
..."Di saat aku memulai semuanya dari awal kembali kenapa harus ada memori yang terputar di dalam benakku. Harapan ku saat ini hanyalah terbebas dari masa lalu, namun sayangnya itu semua hanay harapan belaka."...
...Adhistha Agattha...
.......
.......
.......
Beberapa jam kemudian...
Dhita yang sudah berhenti menangis pun memutuskan untuk tidur dan memulai aktivitas biasanya di lakukan oleh seorang dokter.
Entah kenapa rasa kantuknya menjalar dengan cepat ke seluruh tubuhnya. Semenjak itu pikiran tentang masa lalunya berangsur-angsur menghilang tanpa jejak.
...***...
Pagi harinya...
Di saat jam masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Dhita tiba-tiba saja di telpon oleh RS kalau ada rapat anggota dewan dan para dokter di rumah sakit ikut andil dalam rapat tertutup itu.
Karena hanya tinggal seminggu lagi waktu untuk mempersiapkan materi untuk di tanyakan di dalam seminar yang akan ia datangi beserta beberapa orang lainnya yang ikut dipilih oleh RS.
Hari ini Dhita memang memiliki shipnya pagi tapi bukan subuh dini hari. Mau bagaimana, Dhita sudah memilih untuk mengulur waktu lagi hingga orang tuanya menemuinya dan mengajaknya kembali. 15 tahun. Itu bukan waktu yang singkat. Dhita berusaha bersabar dan mengikuti semua keinginan orang tuanya tanpa mereka ketahui.
Dhita berjalan di koridor RS tiba-tiba ia melihat ada dua orang menggunakan jas rapi sedang mengobrol dengan Galang. Profesor sekaligus teman bicara Dhita di RS ini.
Tiba-tiba Galang memanggilnya dengan tangan yang melambai-lambaikan tangannya. Dhita yang melihat itu langsung menatap datar. Bisa-bisanya sudah hampir kepala 4 masih kelakuannya kayak anak kecil.
Dhita langsung menghampiri Galang yang bersama dua orang yang tidak ia kenal itu. Berdiri di samping Galang tanpa mengucapkan sepatah kata-kata pun. Dhita melihat dari atas sampai ke bawah semuanya normal.
Tiba-tiba pandangannya kini tertuju pada mata elang sang pria yang menggunakan kaca mata hitam. Seperti pernah bertemu namun dimana gitu.
"Ini Dhita. Dokter spesialis bedah yang terbaik di sini." Galang memperkenal kan diriku pada dua orang di depannya itu.
Kedua orang itu hanya menganggukkan kepalanya sekilas lalu membahas sesuatu yang membuat Dhita sedikit ikut dalam percakapan itu.
"Saya... Adhistha Agattha dari spesialis bedah. Semoga bisa membantu." Dhita mengulurkan tangannya sebagai perkenalan kepada dua orang tadi.
"Mau kamu spesialis bedah atau apapun, saya tidka perduli yang saya perlukan adalah orang yang berguna." Skakmat kata-kata itu menusuk hati Dhita. Orang yang sedari tadi masukkan tangannya di dalam saku celananya yang berucap seperti itu.
Dhita yang merasa di sindir langsung merasa nyeri di ulu hatinya seperti ada benda tajam yang menusuknya ketika kalimat itu ia dengar.
"Maksud anda apa ya?" Tanya Dhita merasa kalau orang di depannya ini mengetahui apa yang selama ini ia sembunyikan.
"..."
Tidak ada jawab hanya ada tatapan mata yang tajam memperhatikan Dhita tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Dhita
'Dasar orang aneh!' batin Dhita membalas tatapan orang yang tadi mati-matian menyindirnya.
"Saya pergi dulu. Masih ada kerjaan soalnya."
Dhita pamit pergi meninggalkan ketiga orang yang aneh menurut Dhita, sebenarnya itu hanya alibi semata agar ia terhindar dari orang yang meremehkannya hanya dari melihat penampilannya itu.
Hal yang tidak Dhita suka adalah ketika orang hanya menilainya dari luar dan memanfaatkan nya ketika sudah mengenalnya.
Sebenarnya Dhita bukan tipe orang yang lost respect atau apalah itu. Dhita hanya tidka terbiasa dengan keadaan orang yang dekat dengannya kecuali sahabat-sahabatnya.
Sebenarnya tugas Dhita dimulai 1 jam lagi, tapi Dhita tidak ingin berlama-lama mendengarkan sindiran itu lagi. Ia sudah lelah di maki dan di hina anak haram dan sebagainya. Dari semenjak ia di buang atau lebih tepatnya di tinggal di tempat yang tidak memiliki siapapun yang berada disisinya atau yang ia kenal sedikitpun.
Dhita sudah muak dengan sindiran-sindiran itu. Banyak yang mengatakan kalau Dhita ****** lah, apalah karena memiliki uang yang banyak namun tidak terlihat usahanya. Pernah selama ia pulang ke Padang ibu-ibu di desa itu ngerumpi sekalian ngegosip bareng pas di depan Dhita sambil menyebut-nyebut namanya dengan keras seperti menyindir dirinya yang tidak ada apa-apanya itu.
"Hay, Tha?" Sarah menepuk pundak Dhita, Dhita pun langsung tersadar dari lamunannya.
Dhita menatap ke sekeliling. Sepertinya ia berjalan keluar RS padahal niatnya tadi mau keruangannya.
"Ya, Sar. Kamu baru datang?" Tanya Dhita. Sukses membuat Sarah terkejut padahal ia sudah berada di sini dari malam karena menggantikan ship Dhita yang kemaren.
"Enggak, baru kok." Ucap Sarah lesu. Kok bisa ni anak lupa kalau ship nya di lempar pada dirinya coba.
Mendengar jawaban dari Sarah, Dhita langsung menepuk jidatnya.
'Astaga. Kok bisa lo enggak respon sih, Dhita!' batinnya merutukki dirinya sendiri.
Dhita meringis sendiri saat menyadarinya yang salah memilih jalan tadinya. Dhita pun langsung berjalan beriringan dengan Sarah, ia memutar arah dan harus bertemu lagi dengan pra aneh yang tidak sama sekali ia kenal itu
Dhita dan Sarah terlihat sedang membahas sesuatu yang serius terlihat dari pandangan mereka yang sedang fokus membahas hal yang tidak bisa di dengar oleh pria itu. Tapi setelah semakin lama ia samar-samar mendengar sedikit pembicaraan mereka.
Pria itu mengernyitkan alisnya, merasa yang dibahas oleh dua sekawan itu hal yang sangat-sangat tidak penting, bahkan mampu di jawab oleh orang awam sekalipun.
Pria itu kembali mendengar suara itu namun samar-samar. Pria itu seakan kembali dalam pembicaraannya dengan Galang di depannya. Kenapa ia harus memikirkan gadis itu sih.
'Rasanya ia pernah bertemu dengan gadis itu tapi dimana?!' batin Astra sambil memandangi gadis yang tadi ia cibir dengan kata-kata yang menyinggung gadis itu.
Ya, pria itu adalah Astra Devandra Putra. Ia sudaha berada di RS ini. Temannya itu sungguh membingungkan.
Terkadang ia berfikir. Bagaimana bisa ia berteman dengan gadis pendiam dan dingin namun memiliki banyak sekali kejutan di dalamnya. Terkadang ia bisa tertawa namun pembawaannya yang serius sering kali Astra menjadi bahan percobaan gadis licik itu.
Yah, mau bagaimana lagi. Ia dan satu sahabatnya yang bernama Arneone Adiaksara Wijaya. Mereka memang memiliki kelebihan yaitu mampu bertahan walau berada di ambang kematian. Mereka sering mempertaruhkan nyawa mereka untuk melakukan apapun.
Gadis gila yang menjadi temannya itu selalu membuat Astra menggeleng-gelengkan kepalanya bila bertemu gadis itu, pasalnya ketika bertemu bukannya menanyakan kabar gadis itu malah memberikan obat bius lalu memasukkannya kedalam lab penelitian.
Sungguh ia merasa sangat-sangat temannya itu sungguh tidak etis dalam hal meminta ataupun memberikan sesuatu.
Semakin ditanya semakin ngelunjak itu si gadis gila. Eh, jangan salah sangka ya. Gadis itu baik kok, ia malah menguji coba sesuatu yang dapat membuat kekebalan terhadap racun di dalam tubuhnya. Karena sebelum ia menjadi bahan uji coba. Gadis itu mencobanya terlebih dulu dalam dirinya sendiri setelah itu memberikannya kepada orang yang berada di sekitarnya agar tidak membuat mereka merasa kesakitan ketika sebuah racun masuk kedalam tubuh mereka.
"Bagaimana apa anda tertarik tetap berada di RS ini?" Pertanyaan yang Galang utarakan membuat Astra tersadar dari lamunannya.
"Saya terima." Jawabnya singkat sambil mengulurkan tangannya deal or deal.
Astra langsung meninggalkan RS itu setelah menjabat tangan Galang selaku profesor dan juga kepada bagian di RS tempat Dhita bekerja.
Entah kenapa seseorang yang melihat itu seperti ada sesuatu yang di sembunyikan dari raut wajah yang serius dan juga jabat tangan mereka yang sedang terjadi tadi membuat asumsi seseorang yang sempat melihat mereka merasa sangat-sangat tidak lazim apa lagi pria tadi memakai baju formal kantoran.
Ya orang yang mengintip interaksi itu adalah Dhita yang bersembunyi di balik dinding yang sedang menajamkan pendengarannya.
...***...
Sesampainya di ruangan kerja milik Dhita. Dhita mendapati Sarah masih mengecek datanya di sebuah iPad milik rumah sakit. Dhita langsung mendekati Sarah yang matanya masih fokus dengan iPad itu.
"Sar. Kamu dengar kalau ada dokter yang mau kerja disini ga?" Tanya Dhita yang sedikit penasaran dengan dokter itu.
Masa sih orang tadi mau jadi dokter disini coba. Pakaiannya aja kayak orang kantoran loh masa mau kerja jadi dokter yang menguras tenaga sih ya.
Entah lah Dhita tidak perduli.
"Enggak tuh dok. Biasanya di departemen perawat biasanya heboh kalau kedatangan dokter gitu." Ucap Sarah yang matanya sudah menghadap Dhita yang menanyakan hal yang tidak jelas kepadanya.
"Ya, sudah lanjutkan tugasmu." Ucap Dhita lalu Sarah langsung kembali menatap iPad-nya yang sempat teralihkan ke Dhita.
Dhita yang masih memandangi Sarah langsung berjalan menuju meja kerjanya karena penasaran ia berusaha memikirkan pria itu namun ia melupakan kalau ada operasi setelah ini.