bersiap untuk keluar." Kata Maudy.
"Apa perubahan wujudnya itu begitu menyakitkan, makanya dia mengerang kesakitan?" Rio berpikir keras. Terlihat jelas urat di dahinya yang timbul. Semua orang terdiam untuk beberapa saat.
"Aku menemukan hal aneh tadi." Rizka membuka percakapan. "Aku- ah enggak. Aku dan Zaki menemukan sebuah gua yang sangat besar. Bahkan ketika aku masuk lebih dalam. Gua itu semakin besar. Aku merasa seperti berada di dalam sebuah gunung."
"Aku cuma nunggu di luar." Zaki menyela.
"Di dalam gua itu.. ada tumpukan tubuh makhluk putih yang udah mati." Sambung Rizka.
"Apa?" Wahyu terkejut.
"Apa maksudmu?" Tanya Laura dan Windy serentak.
"Makhluk putih yang udah mati bertumpuk dan menggunung di dalam gua itu. Di atas tumpukan itu, ada satu makhluk putih yang masih hidup. Karena aku takut, aku segera pergi meninggalkan gua itu."
"Aku lupa menanyakan ini tadi. Bentuk makhluk itu, gimana?" Ashura menyilangkan tangan di dada.
"Aku enggak melihat jelas. Maaf."
"Begitu ya."
"Bagaimana kalau kita pergi kesana besok ketika matahari kembali terbit?" Usul Rio. Membuat semua orang terkejut.
"Kau gila?" Zaki tersenyum bodoh.
"Kalau mau bunuh diri, jangan ngajak orang dong." Adin menghela nafas.
"Hanya karena tangan mu patah, kau jadi enggak sanggup untuk menjalani hidup ya? Ck. Ck. Ck." Wahyu mengelengkan kepala nya beberapa kali.
"Apa?!" Rio kesal.
"Ide mu buruk." Kata Windy.
"Enggak. Itu ide bagus." Kata Ashura yang kembali membuat semua orang terkejut.
"Shura? Apa maksudmu?" Tanya Maudy.
"Mungkin di gua itu ada petunjuk atau semacamnya mengenai tempat ini."
"Bagaimana kalau enggak ada? Bukannya terlalu berbahaya?" Diva cemas.
Ashura menghela nafas kasar. "Pasti ada. Aku yang akan pergi." Ashura terlihat sangat yakin.
Rizka menyenggol paha Ashura. "Hei, kamu terluka parah-"
"Aku juga ikut." Rio menatap Ashura.
"Berapa orang yang mungkin kamu perlukan?" Tanya Maudy.
Ashura diam sejenak. "Mungkin empat atau lima. Yang pasti aku perlukan, Laura dan Rizka."
"A-aku?" Laura bingung.
"La-laura? Kenapa?" Tanya Rizka.
"Kamu bisa bahasa Jerman?"
Laura mengangguk.
"Itu yang aku perlukan. Karena di buku tua yang aku tinggalkan di bunker, terdapat bahasa Jerman di dalamnya. Jadi, kemungkinan ada sesuatu petunjuk yang juga menggunakan bahasa Jerman." Jelas Ashura.
"Tapi.." Rizka memandang Laura yang menunduk. Ia tidak ingin sahabat nya kenapa-kenapa. Ia takut tidak bisa melindungi sahabat nya itu ketika ada pertarungan melawan makhluk putih.
Laura mengangkat kepalanya. "Oke. Aku ikut."
"Laura? Hei, Ashura-" Windy terlihat tidak ingin Laura ikut pergi.
"Kan ada Rizka. Dia perempuan terkuat yang pernah aku temui. Dia pasti bisa melindungiku. Kan?" Laura tersenyum ke Rizka. Senyuman yang begitu penuh rasa percaya akan perkataanya itu.
Rizka membalas senyuman Laura. "Pasti."
"Kenapa Rizka juga ikut?" Tanya Adin.
"Udah pasti aku ikut. Karena selama ini prasasti yang kami temukan selalu terukir dengan aksara jawa."
"Apa selain Rizka enggak ada yang bisa aksara jawa?" Adin memandangi semua orang satu persatu. Karena tidak ada respon dari mereka, Adin menepuk jidat. "Baiklah."
"Ak-"
"Aku yang ikut." Maudy memotong Windy.
"Kakak? Bukannya udah cukup empat orang aja?" Kata Diva.
"Aku bisa bahasa Belanda." Maudy senyum kepada Diva.
Ashura memasang wajah datar. "Aku enggak bu-"
"Pasti butuh. Indonesia pernah di jajah oleh Belanda kan? Bisa aja ada sesuatu yang menggunakan bahasa Belanda." Maudy tersenyum nakal kepada Ashura.
"Apa hubungannya? Jerman emang pernah menjajah Indonesia?" Ashura sedikit mengerutkan dahinya.
Rizka yang merasa Maudy seperti menggoda Ashura dengan senyumannya itu, duduknya sedikit bergeser mendekati Ashura.
"Baiklah udah fix. Enggak ada nambah-nambah orang lagi." Ujar Rio.
"Tapi, aku-" Windy mencubit Rio.
"Aw! Enggak. Kau tetap disini."
"Kamu tetaplah disini, Win." Bujuk Rizka.
"Terlalu banyak orang yang ikut, akan semakin berbahaya." Laura yang berada di dekat Windy, memegang tangannya.
"Apa karena aku bakalan jadi beban?"
Rizka dan Laura diam, tidak bisa menjawab pertanyaan sahabatnya barusan.
"Ya." Kata Ashura.
Rizka dan Laura menatap Ashura. Windy yang mendengar itu, menundukkan kepalanya. "Makasih."
"Sama-sama."
"Hei, apa perkataan mu barusan enggak ada di taburi perasaan?" Zaki membisiki Ashura.
"Aku hanya mengatakan fakta." Ashura beranjak dari tempat duduk nya. "Kalian beristirahatlah. Besok kita akan explore gua yang berbahaya itu."
"Kamu juga butuh istirahat." Kata Rizka.
"Ya, aku juga akan istirahat. Di luar." Ashura berjalan keluar gubuk.
Rizka hendak menyusul Ashura, namun di cegah oleh Laura.
"Udah. Kita istirahat aja." Kata Laura.
"Tapi-"
Laura menepuk pundak Rizka. "Dah. Dia udah terbiasa diluar, makanya memilih untuk diluar."
Rizka menghela nafas. "Ya ampun. Okelah."