You Are My Princess

You Are My Princess
•Berusaha berubah



Alvin menarik Callista menuju atap sekolah. Setelah sampai Callista menarik tangannya dan menatap Alvin.


Alvin menghela napas, "Gue ajak ke sini biar lo di kantin ga jadi pusat perhatian" Sahut Alvin.


Callista terdiam. Apa yang di katakan Alvin ada benarnya juga, dia sekarang jadi pusat perhatian gara gara Nindya. Entah masalah apa yang akan Callista hadapi.


"Lo bener" Ucap Callista.


Alvin menatap Callista dari samping, "Kalau ada masalah gue pasti bantuin lo kok, jangan peduliin kata orang lain, kalau boleh nih ya lo juga harus berubah" Ujar Alvin seraya tersenyum.


Callista menghela napas, "Ga bisa"


"Lo harus bisa, apapun masalah yang ada di masa lalu lo, lo harus berubah, jangan jadi diri lo yang dulu, jadi lebih baik gue ga suka cewek itu lemah di mata cowok" Balas Alvin dengan nada yakin.


Callista terharu, ternyata ada orang lain yang peduli padanya. Callista tau, ia harus berubah, tapi bayang bayang itu tidak bisa di hilangkan. Callista akan menuruti perkataan Alvin kali ini.


Callista tersenyum senang, "Baik gue turutin kata kata lo" Ucap Callista menatap Alvin dengan terharu.


Alvin pun tersenyum sumringah, "Nah gitu dong, jangan gara gara gue lo mau berubah tapi, ikutin hati kecil lo kalau lo mau berubah"


Callista mengangguk dengan semangat. Alvin yang melihat itu pun senang, ia belum pernah melihat Callista senyum selebar ini. Callista memalingkan wajahnya.


"Balik ke kelas yuk, Vin" Ajak Callista.


Alvin menganggukkan kepalanya. Callista dan Alvin pun pergi dari atap sekolah.


*******


Di sisi lain Daffin khawatir akan keadaan Callista saat di kantin ia melihat Callista tertekan. Sudah 15 menit ia menunggu di dalam kelas, tapi Callista belum muncul juga. Dan Daffin ingin menanyakan kenapa Callista menjauhinya.


Callista yang menyadari Daffin mendekat, ia pun menggenggam tangan Alvin. Alvin melirik Callista, menuju arah pandang Callista. Daffin berhenti tepat di depan Callista dan melirik sekilas tangan mereka saling menggenggam.


Daffin mengepalkan tangannya, "Cal gue mau bicara sama lo"


Callista meremas jemari Alvin, seperti ingin meminta pertolongan. Alvin yang paham, langsung menghalangi Daffin yang ingin mendekat. Sontak Daffin menghentikan langkahnya, dan menatap Alvin tajam berusaha mengatakan 'lo ga usah ikut campur'.


Alvin menatap datar Daffin, "Gue masih ada urusan sama Callista"


Daffin hilang kendali, ia mencengkram kerah baju Alvin, "Pergi lo!!" Sentak Daffin.


Emosi menguasai Daffin sekarang terlihat dari wajahnya yang seperti ingin membunuh orang. Callista panik, menarik Alvin pergi menuju tempat duduknya meninggalkan Daffin di sana dengan wajah lesu.


*********


Setelah jam pelajaran selesai Callista merapikan alat tulisnya memasukkan ke tas, lalu keluar kelas menuju parkiran sekolah. Selama pelajaran, ia dan Daffin tidak bicara lagi.


"Apa gue keterlaluan banget ya?" Tanya Callista dalam hati.


Callista tersenyum kecut, mungkin ia keterlaluan tapi ia tidak bisa terus berdekatan dengan Daffin. Kalau ia dekat dengan Daffin yang ada ia sendiri kena masalahnya. Callista menatap lapangan basket, ia seperti mengenali siswa yang sedang bermain di sana.


Itu Daffin. Orang yang harus ia jauhi. Tapi entah kenapa ia ingin sekali selalu ada di samping Daffin. Callista melangkahkan kakinya lebih dekat, sementara Daffin yang menyadari ada seseorang di belakangnya ia segera balik badan. Callista terkesiap, panik ia pun balik badan dan segera menjauh. Sebelum sempat melangkah, tangannya di cekal oleh tangan Daffin.


Daffin kembali bersemangat seperti ia telah menemukan sumber energinya, senyum indah menghiasi wajah Daffin. Daffin memegang pundak Callista dan memutarkannya menghadap Daffin. Sementara Callista sudah pasrah, ia menyerah, di dalam hati ia mengutuk kakinya sendiri.


"Cal gue pengen ngomong sama lo, pengen nanya sama lo" Ujar Daffin menatap Callista penuh harap. Callista menelan ludah, ia menganggukkan kepalanya.


Selesai~