
Hal pertama yang Tina lihat ketika membuka mata adalah kekacauan di kamarnya. Ada begitu banyak paper bag yang berserakan di lantai, meja, dan sebagian lagi di kasur. Tina jadi berpikir, pasti oma Dewi adalah sosok yang kaya raya. Buktinya, Tina diberi banyak sekali perlengkapan dari brand-brand ternama. Mulai dari baju, tas, sepatu, bahkan alat-alat make up, semuanya terlihat sangat berkelas.
Tina mungkin orang miskin, tapi dia bisa membedakan mana barang yang mahal dan yang murah. Karena selama hidupnya, Tina tidak pernah menyentuh barang-barang yang diberikan omanya tadi malam.
Jika oma Dewi begitu kaya, kenapa kehidupan anaknya justru berbanding terbalik?
Tina tahu jawabannya. Itu semua karena Ibunya memilih cinta daripada kehidupan yang berkecukupan. Beliau terlalu mencintai ayah Tina sampai rela hidup susah. Tinggal di kontrakan kecil yang selalu menunggak untuk membayar, setiap hari makan tidak menentu, sering mengalami kematian listrik karena telat membayar. Untung saja Tina menerima beasiswa kurang mampu di sekolahnya, jadi keluarga mereka tidak dibebani dengan biaya sekolah yang tidak murah.
Terdengar helaan nafas panjang dari bibir Tina.
Jadi ini kehidupan barunya?
Terasa sangat asing, tapi mungkin memang ini jalan yang harus dilaluinya. Daripada Tina harus hidup sebatang kara di kontrakan itu, dia belum berpenghasilan sampai berani menghidupi kehidupannya sendiri. Tina segera bangkit dari tidurnya, membereskan kekacauan yang ada di kamar, kemudian segera ke kamar mandi. Karena hari ini adalah hari pertama Tina masuk sekolah baru.
*****
Begitu selesai bersiap-siap, Tina segera bergabung di meja makan. Suasana canggung masih melingkupi interaksi Tina dan oma Dewi. Karena ini adalah kali pertama mereka makan bersama di rumah ini. Jika di kontrakan Tina dulu, mereka selalu makan bersama, tentu dengan lauk yang dibeli oleh oma Dewi dari restoran ternama.
"Nanti Tina berangkat naik ojek online, oma."
Entah kenapa, Tina ingin memberi tahu saja kendaraan apa yang akan membawanya ke sekolah baru.
Oma Dewi tersenyum hangat, sempat menghentikan makannya untuk merespon perkataan Tina.
"Padahal oma bisa siapin supir buat kamu, tapi malah nggak mau. Kamu hati-hati aja, langsung pulang kalau sekolahnya udah selesai."
Ucapan beliau hanya ditanggapi dengan senyuman dan anggukan dari Tina.
Sudah terlalu banyak yang diberikan oma Dewi kepada Tina. Meskipun mereka adalah nenek dan cucu, Tina merasa belum nyaman saja. Karena ini adalah pertemuan pertama mereka, di saat Tina sudah berusia 17 tahun. Ibunya juga tidak banyak bercerita tentang keluarganya, mungkin tidak ingin membuat Tina sedih atau membuat suaminya terbebani. Beliau lebih fokus membesarkan Tina dan menjadi seorang istri yang baik.
*****
Tina memandang takjub gerbang sekolah barunya. Pasti oma Dewi harus membayar SPP yang tinggi untuk menyekolahkan Tina di sini. Dari luar saja bisa terlihat kualitas bangunannya, apalagi kalau tentang masalah pelajaran. Tina itu kurang pintar, nilai ulangan pas di KKM saja sudah syukur. Bagaimana dia bisa menyesuaikan diri di sekolah baru ini?
"Kamu pasti bisa, Na. Semangat!" Tina memberikan semangat pada dirinya sendiri.
Karena jika bukan dia, siapa lagi?
*****
11 IPA 5, itu kelas yang akan Tina tempati. Mungkin di sekolah sebelumnya Tina bisa bertahan di kelas IPA, tidak tahu kalau di sekolah ini. Sepanjang perjalanan, banyak yang menatap Tina dengan penuh tanya. Dia diantar oleh Bu Hana, guru BP di SMA Pertiwi. Tina tidak banyak bicara, dia lebih menunduk ketika semua orang menatapnya. Selalu begitu, dari dulu.
"Tidak apa-apa kalau kamu duduk paling belakang?" tanya Bu Hana ketika sampai di kelas Tina.
Tentu saja semua siswa melihat kedepan, dimana Tina sedang berdiri.
"Tidak apa-apa, Bu" jawab Tina dengan singkat.
Kemudian dia segera menuju kursinya ketika Bu Hana mempersilahkan dan keluar dari kelas itu. Beliau juga sempat berpesan kepada siswa yang lain untuk mau berteman dengan Tina. Semuanya menjawab dengan serempak, siap melakukan apa yang diamanatkan oleh beliau.
Itu sama sekali bukan sesuatu yang diharapkan oleh Tina. Dia sudah biasa sendiri, tanpa teman di sekolah. Karena Tina menjadi korban bully di sekolah sebelumnya. Tidak ada yang mau berteman dengan Tina. Katanya dia aneh, pembawa sial, dan berotak dangkal. Tina tidak bisa menepis, karena itu semua fakta.
"Pindahan dari mana?" tanya salah satu siswi menyambut kedatangan Tina. Dia akan duduk tepat di depan Tina.
Cantik, itulah kesan pertama yang Tina lihat dari siswi tersebut. Apalagi kalau sudah tersenyum seperti sekarang, benar-benar manis.
"Aku dari Bogor." jawabnya lugas.
Tina tidak pintar berinteraksi dengan orang lain, karena dia tidak biasa.
"Kenalin, nama gue Felicia. Teman-teman di sini biasa pangeil gue Feli." siswi tersebut mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Tina.
Untuk beberapa saat, tangan itu hanya mengudara, tidak disambut baik oleh Tina. Bukan bermaksud demikian, karena Tina bingung bagaimana cara untuk memberi respon yang baik. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini.
"Nama lo siapa?" suara itu membuyarkan lamunan Tina.
Bibirnya yang kaku dipaksakan untuk tersenyum. Bukannya terlihat manis atau cantik, Tina justru terlihat aneh dengan senyum seperti itu. Jelas sekali terlihat dia terpaksa untuk tersenyum. Tapi Feli masih sama, mengulurkan tangannya sambil menatap Tina dengan riang.
"Nama aku Coventina, kamu bisa panggil aku Tina."
*****
Seperti sekolah pada umumnya, sekolah baru Tina juga melaksanakan upacara bendera di hari Senin. Untung saja semua perlengkapan dan atribut seragamnya sudah diterima. Jadi Tina tinggal ikut bergabung dengan barisan kelasnya. Tentu saja dia lebih memilih untuk berdiri paling belakang, tepat di belakang Feli. Padahal jika dilihat kembali, lebih tinggi Feli dibandingkan dengan Tina. Jadi Tina bisa berlindung dari teriknya sinar matahari meski dia tidak bermaksud demikian.
Sebagian besar siswa tidak menyukai upacara bendera, kecuali bagi mereka yang memiliki sifat nasionalisme dan patriotisme tinggi. Dan Tina tidak masuk ke golongan itu. Ketika Kepala Sekolah menyampaikan amanatnya, Tina lebih memilih untuk menatap birunya langit. Berulang kali harus memejamkan mata karena sinar matahari yang terlalu terik. Kemudian dia menunduk, memperhatikan sepatu barunya yang begitu cantik. Setelah merasa puas, Tina mengedarkan pandangan ke sekitarnya.
Niat Tina untuk kembali menatap langit harus berhenti ketika matanya bertemu dengan sepasang mata tajam yang sedang memperhatikannya.
Untuk beberapa saat, mereka terjebak, saling melemparkan pandangan. Orang itu sangat tinggi. Alisnya tidak terlalu tebal, tapi cukup untuk ukuran para lelaki. Hidungnya mancung, bibirnya tebal, dan matanya begitu mengintimidasi. Satu yang unik, telinga orang itu lebih lebar daripada yang lain. Tersadar sudah terlalu lama bertukar pandang, Tina kembali menunduk. Dia tidak mengenal orang itu, ini pertama kalinya mereka bertemu. Tapi kenapa orang itu perlu menatap Tina begitu tajamnya?
•
•
•
Kira kira siapa ya orang itu? 🤔 Kok natap Tina sampe segitunya? 🤔 Apa Tina bakal dapet musuh? 🤔 Stay tune yaw!! 😊 Jangan lupa Like Comment and Vote yaw! 😄 Jangan lupa bagikan cerita ini juga ya!! 😁 LUV!! 💖💖💖