
Jam istirahat, semua siswa langsung berbondong menuju kantin untuk mengisi perut mereka. Itu juga dilakukan oleh Tina, karena dia harus fokus untuk pelajaran selanjutnya. Beberapa hari tidak sekolah, cukup membuat Tina harus belajar maraton nanti. Bukan belajar juga, mungkin sekedar baca-baca. Yang penting, dia tidak terlalu bingung jika guru sedang menerangkan.
"Ke kantin bareng yuk!"
Pergerakan Tina yang sedang mengambil uang jajan di tas pun langsung terhenti ketika mendengar ajakan dari Feli.
Ini dia tidak salah dengar?
Feli mengajaknya datang ke kantin bersama?
Tina hanya bisa memandang Feli dengan penuh tanya. Dan ketika gadis itu mengangguk, Tina tahu dia tidak salah dengar. Sesederhana itu, tapi sukses membuat hati Tina menghangat. Dia mengikuti langkah Feli menuju kantin dengan siswi yang lain.
*****
Rupanya bukan hanya gerbang dan bangunan sekolah saja yang terkesan mewah. Tapi kantin sekolah juga. Meskipun berada di bagian sekolah paling belakang, tapi bangunan itu tidak seperti kantin sekolah Tina yang dulu. Setiap pedagang berada di sekat warung yang dibatasi dengan tembok. Setiap warung memiliki warna yang berbeda dengan warung yang lain. Meja dan kursi makan ditata rapi menyebar ke seluruh ruangan.
"Lo mau beli apa?" tanya Feli sambil membalikkan tubuhnya, berhadapan dengan Tina.
"Gue mau beli bakso. Lo mau juga?"
"Boleh." jawab Tina sambil mengekori Feli ke tukang bakso.
Sama sekali tidak ada antrian yang pendek di semua warung, semuanya berjajar panjang menunggu giliran. Perbedaan lain yang mencolok dengan sekolah Tina dulu adalah, di sini tidak terdengar teriakan para siswa yang meminta orang paling depan untuk segera menyingkir. Mereka mengantri dalam diam, sambil bercengkrama dengan teman yang lain. Ada juga yang sibuk dengan ponselnya, ada juga yang lebih memlih untuk melamun seperti Tina. Sebenarnya tidak bisa dikatakan melamun juga, karena pandangan Tina tertuju pada satu titik.
Pria itu. Pria yang menatap Tina dengan begitu tajamnya saat upacara tadi pagi. Pandangannya masih sama, menohok, tegas tak terbantahkan.
"Ngeliatin apa?" Feli berbalik.
Dia mengikuti arah pandang Tina.
"Jangan dipandang balik, Na. Bisa bahaya loh." lanjutnya sambil memalingkan pandangan.
"Kenapa?"
Feli menggelengkan kepala. Dia menarik tangan Tina supaya maju satu langkah pertanda antrian sudah bergilir.
"Itu namanya Kak Fudo, salah satu most wanted guy di sekolah ini. Orangnya judes, terus katanya juga kejam. Bukan cuma dia yang bikin lo dalam bahaya, tapi juga para kakak kelas yang pengen jadi pacarnya Kak Fudo. Mereka semua agresif, nggak boleh ada adik kelas yang suka sama Kak Fudo."
Kepala Tina hanya mengangguk, pertanda dia mengerti dengan ucapan Feli. Lagian, dia bertukar pandang barusan secara tidak sengaja, kebetulan saja mata mereka bertemu. Tina tidak pernah tertarik untuk memikirkan masalah asmara, apalagi dengan pria terkenal seperti.
Siapa namanya? Tina lupa. Yang menjadi fokusnya saat ini adalah nilai sekolah, dia harus bisa membanggakan oma Dewi.
"Kecap sambalnya ada di meja ya, Dek." ucap tukang bakso sambil memberikan pesanan kepada Tina dan Feli.
Kedua gadis itu mengangguk dan segera mencari kursi di mana teman-teman mereka duduk.
Celaka, meja mereka bersampingan dengan meja Fudo.
Dia terus mencari, akhirnya Feli mengetahui dimana sambal meja mereka. Ada di meja Fudo dan teman-temannya. Daripada harus berurusan dengan mereka, lebih baik dia makan bakso bening saja.
"Yakin gak mau pakai sambal, Fel?" tanya salah satu teman Feli.
Yang Tina ketahui namanya adalah Silvi.
"Lo kan paling nggak bisa tuh kalau makan bakso tapi nggak pakai sambal."
"Nggak usah, daripada harus berurusan sama Kak Fudo and the gank, mending bakso gue kayak gini aja."
Mendengar penuturan dua temannya, Tina secara refleks melihat ke belakang, ke meja Fudo.
Benar saja, ada botol-botol sambal di sana. Sebenarnya dia ingin membantu Feli untuk mendapatkan sambal itu, tapi Feli sendiri yang berkata untuk menjauhi Fudo. Tidak ada gunanya juga jika Tina bersikap sok pahlawan untuk mengambil sambal itu.
Baru setengah porsi yang Tina habiskan dari bakso yang dia pesan. Dia bingung ketika Feli memperhatikan seragam bagian belakangnya. Sama seperti para siswi lain yang sudah ketakutan ketika melihat teman mereka seperti itu. Tina juga berpikir bahwa roknya berwarna merah. Apalagi kalau bukan menstruasi? Tapi menurutnya, Tina baru beres dengan siklus menstruasinya bulan ini beberapa hari yang lalu.
"Kenapa?"
"Seragam lo kena sambal, Na." jawab Feli terlihat ragu.
Sontak saja Tina menoleh ke belakang. Benar saja, seragam Tina sudah berwarna merah di bagian punggung.
Tina mendesah panjang. Matanya menoleh ke tiga orang pria yang duduk di belakangnya. Meskipun mereka memasang wajah datar seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tapi Tina tahu, mereka semua adalah pelakunya.
Sudah terbiasa menjadi korban bullying, membuat Tina tidak sulit untuk mengetahui siapa yang menjahilinya.
Dia berdiri kemudian berlalu begitu saja menuju kamar mandi. Di saat semua teman-temannya memasang wajah tegang, Tina justru biasa saja. Bukan bermaksud menantang atau bagaimana, Tina hanya terbiasa diperlakukan seperti ini.
Tidak perlu main tebak tebakan segala. Tina sangat yakin bahwa dia tidak memiliki salah kepada Fudo ataupun kepada teman-temannya. Hari pertama Tina bersekolah di SMA Pertiwi, ini kali pertama mereka berjumpa, Tina tidak melakukan kesalahan yang bisa membuat mereka kesal. Tapi terkadang, tidak perlu membuat kesalahan terlebih dahulu untuk di bully. Mungkin mereka ingin bersenang-senang, sedangkan Tina adalah santapan lunak. Dari wajahnya yang lugu saja bisa dipastikan bahwa dia tidak akan melakukan perlawanan apapun.
*****
Begitu selesai membersihkan seragam bagian belakangnya di toilet kantin, Tina segera keluar. Dia berniat untuk masuk ke kelas saja, selera makannya sudah hilang. Karena terus menundukkan kepala, Tina tidak sengaja menabrak seseorang yang ada di depannya.
Tapi tunggu, kenapa seorang siswi menggunakan celana panjang?
Perlahan, Tina mengangkat kepala. Ternyata itu bukan seorang siswi, melainkan salah satu pria yang tadi duduk di belakangnya.
Ah, Tina lupa siapa nama orang yang saat ini sedang berdiri di depannya. Tapi yang jelas, saat ini mereka sedang bertukar pandang. Sangat lama, tapi seakan waktu berhenti saat itu juga. Mereka berdua tidak memperdulikan seisi dunia yang menjadikan mereka pusat perhatian. Keduanya sama tenggelam, dalam netra satu sama lain.
•
•
•