Zwischen Uns

Zwischen Uns
Explore



"Hei, bangun! Kamu enggak bersihkan tubuhmu? Bangun!"


Rizka membuka matanya dan seketika terkejut, jantungnya seakan berhenti berdetak sepersekian detik. Ia melihat wajah Ashura yang berlumuran darah.


"Kamu kenapa? Tiba-tiba terkejut begitu." Tanya Ashura.


Rizka menggosok matanya. Kembali melihat Ashura. Ternyata ia hanya salah lihat. Mungkin dikarenakan penglihatannya yang masih buram dan ruangan yang redup. Rizka melihat sleeping bag disampingnya telah kosong.


"Dimana Windy dan Rio?" Tanya Rizka yang sedang meregangkan badannya.


"Diluar." Jawab Ashura.


Rizka mengerutkan dahinya. "Kamu punya dua buah hoodie yang sama?"


"Ya begitulah."


Rizka tertawa kecil. "Orang aneh."


Ashura mengambil dua buah tas dari pojok ruangan. "Mau mandi gak? Windy udah nungguin."


"Eh? Iya mau." Rizka bangkit dari tempatnya. Berjalan keluar bersama Ashura.


Suasana diluar terlihat berkabut tipis. Rio dan Windy sedang duduk diatas batang pohon yang tumbang tepat didepan bunker.


"Udah bangun?" Ucap Windy yang tersenyum melihat Rizka. "Kamu ga kedinginan pakai tanktop gitu aja?"


"Enggak sih, malah lebih enakan. Sejuk."


"Dua orang cowok ini nanti akan selalu fokus ke arah mu." Windy menatap tajam ke Rio. Rio menghindari pandangan Windy yang mengarah kepadanya.


Rizka juga menatap ke Ashura yang tepat ada di belakang nya. Namun, Ashura menatap nya balik.


"Apa? Aku ga tertarik." Ucap Ashura. Lalu, berjalan melewati Rizka. "Sebelum gelap, kalian jadi mandi atau enggak?" Ashura sedikit menaikkan nada bicara nya.


***


Sesampainya di pinggir sungai, mereka meletakkan tas dibawah sebuah pohon. Rizka dan Windy mengambil beberapa pakaian --lebih tepatnya pakaian dalam ganti dari dalam tas. Meletakkannya diatas bebatuan pinggir sungai.


Rio juga hendak mengambil pakaian ganti dari dalam tasnya. Tetapi, tangannya ditahan oleh Ashura.


"Kau nanti, bodoh." Ujar Ashura.


Rio melihat Rizka dan Windy yang sedang memandangnya dengan tatapan seorang pembunuh. Rio tersenyum kaku. Berdiri. Berjalan menjauhi pinggir sungai.


"Jangan lama banget. Udah mau gelap." Kata Ashura. Kemudian berjalan menyusul Rio.


Rizka dan Windy melepaskan pakaiannya. Lalu, mulai merendam badan mereka di air sungai yang cukup dingin.


"Jadi kangen jepang." Ujar Rizka.


"Hahahaha, kangen sama onsen ya? Tapi, disini dingin." Windy melepaskan ikatan rambut ponytail-nya.


"Iya bener."


Windy melihat kearah lengan kiri Rizka yang diperban. "Itu enggak kamu buka aja? Biar bisa dibersihkan."


"Iya, ya." Rizka perlahan membuka perban. Lukanya sudah tidak lagi mengeluarkan darah. Namun, masih terasa sakit dan perih ketika disentuh maupun terkena air.


Windy terlihat terkejut melihat luka yang cukup parah itu dilengan Rizka. "Rendam kedalam air." Ujar Windy.


Rizka menahan rasa perih. Perlahan ia menenggelamkan badannya hingga sampai bahunya.


"Ah, perih banget." Keluh Rizka.


"Kok bisa sampai begitu lukanya?" Tanya Windy yang sedang menyiram-nyiramkan air ke lehernya.


"Karena makhluk putih itu. Aku sempat kena serangannya."


"Ohh, untungnya kamu selamat. Walau terluka."


"Ya aku bersyukur sih."


Windy mengambil sebuah kain dari tas nya. "Mau aku gosok punggungmu?"


"Wah, boleh." Rizka berbalik badan membelakangi Windy.


Windy perlahan menggosok punggung Rizka. Sesekali menyiramkan air.


"Kamu masih rutin ke gym?" Tanya Windy ketika melihat otot lengan kanan Rizka.


"Iya. Tapi, udah beberapa bulan aku nge-gym dirumah aja. Papa beli beberapa alat gym untuk dirumah."


"Kamu rutin nge-gym dan kalau makan banyak banget. Tapi, badan kamu enggak terlalu berotot, enggak terlalu berisi, enggak terlalu kurus juga. Kamu terlalu perfect."


"Enggak, ah. Kalau aku perfect, Ashura pasti udah nerima perasaan ku. Kamu dengarkan tadi? Dia bahkan enggak tertarik."


Windy menghentikan tangannya yang menggosok punggung Rizka. "Hah!? Ya, aku dengar sih. Tapi, dia masih belum menerima perasaan kamu? Serius?"


"Iya."


"Udah berapa kali kamu nembak dia?" Windy kembali menggosok punggung Rizka.


"Ehm.." Rizka mencoba mengingat. "Enggak ingat. Udah terlalu sering soalnya."


"Jawaban dia masih sama?"


"Iya. Katanya 'Enggak, ah. Ribet' gitu." Rizka membalikkan badannya.


"Ya ampun."


Rizka mengambil kain yang dipegang Windy. "Gantian." Menyuruh Windy membalikkan badannya.


Windy menyingkirkan rambut yang menutupi punggungnya. Rizka mulai menggosok punggung Windy dengan cara yang sama seperti dilakukan Windy sebelumnya.


Satu menit, mereka tidak mengeluarkan satu kalimat pun. Dua menit, masih belum ada yang memulai pembicaraan. Tiga menit, Windy hendak membalikkan badannya. Rizka pun berhenti menggosok punggung Windy.


"Apa menurutmu kita bisa pergi dari tempat ini?" Windy memulai pembicaraan dengan pertanyaan yang membuat Rizka terdiam dan bingung harus menjawab apa.


Rizka meletakkan kain yang ia pegang disamping tas Windy. "Aku enggak yakin."


"Kalau kita bisa pergi dari tempat ini, apa kita dalam keadaan selamat? Atau mungkin.. bangkai?"


"Hei, jangan bicara seperti itu. Kalau bisa --maksudku aku yakin kita bisa pergi dari tempat ini dalam keadaan selamat. Ada Ashura yang mengerti tentang bertahan hidup di tempat seperti ini."


Windy terdiam sesaat. Kemudian, tersenyum. "Baiklah, kalau kamu yakin begitu."


Rizka membalas senyuman Windy. "Yuk, udahan. Kasihan dua orang cowok itu pasti udah di keroyok sama lalat." Rizka keluar dari air sungai. Disusul oleh Windy.


Mereka mengeringkan badan dengan handuk. Lalu, memakai pakaian. Rizka melihat sekeliling mencari Ashura dan Rio. Windy menunjuk kearah sebuah batu besar. Mereka berjalan mendekati batu besar tersebut.


Dibalik batu tersebut, Ashura dan Rio sedang bermain kartu Uno. Mereka terlihat lebih akrab daripada sebelumnya.


"Udah. Mandi sana!" Kata Windy.


Rio mengambil kartu Uno yang ada ditanah. Merebut kartu yang dipegang Ashura dan mencampurkannya ke kartu yang lain.


"Woi, aku udah hampir Uno!" Ashura terlihat kesal.


"Aku mau mandi, sialan." Rio memasukkan kartu kedalam kotak. Kemudian, memasukkannya kedalam saku celana.


Mereka beranjak dari tempat. Berjalan kearah sungai. Rizka dan Windy duduk dibalik batu besar tersebut menggantikan mereka.


"Kenapa kita enggak pinjam kartu Uno mereka?" Rizka memandang Windy.


Windy memandang Rizka dan berkedip beberapa kali. "Iya ya. Ah, sudahlah."


"Ngapain aku mau mandi lagi?" Ashura tiba-tiba duduk diantara Rizka dan Windy yang duduk saling berhadapan. Ia sedang memegang hoodie yang sebelumnya di tinggalkan di dahan pohon pinggir sungai.


"Kamu mengagetkanku." Windy memukul paha Ashura.


"Kamu terlalu rajin." Rizka memeluk lututnya.


Suasana hening. Tidak ada dialog diantara mereka ketika menunggu Rio selesai mandi. Terdengar suara-suara burung dan binatang hutan yang saling bersahutan. Kabut tipis yang sebelumnya menyelimuti hutan, kian menghilang. Diiringi dengan cahaya matahari yang semakin meredup. Menandakan bahwa hari mulai gelap.


Windy memasangkan perban di lengan kiri Rizka. Rizka hanya melamun sejak Ashura duduk diantara mereka, tiba-tiba teringat tentang mimpinya. Ia merasa sangat familiar dengan sosok yang muncul didalam mimpinya tersebut. Bahkan, suara dari permintaan maaf pun juga terasa sangat tidak asing. Rizka melirik Ashura. Memerhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Memang cukup mirip dengan Ashura. Warna hoodie dan celana nya juga mirip. Hanya saja, hoodie yang ia gunakan memiliki model yang sedikit berbeda.


Rizka tertegun sesaat. "Shura, hoodie yang kamu gunakan sekarang itu memang kesukaan mu?" Tanya Rizka.


"Bukan. Tapi, yang aku pegang tadi. Kenapa?"


"Udah kuduga." Ucap Rizka dalam hati. Seseorang yang muncul di mimpinya  tersebut adalah Ashura. Pantas saja Rizka sangat familiar. Tetapi, mengapa Ashura muncul di mimpi yang seperti itu? Muncul pertanyaan didalam benak nya.


Rizka masih memerhatikan Ashura yang mengacak-acak rambut ikal nya. Warna biru dongker terpancar dari rambut nya yang terlihat seperti berwarna hitam.


"Shura, menurut mu kita bisa keluar dari tempat ini?" Pertanyaan Windy barusan membuat Ashura mematung beberapa detik. Rizka hanya diam dan melirik Ashura.


"Bisa." Jawaban singkat yang dikeluarkan dari mulut Ashura. "Tapi, setiap tempat pasti memiliki kunci untuk masuk ataupun keluar, yakan?" Lanjut Ashura.


Windy sedikit tersenyum ketika mendengar jawaban Ashura. "Berapa persen kamu yakin 'bisa'?"


"100%." Kata Ashura sembari membuang wajahnya seolah ia tidak berani memandang wajah Windy.


"Kamu tahu caranya? Bagaimana? Kamu punya 'kunci' yang kamu maksud tadi? Apa kita akan 100% selamat ketika keluar dari tempat ini? Benarkah kamu yakin?" Beberapa pertanyaan yang keluar dari mulut Windy menghujani Ashura. Tanpa sadar pula, ia semakin mendekat ke Ashura. Seperti seorang anak yang menuntut hadiah karena telah dijanjikan akan diberi hadiah jika berhasil mendapatkan nilai seratus pada sebuah ujian mata pelajaran.


Rizka menahan Windy. "Hahaha. Santai, Win."


Ashura mengambil tas miliknya yang tidak jauh dari tempat ia duduk. Mengeluarkan sebuah buku tipis yang  terlihat tua dan lusuh. Lalu, memberikannya kepada Rizka.


"Buku apa ini?" Tanya Rizka ketika menerima buku tua tersebut.


"Kamu bisa membaca tulisan aksara jawa kan?" Ashura menutup resleting tasnya.


Rizka membuka buku tua tipis yang hanya berisi beberapa lembar dan halaman saja. Rizka membolak-balikkan setiap halaman buku. Dari semua halaman tersebut, terdapat 2 halaman yang berisi tulisan aksara jawa dan tulisan yang tidak dimengerti oleh Rizka.


Rizka menggaruk kepalanya. "Sudah lama aku enggak membaca tulisan aksara jawa, mungkin akan ada beberapa kata atau kalimat yang enggak bisa aku artikan."


"Baiklah, setidaknya kita bisa tahu sedikit apa isi dari buku itu." Kata Ashura yang sedang mematahkan beberapa ranting di tanah.


Rizka menarik nafas panjang, lalu membuangnya dengan kasar. "...seperti rumah, berpenghuni. Bukan pemilik. Pintu, kunci. Jalan masuk, jalan keluar. Seperti tamu, jika masuk bersyarat, begitu pula dengan keluar." Rizka melirik ke Ashura dan Windy yang sangat fokus mendengarkannya.


"Sudah?" Tanya Ashura.


"Ya, itu hanya yang menggunakan tulisan akrasa jawa. Sisanya, aku enggak mengerti." Jawab Rizka. "Ini bahasa rusia?" Rizka menunjukkan tulisan yang tidak ia mengerti tersebut kepada Windy.


Windy mengerutkan dahinya. "Sepertinya... Ini bahasa Jerman?" Windy memandang Rizka dan menyingkirkan poni rambut yang menghalangi pandangannya.


Rizka tiba-tiba saja teringat. Bahwa ia pernah melihat Laura menulis diary dengan tulisan yang sama seperti yang ada di buku tua itu. "Kamu benar! Laura pernah menulis dengan tulisan seperti ini."


"Kalian berdua yakin?"


"Ya. Mungkin?" Kata Rizka dan Windy serentak. Lalu saling memandang.


Ashura beranjak dari tempat duduk nya. "Baiklah. Besok ketika kembali terang, kita akan meng-explore tempat ini. Hutan ini."


"Hah?!" Rio yang baru saja selesai mandi, terkejut dengan yang diucapkan Ashura barusan. "Udah bagus-bagusnya kita bisa istirahat tenang dan aman di bunker itu, kau malah mengajak kami untuk bunuh diri?"


"Bunuh diri? Justru kalau kita hanya diam tanpa melakukan apa-apa, itu yang dinamakan dengan bunuh diri." Ashura menggendong tasnya. "Ayo kembali ke bunker! Udah mulai gelap."


Rio memandang langit. "Bagaimana dia bisa tahu? Langit sekarang masih terlihat cerah."


"Dia lebih lama di tempat ini daripada kamu." Windy menggendong tas nya. Lalu, mendekati Rio. "Ikuti aja apa yang Ashura ucapkan!" Windy menarik telinga Rio.


"Akh! Aduh! Lepas!" Rio berjalan mengikuti Windy dengan telinga yang masih di tarik.


Rizka tersenyum melihat kelakuan dua orang temannya tersebut. Rizka merasa tidak lagi gelisah dan takut sejak bertemu dengan Ashura, lalu Windy dan Rio. Namun, ia masih kepikiran dengan teman-temannya yang lain. Khususnya Laura. Rizka berjalan sembari memandang langit yang cerah. "Papa. Rizka pasti pulang dengan selamat. Mama. Kakak. Jangan khawatir." Ucap Rizka didalam hatinya.


***


"Kita enggak mandi dulu?" Tanya Windy.


Ashura memerhatikan Windy dari kepala hingga ujung kaki. Ashura membuka sedikit mulut nya seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, ia malah mengalihkan pandangannya. Kemudian berjalan keluar.


"Hei, kamu mau ngomong apa tadi?!" Windy memasang wajah kesal. Menyusul Ashura keluar. "Hei!"


Rizka yang sedang mengenakan hoodie milik Ashura tertawa melihat Windy yang kesal. Rio menggendong tas nya dan memegang sebuah senjata double barreled shotgun. Ashura menutup pintu bunker.


"Oke. Ke arah mana kita pergi?" Tanya Rio. Ia mengisi peluru senjata.


"Jangan sampai kau membunuh salah satu dari kami atau malah kau enggak sengaja membunuh diri mu sendiri dengan senjata itu." Ujar Ashura.


"Kenapa?" Rio keheranan.


"Dia benar. Itu bukan tipe pump action. Hati-hati dengan trigger nya." Rizka sedikit menjauh dari Rio.


Mendengar pernyataan Ashura dan Rizka, Rio kembali mengeluarkan peluru dari senjata. Windy yang tidak mengerti sama sekali mengenai senjata api, hanya terdiam mengikat rambutnya.


Ashura terdiam mematung sejenak. Kemudian memandang langit. "Rizka, kemana arah barat?"


Rizka terkejut. Tiba-tiba Ashura bertanya arah mata angin kepadanya. Rizka mengambil kompas dari tas nya. Beberapa saat Rizka tampak kebingungan ketika melihat kompas. Karena kompasnya tidak berfungsi.


"Perasaan masih berfungsi ketika berangkat." Rizka memutar-mutar kompas nya.


Ashura membuang nafas kasar. "Kita ke arah sini." Ajak Ashura dan mulai berjalan.


Windy, Rio, dan Rizka berjalan mengikuti Ashura. Rizka masih sibuk dengan kompas nya.


"Sudahlah. Simpan aja. Kita enggak perlu itu." Kata Ashura.


"Tadi kenapa nanya arah?" Rizka menyimpan kompas di saku celananya.


"Cuma nanya aja." Ashura menebas semak-semak yang tinggi dengan sebilah parang.


***


Beberapa menit berlalu. Mereka masih terus berjalan. Melewati semak yang tinggi dan pepohonan yang besar. Semakin lama mereka berjalan, suasana disekitar semakin terasa horor. Suara-suara dari berbagai binatang hutan terdengar dari segala penjuru. Kabut tiba-tiba saja muncul menyelimuti hutan.


Rizka menggandeng tangan Windy yang dingin. Windy terlihat gelisah. Ia berkali-kali menoleh ke kanan dan ke kiri ketika terdengar suara aneh.


Tiga jam mereka telah berjalan. Ashura menghentikan langkahnya. Ia mendekati sebuah batu yang berukuran besar. Di permukaan batu tersebut, terlihat ada tulisan yang di ukir.


"Prasasti?" Tanya Rizka yang menghampiri Ashura.


Ashura menarik nafas panjang. "Sepertinya." Membuang nafas. Ashura menyentuh batu tersebut dan memukul-mukulnya dengan pegangan parang.


"Hei.. kalian.." Windy sangat kelelahan. Ia duduk diatas bebatuan. "Kalian manusia?"


Rio terkapar di tanah. "Pikirkan yang dibelakang asu!" Teriak nya kesal dengan nafas yang tidak beraturan.


Rizka tersenyum kaku. Ia menggaruk kepalanya. "Sorry. Kukira kalian enggak secapek itu."


"Kamu.." Windy masih mencoba mengatur nafasnya. "Jahat!" Windy kesal. Melemparkan batu kecil ke Rizka.


"Ayo, lanjut!" Ujar Ashura.


"Ha?!" Reflek Rio dan Windy serentak memandang Ashura.


"Ashura, kita istirahat sebentar dulu ya." Ucap Rizka dengan senyuman.


Ashura menyarungkan parangnya. "Lima menit."


"Sepuluh!" Ucap Rio dengan keras.


"Hahaha.. oke sepuluh menit." Rizka memegang tangan Ashura masih dengan senyuman.


Ashura membuang nafas kasar. "Tolong artikan ini!" Ashura mencolek bahu Rizka dan menunjuk ke arah tulisan yang ada di batu besar.


"Eh? O-oke." Rizka menghampir batu besar yang dimaksud Ashura.


Rizka mengerutkan dahinya. Sedikit memiringkan kepalanya ke kiri. Ia meraba-raba permukaan ukiran tulisan.


"Enggak bisa kamu artikan? Atau kurang jelas tulisannya?" Tanya Ashura.


"Ehm, bukan. Aku enggak ngerti apa maksud dari tulisan ini."


"Artikan aja dulu. Ngerti enggak ngerti itu urusan nanti."


Rizka terdiam sejenak. Menarik nafas panjang dan membuang nya. Kembali meraba tulisan.


"Bukan iblis atau syaitan. Bukan binatang. Manusia."


Rizka sedikit melirik ke hoodie yang di pakai Ashura. Hoodie yang rusak di karenakan melawan makhluk putih beberapa waktu lalu. Terlihat jelas beberapa sobekan di bagian depan dan bahu. Bahkan salah satu lengan hoodie hanya tersisa setengah. Sedangkan hoodie yang masih bagus di pakai oleh Rizka. Ashura memberikannya agar Rizka tidak kedingingan di hutan yang gelap dan berkabut itu.


"Padahal disini enggak dingin sama sekali." Kata Rizka di dalam hatinya. Lalu, ia kembali mengartikan tulisan.


"Syarat harus terpenuhi. Maka kembali. Kembali atau tinggal. Satu atau yang banyak."


Rizka sedikit melangkah mundur. "Sudah." Ucap nya.


Ashura mengerutkan dahi. Melipat kedua tangan didadanya. "Berarti makhluk-makhluk putih itu memang manusia. Tapi apa yang membuat mereka berubah?" Ashura berbicara dengan suara yang sangat kecil.


"Hmm?" Rizka berdehem. Ia melihat Ashura yang sedang berpikir cukup keras. Urat di pelipis kepalanya terlihat.


"Apa mereka menjalin kontrak dengan sesuatu? Jin mungkin." Rio bangkit dari tanah. Ia menepuk-nepuk belakang celananya.


"Tapi, di buku sebelumnya '.. seperti rumah, berpenghuni. Bukan pemilik.' kurasa mereka enggak menjalin kontrak dengan jin atau sejenisnya deh." Kata Windy.


"Ha? Buku apa?" Rio bingung, memasang wajah tolol.


"Tapi, ada syarat-syarat gitu. Berarti ada yang membuat syarat itu dong." Rizka berkacak pinggang.


Rio masih memasang wajah tolol nya. "Woi, buku ap-"


"Sudahlah. Ayo!" Ashura kembali berjalan. Disusul oleh Rizka.


"Woi!" Rio teriak kesal.


"Berisik banget sih. Kami tinggal nih." Windy berlari kecil menyusul Ashura dan Rizka.


Masih beberapa meter mereka berjalan, tiba-tiba saja mereka di kejutkan dengan seekor harimau yang muncul tepat di hadapan Ashura. Windy menggenggam erat tangan Rizka. Rizka juga panik.


"Ashura?" Bisik Rizka.


"Shotgun." Bisik Ashura sembari menjulurkan tangannya ke belakang.


"Hah?" Rizka tidak mendengar dengan jelas.


"Shotgun!" Ashura mengeraskan suaranya.


Rio yang terkejut dengan suara keras Ashura langsung melemparkan senjatanya. Ashura menangkap senjata tersebut. Di saat yang bersamaan pula cakar harimau sudah tepat di depan wajah Ashura.


Ashura menahan cakaran tersebut dengan senjata yang dia pegang. Ashura mendorong Rizka dan yang lainnya agar menjauh.


"Ashura!" Teriak Rizka panik.


Ashura menjaga jarak dengan harimau tersebut. Ia membidik tepat di kepala dan menarik trigger shotgun.


"Si bodoh." Ucap Ashura.


Rio dengan bodohnya memberikan senjata tanpa amunisi. Ashura melemparkan senjata tersebut ke teman-temannya dengan pandangan tetap kepada sang macan belang.


Rizka perlahan mendekati senjata yang di lempar Ashura. Berusaha untuk mengambilnya. Harimau berjalan perlahan mendekati Ashura. Sambil melangkah mundur perlahan, Ashura mengeluarkan parang dari sarungnya. Harimau bersiap untuk melompat. Begitu pula Ashura yang sudah berada di posisi siap menebas.  


Dorr!! Dorr!! Belum sempat harimau melompat. Perut nya harus berlubang karena tembakan shotgun. Rio berhasil membunuh harimau tersebut. Tangannya jatuh lemas.


Ashura bernafas lega. Harimau sudah terbaring di tanah. Ia Kembali menyarungkan parangnya dan berkumpul dengan teman-temannya.


"Maaf, aku panik." Ucap Rio.


Ashura menatap Rio dengan wajah datarnya. "Ya, makasih."


"Syukurlah." Rizka mengelus dada.


"Untung kamu selamat, Shura." Windy menangis dan hendak memeluk Ashura.


"Eits, eits." Rizka menahan Windy.


Ashura menghampiri mayat harimau. "Boleh dimakan?" Tanya Ashura.


"Ha? Kan masih ada binatang lainnya. Enggak boleh. Harimau itu bertaring." Ujar Rizka.


"Eh, enggak boleh? Perasaan enggak apa-apa." Kata Windy yang masih terisak.


"Itu di kamu." Rizka menyentil dahi Windy.


Ashura melihat ke arah teman-temannya. "Ayo, kita cari tempat untuk istirahat. Udah mau gelap. Hentikan wajah bersalah mu itu!" Ashura berjalan menjauhi yang lainnya.


Rizka dan Windy melihat Rio yang cukup murung di belakang mereka. Karena dilihatin oleh teman-temannya, Rio pun bertingkah seperti biasanya.


"Apasih? Bersalah? Kan kau yang bilang senjata itu berbahaya kalau di isi. Makanya enggak aku isi."


Ashura tidak peduli dan terus berjalan. Di susul oleh Rizka dan Windy. Rio membuka ikatan rambutnya. Kemudian mengacak-acak nya dan mengejar yang lainnya.


Langit mulai gelap. Kabut kian menebal. Rizka mengeluarkan dua buah senter dari tas. Begitu juga Windy dan Rio, mereka mengeluarkan senter dari tas masing-masing.


"Untuk apa senter sebanyak itu?" Tanya Ashura yang berjalan paling depan.


Windy menghidupkan senter nya. "Udah mulai gelap be-"


"Kalau semua baterai nya habis? Rio aja cukup untuk mengawasi dari belakang." Potong Ashura.


Rizka, Windy, dan Rio saling pandang. Lalu, kembali memasukkan senter ke dalam tas. Terkecuali Rio yang berjalan paling belakang.


Rizka yang sedang menoleh ke kanan ke kiri, tiba-tiba saja menabrak tas Ashura. "Aduh!" Rizka menggosok dahinya. Ashura mendadak berhenti melangkah. Ia menyipitkan matanya melihat ke sebelah kiri mereka.


Ashura mengulurkan tangan kirinya ke Rio. "Senjata." Katanya.


Rio mengeluarkan satu kotak amunisi dari sakunya. Memberikannya kepada Ashura beserta senjata yang ia pegang. Ashura mengisi amunisi senjata sembari berjalan ke arah yang dia lihat sebelumnya.


"Hati-hati." Bisik Rizka.


Ashura berjalan perlahan menjauhi teman-temannya dengan posisi siap untuk menembak. Terdengar suara semak-semak. Windy memeluk Rizka. Rio memungut batang kayu dari tanah sebagai pertahanan.


Dorr!! Ashura menembak sekali ke arah sumber suara. Dorr!! Ashura menembak yang kedua kalinya ke arah yang sama. Merasa telah mengenai sesuatu, ia berjalan kembali ke teman-temannya.


"Apa tadi itu?" Tanya Rizka dari kejauhan.


"Kurasa cuma kelin-" Ashura jatuh berlutut.


"Ashura!" Teriak Rizka. Melepaskan pelukan Windy. Kemudian berlari mendekati Ashura.


"Hei!" Rio menyusul. Begitu juga Windy.


Sebuah anak panah menancap tepat di punggung Ashura. Rizka yang panik membuka tas nya. Mengeluarkan kotak P3K. Rio memerhatikan sekeliling. Windy yang tidak tahu harus apa, hanya diam berdiri menutup mulutnya.


"Sepertinya kena sasaran." Kata seorang laki-laki dari kejauhan.


"Padahal kubilang kakinya." Terdengar pula suara seorang perempuan.


Windy dan Rio melihat ke arah sumber suara. Terpancar cahaya senter yang menerangi ke arah mereka. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat empat orang yang datang mendekat.