Young Couple

Young Couple
Gugup



Pagi 06 : 09


Kirana sudah siap dengan seragam sekolahnya. Gadis dengan balutan jilbab putih dikepalanya tersebut berjalan mengambil tasnya dan segera keluar kamar.


Saat sudah hampir sampai didapur, langkahnya terhenti saat mendengar suara kedua orang tuanya didapur. Kirana berjalan mendekat pintu dan mengintip dari balik pintu.


Disana terlihat, Papanya yang sedang berusaha membujuk Mamanya agar tidak mendiaminya.


"Mah.... Aku udah mau berangkat nih." Ucapan Andi yang tidak mendapat jawaban dari Intan.


Karena kesal dikacangin istrinya, Andi langsung memeluk Intan dari belakang. Kirana mendelik melihat tingkah Papanya itu.


"Ih... Apaan sih, Pah?!" Intan menatap kesal pada suaminya.


"Makanya jangan diemin aku. Dari kemarin loh aku kamu kacangin." Ujar Andi masih setia memeluk istrinya dari belakang.


"Yaudah, sekarang mau kamu apa?" Tanya Andi pada akhirnya.


Intan langsung melepaskan tangan suaminya yang melingkar diperutnya. Ia berbalik badan dan berkacak pinggang menatap tajam suaminya.


"Mau aku, kamu batalin keputusan kamu buat ngejodohin Ana!"


Wanita tersebut berucap tanpa bantahan pada suaminya. Intan benar-benar tidak bisa melihat anaknya tertekan dengan keputusan suaminya itu.


Mendengar ucapan sang istri, Andi menghembuskan nafasnya kasar. Ia langsung menatap datar istirnya.


"Kalau itu, maaf... Aku nggak bisa. Pernikahan mereka tetap dilaksanakan. Sudah aku bilang ini demi kebaikan mereka. Sekeras apapun kalian menentang, keputusan ini tidak bisa diubah!"


Andi menghela nafasnya berat. Diliriknya jam tangannya. Pria tersebut berjalan mendekati istirnya. Mencium keningnya, dan setelahnya ia pergi.


"Aku berangkat. Assalamu'alaikum."


Intan terdiam lama menatap punggung suaminya yang sudah menjauh. "Wa'alaikumsalam." Jawabnya pelan.


Kirana segera bersembunyi saat melihat Papanya akan berjalan melewatinya. Setelah melihat punggung Papanya yang menghilang dibalik pintu, Kirana bernafas lega. Gadis itu segera berjalan ke dapur.


Intan yang melihat anaknya yang sudah duduk manis di kursi, segera mengambilkannya Roti yang sudah ia oleskan selai cokelat.


Kirana menatap tanpa minat pada roti tersebut. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Sang Mama. Mata gadis itu memerah. Kirana tengah menahan tangisnya saat ini.


"Mama....."


Melihat itu, Intan segera mendekap tubuh Kirana. "Maaf...Mama nggak berhasil bujuk Papa kamu." Intan mengelus kepala putrinya yang berbalut jilbab tersebut.


Setetes bulir bening jatuh membasahi pipi Kirana. "Terus, Ana harus gimana Mah? Ana masih pengen sekolah." Ujar Kirana dengan suara seraknya.


Intan segera melepas pelukannya. Ia menangkup pipi anaknya tersebut dan menghapus buliran air mata yang membasahi pipi putrinya itu.


"Kamu nggak perlu khawatir. Kita akan merahasiakan semuanya. Guru kamu pun nggak ada yang tau. Jadi, kamu masih tetap sekolah." Jelas Intan tersenyum pada Kirana.


Kirana menghapus air matanya kasar. "Mungkin awalnya nggak ada yang tau. Tapi lama-kelamaan, orang-orang akan tau tentang pernikahan Ana. Anu harus bilang apa kalau mereka sampai tau?" Kirana berucap dengan suara yang bergetar.


"Nggak akan ada yang tau. Kalaupun ketahuan, kalian nggak akan diberhentikan sekolah. Karena Ayahnya Rafka merupakan pemilik sekolah kalian." Jelas Intan.


Kirana memejamkan matanya sambil menghela nafasnya berat. Ia tidak suka, sangat tidak suka seperti ini. Kirana hanya ingin menikah sekali seumur hidup, dan dengan orang yang dicintainya.


Menikah diusianya yang masih terlalu dini, hanya akan membuat semuanya rumit. Bahkan usia sepertinya belum bisa menghadapi masalah rumah tangga. Apa yang akan dilakukannya jika sewaktu-waktu dirinya akan dihadapkan dengan konflik-konflik yang sering terjadi didalam rumah tangga.


Kirana benar-benar tidak bisa membayangkan semua itu.


...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...


Beberapa hari telah berlalu. Kini hari yang ditunggu-tunggu akhirnya telah tiba. Hari dimana pernikahannya akan dilaksanakan.


Bukan, ini bukan hari yang Kirana tunggu-tunggu. Tapi hari yang sama sekali tidak diinginkannya. Jika saja ia diberikan satu permintaan, maka Kirana akan meminta untuk membatalkan semuanya.


Saat ini, Kirana lagi di make up. Gadis itu dari tadi marah-marah tidak jelas. Lipstik yang sudah dipakaikan, ia hapus kembali.


"Apa-apaan sih ini lipstik tebal gini. Lo fikir gue ondel-ondel apa?!" Ucap Kirana kesal.


Wajahnya terkesan natural dengan make-up tipisnya. Intan memakaikan lipstik warna cery pada bibir Kirana. Hanya tipis saja ia memakaikan, tapi cukup membuat para MUA terkagum melihatnya.


"Wow....You look so beautiful. Calon suami kamu pasti terpesona melihatnya." Ucap salah satu MUA yang berdiri dibelakang Kirana sambil menatapnya melalui kaca cermin.


Mendengar itu, Kirana memutar bola matanya malas. "Alay lo!" Ucapnya ketus.


Mereka lagi-lagi dibuat geleng-geleng kepala karena Kirana. Gadis itu kalau kesal, suka ketus bicaranya. Apalagi saat ini mood-nya sedang buruk. Jangan coba-coba menggodanya tentang pernikahannya. Bisa-bisa Kirana akan melempari mereka dengan botol yang ada isi airnya.


Seperti tadi. Saat salah satu MUA menggodanya. Kirana melemparinya dengan botol minumnya.


'Mending lo aja sana yang nikah!' Begitu katanya pada seorang MUA yang berwujud wanita padahal aslinya pria.


"Udah. Kirana nggak boleh gitu." Ucap Intan lembut pada anaknya. "Sekarang siap-siap. Bentar lagi ijab qobul-nya dimulai." Lanjutnya.


Mendengar itu, Kirana langsung menegang. Ia menelan salivanya susah payah. Gugup, tentu saja. Kirana meremas Gaun yang dikenakannya.


Intan yang melihat itu segera mengelus punggung anaknya. Ia tersenyum melihat wajah gugup putrinya itu. Intan teringat saat dirinya akan melaksanakan pernikahan dengan Papanya Andi. Ia benar-benar gugup, sama seperti yang Kirana rasakan saat ini.


Kirana terkejut saat melihat Salsha masuk ke kamarnya.


"Adiknya kakak cantik banget." Ucap Salsha sambil mengelus pipi Kirana. "Gimana, udah siap? Acara ijab qobul-nya udah mau mulai."


Kirana melirik Mamanya dengan wajah memelas. Intan yang mengerti itu segera mengambil tangan anaknya dan digenggamnya erat.


"Tarik nafas, trus buang pelan-pelan." Ucap Intan sembari mengelus punggung Kirana. Sedangkan anaknya itu, hanya menurut saja apa yang dikatakan Mamanya.


"Bismillah." Ucap Intan menarik lembut tangan Kirana untuk berdiri.


Setelahnya, mereka melangkah keluar dengan perasaan campur aduk. Lebih tepatnya, Kirana lah yang campur aduk sekarang.


Bersambung.........




♠♠♠


Dikit lagi guysss...


Dikit lagi ijab qobul tuh.


Gimana sama part ini ngab??


Baiklah.... cukup sekian untuk malam ini.


Sekian dan terima gajih 🙏😌


Jangan lupa like dan komen. makasih juga buat yang selalu kasih support. Semoga Kebaikan kalian dibalas dengan yang lebih.


...Aamiin....


...Lopyu 💚...


.......


.......


.......


...Bye bye 👋👋...


...See you at the next part 👉🏿...


Jangan lupa bersyukur buat hari ini.....