WOY

WOY
Sedih



Jam kosong adalah salah satu keberuntungan bagi kelas XII ips 5. Apalagi di saat-saat memasuki semester akhir yang sibuk-sibuknya.


Di depan ruang tata usaha terlihat dua perempuan yang sedang ngadem di bawah pohon Ketapang yang sedikit berguguran daunnya. Mereka adalah Aan dan Nur. Di bagian belakang mereka duduk terdapat kolam yang hanya berisi air dan dua daun teratai. Nggak ada ikannya.


Mereka ngadem disana karena sibuk remedialan. Bahkan nur yang notabene lumayan pintar di kelasnya, ia juga dapat remedial. Tapi untungnya nur cuma remedial 3 pelajaran, sedang aan 5 pelajaran.


Sekedar info, pas angkatan mereka, seluruh siswa mau itu kelas ipa ato ips, mau itu pintar atau tidak. Seluruh siswa pokonya kena remedial. Nah jadi saat itu mereka disebut angkatan paling ancur. Semoga sekarang tidak. Aamiin.


Jadi mereka ngadem disana da udah selesai remedan nya. Aan terus mengikuti nur karena nur rajin, jadi kebawa rajin nyelesain tugas. Dan akhirnya kelar juga. Nur sih sudah dari tadi selesai, karena kasian jadi dia menolong aan, beberapa pelajaran yang aan tidak bisa diisi dia.


Oh iya,  cuma mereka berdua yang sudah menyelesaikan tugas remedial di kelasnya. Yang lain? I DON'T KNOW.


Wusshhhhhh


"Alhamdulillah ada angin. " ucap mereka barengan.


"Hadena anggeus. Nuhun nya jij udah bantuin. " ucap aan.


"Alhamdulillah. yeh nte ku nanaon, tidak perlu berterimakasih. " aan tersenyum manis mendengar jawaban nur. Memang entah itu nyata dari hati, entah itu hanya ucapan semata, hanya Allah dan nur yang tahu. Jika ada yang berterimakasih padanya, maka pasti nur jawabannya seperti itu.


Cara berterimakasih orang pun berbeda-beda. Kalau ada yang berlebihan, maka cuma dijawab dengan senyuman atau anggukan.


"Teh iyos remedial na baru tiga ya. " entah itu pertanyaan atau pernyataan nur.


"Iya, tati komo remedan na 9 malah tidak sekolah. " aan mancing ghibah.


"Mungkin dia lelah. " canda nur.


"Yah namanya juga hidup pasti lelah ya? " hari ini tu tati tidak sekolah. Tanpa keterangan dia.


Biasanya tati berangkat sekolah bersama nur, pake motor matic milik Nur. Tapi nur hari ini tidak bisa menjemput dia karena motornya rusak dan menginap di bengkel milik teman kakak laki-lakinya.


Tadi pagi dia di antar oleh kakaknya sampai masuk ke dalam sekolah memakai vespa. Malu sih, tapi bukan malu karena diantar pakai vespa, melainkan dia jadi pusat perhatian. Terus orang yang kenal dia banyak yang bertanya, itu siapa? Pacar kah?. Nyatanya itu kakaknya.


"Si mieng remedna berapa pelajaran? " tanya aan.


"Buhet, banyak banget. " aan tertawa diatas penderitaan orang lain.


"Jangan begitu dih! " sahut nur dan aan cuma tersenyum lebar.


"Tidak terasa bentar lagi simulasi ke dua, terus Uasbn, terus Unbk, terus kelulusan, dan terus perpisahan weh nya. " ucap aan tiba-tiba.


"Iya, dan aku belum siap akan hal itu. "


"Aku pun. Sudah terlalu banyak hal yang telah kita lalui bersama. Walaupun kita ber emat sedikit renggang akhir-akhir ini karena kurangnya kedekatan. Tapi aku tidak siap dengan kata perpisahan. " aan menjatuhkan kepalanya ke pundak nur.


Hangat dan nyaman. Itulah yang ia rasakan. Pundak itu adalah tempat ia tertidur, menangis, tempat sembunyi jika ia malu, tempat rusuh jika dia bete. Banyak kenangan antara ia dan pundak itu. Dan pasti ia akan merindukan ini.


Nur menghela napas dalam-dalam. Matanya sudah berembun. Sedikit saja dia mengedipkan matanya, maka air mata tersebut akan terjun bebas tanpa dikomando.


"Terlalu banyak kenangan yang sudah kita lewati. " ucap nur sambil menggenggam tangan aan.


"Tidak terasa juga ya, aku dan kamu sudah dua tahun bersama. "


"Aplaagi tati, aku sudah tiga tahun bersama. Dari pagi berangkat sekolah, sampai pulang sekolah aku bersamanya. Aku tidak membayangkan kalau kita sudah berpisah. " nur melihat aan yang menutup wajahnya dengan kerudung.


"Tidak bersama kalian saat libur sekolah saja, tidak kuat. Apalagi jika berpisah untuk memasuki kehidupan orang dewasa. "


Nur merasakan napas aan tidak teratur. Nur tahu aan pasti menangis sekarang. Untungnya kelas lain tidak ada yang diluar.


Nur mengedipkan matanya dan terbentuklah sungai kecil di pipinya. Dan dengan cepat ia menghapusnya.


Bersumbang...


Hufftt... Aku tidak ingin menulis lengkap cerita bagian ini. Karena sungguh menyakitkan jika di ingat kembali.


See you babay...