
Di tempat ini tidak peduli siapapun jika dia tidak lulus ujian maka tidak bisa masuk meskipun itu seorang kaisar sekalipun, itu adalah kebijakan di sekte ini ujianpun berbeda dengan sekte lain.
Di sebuah ruangan yang sedikit kosong mereka semua masuk di tengah ruangan ada tiga meja di meja pertama ada batu giok besar berbentuk bola, meja kedua ada kertas kuas dan tinta, di meja ketiga ada empat buah tongkat kayu, lima bola kecil dan dua mangkuk.
" ujian ini tidak sulit pertama cukup sentuh batu giok itu dengan memejamkan mata, silahkan! "
pemuda itu maju dan mengulurkan tangan kepada batu giok sambil memejamkan mata saat itu dia merasa jiwanya tersedot kedalam batu itu keringat dingin mengalir di tubuhnya dia berusaha keras menarik tangannya tetapi sulit matanya juga tidak bisa dibuka, semakin dia berusaha semakin kuat benda itu menyedot hingga akhirnya pria baya itu memegang pundak pemuda itu. Saat pundaknya di pegang dia merasa tubuhnya terlepas membuatnya terhuyun huyun dan hampir jatuh untung dia langsung berpegang meja.
" cukup buruk, coba yang ini kamu cukup tulis tiga nama bunga di halaman utama sekte! "
Pemuda itu tersenyum dalam hati itu mudah hanya tiga nama dan saat dia menggiling tinta kemudian memegang kuas dia baru ingat saat masuk tadi dia tidak sempat melihat taman di sebelah jalan jadi dari mana dia tahu bunga apa itu. Cukup lama dia berfikir hingga membuat pria tua itu sedikit gelisah hanya nama bunga saja pemuda itu tidak bisa, sayangnya pria tua itu tidak bisa membuat masalah karena takut di usia dari tempat ini dan akan sangat sulit datang lagi kemari. Akhirnya pemuda itu menulis nama yang kemungkinan sesuai dengan sekte ini tetapi sayang setiap kali dia selesai menulis satu nama bunga tulisan di kertas itu hilang tak berbekas yang membuat pemuda itu sedikit marah. Tidak lama pemuda itu sadar jika dia menulis nama bunga yang tidak sesuai pasti tulisan itu hilang karena saat dia menulis bunga teratai tulisan itu tidak hilang dan hanya saja dia tidak bisa menebak bunga apa lagi yang ada di halaman depan.
" cukup sudah habis waktu, sekarang yang ketiga gunakan keempat tongkat itu untuk memindahkan bola kedalam mangkok! "
Pemuda itu tidak berani ceroboh lagi dia harus berhati hati, yang membuat dia bingung dia harus memakai keempat tongkat kecil ini. Tongkat itu sebesar jari telunjuk dan sepanjang siku berbentuk panjang tak beraturan tidak kotak ataupun bulat hanya seperti asal merasa saja. Cukup lama pemuda itu diam tidak bergerak, dia bingung harus melakukan apa lama kelamaan dia bergerak mencoba memegang ke empat tongkat dengan dua tangan lalu menggerakkan seperti sumpit untuk mengambil bola karena permukaan tongkat tidak beraturan jadi bola sedikit terpeleset tapi dia berhasil memindahkan semua bola itu.
" kamu cukup baik tapi sayang ini tidak bisa untuk lulus " kata pria baya itu
" tapi saya tadi berhasil untuk yang terakhir "
" tapi itu tidak cukup untuk lulus "
" tapi bagaimana bisa tidak lulus jelas jelas dia tadi bisa " kata pria tua itu protes
Di saat semua berargumen tetua masuk keruangan itu dengan tersenyum dan berkata.
" panggil guru zhou dia tahu apa yang di lakukan " lalu guru besar itu pergi
Setelah pimpinan pergi seorang pria tua yang di sebut guru zhou masuk dia tersenyum
" halo saya Chu Yixu " kata pemuda itu sambil membungkuk memberi hormat
" oh kamu murid baruku, setelah ini anda tidak bisa pulang tinggal di sini sampai tiga tahun dan setelah ujian ada libur satu bulan tidak ada pelayan semua melayani diri sendiri tidak membawa pakaian berlebih uang berlebih, tidak ada pelanggaran jam malam, bangun pagi sebelum matahari bersinar, tidur setelah makan malam tidak ada kunjungan tanpa perintah pimpinan tanpa terkecuali, apakah anda sanggup?"
" saya.... saya... eee " lalu Chu tua memandang Chu xu dengan peringatan
" saya bersedia " jawabnya dengan enggan
" karena sudah setuju anda ikut saya! " kata guru Zhou
Setelah Chu xu dan guru Zhou pergi meninggalkan ruangan
" karena sudah selesai harap tuan Chu pulang kami tidak bisa melihat anda ke gerbang! " kata pria baya itu dan berlalu
Karena di usir old Chu sedikit marah tetapi dia tidak berani melakukan hal buruk di sekte ini jadi dia pergi tanpa kata lagi bersama para pengikutnya.
Setelah Clpengaturan Chu xu pemimpin pergi ke kamar Jintian untuk melihat apa Jintian bangun atau belum. Dia masuk dan memandang Jintian yang masih tertidur di ranjang, shizun menghela nafas lega dan duduk dikursi dekat ranjang menuang teh untuk dirinya sendiri dan mulai membaca buku.
LIKE
KOMEN
DAN SHARE
amei tunggu ya 😊 dan tunggu kelanjutannya ~~~~~