
Hidup tidak seindah mimpi, namun apa yang kita jalani bukanlah hal yang buruk. Dhita ingin hidup seperti gadis-gadis normal lainnya. Seperti dicintai, diperhatikan, ataupun diberikan hadiah ketika ia berulang tahunnya.
Dhita hanya ingin keluarganya, Bukan yang lain. Namun sayang semua itu tidak akan pernah menjadi kenyataan. Dhita sudah sedari dulu ingin memiliki keluarga yang menyayanginya nyatanya Dhita di buang bagaikan sesuatu yang habis dipakai dan setelah tidak berguna malah di buang.
Kehidupan Dhita yang sempurna hancur ketika kecelakaan yang membuat kakaknya harus terbaring di rumah sakit membuat keluarga retak. Dhita yang mengalami trauma semakin tersiksa ketika kakaknya yang tengah dirawat di rumah sakit kritis dan Dhita mendapat perlakukan tidak baik dari orangtuanya, dan setelah itu di tinggal pergi keluar negeri untuk menemani pengobatan kakaknya di luar sana.
Dhita hanya bisa menangis saat itu hingga umurnya yang sekarang menginjak 24 tahun. Hidupnya masih dihantui oleh trauma yang berubah menjadi fobia yang mengganggu kehidupan Dhita.
Hingga suatu hari Dhita bertemu dengan seorang pria yang akan menjadi rekan kerjanya. Siapa sangka pria itu merupakan seorang mafia yang menyamar entah apa tujuannya, yang pasti pria itu mengubah hidup Dhita.
Apakah pria itu ingin mencelakainya ataukah pria itu merupakan orang yang di takdir kan untuk membantu Dhita?
...****************...
..." Ku harap bisa seperti bintang yang bersinar dan menghiasi langit malam yang indah. Sinar yang tidak akan pernah habis dimakan oleh waktu. Selalu ada dan selalu menanti kapan waktunya ia terlihat."...
...Adhista Agattha...
...***...
Perkenalkan namaku Adhista Agattha. Umur 24 tahun, pekerjaan sebagi ahli bedah di sebuah rumah sakit swasta terbesar di Jakarta. Hidup dan besar di Indonesia. Pendidikan terakhir S2 di Chicago, Amerika.
Semenjak usia 9 tahun Dhita di buang oleh keluarganya sendiri. Hidup dan besar bersama kakek-neneknya di sebuah desa di Padang. Hidup dengan berjuang untuk makan dan minum sehari-hari membuat Dhita tahu beratnya hidup di dunia ini.
Hari-hari yang berat menurut semua orang mampu Dhita lewati bersama teman-teman yang selalu ada untuknya. Dhita bahkan pernah terpuruk dan hampir mengakhiri hidupnya, namun siapa sangka teman-temannya membantu Dhita bangkit.
Sahabat-sahabatnya itu juga memliki keluarga yang tidak sempurna seperti orang-orang kebanyakan. Naura, anak tunggal dan cucu ke dua dari keluarga kaya di Jakarta. Alea atau yang dikenal dengan Alveira, anak dari pengusaha terkenal di Inggris yang merupakan anak yang lahir dari hubungan tidak diinginkan. Sedangkan Maeran, anak dari seorang penjudi yang terlilit hutang dan sering mendapat kekerasan ketika masih kecil.
Mereka berteman bukan karena memiliki masalah hidup yang cukup rumit melainkan sama-sama membutuhkan teman yang mampu menemani satu sama lain dalam susah maupun senang.
Hari ini akhir pekan kesekian kalinya. Mereka berkumpul si sebuah Cafe yang seperti coffeshope yang berada di kawasan Mall Islan City di bagian Utara, Jakarta.
Mereka berkumpul di satu meja menikmati makan mereka. Mereka terlibat pembicaraan yang yang cukup membuat mereka menyurat energi. Apa lagi kalau bukan candaan mereka yang cukup menarik.
"Aduh, capek dari tadi ketawa mulu. Makan yuk dari tadi kita belum pesan loh." Maera yang merasa ada yang kurang langsung membuka pembicaraan yang lain sebagai pengalihan karena mereka sudah hampir sejam di sana namun belum memesan apapun.
"Iya. Aku lapar nih, makan dulu yuk!" Naura mengajak Dhita dan yang lain juga karena perutnya yang sudah meminta di isi kembali setelah lelah tertawa akibat candaan dari teman-temannya dan juga dirinya.
"Kalian dengar tidak berita akhir-akhir ini di Amerika?" Tanya Alea setelah memesan makanan.
Dhita yang mendengar nama negara sekaligus benua itu langsung menegang ditempat.
"Berita apaan jangan ngibul lu Lea." Potong Dhita sebelum yang lain menanyakan hal yang lebih dari itu. Alea yang melihat tanggapan dari Dhita hanya mendengus sebal karena dikatain ngibul oleh Dhita.
"Apa gue jadi penasaran Le?" Tanya Naura tanpa melihat kearah Dhita yang sudah panas dingin ketika mereka berkumpul malah membahas tentang hal yang tidak mau Dhita ingat lagi apalagi menyebutnya dengan mulutnya sendiri seperti tidak ingin sama sekali.
Naura memang orang yang tidak peka di antara mereka.
"Enggak usah deh." Alea tidak jadi menceritakan berita yang ia dengar-dengar dari orang-orang yang pernah ia temui.
Berita heboh tentang perusahaan Mizathan Crop yang berubah menjadi M.Z.N Group yang menjadi berita hangat sepanjang Minggu ini. Alea bekerja sebagai model di satu agensi yang menaungi para pengusaha yang ingin memasarkan brand-brand nya.
Karena beberapa waktu lalu Alea mendapat job kerajaan di sebuah agensi di Amerika serikat yang membuatnya mendengar pemberitaan tv yang mungkin jarang ia lihat.
"Ayo lah... Gue penasaran. Plisss... cerita Lea!!!" Rengek Naura seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
Yang melihat kelakuan Naura hanya tertawa, berbanding terbalik dengan Dhita yang mulai tegang di tempat. Dhita tidak ingin mendengar apapun tentang orang taunya atau yang bisa di bilang bukan orang tuanya melainkan orang asing yang pernah sementara tinggal bersamanya.
Dhita sudah lama tidak bertemu orang-orang itu namun berita itu tidak dapat Dhita pungkiri. Dhita sudah sangat-sangat tidak ingin mendengar atau mengetahui kabar apapun tentang keluarganya, ah bukan orang asing itu.
Dhita yang merasa tidak ingin mendengar percakapan itu memilih meninggalkan mereka di meja itu.
"Gue ijin ke toilet dulu soalnya kebelet." Dhita langsung beranjak dari meja itu sebelum mendapat jawaban dari teman-temannya.
Yang lain melihat punggung Dhita menjauh merasa iba akibat berita yang tidak ia inginkan malah berhubungan dengan keluarga dari sahabat mereka itu.
"Kalian sih. Lihat tuh Dhita... Pergi kan." Maera yang merasa sedikit tidak enak malah menjadi kasihan, kerena hubungan orang tua dan anak yang renggang antara Dhita dan keluarganya.
Kalau Maera berada di posisi itu Mae akan pergi sejauh mungkin tanpa sedikitpun menghampiri keluarganya lagi karena lebih baik menahan sakit daripada harus menerima rasa sakit itu lagi.
Dhita hidup dengan keadaan ekonomi di bawah karena ia bukan merupakan anak atau cucu dari pengusaha atau apapun itu, sedangkan sahabat-sahabatnya adalah salah seorang anak dari pengusaha dan juga cucu dari pengusaha terkenal.
Tetapi Maera bersyukur karena memiliki ibu yang begitu penyayang bahkan selalu mementingkan kebahagiaannya. Sahabat-sahabatnya pun ingin memiliki ibu seperti ibunya.
"Aku nyusul Dhita dulu. Pesan aja duluan nanti aku dan Dhita nyusul." Maera menyusul Dhita yang sudah menghilang masuk ke dalam toilet.
Naura dan Alea hanya saling memandang satu sama lain. Mereka merasa bahwa ini ada yang aneh.
Ya, iyalah kalian enggak peka. Dhita itu sakit, sakit karena mendengar kalian malah membahas apa yang terjadi di berita itu. Naura yang awalnya bertingkah layaknya bocah menjadi diam dan saling bertukar pandangan menghadap toilet dan juga Alea.
Setelah masuk ke dalam toilet dan tidka mendapati Dhita di mana pun. Tiba-tiba matanya melihat salah satu bilik yang tertutup Maera pun mendekati pintu itu dan mengetuknya pelan.
"Dhis, kamu di dalam?" Maera bertanya pada orang yang berada di dalam bilik itu. Mungkin itu adalah Dhita.
Namun setelah pertanyaan itu, tidak ada jawaban dari orang yang berada didalam. Maera hanya menunggu hingga orang didalam bilik itu keluar.
Maera tahu rasanya seperti apa, teman-temannya yang lain juga seharusnya tahu kenapa sifat Dhita berubah setelah mendengar hal yang bersangkutan dengan orang-orang itu.
Dhita masih diam tanpa mau berniat membukakan pintu bilik toilet itu. Dhita masih betah mengurung dirinya di dalam sana padahal sudah sepuluh menit Maera menunggu di sana.
"Dhis, Ayuk keluar! Mereka mungkin enggak tau kalau kamu belum bisa menerima orang-orang itu." Dhita yang mendengar ucapan itu kembali kesal. "Buat apa Lo jelasin kalau mereka tetap aja bahan orang-orang yang buat gue terluka hingga saat ini coba Ma." Dhita benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan pembicaraan ini.
Dhita memilih keluar dari bilik itu lalu menghampiri Maera yang masih setia di sana sambil menunggu Dhita.
"Gue tau Lo kayak gimana, tapi mereka seperti lupa kalau orang yang mereka bahas itu orang tua gue. Yang satu so polos enggak tau apa-apa dan yang satunya lagi biang onar." Ucapnya sambil berusaha memelankan suaranya agar tidak membentak Maera.
"Aku paham, Dhis. Tapi kali ini aja jangan ganggu waktu meet time kita. Ayolah... Dhis. Oke" ucap Maera sambil membetuk telunjuk dan jempol membentuk huruf O.
Dhita yang sudah berada di batas kesabarannya tidak bisa membayangkan lagi seberapa lama lagi ia harus bertahan dan hanya berdiri ditempatnya saat ini. Diam tanpa melakukan tindakan apapun.
Hidup begitu memuakkan bukan! Kalau bisa Dhita berharap memiliki keluarga yang utuh tanpa memiliki beban seperti ini lagi.
"Hash." Dengus Dhita sambil mengusap rambut depannya memilih untuk meredam emosinya untuk saat ini.
"Iya. Gue nyusul, lu duluan aja." sergah Dhita melewati Maera menuju wastafel di samping bilik toilet yang ia masuki tadi.
"Ya, sudah aku ke depan dulu. Awas jangan kabur!" Peringat Maera pada Dhita yang wajahnya mulai di tekuk kayak tepung belum di buat.
"Hemmm..." Jawabnya yang masih berdiri di sana mencuci tangannya.
Setelah merasa Maera pergi Dhita pun berbalik dan menyandarkan punggungnya ke pinggir wastafel itu.
Haaah...
Dhita mengehal nafas panjang. Ia prustasi dengan orang-orang yang selalu membahas itu, itu dan itu. Dhita sudah tidak memiliki kesabaran yang banyak seperti dulu lagi.
'Apa saja asal jangan tentang orang-orang itu.' batin Dhita gusar saat sekelabat bayangan di masa lalu muncul kembali.
Wajah papah yang tertawa, wajah mama yang selalu cantik hingga kakak keduanya yang usil, dan kakak pertamanya yang bersikap cuek bebek. Membuat Dhita sangat-sangat ingin menghilangkan bayang-bayang masa lalu itu.
'Apa harus seperti ini.' batin Dhita lagi yang mulai pasrah. Ia pun keluar dari dalam sana menuju ke meja yang sebelumnya ia tempati.
Terkadang ia merasa pertemanan ini palsu. Semua yang ia lihat hanya ilusi bahkan sampai-sampai Dhita tidak ingin berada di tengah-tengah persahabatan ini.
Sesampainya di meja Dhita langsung memesan makanan tidak lupa memasang senyum tipis agar ia terlihat baik-baik saja.
Setelah selesai memesan makanan Dhita pun di tanyai oleh Alea.
"Lu lama banget di toilet ngapain aja? Pup lu?" Tanya Alea langsung frontal dong.
"Enggak kok. Tadi gua dapat telpon dari rumah sakit buat ke sana." Bohong Dhita kerena tidak ingin Alea merasa kasihan padanya.
Alea hanya ber-oh ria setelah mendapat jawaban dari Dhita. Tidak lama makanan pun datang ke meja mereka. Mereka pun menyantap makanan itu tanpa suara sedikitpun menikmati makanan yang mereka makan.
Setelah selesai mereka pun, oh bukan maksudnya Dhita pun langsung ijin pulang duluan karena ia mau mengistirahatkan tubuhnya. Kesabarannya sudah menipis jadi mau tidak mau ia harus mengumpulkan kesabarannya lagi dalam rumahnya yang nyaman.