
Malam telah tiba. Itu artinya, sudah waktunya Fudo untuk keluar rumah. Mencari kesenangan, kepuasan, kemudian mendapat pujian dari kaum hawa. Pria jangkung itu segera mengambil jaket kulit berwarna hitamnya yang menggantung di daun pintu.
Karena suasana rumah yang begitu sepi, membuat langkah Fudo yang menuruni anak tangga tampak begitu nyaring. Namun sayang, langkahnya harus terhenti di tangga terakhir ketika melihat sesosok orang yang dibencinya.
"Mau ke mana kamu malam-malam begini? Ayah pulang bukannya diam di rumah, malah keluyuran."
Ya, itu adalah ayah Fudo, bernama Richard. Beliau terbilang jarang ada di rumah, bisa satu bulan hanya beberapa hari saja. Itu karena beliau merupakan pengusaha sukses Indonesia yang harus bertemu dengan klien di bidang yang tidak satu saja. Yang paling terkenal adalah Espargaro Hospital, rumah sakit bergengsi di Jakarta.
Apalagi sekarang yang akan buka di Surabaya, beliau semakin sibuk saja. Untung saja masih ada Mila yang tinggal di rumah, sehingga Fudo lebih terurus. Dia bukan anak satu-satunya, masih ada Theron sebagai anak pertama. Dia kuliah di Singapura dan mengambil jurusan Manajemen Bisnis, untuk meneruskan usaha keluarga. Sedangkan Fudo diwajibkan menjadi seorang dokter.
"Fudo sibuk." ucap Fudo sambil berlalu begitu saja melewati ayahnya.
Dia begitu, karena kurang didikan dari ayahnya sendiri. Tapi jangan salah, kepada ibunya, Fudo benar-benar sosok anak yang sangat penurut. Terbukti ketika dia mencium punggung tangan Mila sebelum keluar dari rumah.
"Fudo mau main sama teman-teman. Bawa kunci cadangan kok, jadi Ibu langsung tidur aja." ucap Fudo pada ibunya.
Sambil terus berjalan menuju garasi, di mana tempat motor sportnya berada, Fudo bisa mendengar ucapan ayahnya. Sama seperti ucapan beliau setiap kali datang ke rumah, menyebutkan bahwa Fudo bukan anak yang berguna bagi orang tuanya.
Tentu saja dengan membanding-bandingkan Fudo dengan kakaknya, Theron Espargaro. Sudah bosan kalimat serupa tertangkap oleh gendang telinga Fudo. Jauh-jauh sakit hati, Fudo hanya menganggapnya sebagai angin lalu.
*****
Dan disinilah Fudo, di mana dia bisa mendapatkan kesenangan. Bersama kedua teman karibnya, Gibran dan Satya.
Bukan hanya mereka bertiga, tapi ada puluhan atau mungkin ratusan orang yang ada disana. Apalagi yang dilakukan remaja badung seperti Fudo dan kedua sahabatnya malam-malam begini jika bukan balapan? Bahkan ketiganya sudah biasa menjadi pemenang di setiap balapan. Terutama Fudo, semua orang menyebutnya Dangerous fire. Dia adalah raja di sirkuit.
"Bos, ada bang Diaz." seorang pria bertubuh pendek langsung menghampiri Fudo ketika dia sampai di warung remang-remang pinggir jalan, tempat biasa dia dan teman-temannya berkumpul.
"Oh?" reaksi Fudo dengan wajah yang sangat datar.
Sudah lama nama itu tidak terdengar di telinga, sampai-sampai Fudo berpikir, tidak salah Diaz datang ke sana? Dia menyimpan helmnya di atas motor.
"Nantang gue?"
"lya, bos. Katanya mau bales kekalahan yang terakhir. Taruhannya juga nggak main-main, dia pasang lima juta." ucap orang yang biasa dipanggil Ega itu dengan nada takjub.
Tapi kemudian keningnya mengernyit ketika melihat kekehan dari Fudo. Dia tetap mengekori pria jangkung itu menuju warung.
Begitu mendaratkan bokongnya, Fudo langsung menyambar pisang goreng yang masih berasap. Meniupnya sebentar, kemudian mengunyah pelan-pelan.
Sementara di samping pria itu, duduk dua pria rupawan lainnya yang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
"Sepuluh juta." cetusnya setelah sekian lama diam.
"Nggak kegedean, bos?" Ega langsung terdiam ketika mendapat lirikan tajam dari Fudo.
Jelas, siapapun pasti tahu bahwa Fudo paling benci jika egonya tercoreng. Apalagi oleh Ega yang jelas-jelas hanya bawahannya.
"Bukannya gue nggak percaya kalau lo bisa menang, bos. Tapi yang gue dengar, Diaz baru aja modif motornya."
Ah, sekarang Fudo tahu apa maksudnya. Ega hanya ingin mengasihani Diaz, pasti pria itu merogoh uang dalam-dalam supaya motornya bisa mengalahkan motor Fudo malam ini. Tidak peduli mau dimodifikasi sedemikian rupa. Jika motornya sejenis, Fudo akan tetap menjadi seorang pemenang. Dialah yang akan dipuja digaris finish. Dialah yang akan disambut dengan gembira oleh semua orang, terutama para wanita.
Fudo hanya mengangguk dua kali kemudian mengibaskan tangannya, memberi aba-aba pada Ega untuk segera pergi dari sana. Karena sebentar lagi, balapan akan segera dimulai.
"Bodo amat, cabe!" teriak Gibran ke ponselnya sendiri. Kemudian dia memasukkan benda pipih itu ke jaket bombernya. Sudah bisa dipastikan, Gibran baru saja kehilangan satu pacarnya. Itu sama sekali bukan masalah, karena pacar Gibran lebih dari selusin.
"Udah nongol lo? Kapan datangnya?"
Fudo tidak menanggapi, dia hanya sibuk dengan pisang goreng dan juga es teh manis yang baru saja di pesannya.
Sudah biasa pertanyaan semacam itu tidak digubris oleh Fudo. Mungkin orang-orang yang belum mengenal pria satu itu akan mengira Fudo memiliki gangguan pendengaran. Padahal memang begitu karakternya, tidak mau terlalu menanggapi hal-hal yang kurang penting. Termasuk pertanyaan dari sahabatnya sendiri.
Sementara itu, ada Satya yang sibuk menyeruput kuah mie instan sampai habis. Bahkan dia tidak ragu untuk sendawa keras-keras didepan semua orang seperti sekarang. Dua sahabatnya sudah biasa, malah mereka yang lelah jika harus mengingatkan Satya untuk menghapus kebiasaan yang satu itu. Baunya? Wangi surga.
"Gue dengar ada Si Diaz, ya? Nggak ada kapok kapoknya itu orang. Gengsi doang yang tinggi, skillnya di balapan kayak kambing pilek."
Kemudian Satya mendekatkan dirinya kepada Fudo, "Lo harus menang, Do. Kan lumayan tuh, lima juta, buat ganti gitar kita."
Selain kumpulan tiga pria yang dipuja semua wanita, mereka juga mendirikan band kecil-kecilan hanya sekedar untuk bersenang-senang. Kebetulan, mereka punya keahlian memainkan alat musik. Jadi tidak ada salahnya membuat band. Itung-itung amal, membuat para kaum hawa terbang tanpa harus membeli tiket pesawat.
"Gue pasti menang kok." Fudo langsung berdiri dari duduknya, menyalakan mesin motor, dan maju beberapa meter ke tempat balapan akan dilaksanakan.
Semua orang langsung tertuju kepada motor merah milik Fudo. Dan lihatlah itu, para gadis dengan pakaian minim tidak bisa menyembunyikan betapa terpesonanya mereka dengan sosok Fudo. Padahal penyinaran di tempat itu terbilang minim, tapi mereka tidak bisa menahan rahangnya untuk tidak jatuh.
Dia adalah Fudo, Fudo Calens Espargaro. Seperti namanya, dia adalah api yang berkobar-kobar. Sosok yang selalu bersemangat untuk mencapai kemenangan. Mampu membakar hati setiap manusia yang melihatnya. Tapi jangan lupakan fakta bahwa api adalah sesuatu yang membahayakan. Ya, pesona Fudo lah yang berbahaya. Sekalinya tersentuh, sekujur tubuh akan menghangus sampai menjadi arang. Karena siapapun pasti tahu, Fudo tidak tertarik akan cinta.
•
•
•
Semoga suka 😄 Jangan lupa Like Comment Vote and Share yah!!! 😍 Besok Izah bakal balik, okeeyy?? 😆 LUV Ya!!! 💖💖💖