
Bel istirahat berbunyi. Siswa-siswi pun keluar menuju kantin sekolah. Callista menuju meja kantin dengan makanannya. Ia duduk lalu makan. Semua murid menatap Callista, ada yang berbisik-bisik membicarakan Callista. Beberapa saat siswi berteriak histeris, membuat telinga Callista rasanya ingin pecah. Callista menoleh, ia mengernyit. Laki-laki itu mencari seseorang yang ada di kantin ini. Tatapan laki-laki itu pun berhenti tepat pada Callista. Laki- laki itu tersenyum lalu berjalan menuju meja Callista.
Callista melanjutkan makanannya. Laki-laki yang tadi membuat siswi berteriak histeris itu, ada di depan Callista. Callista mendongak lalu menaikkan alisnya sebelah.
"Gue boleh duduk di sini?" Tanya laki-laki itu.
Callista menjawab dengan deheman sembari melanjutkan makanannya yang tertinggal. Setelah dapat persetujuan laki-laki itu pun duduk di hadapan Callista.
"Gue pengen kenalan sama anak baru!" Ujar laki-laki itu.
Callista mengernyit, tapi tetap tidak menghiraukan ucapan laki-laki itu.
"Nama gue Daffin Pratama, semoga kita jadi teman yang baik yah, Cal!" Lanjut Daffin.
Callista tidak merespon. Ia bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan kantin. Membuat semua murid melongo.
"Apa-apaan itu, di ajak kenalan malah di cuekin!"
"Emang ga punya hati!"
"Aduh Fin, sama aku aja kenalannya jangan sama cewek tak tahu diri itu!"
Semua murid mulai berbisik-bisik. Daffin berdiri mengikuti kemana Callista pergi.
******
Callista berhenti di taman belakang sekolah, mungkin ini tempat yang nyaman bagi Callista dari pada di kantin. Ia berjalan menuju bangku yang ada di sana lalu duduk. Callista memejamkan matanya, menikmati angin yang berhembus kencang.
"Cal!!" Teriak Daffin.
Callista membuka matanya. "Apa?" Tanya Callista datar.
Daffin pun duduk di sebelah Callista, "Jangan di masukin ke hati ya kata-kata tadi" Ujar Daffin.
Callista tidak menjawab, ia mengambil hpnya dan earphone kesayangannya yang ia bawa kemana ia pergi. Callista pun hanyut dalam alunan lagu yang ia putarkan.
"Cal! Lo baik-baik aja kan?" Tanya Daffin khawatir.
"Cal!"
Daffin pun menepuk bahu Callista, membuat Callista menoleh. Callista menepis tangan Daffin.
"Oke! Oke! Kalo Lo ga suka di sentuh, tapi Lo baik-baik aja kan?" Tanya Daffin lagi.
Callista pun melepaskan earphone yang ada di telinganya, "Lo mau apa?" Tanya Callista tanpa mempedulikan pertanyaan sebelumnya.
Daffin mendengus, "Gue tanya apa, Lo jawab apa"
"Jawab dulu pertanyaan gue! Lo ga apa-apa kan?" Lanjut Daffin.
Callista menganggukkan kepalanya. Membuat Daffin seketika lega. "Yuk balik ke kelas bentar lagi mau bel"
Daffin pun menggenggam tangan Callista tanpa sadar. Callista tidak merespon atau berusaha menepis. Ada perasaan hangat, saat tangan Daffin menggenggam tangannya. Tanpa sadar Callista tersenyum.
******
"Heh! Lo murid baru jangan sok cantik deh di sini!" Ujar ketua geng mereka, Nindya Herman.
Callista tidak merespon membuat Nindya geram. Nindya pun menarik Callista menuju kelas yang sudah tidak terpakai. Setelah sampai Nindya mendorong Callista membuat ia terjatuh di lantai itu.
Nindya maju selangkah, mencengkram pipi Callista membuat ia meringis, "Maksud Lo apa deketin pangeran gue!!? Lo nyari ribut!?" Bentak Nindya.
Callista tidak peduli, ia berusaha menepis tangan Nindya. Callista pun menjambak rambut Nindya, membuat Nindya tambah marah.
Plak
Nindya menampar Callista dengan keras. Callista terdiam. "Girls! Urus murid baru ini! Kalian mau apain aja boleh, kalo perlu bunuh aja!!" Emosi Nindya lalu ia pun pergi menuju pintu kelas untuk menjaga agar tidak ada orang yang datang.
Callista melotot, ada tiga murid yang harus ia hadapi. Apakah ia akan melawan?.
"Lo anak baru jangan berusaha deketin Daffin deh, Daffin tuh pacarnya Nindya. Jadi lo jauh-jauh dari pada di sebut pelakor!" Ucap murid perempuan salah satu dari mereka.
Anak buahnya Nindya pun mulai menampar, menjambak, mencakar kulit Callista. Callista sudah tidak ada tenaga untuk melawan. Tapi saat Callista mendorong salah satu anak buah Nindya, kepala Calista pun di benturkan ke tembok. Membuat Callista pingsan.
"Udah selesai?" Tanya Nindya.
"Sudah Nin" Jawab mereka kompak.
Nindya tersenyum sinis, "Girls! Kita cabut biarin aja tuh anak baru sampe malam di sini" Ujar Nindya lalu pergi meninggalkan kelas yang tidak terpakai itu di ikuti anak buahnya. Nindya pun mengunci pintu kelas tersebut lalu pergi.
Callista meringis, ia berusaha bangkit. Akibat benturan itu penglihatan Callista menjadi tidak jelas. Ia berusaha menggedor-gedor pintu dengan sisa tenaganya.
"Tolong!! Siapapun tolongin gue!!" Teriak Callista.
Tidak ada jawaban. Callista pun sudah menyerah, ia sudah mengeluarkan seluruh tenaganya tapi tidak satu orang pun yang datang.
"Daffin tolongin gue!!"
Entah sadar atau tidak Callista mengucapkan kata-kata itu.
"Hiks.. tolongin gue! Daffin!!" Teriak Callista sembari mengusap air matanya yang keluar.
Setelah 1 jam pun berlalu, Callista pun menutup wajah dengan tangannya sembari berdoa dalam hati.
Tap
Tap
Tap
Brak!
Selesai~