
Pelajaran Akuntansi di kelas XII Ips 5 adalah hari senin di jam terakhir. Karena ini adalah pelajaran jurusan, jadi jam belajarnya adalah tiga jam non stop.
"Udah mah hari senin, eh ngitung duit yang kagak ada lagi. " keluh teh Iyos. Ia mengambil wadah pensil dan melemparnya, kemudian mengambil kembali dan melemparnya lagi. Terus menerus seperti itu, untung suasana kelas ramai dan gurunya juga tidak merasa keberatan. Maklum kelas Ips.
"Kok setiap hari senin kayak gini ya? Padahal nabi Muhammad lahir di hari senin. Pusing da aku. " Aan memencet-mencet kesal kalkulator miliknya. Ceritanya aan gak mau benci dan menyalahkan hari senin gaes.
"Asal senin ge kieu. Pagi upacara, mending pas amanat pembina upacara sebentar mah, lah ini mah lama. Terus dilanjut dengan pelajaran Bahasa Arab, dilanjut lagi dengan pelajaran Bahasa Sunda, lagi Bahasa Indonesia, eh setelah belajar bahasa dilanjutkan dengan belajar ngitung. Mnding kalo ngitung ketemu hasilnya, lah kalo kagak, kacape-cape mikir. Udahmah angka Nol nya telalu banyak, terus juga gurunya gak bener ngajarna. Jadi murid mengajarkan murid, bukan guru yang ngajar. " dumel tati. ngomelnya panjang banget neng. Ia punya dendam sendiri terhadap guru pelajaran ini.
"Sstt ah jangan begitu pamali. " nur.
Nur cuma tersenyum maklum. Ia masih sibuk berkutat dengan pensil, penggaris, penghapus, LKS, dan buku besarnya. Sangat berbanding terbalik dengan para sahabat lainnya, ia sangat menyukai pekerjaan ini. Menurutnya semakin banyak angka yang tertera, semakin banyak rahasia yang harus ia tau (?) au ah aku bingung.
Karena belajar akuntansi hari ini harus berkelompok, jadi mereka berempat sekelompok. Dalam satu kelompok terdiri dari empat orang. Jadi mereka adem ayem opatan aje.
Banyak yang iri pada mereka karena tidak mau pisah, ditambah lagi ada nur, yang notabene ahli dalam pelajaran ini, dan nur juga Ranking satu di kelasnya.
Teh iyos, Aan, dan tati sibuk masing-masing. Mereka sudah menulis soal dan tabelnya. Tinggal nunggu hasilnya kerja Nur.
Walaupun mereka mengeluh tentang pelajaran ini, tapi kalau nur sudah selesai mengerjakan maka bagaikan melihat gebetan melambaikan tangan kearahnya, mereka langsung atoh dan berbondong bondong salah tingkah. Tapi nur tidak mempermasalahkan itu. Namanya juga,, entahlah mungkin sahabat. Nur tidak menganggap bahwa mereka memanfaatkannya.
Oh iya, banyak yang tidak menyukai pelajaran Akuntansi. Mungkin hanya nur dan saingan nur tentu saja. Tapi si saingan nur bukan menyukai pelajarannya, melainkan berambisi mengalahkan nur di dalam bidang apapun. Pasalnya nur jago dalam segala hal, sehingga banyak yang tidak menyukai dirinya.
Tiba-tiba nur mengernyit dalam. Ia terlihat sangat serius. Dengan gesit, ia menolehkan kepalanya menatap aan.
"An?!! " aan yang mendengar langsung terlonjak kaget.
"Kah jij? "
"2×1 samadengan? " dengan gerak cepat aan akan menekan tombol kalkulator. Ia terdiam.
"Ya dua jij. " aan berucap santai sambil menatap nur dan nur hanya membulatkan mulutnya sambil mengangguk.
Nah inilah kebiasaan nur saking kapusinganna ngerjain Akuntansi. Dia akan bertanya yang aneh-aneh.
Jika tati dan teh iyos pasti akan menatap jengah nur, walaupun tetap menjawabnya. Tapi beda dengan Aan. Meskipun nur bertanya ratusan kali padanya, dengan senang hati dia menjawabnya. Nah disini juga teh iyos dan tati akan menatap nelangsa mereka berdua. Saruana pikir mereka.
"2000×0 baraha? "
"Nol. "
"Terus 23×0\=? "
"Nol keneh jij. " nur merampas kalkulator milik teh iyos dibelakang. Kemudian membuktikan ucapan aan. Dan ternyata memang benar hasilnya tetap Nol. Dimana-mana ge hasilna Nol woy.
"Ooh jadi walaupun angkana berapa saja, mau beribu-ribu, berjuta-juta, beratus-ratus, kalau di kali Nol. Hasilnya tetap nol, begitu? " tanya nur polos. Polos tapi pengen nampol.
"Hu'um. " jawab aan woles. Saruana anjirr.
"Satu jij. " argghh aan kenapa dijawab, pura-pura tidak dengar saja.
"Kenapa hasilnya bisa satu? " hadeuhh.
"Soal itu aku tak tahu jij. Aku kasih saran aja tanyain ke mbah google. " Astagfirullah... sudahlah aku tak peduli.
"Enggak ada Kuota an, beliin dong. "
"Aku ge butuh kuota jij. " mereka berdua menertawakan tentang kuota boan nateh.
"1×1 baraha? "
"Satu. "
"Kenapa bisa satu sih? "
"Tanya keun weh ke penemunya. "
"Dimana? "
"Masa tidak nyaho? "
"Gimana cara nanyanya. Mereka udah wafat kan? "
"Iya, susul jung. "
"Oke deh. " bener-bener bikin gedek deh ini anak dua.
Teh iyos dan tati saling tatap dengan ekspresi cape, menyerah dengan tingkah rada-rada itu anak dua.
"Selesai. " ucap nur sambil melihat hasil kerjanya yang menghabiskan tiga lembar halaman buku besar, karena saking banyaknya transaksi dan angka Nol pastinya. serta kolom tabel jurnal juga sih.
Seketika wajah teh iyos, aan, dan tati langsung berwarna.
Mereka tersenyum gaje. Nur merasakan tatapan mereka mengarah padanya, seakan mengerti. tatapan lapar akan nyontek 😂😂
Perlahan ia menutup buku dan menyerahkan bukunya kehadapan mereka bertiga. Secara perlahan pula.
"Mangga arek nempo mah. "
"Hehehe. "
Bersumbang...