YOU BETTER MISS?

YOU BETTER MISS?
JALAN WAKTU



...Bertemu dengan mu membuatku mengerti dengan apa yang kamu alami, semakin aku mengetahuinya. Semakin pula kamu menjadi yang paling berharga bagi... Ku!"...


...Astra Devandra Putra...


...***...


Entah sejak kapan Astra mengawasi gerak-gerik Dhita dari jauh. Mungkin ia tengah penasaran kenapa gadis di depannya ini selalu bersikap dingin padanya.


Sudah satu Minggu berlalu, mereka berdua menjadi pasangan dokter berbakat. Walau Astra baru satu Minggu bekerja.


"Dr. Devan. Ini semua data grafik pasien." Dhita sambil menyerahkan beberapa map berisi data grafik tersebut.


Ya, aku baru saja menempati posisi sebagai dokter bedah menggantikan seorang dokter yang di pindah tugaskan oleh pihak atas. Sebenarnya ingin menolak tapi seseorang menyuruhku untuk bekerja di sini beberapa saat.


Siapa lagi kalau bukan keluarga besar Putra yang di perintahkan langsung oleh Putra Ferroin Asta, itulah nama kakekku.


Kalau memang benar semua itu adalah jebakan kakek lebih baik ia mundur saja dan membiarkan kakek itu sepuasnya berbuat sesuatu walau aku harus kehilangan nama belakangku.


Kalau mendengar nama Astra Devandra Putra pasti sudah tau semuanya. Seorang pria dingin, kaku dan memiliki aura yang mengintimidasi namun wajahnya yang rupawan membuat siapa saja terpana pada pandangan pertama. Namun, beberapa hari yang lalu ia bertemu seorang gadis yang tidak sama sekali tertarik padanya dan terkesan ingin menjauhinya membuat ku sedikit tertarik pada gadis itu.


Siapa yang tidak terpesona dengan bahakan banyak perempuan mengantri untuk ia lamar ataupun ia pinang. Namun sayang ia pemilih dengan yang namanya perempuan karena ia anti dengan wanita yang gila harta dan tahta. Jika membayangkan itu ia akan merasa jijik seketika.


Perempuan-perempuan seperti rela membuka paha mereka untuk di jamah bahkan hingga melakukan dosa terlarang itupun ia rela. Sial rasanya ia ingin menemukan seseorang seperti untuk ia hilangkan dari muka bumi ini dan mencari perempuan yang mampu menjaga dirinya dan hanya berlaku biasa saja padanya ketika bertemu.


Dan itu terjadi padanya beberapa hari yang lalu. Siapa dia? Kenapa dia tidak terpesona dan bahkan ingin menjauh dari ku?


Begitulah sebagai besar pikiran Astra saat ini. Siapa yang bakal tau apa yang akan terjadi kedepannya bukan, dan Astra percaya itu.


Semakin ia menginginkan seseorang maka orang itu sudah ia klaim menjadi miliknya. Dhita. Ya Dhita atau yang memiliki nama Adhistha Agattha.


...šŸ„šŸ„šŸ„...


Di sebuah tempat yang jauh di sana...


Matahari baru saja tenggelam, ini masih pagi hari semuanya terasa seperti ini setiap saat, saat ia tengah tinggal di sana.


"Apa ini waktunya kita pergi? Sepertinya kita harus ikut menikmati rencana di Blue sebelum terlambat." Ucap orang itu sembilan mengambil beberapa makanan ringan dan juga anggur merah yang sudah tersedia di atas nakas di dekat mereka.


Ya, orang-orang itu adalah anggota The LOVIN — sebuah kelompok pelindung yang di khususkan oleh seseorang untuk mengawal orang-orang tertentu sesuai perintah.


"Baiklah sepertinya menarik, bukan?!" Jawab yang lain dan dianggukki kepala oleh seluruh orang yang mendengarkan. Berbeda dengan dua orang yang tidak ikut menikmati pembicaraan itu dan malah mengeratkan rahang mereka.


Ya itu siapa lagi kalau bukan Fariz dan Adit yang merupakan seorangĀ  mata-mata di kelompok itu. Mereka berdua mengenal sebutan Blue itu siapa. Ya, teman merkea yang merupakan seorang mata-mata yang di percaya kelompok itu karena itulah rencana teman mereka untuk menghancurkan kelompok ini termasuk mereka berdua— Fariz dan Adit.


Mau tidak mau mereka ikut dalam rencana orang-orang itu. Membantu temannya itulah yang harus ia lakukan sebagai teman dan sahabat walaupun dunia harus hancur sekalipun ia akan tetap mempertahankan sahabat dan teman baiknya.


Pikiran Adit dan Fariz terhubung mereka sudah merencanakan sesuatu karena mereka sudah terbiasa tinggal bersama dan melakukan hal yang sangat mereka sukai itu bertahun-tahun jadi ikatan batin mereka terhubung satu sama lainnya.


Tanpa di instruksikan mereka langsung menganggukkan kepala dan mengikuti orang-orang itu tanpa berpikir dua kali.


Fariz yang memiliki wajah yang tampan dan sikap yang dewasa membuat siapa saja tertipu dengan wajah nya itu apalagi Fariz seorang aktor di sebuah negara ternama dan banyak membintangi film aksi dan drama-drama yang banyak di tonton oleh orang-orang di luar sana.


Siapa yang tidak kenal Neandra. Seorang pria dengan paras rupawan dan juga sangat ahli di bidang IT dan semuanya tahu bahwa Neandra bukanlah orang bisa.


Di balik sikapnya yang dingin sebenarnya memiliki hati sehangat mentari di pagi hari yang akan terus menyinari dan menghangatkan orang yang ada di sekitarnya walau dengan cara yang berbeda dari yang lain.


Baca di A HOPE, Kalian pasti tau dan kenal bukan.


Selama bertahun-tahun menutupi segalanya namun mereka terbuka dengan semuanya termasuk hal yang membuatnya terpuruk hingga saat ini yaitu traumanya yang sudah tertanam terlalu jauh di dalam dirinya.


Ya yang terakhir Astra memiliki trauma yang mengerikan tetapi masih bisa ia sembunyikan dengan wajahnya dan juga sikap datar dan dinginnya.


Kadang kala ketika ada acara yang di adakan oleh keluarga besarnya ia lebih memilih menyendiri di rumah pohon ataupun di basecamp tempatnya biasa berkumpul dengan teman-temannya demi menjauh dari keluarga besarnya itu.


Siapa bilang cuma perempuan doang yang boleh menangis, siapapun bisa menangis termasuk para laki-laki. Tidak ada gender untuk membatasi orang yang bisa menangis. Kalau kata orang laki-laki yang menangis itu lemah dan lembek.


Siapa bilang bahkan laki-laki yang gagah pun tetap saja bisa menangis, manusia memiliki perasaan dan perasaan itu cuma milik manusia. Jadi tidak ada batasan untuk kita. Biarkan saja kata orang itu, toh mereka yang membatasi hal itu hanya akan membuat dirinya tidak percaya diri dan selalu menganggap dirinya mampu.


Nyatanya tidak bukan. Ada kalanya jadi jangan memaksakan diri okey. Kamu ya kamu, mereka ya mereka, jadi jangan urusi hidup orang lebih baik urusi urusan kalian masing-masing.


" Kita mampir dulu ke Neandra? " Bisik Fariz dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Adit.


Pembawaan Adit memang tenang tetapi memiliki sebuah kelemahan ketika itu menyangkut orang yang diam-diam ia sukai. Radit anak yatim-piatu yang hidup bebas, setidaknya bisa di bilang begitu namun nyatanya hidupnya begitu susah hingga banyak sekali orang menjauhnya karena dianggap membawa kesialan.


Radit sudah terbiasa di pandang seperti itu. Radit akan mencoba menerima semuanya. Namun seseorang yang tidak ia duga dan sudah datang ke dalam kehidupannya saat ini ia sungguh bahagia.


Seseorang yang membuatnya merasakan apa itu kasih sayang dari orang terkasih. Memang siapa yang tidak ingin merasakan perasaan itu, pasti semua orang mau merasakannya termasuk dirinya.


Gadis yang harus menjalani kehidupannya dengan susah payah.


Lanjutannya ada di cerita 'ICE CAPUCCINO'Ā  oke DEROUS Arsy :) {Masa pembuatan}


Kembali ke saat ini. Banyak hal yang harus mereka berdua siapkan. Neandra mungkin akan kewalahan ketika harus menyiapkan semau peralatan yang mereka perlukan kalau bukan mereka berdua sendiri yang memilihnya.


Astra mungkin sudah akan menduga hal ini jadi lebih baik ia bertemu juga dengan Astra nanti setibanya dirinya dan Fariz di negara tempat Astra dan Neandra berada.


V atau Velrian mereka masih belum tahu keberadaannya terakhir mereka berkomunikasi satu bulan yang lalu. Tapi sepertinya biasa mereka punya kontak batin ketika terpisah mungkin masing-masing dari mereka sudah mendapat firasat buruk sebelumnya.


...****************...


Dilain tempat


Cahaya matahari memasuki ruangan yang masih tertutup tirai dengan samar-samar. Seseorang yang sedang tidur nyenyak terbangun akibat cahaya matahari yang malu-malu memasuki kamarnya.


Ya, orang itu adalah Dhita. Dokter cantik yang masih tidur di saat jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi hari.


Ting Tong...


Bunyi bel terdengar. Dhita melenguh mencari kesadaran yang di sebabkan oleh nyawanya yang berterbangan layaknya dia yang sudah mengabaikan kita.


"Siapa?" Gumam Dhita saat bangkit melangkahkan kakinya menuju pintu depan.