You Are My Princess

You Are My Princess
•Punya teman baru



Keesokkan harinya Callista datang terlambat. Padahal ia sudah menyiapkan alarm dari kemarin, ah sudahlah ia pasrah akan kena hukuman. Selama menjalani hukuman, ia menatap taman belakang sekolah. Dan melihat seseorang yang berbicara dengan seorang siswi yang kemarin. Ia tahu siapa siswa yang di ajak bicara.


Tapi mereka keliatan mesra, seperti orang pacaran? Entahlah tidak tahu. Melihat mereka dekat hati Callista merasakan sakit. Callista mengepalkan tangannya erat. Baru kemarin ia memikirkan cowok. Apakah cowok itu memikirkannya juga? Callista memalingkan mukanya.


Ia meninggalkan taman belakang sekolah dengan perasaan memburu, yang ia tidak tahu itu perasaan apa. Callista berhenti ketika melihat sepatu, ia mengangkat kepalanya. Callista mengernyit.


Sosok siswa yang ia tidak kenali menghampirinya, Callista tidak mengenal siswa ini. Tanpa mempedulikan siswa itu, ia melanjutkan langkahnya. Sebelum melangkahkan kakinya, siswa itu lebih dulu memegang tangannya, dan mengajaknya ke rooftop.


Setelah sampai siswa itu melepaskan genggamannya. Dan menghadap pada Callista yang sedang di landa kebingungan.


"Cal, dari dulu gue selalu pengen deketin lo, gara gara ada Daffin yang ada di deket lo gue jadi ragu" Ujar cowok itu tiba tiba.


"Hah?" Balas Callista.


Siswa itu tampak gugup, "Ehm...gue pengen jadi temen lo" Lanjut cowok itu.


Callista mengerjapkan matanya pelan, ia masih mencerna perkataan cowok itu. Apakah cowok ini serius?.


"Eh temen aja kok, nggak lebih beneran" Lanjut cowok itu dengan mata puppy eyes.


"Ya" Jawab Callista cuek.


Dan akhirnya Callista menjawab 'Ya' sebagai tanda persahabatan mereka, dan sebenarnya ia ingin menolak tapi tidak tega.


Satu kata mampu membuat cowok itu senang bukan main. Cowok itu pun memeluk Callista reflek.


Lalu cowok itu mengantarkan Callista ke kelas. Semoga dengan ia berteman dengan cowok ini, hidup yang dulunya kelam berubah hanya karena mempunyai teman. Ia tidak mau terulang lagi masa masa itu. Jadi ia berusaha merubah segalanya pada dirinya.


Sejak saat Callista melihat adegan waktu di taman belakang sekolah, ia sama sekali tidak bisa menghilangkan pikiran pikiran aneh di kepalanya. Dan saat ini ia mempunyai teman baru.


"Rasanya seperti ini mempunyai teman yah" Batin Callista senang.


Semenjak ia tidak punya teman, ia tidak tau apa arti bahagia, yang ia tau cuma arti sengsaranya hidup. Hidup dalam kegelapan. Hidup dalam bayangan masa lalu. Entah kapan terakhir kali ia sesenang ini, Callista tidak mau memikirkan itu. Yang penting saat ini punya teman itu saja sudah cukup, dan ia tidak mau mencari masalah dengan siswi siswi di sekolah ini.


Callista menghela napas. Semoga ia menjalani hari hari yang menyenangkan. Callista telah berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan berdekatan lagi dengan Daffin!. Tidak akan!. Dan untuk siswi yang telah menguncinya pada kelas kosong itu, Callista akan mengurusnya nanti.


Tiba tiba suasana kelas menjadi hening. Callista mengerjapkan matanya, melihat sekeliling. Kenapa semua teman sekelasnya menatap dia secara tajam?. Lalu ia melihat seseorang yang berusaha ia hindari, ada di depan Callista. Callista mendengus kasar.


Daffin menarik Callista keluar kelas. Ia memberontak sekuat tenaga tapi tidak ada hasilnya. Apa apaan ini!? Huh, terpaksa ia hanya mengikuti Daffin.


Daffin mengajak Callista berbicara pada koridor yang sepi. Setelah sampai Callista menepis genggaman Daffin. Ia tidak mau menatap Daffin. Daffin menghela napas pasrah.


"Cal lo kenapa? Gue cari lo ke kelas tapi enggak ada"


Callista melotot. "Ga usah deketin gue lagi!"


Selesai~