Young Couple

Young Couple
Tidak ada yang paham



Kirana terbangun karena merasa tenggorokannya kering. Gadis itu bangun dari tidurnya dan mengambil ikat rambutnya, lalu mencepol rambutnya asal.


Mengambil ponselnya, Kirana melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 04:05. Sebentar lagi mau subuh. Ia berjalan menyalakan lampu dan membuka pintu kamar hendak keluar. Namun langkahnya tertahan saat melihat seseorang yang tertidur di sofa kamarnya.


Karena penasaran, gadis itu berjalan mendekat sambil mengigit kukunya. Saat sampai dihadapan orang itu, Kirana menutup mulutnya yang hampir berteriak. Ternyata itu Rafka.


Ingatkan dia kalau baru semalam mereka melaksanakan pernikahannya. Kirana hampir lupa. Gadis itu langsung memegang kepalanya yang tak berbalut jilbab. Ia membelalakkan matanya saat tersadar akan sesuatu.


"Jangan bilang dia udah ngeliat gue nggak pake....." Ucapnya pelan. "Hwaaa.....Mama, demi apa pasti dia udah liat rambut gue!" Kali ini Kirana berteriak.


Rafka langsung terbangun saat mendengar teriakkan gadis itu. Kirana sedang berdiri di hadapannya sambil menangis. Karena belum sepenuhnya sadar, Rafka mengucek matanya dan berdiri di depan gadis itu.


"Kenapa?" Tanyanya dengan suara serak karena baru bangun.


Kirana langsung mendorong Rafka sehingga cowok itu sedikit terhuyung ke belakang.


"Jangan deket-deket lo!" Peringat Kirana. Gadis itu berjalan ke lemari mengambil jilbabnya dan langsung memakainya. Ia berjalan ke hadapan Rafka dengan tatapan tajamnya.


Rafka paham sekarang. Kirana tidak suka jika rambutnya dilihat oleh laki-laki. Tidak salah memang. Hanya saja, Rafka kan sudah jadi suaminya. Jadi, sah sah saja kalau Rafka lihat. Mungkin karena Kirana belum terbiasa. Jadi gadis itu belum bisa menerimanya.


"Gue nggak pernah anggap pernikahan ini ada. Kalaupun ada, itu hanya dimata kalian. Enggak dengan gue, dan sampai kapanpun bakal tetap gitu!"


Kirana berucap tegas. Rafka hanya menghela nafas pasrah mendengarnya. Dia tidak masalah jika gadis itu berkata demikian. Hanya saja, jangan sampai Ibunya yang mendengar perkataan gadis itu. Bisa panjang masalahnya.


Rafka maju selangkah mendekati gadis itu. Ia menatap datar dan terkesan dingin. "Lo fikir gue anggap pernikahan ini ada?" Tanyanya tanpa ekspresi. "Sampai kapanpun, gue juga nggak pernah anggap pernikahan ini ada dan nggak pernah terima. Sekali lagi gue ingetin kalau lo lupa. Semua ini demi Ibu. Cuman demi Ibu gua. Jadi, jangan terlalu percaya diri!" Ucapnya penuh penekanan.


Setelah berkata demikian, Rafka pergi meninggalkan Kirana yang terdiam di tempatnya. Gadis itu menatap kosong ke depan. Tangannya mengepal dan matanya memanas.


Papanya menjodohkan dia karena takut Kirana akan melakukan hal seperti kakaknya yang dapat memalukan keluarga. Sementara Rafka, menerima perjodohan ini karena tidak mau membuat Ibunya sedih.


Tidak ada yang memahami dirinya.


...••••••••••••••••••••••••...


Kirana berjalan terburu-buru menuruni tangga. Begitu sampai di bawah, ia melewati Intan yang sedang berbicara dengan Andi. Saat tiba di depan pintu, Intan langsung berucap yang membuat langkahnya terhenti.


"Ana, sarapan dulu. Mama udah siapin sarapannya didapur." Ucap Mamanya dengan lembut.


Sementara itu, Rafka yang tengah berjalan menuruni tangga menyaksikan itu. Ia berhenti di tengah tangga saat melihat Intan menyuruh Kirana untuk sarapan.


Kirana melirik ponselnya. "Maaf, Ana makan di sekolah aja. Temen udah nuggu didepan soalnya." Ucapnya. Lalu tanpa menunggu jawaban dari orang tuanya, Kirana langsung berlari keluar. Tidak lupa mengucapkan salam begitu sampai di depan pintu mobil.


Andi memijat pelipisnya. Kirana begitu saat marah. Dia tidak akan mendengarkan apapun dan siapapun. Putrinya itu marah padanya. Tentu, keputusan gilanya itu penyebabnya.


Intan beranjak meninggalkan suaminya sendiri. Saat melihat Rafka, langsung menghampiri menantunya itu.


"Rafka, sarapan dulu gih. Baru berangkat sekolah." Suruh Intan.


Rafka hanya mengangguk sambil tersenyum. sudah capek-capek dimasakin, tidak mungkin dia tidak memakannya. Apalagi ini mertuanya yang masak.


"Nanti pulang sekolah, Rafka bareng Ana ya." Pintah Intan. "Soalnya dia biasa di jemput kalau pulang. Sekarang kan udah ada Rafka, jadi pulangnya bareng Rafka ya." Lanjutnya.


Rafka menghembuskan nafasnya. Bukan apa-apa, Gadis itu mana mau kalau dia panggil. Tapi mau bagaimana lagi. Terpaksa Rafka harus mengiyakan.


Sementara itu, Kirana berangkat bareng Rachel.


"Tumben banget lo nebeng." Ucap Rachel.


Kirana menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi dengan mata yang terpejam. "Lagi pengen aja. Emang nggak boleh?" Tanyanya pura-pura merajuk.


Rachel berdecak. "Ya nggak gitu. kan biasanya lo naik ojol atau dianter supir. Jadi gue heran aja, kenapa lo bisa nebeng ama gue." Jelasnya.


Kirana melipat tangannya. "Nggak pa-pa, beneran hanya ingin." Jawabnya.


Rachel menggeleng pelan. Aneh-aneh saja sahabatnya itu.


Bersambung.........


Sampai sini!


Maaf banget kalau kurang. Lagi g bisa up banyak. And maaf juga kalau hanya dikit.


Jangan lupa, like, komen dan share cerita ini ke teman literasi kalian. Makasih banyak juga buat yang selalu kasih support. Makasih banyak pokoknya. Pokoknya semangat selalu.


...Bye bye 👋👋...


...see you at the next part 👉🏿...