YOU BETTER MISS?

YOU BETTER MISS?
BUKAN AWAL YANG BARU



..."Kuat, bukan berarti kuat otot. Lemah, bukan berarti ia pecundang. Hebat, hebat apa dia yang hanya meninggalkan bekas luka. Sekuat apapun kamu menyimpan rasa sakit akhirnya kamu akan terjatuh ketitik paling terendah yang menghancurkan semua pondasi yang sudah di buat bertahun-tahun."...


...Adhistha Agattha...


.........


Setelah memilih pulang duluan Dhita mampir ke sebuah Cafe Frowall untuk membeli Trust latte yaitu minuman teh susu yang memiliki rasa stroberi dan madu di dalamnya.


Ia menghabiskan waktu sendiri setelah meet time dengan teman-temannya. Setelah selesai memesan minuman itu Dhita melajukan mobilnya pulang, dan melakukan rutinitas biasanya.


...***...


Hari berganti hari...


Keesokkan paginya dimana merupakan hari yang pasti melelahkan setalah weekend. Dhita mengawali harinya dengan berusaha menahan semua traumanya walaupun menyiksa. Rumah sakit adalah tempat dimana sekian kalinya ingatan-ingatan menyakitkan itu selalu menghantuinya.


Dhita mengambil nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. Entah setelah hampir 15 tahun berlalu perasaan tersiksa ini terus membelenggunya. Dhita berusaha menetralisir rasa sakit itu.


Sudah sekian kali bahkan mungkin puluhan kali ia harus mengatasinya. Sering mengunjungi psikiater karena traumanya sungguh menganggu untuk beberapa tahun terakhir. Banyak psikiater menyarankannya untuk melakukan metode lain selain menggunakan obat-obatan. Namun Dhita masih membutuhkan obat itu karena tidak ada kriteria yang sesuai dengan metode yang disarankan mereka.


Tidak terasa hari berlalu begitu cepat dan sekarang malam pun tiba. Biasanya Dhita menghabiskan waktu di RS sembari membiasakan dirinya terhadap traumanya itu.


Dhita baru saja selesai melakukan operasi jantung seorang pasien yang sudah berada di RS ini selama seminggu yang lalu. Kena jam sudah menunjukkan pukul delapan malam jadi Dhita memutuskan untuk pergi ke luar RS sebentar untuk membeli makan karena perutnya sudah berbunyi meminta di sisi kembali, karena Dhita menginginkan bakso Mang Joko di ujung jalan yang berada di sebelah universitas swasta terbesar di Jakarta yang tidak jauh dari RS jadi Dhita memutuskan untuk pergi ke sana.


Bulan yang menerangi malamnya yang sepi menambah kesan kesendirian yang sekarang Dhita rasakan.


Haaah...


Dhita menghela nafas panjang sambil meresapi udara malam yang mulai dingin.


Di dalam mobil Dhita hanya sering menghabiskan waktunya sambil menunggu lampu merah, hanya membuka ponsel genggamnya lalu membuka email-email yang masuk.


Dhita tidak pernah memiliki waktu istirahat yang banyak semenjak 7 tahun terakhir atau mungkin lebih Dhita tidak pernah menghitungnya.


Setelah sekian lama entah kenapa ia mulai kangen dengan suasana dulu, ketika ia masih bersama papah, mama dan kakak-kakaknya.


Dhita mulai memandang lurus, mengenang masa-masa dimana keluarga mereka yang harmonis yang hancur akibat kesalahan satu kali yang dulu Dhita perbuat. Bukan, kesalahan orang yang menabrak kakak Veren hingga orang tuanya yang malah menyalahkan dirinya di titik itu sekarang Dhita paham dimana ia berada dan titik dimana keluarganya yang dulu selalu ada dan bahagia kini pergi tanpa mau kembali.


Tinnn... Tinnn...


Bunyi klakson mobil menyadarkan Dhita dari lamunannya.


'Mengapa juga harus mengingat mereka!' batin Dhita lalu menjalankan mobilnya menuju tempat ia inginkan tadi.


Sesampainya di tempat Mang Joko Dhita langsung memesan satu porsi bakso ayam dan bakso sapi yang di campur. Dhita memang makannya sedikit dan lebih memilih minum yogurt ketimbang minum susu biasa. Makanan sehari-harinya saja salad buah atau tidak salad sayur.


Dhita menikmati makanannya tanpa sedikitpun menyisakan makanan itu yang sudah tersisa sedikit kuah dari bakso itu. Dhita selalu menyukai bakso buatan Mang Joko yang selalu langganannya ini. Setelah selesai Dhita langsung membayar.


"Neng, ini kembaliannya." Kata Mang Joko. Dhita yang masih duduk di kursi yang dekat dengan Mang Joko itu langsung menatap Mang Joko yang tengah menyodorkan uang kembaliannya.


"Enggak usah pakai kembalian, Mang! Bungkus satu lagi aja. Uang sisanya kalau masih lebihan buat Mang Joko aja." Dhita menolak uang kembalian yang masih ada sekitar delapan puluh ribu. Entah kenapa Dhita tidak ingin menerima uang kembalian, selalu meminta membeli satu bungkus lagi lalu di bawa pulang.


Dhita selalu memberikan sedekah dengan sisa uangnya tetapi ia membeli sesuatu kalau kelebihan uangnya biasanya di berikan untuk sang penjualnya saja.


"Neng. Tapi ini banyak banget sisanya." Tolak Mang Joko pada Dhita. Dhita yang mendapat penolakan langsung menjelaskannya.


"Itu tidak banyak kok, Mang. Itu bentuk saya yang menyukai makanan buatan Mang Joko. Jadi jangan di tolak." Dhita sambil menyunggingkan senyum di wajahnya, meyakinkan Mang Joko agar tidak menolak uang yang ia berikan.


"Tapi---" sebelum Mang Joko kembali menolak Dhita memotong ucapan Mang Joko.


"Tidak ada tapi-tapian. Itu rezeki, Mang Joko." Tegas Dhita dan diangguki oleh Mang Joko yang sudah tidak ingin mengeluarkan kata-kata penolakannya kembali.


Dhita yang melihat itu, masih setia menunggu satu bungkus makanan lagi sebelum ia meninggalkan warung makan itu.


Walau pun Dhita seorang dokter tetapi ia suka sekali makanan-makanan yang di jual di pedagang kaki lima. Asalkan baik dan halal tentunya menurut Dhita itu.


Sesampainya di RS Dhita langsung memarkirkan mobilnya di parkiran depan rumah sakit. Dhita melangkah di koridor depan RS. Berjalan dengan pelan sampai kedalam RS.


Kembali ke ruangannya dengan santai, Dhita membawa di tangan kirinya keresek warna hitam yang berisikan bakso yang sempat ia minta bungkus dari bakso Mang Joko.


Asistennya memandangi Dhita yang melihat kantongan plastik itu pun menatap Dhita heran.


"Habis beli makan?" Sarah langsung mendekati Dhita yang berjalan memasuki ruangan itu. Entah kenapa perutnya berbunyi kembali padahal ia sudah berusaha menahannya.


"Yah, saya tahu kamu pasti belum makan malam." Jawab Dhita sambil menyodorkan jantungan plastik yang sempat ia bawa tadi.


Sarah yang sudah kelaparan langsung mengambil kantongan plastik itu, membawanya ke kitchen set yang tersembunyi di pojok ruangan yang tertutup oleh sekat.


Bisa di bilang ruangan Dhita ini cukup luas. Dhita hanya dokter satu-satunya yang mendapat dokter ahli bedah yang terkenal dalam waktu singkat bahkan mengalahkan senior-seniornya.


Namun di balik ke terampil tangannya yang ahli itu tetap saja semuanya hanya sebuah tipuan belaka yang menutupi kebenaran yang sebenarnya terjadi di dalam diri Dhita.


Dhita yang melihat Sarah yang sudah kelaparan menyantap bakso itu dengan lahap dan cepat membuat Dhita meringis seketika.


"Makannya pelan-pelan aja, Sar!" Dhita sambil berjalan menuju meja yang dipenuhi oleh data-data yang sempat ia print tetapi belum sepenuhnya ia baca.


Dhita pun merapikan satu persatu lembaran itu dan di buat ke dalam ke dalam map yang tersusun rapi di dalam rak khusus yang di buat Dhita. Ruangan yang bisa di gunakan oleh Dhita, cukup untuknya. Ia tidak mengeluh mau besar ataupun kecil.


Sarah bangkit mendekati Dhita namun tidak menyadarinya karena melamun. Sarah yang sebelumnya masih memakan bakso tadi, sudah berada di sampingnya tidak direspon sama sekali karena Dhita yang masih betah melamun.


Namun tidak lama lampu ruangan itu mati.


Plsss...


"Dhita kamu baik-baik saja?" Sarah yang masih ada di samping Dhita sudah memegang ponselnya yang lampu di ponsel itu dalam keadaan menyala.


Namun apa yang Sarah lihat adalah air mata Dhita yang mengalir turun.


'Ada apa ini?' batin Sarah berkecamuk seketika melihat Dhita yang selalu tersenyum tiba-tiba saja menangis.


Dhita yang sadar di lihat oleh Sarah langsung melarikan dirinya ke toilet. Meskipun dalam keadaan gelap tanpa ada penerangan sama sekali. Dhita menutup pintu dengan kencang dan menguncinya, tubuh Dhita pun ambruk di balik pintu ia tidak bisa lagi menahan rasa sakitnya.


Berlainan dengan Dhita Sarah masih berada di ruangan itu. Namun tidak lama lampu kembali menyala, Sarah yang melihat itu seperti patung yang tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.


Sarah pun tersadar kembali dan melangkah menuju toilet yang berisikan Dhita. Lalu meneguk pintu itu pelan.


"Tha. Kamu enggak apa-apa?" Sarah berusaha untuk mendapat jawaban dari Dhita namun tidak bergeming sama sekali. Dhita sama sekali tidak ingin beranjak dari toilet itu.


Sarah yang sudah berdiri di depan pintu itu, dan sebelum beranjak dari sana ia berkata dengan pasrah, lalu melanjutkan menyantap bakso yang di bawa Dhita tadi.


"Ya, sudah. Jangan lama-lama di sana!" Dhita mendengar suara langkah kaki menjauh yang membuat Dhita sedikit lega karena Sarah tidak memaksa masuk seperti kebanyakan orang yang melihatnya.


'Aku belum bisa menceritakan semuanya, Sar! Maaf.' batinnya dengan menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup.


Dhita tidak sekuat yang orang lihat. Dhita hanyalah gadis lemah yang tidak pernah mendapat kasih sayang lebih dari utang tuanya. Sejak kecil ia berusaha membuat kesalahan namun tetap saja. Tidak ada yang berubah.


Semakin ia mengingat semuanya, semakin pula ia tersakiti.


Apa Dhita boleh berharap pada bintang kalau ia butuh seseorang yang mau menerimanya apa adanya?!


Dhita berusaha menahan rasa sakit itu dengan meremas dadanya yang sangat-sangat tertekan seperti tertindih oleh batu yang besar.


Air matanya tidak berhenti mengalir sampai ia lelah dan tertidur sambil bersandar di balik pintu itu. Bersimpuh di lantai tanpa menghentikan air mata yang terus mengalir tanpa henti yang membuat siapa saja yang melihatnya ikut meneteskan air mata.


"Sudah aku bilang kita akhiri semua ini saja." Suara yang muncul dari dalam pikiran ku yang entah kenapa membuat ku merasakan hal yang tidak-tidak.


"TIDAK!" Tegas Dhita menghalau semua pikiran negatif yang bermunculan di benaknya.


Dan akhirnya Dhita tertidur meringkuk di lantai tanpa berhenti menangis ketika mentalnya sedang down maka begini lah jadinya.