You Are My Story

You Are My Story
Part 2



Gadis yang saat ini tengah terpana melihat rumah di depannya adalah Tina, Coventina Anastasia. Seorang remaja 17 tahun yang harus menjadi sebatang kara karena kedua orang tuanya meninggal. Seperti perkataan omnya kemarin, dia merasa menjadi pembawa sial bagi semua orang di dalam hidupnya.


Ayahnya meninggal karena kecelakaan saat hendak menjemput Tina pulang sekolah. Dan kemarin pagi, dia harus merelakan ibunya pergi. Meninggal karena sakit-sakitan. Orang berkata seharusnya Tina yang merawat sang ibu, tapi malah wanita setengah baya itu yang mati-matian merawat Tina.


Sebenarnya dia setengah hati untuk ikut bersama omanya, dia takut membawa sial kepada wanita baya itu. Tapi mau bagaimana lagi, kedua orang tuanya telah meninggal, dia hanya sebatang kara. Tidak mungkin juga dia menghidupi sendiri kebutuhannya sementara Tina masih duduk di bangku sekolah. Tina hanya bisa berdoa, supaya kali ini Maha Pencipta berbaik hati. Dia tidak mau sendiri lagi seperti kemarin, hanya omanya yang saat ini menjadi haluan Tina.


"Kenapa berdiri di situ? Ayo, masuk." bu Dewi, oma Tina, menarik pergelangan tangannya menuju pintu masuk.


Dengan sedikit gelagapan, Tina melangkahkan kakinya.


Selama ini, Tina hanya tinggal di rumah kontrakan yang besarnya tidak seberapa. Kamarnya ada dua dan hanya cukup untuk kasur kecil dan juga lemari plastik, sehingga oksigen terasa begitu tipis. Tapi rumah di hadapannya saat ini benar-benar megah, halaman depan pun dihiasi dengan berbagai macam bunga. Taman halaman depan sepertinya tiga kali lipat lebih luas dari rumah kontrakan Tina dulu. Desain rumah itu seperti menggunakan gaya eropa klasik, antik tapi elegan. Tidak salah Tina memiliki nenek sekaya itu?


Tina sangat yakin, semua furniture yang ada di rumah itu pasti harganya sangat tinggi. Dari matanya yang biasa melihat barang-barang butut saja, Tina bisa tahu. Setelah melewati ruang tamu yang membuat dia terkagum-kagum, Tina dibuat sakit hati begitu memasuki ruang keluarga. Di salah satu sisi tembok ruang keluarga, ada foto keluarga dengan ukuran yang sangat besar. Meski terlihat lebih muda, tapi Tina yakin, wanita yang berdiri di sisi kanan pengapit omanya, adalah ibu Tina. Beliau terlihat begitu bahagia di foto itu. Tina juga melihat tangan om Dani merangkul bahunya.


"Kamu mau kamar yang mana? Di lantai atas masih ada kamar kosong, samping kamar oma."


Lagi-lagi Tina dibuat sedikit kaget dengan suara omanya. Tanpa sadar kepalanya melirik ke lantai atas. Rumah yang benar benar megah, dia merasa tidak pantas untuk tinggal di sana. Tapi kemudian matanya beralih ke pintu kamar yang ada di belakang oma Dewi.


"Aku pilih kamar ini aja, oma."


Tina menunjuk kamar itu, membuat oma Dewi akhirya berbalik.


Oma Dewi tersenyum. Dia tahu, cucunya itu masih merasa asing dan juga canggung. Sangat wajar, mereka baru bertemu di saat Tina sudah sebesar ini. Ingin sekali rasanya ia memarahi Viana, memiliki cucu secantik Tina, tapi justru malah dirahasiakan. Kini oma Dewi sudah berjalan mendekati Tina, tangan keriputnya mengusap rambut Tina.


"Oma harap, kamu bisa cepat beradaptasi dengan kehidupan baru. Kalau butuh apa-apa, kamu bisa bilang sama oma. Kalau oma gak ada, kamu bisa minta tolong sama bu Siti, asisten rumah tangga di sini."


Tina hanya mengangguk sambil tersenyum kaku. Setelah melihat oma Dewi naik ke lantai atas, barulah dia memasuki kamar barunya. Seperti yang sudah diperkirakan, kamarnya benar-benar mewah. Tidak ada lagi kasur lepek yang keras, sudah berganti dengan kasur besar yang akan membuat tidur Tina lebih nyaman. Tidak ada lagi lemari plastik butut, lemari bajunya terlihat kokoh dan juga bisa menampung banyak baju. Kamar mandinya juga ada di dalam, jendela yang menghadap ke taman depan terasa begitu menyegarkan.


Tapi apa arti semua itu jika sekarang Tina hanya seorang yatim piatu? Tidak akan ada lagi tempat dia mengadu dan berkeluh-kesah tentang hidup yang rasanya tidak pernah adil untuk dirinya. Tidak akan ada masakan enak yang dibuat sepenuh hati oleh seorang ibu untuk anaknya. la sendiri, hidup di dunia yang kejam ini.


"Ini supaya kamu gampang hubungin oma kalau ada apa-apa. Nomor oma sudah ada di sana." oma Dewi memberikan ponselnya. Dengan ragu-ragu, Tina menerima ponsel itu.


"Ini formulir pendaftaran ke sekolah baru kamu. Sekolahnya nggak jauh dari sini kok. Tapi kalau kamu butuh sopir untuk antar jemput, oma akan--"


"Nggak perlu, oma." potong Tina dengan cepat.


Dia tahu kemana arah pembicaraan wanita baya itu.


"Sudah terlalu banyak yang oma kasih untuk Tina. Aku udah biasa kok naik angkutan umum."


Pandangan oma Dewi tiba-tiba melembut, membuat Tina dilanda cemas. Dia takut salah bicara sehingga membuat omanya tersinggung.


Tapi sungguh, dia sudah terlalu banyak menerima. Jika hanya masalah kendaraan untuk pergi dan pulang sekolah harus ditangani omanya juga, Tina merasa menjadi anak yang manja. Dia sudah terbiasa hidup susah, menangani semua masalah yang sekiranya bisa ditangani sendiri. Tapi lihatlah dia sekarang, menjadi cucu dari wanita tua kalangan atas. Dia tidak pernah bermimpi sampai segitu tingginya.


"Kamu sangat mirip dengan Viana."


Hati Tina mencelos mendengar nama ibunya. Rindu di dalam dadanya tiba-tiba menggunung tanpa terkendali. Matanya sudah memanas pertanda akan menangis saat itu juga, tapi Tina berusaha menahan sekeras mungkin. Dia tidak mungkin menangis di depan oma Dewi, karena itu hanya akan membuat beliau ikut sedih. Tina berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


"Makasih buat handphonenya, oma. Tina bakalan rajin belajar dan bikin oma bangga. Kalau gitu, Tina masuk dulu." pamitnya yang diangguki oleh oma Dewi.


Begitu selesai mengunci pintu, Tina membanting tubuhnya ke atas kasur dan menangis sejadi-jadinya. Tanpa dia ketahui, oma Dewi juga melakukan hal yang sama dari balik pintu.