YOU BETTER MISS?

YOU BETTER MISS?
MASA LALU



10 menit kemudian...


"Dok!"


"Dokter!!"


"Dokter Dhita!"


Sarah memanggil Dhita yang masih melamun di meja kerjanya. Padahal jam sudah menunjukkan waktunya ia melakukan operasi tetapi masih berada di ruangan ini tanpa merespon sama sekali atas panggilannya langsung saja Sarah mengambil sebuah karet gelang getah yang biasa di buat untuk menjadi karet membungkus nasi pecel kesukaannya.


Ctakkk...


"Auuu..." Ringis Dhita langsung mengusap-usap keningnya yang terkena karet yang Sarah arahkan ke dirinya pada Sia.


Dhita langsung menatap tajam Sarah yang mengerakkan karet getah itu pada jidatnya yang mulus.


"Apaan sih Sar! Sakit tau." Ucap Dhita tidak suka kerena jidatnya menjadi perih karena karet getah itu.


"Itu loh operasi pasien mu yang katanya hari ini!" Ucap Sarah memutar matanya kearah jam di dinding.


"Astaghfirullahalazim... Sarah! Kenapa kamu ga manggil aku dari tadi sih!" Ucap Dhita yang tergesa-gesa karena harus menuju ruang operasi.


"Sudah di panggil 3 kali Dok. Kalau tidak mendengar jangan ngelamun aja Dok!!!" Ujar Sarah sambil menyindir Dhita yang menyebutnya tidak memanggil dia karena jadwalnya.


Setelah di sibukkan dengan pekerjaan yang luar biasa ini Dhita harus menahan amarahnya kembali ketika harus berhubungan dengan dokter yang kemaren di pekerjakan oleh RS Harapan.


Seseorang yang kemarin memperkenalkan dirinya sebagai dokter bedah yang direkrut oleh RS sekarang malah membuatnya mati kutu, ia harus berkerja sama dengan pria bak Antartika, yang ada Dhita akan membeku tanpa melakukan apa-apa hingga ia di keluarkan dari RS ini.


'Astaga... Kenapa rumah sakit ini menjadi aneh sekarang ini. Kenapa orang ini harus berkerja dengan ku coba!!!' batinku yang mulai tidak terima akan kehadiran orang yang menilainya dari luar itu.


Dengan risih aku kembali ke dalam ruangan khusus dokter karena sepertinya ada operasi dadakan yang memerlukan dokter ahli seperti dirinya. Dengan cekatan melakukan semuanya dan membantu sebisanya didalam sana karena sepenuhnya operasi itu bukan miliknya nantinya.


Tidak terasa malam menjelang. Aku kembali ke ruangan untuk membersihkan diri dan juga mengganti baju kerja dengan baju santai karena gerah ketika malam menjelang ketika masih menggunakan setelan kerja itu.


...🏥🏥🏥...


Keesokan paginya...


Dhita bangun kesiangan. Ia buru-buru bangun dan hanya sempat berganti baju dan gosok gigi. Setelah itu ia hanya menagmbil beberapa sandwich di kulkas yang malam tadi ia buat tengah malam. Karena ia tidak menduga bahwa ini akan terjadi dan benar saja sandwich itu membantu aku mengganjal perutku sebelum tugas.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Padahal aku sudah memasang alarm jam 6 pagi tadi tapi bisa-bisanya ia telat. Dan lagi ponselnya yang biasanya berbunyi tiba-tiba tidak memunculkan tanda-tanda.


Kali ini ia merasa hal aneh karena bisa-bisanya ia di beri ship bersama orang baru dan lagi ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan orang yang sebelumnya di kenalkan oleh Galang padanya.


Ia, Galang. Kerabat jauh adik ipar mamanya Dhita. Huh! Kalau begini ia lebih memilih pindah jadi dokter kandungan saja agar tidak bertemu atau satu ship dengan orang yang saat ini melihatnya dengan tatapan menilai dirinya dari atas sampai bawah.


Dhita benci mengakui kalau pria itu ganteng. Tapi bedanya sepertinya orang itu ada darah blasteran. Maybe  aku tidak ingin membuat kepalaku pusing saat ini dengan memikirkan orang di hadapan ku saat ini.


Dhita hanya menarik nafas panjang setelah itu kembali menjalankan mobilnya melenggang menuju jalur apartemennya berada. Sebenarnya ia ingin pulang ke rumah orang tua aku tapi sayangnya besok ada ship pagi.


Sebenarnya shionya cuma sampai sore hari jadi aku hanya menyempatkan diri makan siang setelah itu bekerja sebentar lalu balik.


Sebenarnya ia bekerja juga tidak kenal waktu dan kadang di bangunkan tengah malam karena ada sebuah panggilan mendadak dari RS. Namun, beberapa waktu belakangan tidak ada panggilan masuk yang mengakibatkan ship Dhita kadang dari pagi hingga malam menjelang.


Capek sih tapi itu adalah pekerjaan aku saat ini. Namun lebih capek lagi harus mengurus orang itu. Ya, orang yang di satukan ship kerjanya dengan orang itu dan membuatnya terlibat satu sama lain.


Malam ini memang terkesan hanya sedikit orang yang berjaga dan beberapa dokter memang sudah pulang karena shipnya.  Aku baru mengecek arlojiku dan tidak terduga jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Aku hanya bisa memijat pelipisku yang sedikit terasa sakit.


TOK... TOK... TOK...


Bunyi ketukan pintu membuat ku mengalihkan pandanganku kearah pintu.


"Ada perlu apa anda datang kemari?" Tanyaku ketika melihat siapa pelaku yang mengetuk pintunya. Siapa yang bisa menduga bahwa pria itu akan datang ke ruanganku secara pribadi.


"..."


Tidak ada jawaban dari pria itu. Aku hanya bisa bersabar menunggu sampai pria itu mau membuka suaranya.


Ya, Dhita tau siapa itu. Randi—Kakaknya, hubungan kami memang tidak bagus setelah kejadian itu. Kami memiliki mengasingkan diri kami masing-masing dan memberi jarak dan waktu secara bersamaan.


Aku hanya mempersilahkan dia masuk karena memang jadwalnya siang hingga malam nanti. Ia lebih baik di rumah sementara waktu dari pada keluar yang ada ia akan bertemu banyak bodyguard bodoh dan Kakaknya ini. Ya, aku masih butuh waktu untuk mengatasi fobia itu.


Terkadang setiap malam aku masih menangis dalam diam ketika mimpi itu muncul kembali tanpa ia inginkan. Terus membelenggu diriku di dalam kegelapan mimpi itu.


Tapi semakin lama mimpi itu terus menggerogoti dirinya perlahan-lahan. Tidak ada seorang pun di keluarganya mengetahui penderitanya termasuk ayah dan juga Kakaknya itu. Mereka hanya mendorong Dhita untuk melupakannya.


Yang mereka ucapkan dengan gampangnya namun berbeda dengan Dhita yang mengalaminya. Siapa bilang itu mudah. Kalian yang menerima tapi orang lain menyuruh kamu dengan mudahnya rasanya ingin membuat orang yang mengucapkan itu merasakan apa yang dirasakannya selama ini.


Sesampainya di ruang tamu aku langsung melangkahkan kakiku menuju kitchen set mengambil beberapa gelas dan camilan. Entah lah itu saja yang ia punya sedangkan makanan hanya ada salat dan juga sandwich saja. Nasi? Ia belum membuatnya karena kemarin malam ia langsung tidur tanpa membuat makanan sama sekali.


Setelah selesai mengambil semuanya Dhita mendudukkan dirinya di sebuah Shofia singel yang bersebelahan dengan kursi yang di duduki Randi.


"Bagiamana keadaanmu?" Tanyanya pada Dhita yang baru saja membuka sebuah minuman penyegar yang biasanya ia stok di kabinet kitchen set.


"Masih sama seperti dulu." Jawabku karena memang begitulah ke adaan ku saat ini. Sambil meminum minuman itu dengan pelan.


Aku tahu apa yang akan di bahas kakaknya kali ini tapi biar dia saja yang berbicara.


"Ayah ingin kamu pulang Dhis." Ucapnya tanpa beban melihat sekeliling ruangan apartemen milikku dengan tatapan menilai setiap interiornya.


"Maaf aku tidak bisa." Ucapku menolak ajakkan itu.


Aku memejamkan mataku karena kini ingatan mengerikan itu tiba-tiba muncul di pikiranku.


Seluruh indra ku tertutup seketika. Tubuh bergetar hebat bahkan sesak napas. Bisa-bisanya tubuhnya kembali melemah.


JANGAN SEKARANG! Kumohon bertahan sebentar lagi.


Batinku memohon agar bertahan sebentar lagi.


Sebanyak apapun di meminta maaf semau ingatan itu tidak pernah hilang. Semuanya! Iya semuanya. Jangankan untuk melupakan untuk mengikhlaskan pun sulit.


Randi melihat semuanya. Ya, dia berniat mendekati ku yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"STOPPP...  Jangan bertingkah seperti itu. Itu bukan diri kamu sebenarnya." Tegasku kembali memegang dadanya yang sakit. Ya sangat sakit. Bagaimana bisa ia kembali drop seperti ini.


Ia harus minum obat itu lagi. Ia harus kembali ke kamar lagi.


Aku buru-buru berdiri dan sedikit berlari. Namun kali ini ia tidak terlalu cepat hingga kesadarannya aku menghilang ketika hampir dekat dengan tangga.


BRAAAKK...


Sepertinya ini memang sudah saatnya aku harus pergi setelah ini. Menghilang lagi dari kakaknya. Jangan dalam waktu dekat lagi untuk bertemu dengan kakaknya lagi. Ia sangat membenci tubuhnya yang begitu lemah ini lagi.


Randi yang melihat itu langsung membawa Dhita ke RS terdekat yang merupakan tempat kerja Dhita sendiri. Dan melakukan administrasi di luar ruangan dimana ia mendapatkan tindakan.


Seperti ini lah kehidupan yang sangat berat di terima oleh Dhita yang hanya bekerja sebagai dokter bedah. Waktu berlalu cepat hingga semua yang sudah di lakukan para dokter yang menangani Dhita keluar dari ruangan.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Randi pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan adiknya.


"Psikologinya terguncang yang menyebabkan trauma berlebihan yang berdampak pada tubuhnya yang lemah. Sepertinya dia belum makan beberapa hari karena ketika di cek tekanan darah dari adik anda terlalu rendah dan lagi tubuhnya seperti banyak sekali bekas luka." Jelas dokter itu pada Randi.


Randi terkejut dengan kondisi adik. Dulu ia melakukan itu untuk mendidik adiknya menjadi lebih kuat dan tahan ketika harus mengurus semua milik keluarga mereka nantinya. Namun ia salah. Ia menyakiti adiknya hingga begitu dalam.


"Baik terima kasih, Dok." Ucap Randi yang masih betah berdiri depan ruangan Dhita.


'Maaf!' batin Randi sambil melihat dari luar ruangan itu tubuh Aira yang sedikit pucat.


Ya, Randi baru mengetahui semuanya. Semuanya tentang adiknya yang mengalami gangguan psikologi separah ini.


Sebenarnya ia mengajak Dhita pulang bukan karena itu tetapi ada satu dan hal lainnya yang harus ia lakukan kepada Dhita di rumah ayahnya. Ya, sebenarnya ia menyayangi adiknya melebihi apapun namun sepertinya ia salah melakukan itu semua hingga membuat adiknya harus seperti itu.


"Tunggu sebentar lagi kakak akan minta maaf padamu dengan benar." Ucapnya lalu melenggang pergi menjauh dari ruangan Dhita.


...🏥🏥🏥...


Di sisi lain...


Gadis itu kemana? Kok tidak ada di ruangan dokter. Kan sebentar lagi ada rapat dokter.


"Pfft... Katanya dokter Dhita masuk ruangan UGD benar kah itu?" Ucap salah satu perawat yang melintas.


"Tidak tau pasti sih tapi dengar-dengar dari perawat UGD katanya iya." Timpal perawat lainnya.


Tunggu apa tadi? UGD? Dirawat? Ada apa sebenarnya ini?


Begitulah isi pikiran Devan saat ini. Baru kemarin ia melihat gadis itu baik-baik saja dan sekarang harus di UGD memangnya apa yang terjadi sebenarnya.


Devan pun buru-buru menuju UGD yang terdapat di rumah sakit ini. Buru-buru menanyakan keberadaan Dokter Dhita yang merupakan salah satu rekannya dalam beberapa waktu sebelumnya dan waktu mendatang nantinya.


Beberapa perawatan dan dokter melihat Devan yang gelisah dan khawatir berlebihan seperti itu membuat beberapa dari mereka berasumsi hal-hal yang tidak-tidak. Devan tidak menggubris hal itu yang ia pelukan ada melihat keadaan partnernya saja, tidak lebih.


Kata siapa kalau ia memiliki perasaan pada gadis itu. Oh, NO! Lebih baik ia jadi singel dari pada harus berurusan dengan gadis yang terlihat keras kepala itu. Memang apa yang orang-orang lihat tidak seperti yang mereka asumsikan memang orang-orang melihat iya dekat dengan Dhita tapi iya menganggap Dhita hanya partner kerja.


Tok... Tok... Tok...


Devan mengetuk pintu UGD dan ia bisa melihat dari kaca yang berada di daun pintu. Melihat Dhita yang sudah menyandarkan kepalanya di kepala brangkar UGD.


Dhita yang mendengar itu pun mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangan itu masuk. Dan seketika matanya terbelalak lebar melihat siapa yang masuk ke ruangan ia di rawat. Ya, iya tahu kalau kakaknya mungkin yang membawanya ke sini. Ke rumah sakit ini.


Namun yang ia lihat ini merupakan hal yang tidak terduga. Padahal baru 2 hari orang itu berkunjung ke sini namun terlihat sudah familiar dengan lingkungan di sekitarnya. Ia tahu bahwa kemungkinan besar iya dan juga orang itu akan sering bertemu dan menghabiskan banyak waktu bersama.


Sebenarnya fhobianya sedikit menghambat pekerjaannya namun ia tutupi dan berjuang melawan walau sedikit kewalahan dengan kondisi psikologisnya dalam waktu lama.


...🏥🏥🏥...


Mereka berdua terdiam dalam keheningan yang menguasai suasana ruangan UGD. Ya, Dhita selesai di tindak oleh dokter lainnya langsung tersadar tidak lama tadi. Seharusnya ia berada di ruang rawat kan? Kenapa masih di ruang UGD. Entah lah ia sudah tidak mau memusingkan segala sesuatu itu. Lebih baik ia pergi ke ruangannya untuk bekerja daripada berdiam diri di ruangan itu.


"Ada perlu apa?" Tanya Dhita yang kesekian kali pada orang di depannya yang masih diam tanpa suara.


Saat itu pula orang itu baru membuka suaranya. "Tidak ada." Ucapnya lugas dan begitu santai membuat Dhita menghela nafas panjang.


"Kalau tidak ada, saya permisi silahkan menikmati ruangan ini." Ucap Dhita mulai melangkah pergi dari ruangan itu namun tiba-tiba tangannya di tahan oleh orang itu.


"Siapa yang bilang kamu boleh keluar dari ruangan ini?!" Ucapnya penuh penekanan membuat Dhita mengangkat sebelah alisnya.



Dhita tahu ini bukan hal baik selanjutnya. Dhita kembali menatap tangannya yang ditahan kemudian kembali menatap orang yang mencegatnya itu dengan tatapan sinis.


"Lepas!-" Ucapnya sambil menyentak keras agar tangan orang itu terlepas dari tangannya.


"Saya baik-baik saja jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan saya." Lanjutnya Dhita lalu meninggal kan ruangan itu yang kini di isi oleh orang itu seorang.


Selama perjalanan baru kali ini ia merasa bahwa pergelangan tangannya sedikit nyeri namun tidak membangkitkan memori ingatan itu. Rasanya seperti ada yang hilang telah kembali.


Tapi apa yang hilang dan apa yang telah kembali? Dhita kembali mengusapkan tangannya ke pergelangan tangan satunya yang masih bisa ia rasakan bekas genggaman orang itu tadi.


Sepertinya memang benar aku harus mengurus surat cuti agar bisa menjernihkan pikiran ini. Sudah lama juga kan tidak libur. Apa cutinya panjang aja ya?


Ya, Dhita suka liburan apalagi kalau panjang sepertinya itu bagus. Apa ia undang sahabatnya juga ya sekalian ngatur jadwal liburan? Sepertinya itu ide bagus.


Dhita bukannya pulang iya langsung bekerja setelah keluar dari ruangan UGD tadi. Siapa yang betah istirahat kalau ia masih punya banyak tanggungjawab di sini. Kalau pun harus beristirahat bukan di sini melainkan di rumah karena ia benci kalau harus di rawat di sini.


Rasanya seperti bayangan gelap menutup seluruh tubuhnya yang terasa dingin hingga tidak dapat lagi kehangatan masuk ke dalam sana.