WRITER HORROR STORIES

WRITER HORROR STORIES
BAB 2-PERPUSTAKAAN



"Vell,kamu senggang gak sore nih."Tanya Erni teman seasrama denganku.


"Gak.Ada perlu apa?"Jawabku seadanya sambil merapihkan tempat tidurku.


"Sore ini temanin aku ke perpus,mau yah."Pujuknya sambil menggoyang-goyangkan tangan kanan ku sebagai petanda memujuk diriku agar mengikuti kemauannya.


"Em,"Jawabku dengan gumanan saja.


Aku lalu meraih tas ransel serta beberapa buah buku yang diperlukan untuk mata kuliah pagi itu.Aku dengan Erni sama-sama berangkat pergi dari asrama kerana tempat tidur kami hanya jarak beberapa ranjang saja.


Di asrama ini terbahagi kepada tiga bahagian.Bahagian pertama,kamar pengawas asrama,bahagian kedua kamar belajar dan bahagian ketiga kamar tidur.


Kamar tidur ini layaknya seperti markas tentara.Kamar yang begitu luas dan panjang jauh kesana.Hiss,mau menerangkannya juga author sedikit keliru.Tapi yang pasti kamar tidur itu mirip markas tentara yang muat seratus duapuluh pelajar dalam satu tempat.Ranjang dua tingkat sebanyak enam puluh buah semuanya.Dahsyat bukan?


"Vell,malam tadi apa kamu masih mendengar bunyi ketokkan itu?"Tanya Erni takut-takut.


"Em,malah bunyinya semakin kerap kedengaran setelah jam setengah dua pagi."Jawabku menimpali kata-kata Erni.


"Vell,malam ini aku mau tidur satu ranjang sama kamu.Aku takut."Ujar Erni lagi.


"Takut?Ngapain takut?Ranjangnya kecil tau.Ntar tidur berhimpitan."Jawabku enggan.


"Tapi Vell."


"Gak ada tapi-tapi.Kalo takut,aku saranin kamu pasang kelambu.Setelah itu kamu letak kain sarung sekeliling kelambu agar tidak bisa ngelihat apa-apa yang diluar."Jawabku dengan sekenanya.


Bukan aku tidak suka tidur satu ranjang dengan orang lain.Aku juga mau tidur ditemanin oleh teman-teman.Apa lagi jika waktu malam yang sering diselubungi rasa takut yang berat.Namun keadaan ranjangnya yang kecil,tidak mana mungkin bisa berbagi dua manusia disana.Benar-benar sempit.


Jika ada hal yang darurat,besar ranjangnya cuma muat dua orang jika bertubuh kecil.Tapi tidak bagi aku yang tubuhnya sedikit berisi kayak donat.


Obrolan kami akhirnya terhenti disaat sudah tiba di kelas masing-masing.Hari yang terasa panjang jika mata kuliah hari ini mata kuliah yang tidak digemari.Terutamanya jika ada mata kuliah matematika selama satu jam.Bisa pecah kepala memikirkan nomor-nomor serta formulir-formulir yang membuat kepala menjadi blank.


********


"Vell,Ayo!cepetan.Ntar perpusnya penuh sama pelajar lain."Pekik Erni yang sudah berjalan terlebih dulu dihadapan ku.


"Iya,iya bawel."Omelku di belakangnya.Namun masih lagi dengan tempo langkah yang sama.


Di perpustakaan,setelah mengambil nomor antri,kami lalu mencari tempat duduk untuk berdiskusi tentang mata kuliah yang ada tugasan oleh ibu guru.


Di perpustakaan ini harus mengambil nomor antri kerana perpustakaan ini tidak besar dan harus dihadkan pelajar yang masuk kemari.


Aku terpekik kaget.Keget cuma sesaat.Mungkin ada pelajar yang secara tidak sengaja mendorong buku itu sedikit kasar sehingga menyebabkan iyanya jatuh kearahku.


Aku menghiraukan hal itu.Lengkah kakiku terhenti betul-betul di hujung rak buku di belakang sana.Jauh dari pelajar lain.Sekali lagi,sebuah buku terjatuh lagi dihadapan ku.Bukan kaget,tapi aku sudah merasa kesal kerana seolah-olah seperti dipermain-mainkan oleh sesiapa.


Lantas kepalaku celingak-celiguk mencari siapa pelakunya.Namun nihil.Pelakuknya kayak hantu.Tidak ditemukan dimana-mana meskipun aku mencarinya disetiap lorong rak buku.


Tiba-tiba...


Brakkkk!!!


Kyaaaa!!


Kedengaran teriakkan yang tidak asing jelas kedengaran tertangkap di telingaku.Itu suara teriakka Erni.Aku bergegas ke tempatnya.


"Er,kau kenapa?"Tanya ku sedikit panik.Mana tidak paniknya,ditambahi dengan wajah Erni yang sudah pucat seperti ketakutan akan sesuatu.Matanya melotot besar menatap ke satu sudut rak buku.Aku mengikuti arah tatapannya.Namun aku tidak melihat apa-apa disitu.


Aku memapah Erni untuk bangkit.Tadi Erni yang ketakutan masih lagi terduduk di lantai marmer perpustakaan dengan wajah yang ketakutan.


"Kamu disini dulu.Aku mau ngelihatin apa yang ada disana."Ucapku dan melepaskan tanganku yang memegang tangannya sebentar tadi.


"Jangan!Kita pulang.Aku mau pulang."Ujarnya lagi lalu menarik tanganku.


Namun langkahku terhenti disaat tanganku menyentuh lengan kanannya.Terasa panas daripada suhu badan normal.Dan ada bekas merah samar-samar tertangkap di indera penglihatan ku pada lengannya.


Badanku mendadak berkeringat.Aku tau iyanya disebabkan oleh apa.Tapi aku harus memastikannya terlebih dulu daripada Erni.


"Er,tadi kau telah lihat apa?"Tanyaku semakin cemas.


"Ti..tidak lihat apa-apa.Tidak apa-apa."Jawabnya takut-takut.


"Kau bohong."Desis ku.


"Apa ada sesuatu yang menyentuh tangan mu?"Selidiki ku lagi.


"Itu..itu.."


"Kita keluar dulu dari tempat ini."Kataku lagi lalu mengheret Erni denganku untuk keluar dari perpustakaan itu.


❤️❤️❤️ Bersambung...