
..."Sakit bukan berarti cuma sakit biasa, mungkin kalian tau sakit itu banyak penjabarannya. Dan ketika kamu merasakan sakit itu terus menerus, maka akan lelah dengan sendirinya dan melawan balik, agar rasa sakit itu tidak lagi membuatmu tersakiti."...
...Adhistha Agattha...
.........
Di keesokkan paginya Dhita terbangun di pagi buta dan langsung bergegas pergi dari rumah sakit itu, entah kemana tujuannya. Ia tidak tahu ia hanya ingin pergi sejauh-jauhnya dari kota ini.
Dhita hanya ingin menghilang dari pekerjaannya maupun orang-orang yang saat ini sedang mencarinya.
***
Beberapa hari pun berlalu, sekarang Dhita sedang menjalankan ship kerjanya. Karena banyak sekali anggota keluarga pasien ke rumah sakit membuat suasana RS menjadi ramai namun masih di batasi.
Dhita saat ini sedang mengunjungi beberapa ruangan rawat inap yang harus ia cek kesehatan dan perkembangan pasien-pasiennya di sana. Disinilah Dhita sekarang di ruangan inap salah satu anak kecil yang mengidap kanker leukimia stadium lanjut.
Dhita sama sekali tidak pernah melunturkan senyum manisnya dihadapan anak kecil yang setiap saat kondisi tubuhnya selalu menurun drastis.
"Halo Tia. Bagaiman keadaanmu sekarang?" Dhita bertanya pada gadis kecil itu ramah karena ia sedikit dekat dengan gadis kecil itu.
"Mendingan kok, Kakak cantik." Jawab gadis itu menunjukan senyum cerianya ketika Dhita datang keruangannya.
"Wahhh.. tapi tetap banyak istirahat dan jangan pergi sembarangan. Janji?" Kali ini Dhita mengacungkan jari kelingkingnya membuat sebuah perjanjian pada gadis bernama Tia itu.
"Tia janji." Ucapnya sambil menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Dhita antusias.
"Okey, sekarang kakak cek dulu kondisi kamu ya." Ucapnya pada Tia sembari mengeluarkan stetoskopnya untuk mengecek tubuh gadis kecil di depannya itu.
Setelah selesai mencek tubuh Tia, Dhita langsung menuju bagian depan ranjang di ruang inap itu mengambil data perkembangan Tia yang terpasang di sana.
Dhita terkejut dengan hasilnya. Bagaimana bisa semakin parah. Namun Dhita masih bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya agar Tia tidak perlu khawatir atau menyerahkan dalam menjalani hidupnya. Dhita selalu mensupport Tia agar tidak menyerah dengan kata-katanya yang optimis.
Dhita selalu seperti itu namun ia tidak memahami dirinya sendiri yang harus ia beri kata-kata optimisnya itu sendiri, malah membelenggu dirinya dan juga kebebasannya hanya untuk menghilangkan rasa bersalahnya, juga keinginan orang tuanya yang mungkin terlihat egois dan hanya mementingkan dua anaknya saja, tidak dengan Dhita di sini.
Sebenarnya setiap malam ia hanya menangis di ruangan yang gelap tanpa sedikitpun pencahayaan dan bangun di pagi hari seperti mayat hidup yang tidak memiliki semangat hidup lagi.
"Bagaimana Kakak cantik? Hasilnya bagus?" Tia menyunggingkan senyuman indah yang ingin mendengarkan hasil kesehatannya.
"Hasilnya bagus. Jadi banyakin istirahat jangan keluar kamar kecuali bersama perawat, oke." Dhita pun menjelaskannya dengan singkat dan juga senyum tulusnya padahal di setiap kalimat itu hanya lah kebohongan kecil yang berdampak besar nantinya.
Wajah Tia langsung bersinar ketika mendengar kata-kata Dhita dan dengan antusias mengangguk dengan cepat.
Dhita terlihat sedikit muram namun masih bisa bersikap profesional layaknya robot yang bekerja dengan ekspresi kaku namun masih bisa terdengar baik-baik saja.
Setelah ini Dhita hanya akan mencek satu ruangan rawat inap lagi dan setelah itu jam kerjanya berakhir. Dhita menjalaninya dengan cepat agar ia cepat keluar dari kandang setan ini.
Namun sebelum ia sempat pergi menuju ruang rawat inap itu tidak sengaja ada seorang yang menabraknya tetapi orang yang menabraknya tadi yang malah terjatuh.
"Punya mata enggak sih, Lo!!! Jadi dokter aja belagu." Sentak orang itu dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Heh!!! Lo bisu?! Jawab!!! Bodoh kok di pelihara Hah!!" Bentak orang tak punya akal itu sama aja kayak orang gila, bukan.
'Ia yang di tabrak kok dia yang sewot sih' batin Dhita ketika orang di depannya ini malah mengomelinya tidak jelas.
Dhita yang mendapatkan itu hanya diam menerima semua makian itu tanpa membalasnya maupun merasa bersalah sedikitpun, lagi pula kalau monyet ngamuk jangan di pancing nanti jadi Dugong.
Dhita mendengarkan saja lalu merasa waktunya terbuang sia-sia Dhita langsung memotong kalimat orang didepannya tanpa sedikitpunĀ berkata-kata yang hanya membuatnya semakin tidak ingin mengerjakan tugas terakhirnya.
"Sudah selesai? Kalau sudah saya permisi." Dhita membungkuk sedikit tubuhnya lalu berlalu meninggalkan wanita yang mulut nya seperti terompet kurang minyak.
"Lo..." Belum sempat ia memaki Dhita lagi langsung bungkam karena di perhatikan oleh orang-orang yang berjalan di koridor RS.
.
.
.
Akhirnya ship kerja Dhita berakhir ketika jam menunjukkan tepat pukul lima sore. Setiap hari ia memiliki shio yang berbeda karena hari ini ship ia ship malam jadi pulangnya jam lima kalau ship pagi mungkin bakal pulang lebih lama dari ini.
Dhita mengemasi barang-barangnya kedalam tas. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan terdapat seseorang tengah berdiri di sana dan menatapnya lekat.
"Kamu pulang?" Tanya seseorang itu dengan melihat tangan Dhita dan juga jas Dhita yang sudah tergantung rapi.
Dhita mengangguk lalu berjalan menuju pintu. Ketika ingin melewati pintu orang yang masih berada di dekat pintu itu mencekal tangannya.
"Jangan lupa kamu bakal ikut seminar bulan depan!" Galang yang masih mencekal tangan Dhita menatapnya dengan intens itu membuat Dhita merasa tidak nyaman.
"Hmmm..." Gumam Dhita saat tangannya merasa sedikit berkeringat dingin menahan gejolak tidak enak dan juga munculnya percikan bayangan.
"Sudah tau lepasin tangan aku Gal." Lanjut Dhita tanpa mau membuat waktunya terbuang lebih lama lagi.
Semakin ia berada di dalam lingkup ini semakin mudah ia terjatuh tidak berdaya. Dhita harus pergi dari tempat ini sebelum hatinya kembali merasa sakit.
Galang masih belum melepaskan tangan Dhita langsung Dhita sentakan tangannya yang di cekal oleh Galang agar terlepas lalu pergi dari ruangannya tanpa sedikitpun merasa bersalah.
Sebenarnya Dhita tidak terlalu mempermasalahkan apapun tapi karena saat ini ia sedang tidak baik-baik saja. Saat ini Dhita tinggal di sebuah penthouse miliknya pribadi karena semenjak beberapa bulan yang lalu sudah selesai di renovasi. Memilih menyendiri di dalam sana hanya agar ia tidak dapat mendengar berita tentang orang-orang itu lagi.
Dhita menjalankan mobilnya cukup cepat agar ia bisa kembali ke penthouse nya lebih cepat, karena semakin lama ia memendamnya semakin ia merasa kalau ia tidak berguna di mata siapapun.
Sesampainya di parkiran Dhita langsung memarkirkannya dan berjalan masuk kedalam gedung yang merupakan tempat dimana penthouse nya berada. Dhita memasuki lift dan memencet nomor 33 yang merupakan lantai tertinggi di gedung itu.
Ini merupakan gedung APT A.G.T Crop. Yaitu cabang gedung apartemen yang di jual per tempatnya di Indonesia.
Dhita memasuki rumahnya dengan tenang. Ia suka kesepian daripada keramaian. Karena kesepian selalu mewakili jiwanya yang hampa.
Dhita langsung masuk ke kamarnya. Melakukan rutinitasnya yaitu mandi, setelah itu memasak makanan sedikit untuk mengganjal perutnya yang sudah minta di isi.
Dhita mengambil keperluannya sebelum mandi lalu, memasuki kamar mandi yang lengkap dengan bathtub, juga shower dan jangan lupa walk in closet yang terhubung langsung dengan kamar mandi. Namun Dhita terbiasa membawa pakaiannya sebelum mandi jadi walk in closet itu jarang ia gunakan setelah mandi.
Kalau ada perlu keluar misalnya ia akan jarang mandi dan hanya memakai baju baru tidak lupa ia mandi parfum agar tidak di ketahui oleh orang-orang kalau ia males mandi. Itu berlaku ketika ada acara mendadak dan malas untuk mandi pagi.
Setelah selesai mandi, sudah berpakaian lengkap Dhita langsung menuju kitchen set yang lengkap dengan atributnya. Dhita membuka lemari atas dan menemukan mie instan. Dhita pun langsung memasaknya.
Selama ia tinggal sendiri ia jarang sekali makan-makanan yang ia buat sendiri lebih memilih makan di luar. Karena di rumahnya hanya tersedia buah-buahan saja.
Tidak lama kemudian mie yang Dhita rebus akhirnya matang. Dhita pun menyajikannya dalam piring yang sudah ia ambil lalu membuat bumbu-bumbu pelengkap tidak lupa mencampurkan sayur-sayuran, tinggal di santap deh. Dhita memakannya dengan tanpa terganggu sama sekali.
Setelah selesai memakan makanannya, Dhita mencuci bekas piring kotornya tadi lalu berniat menuju balkon untuk melihat bintang-bintang di atas sana yang begitu bersinar malam ini.
Dhita membuka pintu balkon tiba-tiba angin kencang berhembus menerpa wajah dan juga rambutnya yang sedikit terkibar terkena angin itu. Sebelum keluar menuju balkon Dhita masuk kedalam kamarnya mengambil selimut agar tidak kedinginan nantinya di balkon.
Setelah apa yang ia inginkan sudah ia bawa Dhita langsung membungkus dirinya lalu duduk di kursi balkon yang sudah lama tersedia di sana.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Karena Dhita asik menikmati pemandangan yang tersuguh di depan matanya ia tidak melihat isi pesan itu ataupun beranjak masuk untuk mengambil ponselnya di atas meja makan.
Tring...
Ka Randi
"Ada waktu? Bisa kita ketemu?"
...****************...
Begitulah isi pesan yang masuk di ponsel Dhita.Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Dhita masih memandangi langit malam yang sangat indah dari ketinggian itu.
Entah kenapa tiba-tiba bayangan tentang kejadian di masa-masa itu berdatangan tanpa Dhita mau.
***
FLASHBACK
15 tahun yang lalu....
Pagi itu Dhita bangun dengan wajah yang bersinar ketika ia mengingat janji kakaknya kemarin yang mereka berdua sepakati.
Dhita langsung melompat dari tempat tidurnya berlari menuju kamar mandi untuk mandi, karena ia ingin membangunkan kakaknya yang biasanya molor tidak ingat waktu sama sekali.
Tidak perlu waktu lama Dhita mandi dan sekarang ia telah berpakaian lengkap. Dhita langsung saja berlari menuju kamar kakaknya yang tidak jauh dari kamarnya.
Dhita tidak mengetuk pintu kamar kakaknya dan langsung masuk tanpa ijin. Begitulah kelakuan Dhita kepada kakaknya dulu.
Dhita yang memiliki tingkat jail yang super jail jadi ia langsung mengendap-endap menaiki kasur kakaknya dan berdiri di sana, lalu....
1...
2...
"KAKAK!!! MAIN!!!.. MAIN!!!... MAIN!!!..." Teriak Dhita sambil meloncat-loncat di atas kasur kakaknya itu dan membuat sang empunya kasur terbangun dengan terduduk dengan wajah bantal. Tanpa merasa bersalah langsung meloncat turun dari kasur itu dan berdiri di sisi kasur yang tidak di gunakan oleh kakaknya itu.
1... 2... 3...
Bakal ada yang mengejar Dhita setelah ini.
"Dhitaaa..." Pekik Veren dengan wajah batal yang masih terlihat ilernya yang mengalir.
Dhita yang sudah siap kabur pun langsung loncat dan Jambur dari dalam kamar kakaknya, mereka berdua pun berakhir dengan kejar-kejaran.
"S-stop Kak!" Dengan terbata Dhita yang kehabisan pasokan udara akibat berlari menghindari kakaknya itu memilih berhenti.
Veren pun berhenti tepat di samping adiknya. Karena staminanya untuk kejar-kejaran dengan adiknya ini hanya berpengaruh sedikit karena ia laki-laki.
"Siapa suruh sih." Ucapnya sambil mengusap-usap rambut Dhita dengan sayang.
"Huh!" Dhita mendecak sebal pada kakaknya itu sambil menggembungkan pipinya dan membuang wajahnya ke arah berlawanan.
"Hahahaha...." Tawa Veren pun pecah membuat Dhita yang tadinya mendecak sebel pun berpaling menghadap Veren lalu memukul pundak Veren pelan sambil membelalakkan matanya ke arah Veren yang tidak langsung mengejeknya dengan suara tawanya.
Dhita yang melihat bayangan-bayangan itu berputar bagaikan kaset rusak di dalam kepala Dhita.
Tiba-tiba...
FLASHBACK END
***
Cringggg....
Cringggg...
Cringggg...
Bunyi alarm membangun kan Dhita di pagi ini.
Haahh... Hah... Hah..
Dhita terbangun dengan air mata yang mengalir turun dari matanya. Bagaimana tidak, ia mengingat kejadian dimana seharusnya ia tidak terlalu dekat dengan kakaknya atau memilih membuat jarak dengannya dari pada membuatnya seperti itu.
Kecelakaan yang menimpa kakaknya dulu, ingatannya tentang kejadian-kejadian yang ia lewati bersamanya membuat dada Dhita seperti ditusuk sebilah benda tajam yang di tekan sangat kuat dan ditaburi garam yang membuatnya sangat-sangat perih.
Dhita menangis dalam, diam rasanya ia tidak bisa berangkat kerja nantinya karena matanya membengkak dengan sempurna.
Dhita memutuskan untuk tidak pergi kerja terlebih dahulu untuk hari ini. Ia lelah. Lelah menghadapi semua masalahnya, lelah harus berusaha baik-baik saja, lelah karena diabaikan. Dhita lelah dengan semuanya.
Memilih untuk tidur seharian atau lebih tepatnya mengistirahatkan pikirannya, namun sayang ingatan-ingatan itu berputar setiap kali Dhita melamun ataupun memejamkan matanya.
Sudah lebih dari 15 tahun Dhita menahan semua itu. Dan sudah 15 tahun pula Dhita tidak sama sekali bertemu atau menemui mereka. Dhita selalu pulang pergi Amerika namun tidak sekalipun mengunjungi mereka di sana. Untuk apa juga ia mengunjungi mereka sedangkan mereka tidak pernah menemui ataupun mengunjunginya ketika ia dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Saat ini Dhita meringkuk di atas tempat tidur menumpahkan semua rasa sesak di dadanya yang membuncah tidak tertahankan lagi. Semenjak kejadian beberapa hari lalu ketika berita tantang keluarga Mizathan yang menjadi penduduk kekayaan ke-15 di Amerika berita tentang itu terdengar sampai ke Indonesia.
Mau bagaimana dunia selalu berputar. Dan Dhita tetap berada di Indonesia sedangkan pekerjaannya sebagai pengusaha ia serahkan kepada sekertaris pribadi sekaligus asistennya di Amerika.
Semakin Dhita menginginkan menemui mereka maka sebagian dari dirinya lagi menginginkan Dhita menghindarinya. Dhita sakit mereka selalu mendapat kabar tapi pura-pura menutup telinga mereka. Mungkin ia memang tidka pantas berada di dalam keluarga itu.
Dhita berusaha untuk menghindarinya, namun waktu selalu mempertemukan mereka yang seperti orang yang tidak saling mengenal. Senyum palsu selalu terpatri di wajah mereka satu sama lain.
Semakin Dhita menahan diri untuk menemani mereka maka semakin besar pula rasa sakit akibat ingatan-ingatan yang membuat Dhita tidak sanggup menemui mereka.
Dhita masih menangis. Menangis tidak membuat Dhita lega melainkan hanya menahan sebentar rasa sakit yang setiap saat membuatnya menjadi seperti saat ini. Menangis, menangis dan menangis.
...***...
Seorang pria tengah turun dari jet pribadinya di sebuah bandara internasional di Jakarta. Pria mengunakan pakaian hitam tidak lupa kacamata hitam bertengger di hidungnya yang mancung, menambah kesan cool dari sang pria itu.
Berjalan cepat melewati pintu menuju lobi bandara. Di sebelahnya terdapat seorang pria berpakaian formal sedang menjelaskan beberapa pekerjaan yang harus ia teliti nantinya.
Beberapa hari yang lalu sang pria di telpon oleh seseorang dan menyuruhnya ke sini. Ya, Indonesia. Sekarang lebih tepatnya ia berada di bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Berjalan menuju parkiran mengambil mobil sport mewah nya. Ia tidak suka menunggu atau harus menunggui anak buahnya membawa mobilnya.
Orang yang tadi berada di sebelahnya pun ikut masuk ke dalam mobil. Ya, itu assisten pribadi pria itu. Reza-asisten pribadi sekaligus kerabat jauh Astra.
Siapa yang tidak kenal ASTRA DEVANDRA PUTRA pengusaha yang berkecimpung dalam dunia gelap pembisnis yang menggunakan trik-trik jahat agar perusahannya menjadi lebih dan lebih dari perusahaan yang ingin menyainginya.
Tatapan tajam, dan sikap angkuh membuat Astra di sebut Devil Cold. Sekarang ia berada di sebuah gedung apartemen yang sudah ia beli dari seorang pengusaha diluar sana yang memiliki cabang gedung apartemen di Indonesia.
"Oke, di sini hanya kita berdua, jadi anda bisa menggunakan bahasa non formal itu, Rez." Ucapnya melangkah masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Ya, satu hari setelah ia membeli apartemen ini Astra sudah merenovasi beberapa bagian yang akan sering ia pakai.
Reza yang awalnya berdiri di samping Astra terus-menerus pun menunduk lalu mengubah raut wajahnya dalam sekejap.
"Fyuuhh... Lo bikin gua jadi manekin kampret." Mengeluarkan segala unek-unek dalam kepalanya dengan berapi-api.
Astra hanya menatap Reza lalu memandang lurus ke depan. Entah apa yang ia pikirkan tetapi itu membuat Reza merasa terusik karena tidak mendapat respon dari Astra.
Masih menggunakan kaca matanya Astra pun duduk tanpa terusik akibat dari Reza yang sudah menduduki kursi sebelahnya dengan tidak wajar.
Reza atau lebih tepatnya sepupu Astra ini sering sekali mengikuti Astra kemanapun menjadi dalang pembuat masalah pun ia lakukan asal ia mendapatkan uang. Karena uang dapat membeli segalanya di dunia ini, namun tidak dapat membeli waktu yang sudah berlalu.
Reza yang melihat ke arah Astra langsung menepuk bahunya agar tersadar kembali dari lamunannya.
"Apa sih yang Lo pikirin?" Tanya Reza penasaran karena semenjak ia kenal Astra dari kecil. Laki-laki itu jarang sekali menunjukkan emosi atau pemikirannya tentang apapun itu. Selalu menunjukannya dengan bersikap ataupun mengungkapkannya dengan gerakan mata, juga tangan dan kakinya.
Astra hanya menoleh lalu kembali fokus menatap ke depan entah apa yang ia lihat.
Langsung saja Astra membuka kaca matanya, menghadap ke Reza tanpa berniat mengungkapkan isi kepalanya. Namun, ia teringat dengan sesuatu.
"Saya mau kamu mencari tahu tentang anak yang bernama Adhistha Agattha, saya mau besok sudah ada di depan saya." Ucap Astra angkuh lalu berdiri dan menyeret kopernya menuju kamar yang tidak jauh dari sana.
'Balik jadi batu nih anak.' batin Reza merasa kalau Astra tetaplah Astra yang tidak dapat tersentuh sama sekali.
Reza langsung menelpon salah satu anak buah dari Astra yang berada di sekitar tempat mereka saat ini. Ya, mereka mengajak beberapa anak buah Astra dari organisasi mafia yang selalu berkembang di luaran sana.
Reza menyuruh anak buah itu mencari siapa dan apa yang membuat sepupunya itu ngebet banget pengen tahu sendiri orang yang menjadikannya penasaran sampai tidak ingin membuka sesuatu yang ia sembunyikan.
Paman-ayah Astra menyuruhnya untuk mengikuti dan mendampingi Astra kapan pun dan dimana pun Astra saat ini. Mau tidak mau Reza harus turun tangan.
...***...
Disisi lain Dhita sedang berada di kitchen set di penthouse. Sekarang Dhita tengah memasak makanan simpel yaitu nasi goreng mata sapi.
Asik memasak tiba-tiba ponselnya berbunyi lagi.
Ting...
Dhita pun membukanya dan isinya.
081xxxxxxxxx
"Apa kamu memiliki waktu nanti?"
"Bisa ketemuan?"
"Ini kakak, Dhis! Jangan abaikan kakak."
"..."
"..."
Begitulah isi dari pesan masuk yang membaut Dhita tidak baik-baik saja.
Dhita yang belum selesai membaca itu langsung melangkah mundur dan terduduk di lantai sambil mengeluarkan airnya yang tidka dapat ia bendung.
Dhita melipat kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di lipatan tangan nya.
Ia tidak ingin melihat ataupun mengetahui kabar itu lagi. Dhita tidak ingin.
Awal segalanya berubah ketika ingatannya tentang kakaknya yang satunya lagi, membuat dirinya semakin sakit pasalnya kakaknya hanay diam ketika dirinya di pukuli dengan rotan dan juga di tampar oleh mamanya sendiri.
Rasa itu bagaikan pedang yang menerjangnya dari dua arah.
Kini hari mulai menjelang siang namun tangis Dhita masih belum juga berhenti namun sudah mulai mereda.
Namun hatinya masih sakit ketika mengingat kejadian waktu itu, sampai-sampai ia tidak mampu lagi untuk bertahan di titik ini terus-menerus.