
Tap
Tap
Tap
Brak!
Callista mengangkat kepalanya dan melihat sosok yang selalu ada di pikirannya. Ya, itu Daffin. Daffin pun berlari menghampiri Callista dan memeluknya erat. Callista pun mulai menangis di dalam pelukan Daffin.
"Cal! Lo ga apa-apa kan?" Tanya Daffin cemas.
Callista tidak menghiraukan pertanyaan Daffin, ia tetap memeluk Daffin sambil menangis. Daffin pun membantu Callista berdiri. Setelah itu, mereka keluar dari kelas kosong itu.
******
Setelah keluar dari kelas kosong itu, mereka pun menuju parkiran sekolah. Callista memandang Daffin dari samping. Ia rasa harus menjauhi Daffin agar kejadian ini tidak terulang lagi. Tapi entah kenapa pikiran dan hatinya bertolak belakang. Ia mulai merasa bingung.
"Cal! Hei!" Panggil Daffin.
Callista mengerjapkan matanya pelan, "Cal, siapa yang ngelakuin ini?" Tanya Daffin.
Callista memalingkan wajahnya. Ia tidak menjawab sekalipun.
Daffin menghela napas, "Yaudah, kalo lo ga mau kasi tau biar gue yang cari sendiri pelakunya!" Lanjut Daffin.
"Oke kita udah sampe parkiran, sekarang gue yang anter lo" Ucap Daffin.
Callista menganggukkan kepalanya. Daffin pun menyalakan mobilnya dan pergi ke rumah Callista.
******
1 jam berlalu. Mereka pun sampai di rumah Callista. Daffin turun dari mobil dan membantu Callista berdiri. Callista hendak mengetok pintu tapi Daffin menghentikannya.
"Biar gue aja" Ujar Daffin.
Tok..tok..tok
"Iya, sebentar!" Sahut Mama Callista dari dalam rumah.
Ceklek
Seorang wanita paruh baya membukakan pintu. Ella pun terkejut dengan keadaan putrinya. Ella panik.
"Astaga! Kamu kenapa sampai kayak gini sih sayang!? Siapa yang ngelukain kamu!? Kalo Papah tau bisa bahaya!"
"Mah, aku ga apa apa kok. Jangan aduin ke Papah ya Mah" Balas Callista.
Ia berusaha menenangkan Mamahnya yang khawatir dengan keadannya. Ini sungguh tidak ada apa apanya. Sebelum masuk ke rumah, ia melihat Daffin.
"Oh iya Mah, ini temenku yang nyelametin aku tadi" Ujar Callista sambil tersenyum.
Sesaat Daffin melihat Callista tersenyum. Hanya 1 detik. Dan ekspresi Callista pun berubah. Sama seperti waktu Callista berada di sekolah.
"Oh ini yang nyelametin Cal toh, ayo sini nak Daffin" Sahut Ella, Mama Callista.
Daffin menggelengkan kepalanya, " Eh ga usah deh tan, udah malem takut di cariin sama Mom, Dad" Balas Daffin.
Sebelum pulang Daffin berbicara sebentar dengan Callista lalu berbalik dan pergi dari rumah mewah itu.
Ella menatap putrinya, "Cal, kamu udah besar ya sekarang, udah bisa menyembunyikan sesuatu nih"
Callista mendengus kasar, "Nggak ada yang Cal sembunyiin kok Ma"
Ella menatap penuh arti, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Callista menatap langit, sambil tersenyum.
"Hari ini langit sangat indah, semoga besok akan seperti ini lagi" Batin Callista.
Callista pun masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu rumahnya.
******
Ceklek
Setelah sampai Daffin bergegas ganti baju dan mandi. Beberapa menit kemudian Daffin keluar kamar mandi, menuju lemari dan memakai pakaiannya. Ia langsung menuju balkon kamarnya. Entah apa yang menghantui pikirannya saat saat ini. Ia teringat kejadian yang tadi, tentang senyum itu.
Daffin mendongakkan kepalanya ke atas. Ada yang aneh. Ia hanya merasa ada yang aneh pada senyum itu. Apakah Callista ada trauma di masa lalu? Atau ada masalah lain hingga ia menjauhi teman teman sekelasnya?. Ada banyak pertanyaan di kepala Daffin. Dan sekarang ia mulai penasaran dengan gadis bernama 'Callista Fransiska Putri'
Ia harus mendapatkan gadis itu. Gadis itu hanya miliknya saja. Miliknya.
"Well, Cal gue rasa gue semakin tertarik sama lo!" Batin Daffin dengan senyum di wajahnya.
Setelah itu Daffin masuk ke dalam kamarnya dan tidur, menunggu hari esok untuk bertemu dengan Princessnya.
******
Selesai~