You Are My Story

You Are My Story
Part 5



Saat ini, Tina sedang berdiri di depan gerbang sekolahnya utuk menunggu ojek online yang dia orderbeberapa saat yang lalu. Tidak hanya Tina, tapi ada banyak siswa yang berdiri di sana. Menunggu angkutan umum, menunggu jemputan sopir, atau mungkin menunggu pacar mereka datang. Tina tidak mau peduli yang mana yang mereka tunggu. Mereka semua sibuk dengan urusannya masing-masing.


Jika diperhatikan, interaksi sosial para siswa di sekolah ini lebih rendah daripada di sekolah Tina yang dulu. Semua orang sibuk dengan ponselnya sendiri. Meskipun ada orang yang berdiri di samping mereka, tapi mereka seakan tidak peduli. Selain menyayangkan hal itu, Tina juga mensyukurinya. Karena itu artinya, sedikit peluang dia menjadi bahan bullying. Ya, selama dia tidak melakukan kesalahan yang bisa mempermalukan diri.


"Mbak Tina?" lamunan Tina langsung buyar ketika mendengar namanya dipanggil.


Ternyata, ojek online yang dipesan Tina sudah ada di depannya. Dia hanya mengangguk, kemudian menerima helm yang diberikan bapak ojek dan mengenakannya dalam diam. Ketika Tina hendak naik motor, bersamaan dengan itu keluar Fudo dari lingkungan sekolah. Sama seperti saat di lapangan dan kantin tadi, mereka terjebak saling pandang.


Tapi kali ini Tina tidak mau terjebak terlalu lama, dia memutuskan untuk segera naik dan meminta bapak ojek untuk segera pergi dari sana.


Tina sama sekali tidak menyangka, jika idola di SMA Pertiwi memiliki perangai yang kurang sopan. Masih terpatri di ingatannya tentang kejadian di kantin tadi. Ketika Tina tidak sengaja menabrak dada Fudo yang jelas jelas itu karena Fudo yang berdiri di depan toilet wanita. Pria itu terus saja memandangi Tina dengan tajam. Tahu apa kalimat yang keluar dari bibir Fudo setelah mereka terjebak di situasi aneh itu?


"Lo siapa?"


Bukannya merasa malu karena berdiri di depan toilet wanita, Fudo justru peduli tentang siapa Tina. Aneh dan tidak sopan. Memangnya Tina perlu laporan kepada Fudo tentang siapa dia? Guru saja bukan.


*****


Harus berapa kali Tina terjebak dalam waktu yang berhenti ketika saling bertukar pandang dengan Fudo? Ini ketiga kalinya. Pria itu sudah ada di seberang rumah oma Dewi, memperhatikan Tina yang baru turun dari motor. Anehnya, meski risih dipandangi demikian, Tina justru terdiam di sana.


"Lo tinggal di sini?" dari seberang jalan saja, Fudo bisa mendengar bahwa Tina menghembuskan nafas kasar.


Gadis itu menoleh ke belakang, untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka berdua sekarang. Karena jika sampai oma Dewi tahu, Tina merasa tidak enak hati. Takutnya, dikira Tina yang membawa Fudo kemari. Gadis itu kemudian menyebrang, berdiri di depan Fudo.


"Maaf banget nih, Kak. Kayaknya kita perlu lurusin masalah di antara kita."


Tolong, katakan bahwa apa yang saat ini Tina lakukan adalah sesuatu yang benar. Karena dia tidak mau terus-terusan terlibat dengan Fudo, apalagi setelah mendengar cerita dari Feli.


"Saya benar-benar minta maaf atas kejadian di kantin. Saya memang kurang memperhatikan jalan, jadi tidak sengaja menabrak Kakak. Selain itu, saya merasa tidak punya salah kepada Kakak. Boleh saya tahu kenapa Kakak mengikuti saya sampai sini?" kening Fudo tampak berkerut.


Beberapa detik kemudian, Tina bisa melihat bahwa pria itu tersenyum miring. Terkesan senyum yang meremehkan. Ternyata selain aneh dan tidak sopan, kakak kelasnya yang satu ini juga arogan. Masa bodoh jika dia adalah bintang sekolah SMA Pertiwi, Tina tidak peduli dengan itu. Yang dia pedulikan saat ini adalah, alasan Fudo mengikutinya sampai depan rumah. Kalau ada yang melihat, apalagi sesama siswa SMA Pertiwi, pasti akan menjadi bahan gunjingan.


Tahu sendiri kan remaja zaman sekarang? Hal kecil bisa dijadikan bahan gosip berbulan-bulan.


"Lo bisa ngomong juga?" tanya Fudo masih dengan senyum miringnya.


Dia sangat yakin, gadis di hadapannya pasti bisa melihat dimple di pipinya. Itu bisa membuat dia terlihat lebih tampan di mata semua orang.


"Gue kira lo bisu. Waktu tadi gue tanya siapa lo, lo nggak ngejawab tuh."


Sedangkan Fudo memperlebar senyumnya ketika melihat Tina terdiam karena ucapannya barusan. Kepalanya mengangguk, tahu bahwa Tina tidak bisa menjawab.


"Lo nggak usah kegeeran, baru tiga kali gue liatin juga. Gue ke sini bukan ngikutin lo, kurang kerjaan banget."


"Terus ngapain kalau bukan ngikutin namanya? Sekarang Kakak udah ada di depan rumah saya." keukeuh Tina tidak mau kalah.


Benar, apa namanya kalau bukan mengikuti, Fudo sudah ada di depan rumahnya sekarang?


Fudo menunjuk satu rumah dengan dagunya yang masih tertutup helm full face, hanya bagian kacanya yang dibuka.


"Ini rumah gue. Gue kesini, buat pulang. Bukan ngikutin lo."


Setelah mengatakan itu, Fudo segera menarik gas motornya dan masuk ke halaman rumah yang baru saja dia tunjuk, meninggalkan Tina yang terdiam di tempat. Dia malu bukan main. Berfikir bahwa Fudo mengikutinya, tapi ternyata pria itu hanya pulang ke rumah yang tepat berada di seberang rumah oma Dewi. Bagaimana ini?


"Nggak apa-apa, Na. Sekali ini doang kok kamu berhadapan dengan kakak kelas sableng itu." Tina membatin, berusaha menghibur dirinya sendiri.


Padahal wajah Tina saat ini sudah memerah, terlihat jelas menahan malu. Untung saja tidak ada yang melihat kejadian itu, jalanan kompleks sangat sepi. Tina segera berlari menyeberangi jalan dan masuk ke rumah oma Dewi.


*****


Begitu Tina masuk, hampir saja dia terjungkal saat mendapati Bi Siti sedang berdiri di balik pintu, menatap Tina sambil tersenyum lebar. Senyum yang penuh arti.


"Neng Tina pacarnya mas Fudo, ya?" berulang kali Tina mengerjapkan matanya mendengar ucapan Bi Siti barusan.


Dia ingat nama pria itu adalah Fudo saja karena Bi Siti yang menyebutnya. Bagaimana bisa menjadi pacarnya Fudo? Ah, pasti Bi Siti melihat kejadian barusan.


"Bukan lah, Bi. Tahu dia aja baru hari ini, gimana bisa pacaran?" Tina menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat ekspresi Bi Siti yang seperti tidak percaya dengan ucapannya.


"Tina nggak mau pacaran kayak gitu ah, mau fokus belajar dulu." Tina segera pamit masuk kamar sebelum pembicaraan itu merembet kemana-mana.


Tina tidak mau berurusan lagi dengan pria yang namanya Fudo. Apalagi pacaran, mustahil! Lagipula, mereka seperti langit dan bumi.