You Are My Story

You Are My Story
Part 1



Malam itu hujan mengguyur bumi dengan derasnya. Membuat orang-orang yang jatuh cinta hanyut dalam syahdunya perasaan. Oang-orang yang sedang menunggu terasa ditemani dengan alunan yang merdu. Ada pula orang-orang merasa semakin sakit setelah menerima luka.


Salah satunya adalah seorang gadis yang tengah beringsut memeluk kedua kakinya. Kepala gadis itu tertunduk, air mata terus mengalir dari kedua pelupuknya. Hidungnya sudah memerah, gumaman-gumaman tidak jelas keluar dari bibir mungilnya. Perlahan kedua tangannya bergerak menutupi telinga, dia berusaha keras untuk tidak mendengar apa yang sedang dikatakan orang-orang di luar kamarnya.


Kamar yang biasanya terang kini hanya gelap. Sama seperti hatinya, sama seperti hidupnya, yang kehilangan cahaya petunjuk arah. Mengapa harus hari ini dia terluka begitu dalam? Kehilangan satu-satunya orang yang dia miliki dia dalam hidup.


Dia ingin pergi, menyusul ibunya menuju alam lain. Berulang kali mencoba untuk mengakhiri hidup, tapi selalu gagal. Seakan-akan Maha Pencipta ingin menunjukkan bahwa ini belum saatnya dia pulang.


Hatinya mencelos ketika mendengar perdebatan di depan pintu kamarnya. Semua orang saling berteriak, memperdebatkan kemana ia harus pergi setelah ibunya meninggal.


"Kenapa mesti dimasukkan ke yayasan? lbu masih mampu untuk mengurus Tina, dia cucu ibu!" terdengar suara berat seorang wanita paruh baya.


Kalimat terakhir ditekankan untuk menegaskan bahwa mereka satu aliran darah. Sekedar hanya teori, karena ini pertama kalinya mereka bertemu.


"Ibu mau mati seperti Viana dan juga Dika? Dia pembawa sial, Bu. Kalo ibu mengurusnya, ibu bisa ikut sakit lalu meninggal. Dani nggak mau itu terjadi."


Itu adalah suara laki-laki yang menentang seorang nenek untuk merawat cucunya. Padahal cucunya itu sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Dia lebih menyarankan untuk sang cucu diberikan kepada yayasan saja. Padahal jelas, dia juga memiliki seorang putri.


"Tutup mulut kamu, Dani! Tina juga keponakan kamu, anak Viana!" suara wanita paruh baya itu semakin meninggi.


Tapi kemudian terdengar helaan nafas lelah. Mungkin karena faktor usia, perdebatan kecil itu sudah cukup menguras banyak tenaganya.


"Ibu tidak memerlukan izin kamu untuk merawat cucu ibu sendiri. Kamu suka atau tidak, ibu akan tetap merawat Tina."


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan ibu. Dani menyerah untuk membuat ibu berubah pikiran. Silahkan rawat anak itu, Dani tidak akan melarang lagi. Tapi satu hal yang perlu ibu tahu, Dani tidak akan pernah menganggapnya sebagai keponakan, meski dia terlahir dari rahim adik Dani sendiri. Di dalam tubuhnya, mengalir darah seorang ********!" terdengar suara derap langkah yang semakin menjauh.


Dari dalam kamar juga gadis itu bisa mendengar neneknya berulang kali memanggil nama anaknya itu. Tapi seperti tidak digubris, anaknya tetap menjauh sampai terdengar bantingan pintu.


Hatinya semakin sakit ketika mendengar ayahnya disebut sebagai seorang ********. Mau seburuk apapun almarhum ayahnya, dia tetap seorang ayah yang baik di mata gadis itu. Meski bukan rahasia lagi ayahnya senang bermain-main dengan wanita bayaran bahkan sampai maut merenggut nyawanya. Dia juga sering melihat ibunya menangis ketika mengetahui penghianatan sang suami. Tapi ketika gadis itu datang menghampiri dan bertanya apa yang terjadi, yang dia lihat hanya sebuah senyuman, yang dia dengar hanya kebohongan. Kata sang ibu, semuanya baik-baik saja.


Kehidupannya yang malang tidak berhenti dengan memiliki seorang ayah yang bejat kelakuannya. Sang ibu, satu-satunya orang yang dia miliki dalam hidup, satu-satunya tujuan yang dia miliki dalam hidup, meninggal tadi pagi. Ketika seharusnya dia mengisi lembar jawaban ulangan, tapi harus berdiri di depan liang lahat jasad ibunya. Kemudian barusan, dia mendengar perdebatan tentang kemana dia harus pergi setelah ini.


Suara derit pintu yang dibuka lantas membuat kepala gadis itu menengadah. Lampu kamarnya kemudian menyala membuat matanya sedikit mengerjap untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu. Dia bisa melihat seorang wanita paruh baya yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum hangat. Itu omanya. Dari lahir hingga 17 tahun usianya, baru kali ini mereka bertemu.


"Kamu denger semuanya, sayang?" tanya sang oma sambil duduk di ujung kasur.


"Jangan dengarkan Om kamu, dia cuma kaget kalau tahu adiknya sudah mempunyai anak."


Gadis itu hanya tersenyum kecut.


Mau sekeras apapun omanya menghibur, kenyataan tetap mengatakan bahwa kehadirannya tidak akan pernah diterima di keluarga kedua orang tuanya. Dia bukan anak haram yang terlahir di luar nikah. Hanya saja, pernikahan kedua orang tuanya tidak mendapatkan restu. Tetapi mereka tetap memaksakan keadaan hingga terlahir seorang peri kecil di tengah-tengah rumah tangga mereka. Mereka memulai kehidupan jauh dari keluarga besar. Senang dinikmati sendiri, sedih diratapi sendiri.


"Kamu mau kan tinggal sama Oma?"


Ketika gadis itu menelan ludahnya susah payah. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang, dan mungkin hanya omanya yang mau menerima. Tidak ada siapa-siapa lagi, bahkan pria setengah baya yang diketahui adalah kakak dari ibunya terlihat sangat membencinya. Tapi itulah yang jadi pertimbangan. Dia sangat yakin, jika dia tinggal bersama omanya, maka hubungan ibu dan anak akan rusak. Tapi di sisi lain juga, dia tidak bisa hidup sendirian.


"Gimana sama Om Dani?" akhirnya gadis itu angkat bicara.


Suaranya terdengar sangat parau karena terlalu lama menangis. Matanya sudah sembab, wajahnya terlihat muram.


"Jangan pikirin Om Dani. Oma yakin, sebentar lagi juga Om Dani bakalan menerima kamu. Dia hanya butuh sedikit waktu."


Wanita paruh baya itu menyelipkan surai cucunya kebalik daun telinga. Dia tidak bisa menampik, dia bisa melihat sosok putri kesayangannya di wajah cucunya itu.


"Sekarang, kamu persiapkan barang-barang apa saja yang mau dibawa ke rumah Oma."


Jauh di dalam lubuk hatinya, wanita paruh baya itu menyalahkan diri sendiri. Seandainya saat itu ia memberikan restu kepada hubungan putrinya dengan orang yang dicintai, mungkin semuanya tidak akan sepeti ini. Mungkin dia masih bisa melihat putrinya itu tersenyum bahagia, bukan terkujur kaku diantar ke peristirahatan terakhir. Mungkin saja mereka masih bisa berkumpul untuk sekedar makan malam bersama, tapi sekarang banyak orang yang sibuk di rumah kontrakan kecil itu untuk menyelenggarakan pengajian. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terjadi. Dan mungkin ini adalah yang terbaik untuk semua orang.


Tadi pagi, ketika dia sedang menikmati teh hangat, suara telepon rumah tiba-tiba berdering. Asisten rumah tangga memberi kabar bahwa putri bungsunya meninggal. Seketika dunianya jungkir balik, cangkir yang dipegangnya jatuh hingga pecah. Sama halnya dengan hatinya, remuk. Yang kini menjadi tugasnya hanya merawat sang cucu dengan penuh kasih sayang. Membayar semua rasa bersalahnya kepada sang putri, melalui cucunya.





Hai hai!!! Izah kambek with new story 😄 Gimana permulaannya? Suka gk? Semoga suka yaw!!! 😁 Krisar? Boleh yaw!! 😆 Jangan lupa Like Comment and Vote yaw 😄😍 LUV Ya!!!