
"Sumpah ini jam sebelas malem dan lo ngapain di kamar gueee!!!"
Danielle memejamkan matanya, berusaha untuk tidak melempar gelas yang ada di tangannya. Juro muncul begitu saja dikamarnya. Pria itu bahkan tidur di atas kasurnya tanpa izinnya tanpa meminta izinnya terlebih dahulu.
"Turun gak!"
Seakan tidak peduli dengan peringatan Danielle, Juro malah memeluk guling kesayangan Danielle. "Gak. Kasur lo nyaman parah. Lo tidur di samping gue aja sini," kata Juro dengan santainya menepuk sisi kasur kosong yang berada disampingnya.
Sudah muak bercanda dengan Juro, Danielle menuju lemari baju yang berada di ujung kamar lalu mengambil baju tidurnya dan keluar dari kamar untuk ganti baju. Tidak mungkin juga ia mengganti baju di hadapan makhluk yang berbeda spesies dengannya itu.
Setelah selesai mengganti bajunya, Danielle langsung merebahkan dirinya di atas kasur empuknya. Tentu saja dengan Juro yang berada disebelahnya.
"Wih, gak komplain lagi nih lo," ujar Juro sedikit bingung karena Danielle tidak lagi mengusirnya.
Danielle memejamkan matanya, siap untuk tidur, "Serah lo dah. Gue mau tidur. Cape."
Juro menatap wajah mungil wanita disampingnya ini. Terdapat satu kata terlintas dipikirannya setiap ia melihat wanita ini, aneh. Dirinya yang bukan manusia saja memiliki hasrat atau keinginan, sedangkan wanita ini yang sepenuhnya manusia tidak memiliki keinginan apapun selain kebutuhan primer seperti makan dan tidur.
Ia biasanya dengan mudah melihat isi pemikiran seseorang, namun berbeda dengan Danielle. Isi kepalanya yang hampa membuat ia terkadang sulit untuk membaca pikirannya. Mungkin saja memang Danielle sering tidak memikirkan apapun sehingga pikirannya tidak bisa terbaca.
"Lo kalo lagi diem cantik sumpah." bisik Juro seusai mengamati wajah Danielle.
Danielle yang belum sepenuhnya tertidur hanya mendengus lalu tersenyum malu, "Diem lo."
"Seneng kan lo gue puji. Tapi emang beneran lo cantik dah." goda Juro.
"Diem gak."
"Salting ya lo."
Danielle membuka matanya perlahan lalu mendekatkan jarak antara dirinya dan Juro, "Gue manusia loh. I have problem with controlling myself. Lo gak takut gue apa-apain?" canda Danielle balik menggoda Juro.
"Did i already told you that i also have lust just like you human," bisik Juro yang secara tiba-tiba menimpa tubuh Danielle dengan tubuhnya.
Danielle yang merasa kaget sekaligus sadar akan candaannya yang kelewatan pun mendorong tubuh pria itu kesamping, "Dih, katanya gak nafsuan, gue candain gitu doang langsung mau macem-macem lo sama gue." ujar Danielle berusaha untuk santai walaupun jantungnya berdebar dengan cepat.
Juro hanya menyeringai melihat wajah panik Danielle, "Makanya jangan banyak gaya sama gue, unless you mean it, it's better for you stay away from those word."
Danielle menyerngitkan Dahinya,"What do you mean by'unless i mean it'?"
Juro menaikkan alisnya lalu tersenyum dengan mesum. Danielle yang sadar akan artinya langsung mendorong Juro dari kasur, "Keluar ga lo dari kamar gue!"
Juro tersenyum gemas setelah membuat wanita itu ketakutan, "Bercanda kok gue bercanda," ujarnya lalu kembali naik ke kasur.
"Siapa yang suruh lo naik lagi?"
Juro mendorong Danielle agar kembali ke posisi tidur lalu menyelimutinya, "Maaf yaelah. Gue cuma bercanda kok. Tuh udah jam setengah dua belas, tidur sana tidur."
...
Langit berwarna jingga di sore hari ini membuat Danielle menghentikkan kegiatannya, yakni mengerjakan tugas yang baru saja diberikan oleh dosennya tadi pagi. Ia menatap langit sore sembari menghirup udara segar untuk menjernihkan kepalanya. Kelas yang dimulai dari pagi hingga siang serta tugas kelompok yang tidak kunjung selesai membuat Danielle lebih lelah dari hari biasanya. Belum lagi tadi malam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak karena untuk pertama kalinya ia tidur dengan sesosok makhluk yang berbeda jenis dengannya.
"Dan, yang kemarin itu pacar lo?" tanya Dion yang sebenarnya sudah ingin ditanyakan oleh tiga teman lainnya hanya saja mereka takut dilempar dengan barang yang ada di sekitar oleh Danielle.
Danielle yang baru saja menatap langit dengan tenang beralih menatap Dion dengan tatapan tajam, "Bukan."
Ara menggeser posisi duduknya mendekati Danielle, "Tapi kok manggilnya sayang sih."
Richard melihat sekeliling lalu berbicara dengan suara kecil hampir berbisik, "Iseng kok gue liat dia keluar dari apartemen lo tadi pagi," kata Richard dengan nada ragu dan takut.
Danielle lupa bahwa ia tinggal di apartemen yang sama bahkan lantai yang sama dengan Richard. Richard pasti melihat ia dan Juro keluar dari apartemen miliknya tadi pagi. Ingin rasanya Danielle melempar Juro karena ia memilih untuk keluar melalui pintu daripada menggunakan kekuatan teleportasinya.
"LO TINGGAL BARENG SAMA ITU COWOK?!" tanya Zena terkejut.
Ara membuka mulutnya lebar tidak percaya, "Gila, Dan. Gue kira lo ini manusia paling bermoral di kampus ini tapi lo tinggal bareng sama cowok yang tadi lo bilang pacar juga bukan."
Danielle menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal. Ia bingung bagaimana menjelaskan kepada teman-temannya yang sudah dipastikan tidak akan percaya dengan penjelasannya. Danielle memilih untuk diam dan kembali menatap langit dengan pasrah.
"Friend with benefit gitu, Dan?"
Danielle yang kesal dengan pertanyaan tidak masuk akal itu mengangkat laptop yang ada dihadapannya, "Dion lo nanya sekali lagi gue gampar pake laptop ya!"
"Gue gak bisa jelasin sekarang. Yang jelas bukan pacar apalagi fwb. Awas aja sampe lo ngegosip yang aneh-aneh," ujar Danielle menjelaskan dengan harapan teman-temannya percaya dan tidak menanyakan tentang hal ini lagi padanya.
Hubungannya dengan Juro memang sulit untuk dijelaskan. Manusia dan non manusia? Pengabul permintaan dan orang yang akan dikabulkan permintaanya? Atau mungkin genie dan aladdin lebih mudah dimengerti untuk mereka. Namun, ia akan terdengar seperti orang stres yang sedang menulis novel genre fantasi jika menceritakan tentang hal ini kepada teman-temannya.
"Kita gak bakal judge lo padahal. Kita open minded banget kok anaknya."
"Open minded pala lo gue tendang. Gue belum ngomong apa-apa aja itu si Ara dah bilang gue gak bermoral."
Ara tersenyum kecut, "Hehe gue bercanda anjir. Baperan lo, Dan."
"Mulut lo semua yang kurang ajar, gue yang dikatain baperan." Danielle hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Tapi beneran gak ada apa-apa sumpah gue sama dia. Kalo ada juga gue pasti cerita sama lo semua."
Danielle menyerngitkan alisnya setelah mendengar kalimat terakhir yang ia lontarkan dari bibirnya sendiri. 'Kalo ada'? Danielle langsung memukul kepalanya pelan. Gak bakal ada apa-apa juga jangan ngaco deh mulut lo, Dan, batin Danielle.
"Padahal kalo ada apa-apa juga gue setuju. Ganteng soalnya itu cowok kemarin." ujar Zena yang dibalas dengan anggukan oleh Richard, Ara, dan Dion.
"Dibilangin gak ada ap-"
"Danielle!"
Richard, Ara, Zena, dan Dion berusaha menahan tawa mereka saat melihat ke arah seseorang yang memanggil Danielle. Sedangkan Danielle yang tahu dengan jelas siapa pemilik suara itu hanya tersenyum pasrah. Makhluk berbeda jenis itu memang selalu tahu kapan waktu yang tidak tepat untuk muncul.
Juro secara alami meranggulkan lengannya ke pundak Danielle, "Lo udah selesai nugas belum? Kalo udah, pulang yuk. Kalo belum juga ya pulang aja, lanjut besok. Gak apa-apa kan, ya?" tanya Juro kepada teman-teman Danielle.
"Ehmm... gak apa-apa kok. Udah selesai ini," jawab Zena masih menahan tawanya.
"Danielle udah dijemput ya. Pulang duluan aja, Dan. Gak apa-apa kok kita."
Danielle mendengus kesal mendengar jawaban sarkas Zena dan Richard sembari melepas rangkulan Juro, "Lo ngapain kesini mulu sih?"
"Jemput lo pulang lah. Apalagi?" balas Juro yang dengan santainya kembali merangkul Danielle, namun kali ini pinggul wanita itu yang ia rangkul.
"Jemput pake apa? Lo kendaraan aja gak punya kayaknya. Mau teleport?"
"Gue ada mobil di parkiran. Liat dulu makanya baru marah-marah," Juro mengelus rambut Danielle lembut berharap wanita itu berhenti kesal padanya.
Richard, Ara, Zena, dan Dion yang menyaksikan adegan 'manis' itu tertawa sembari bergidik geli. Danielle yang sadar akan reaksi temannya pun menjauh dari Juro lalu memasukkan barang-barangnya ke tas dan pergi.
Juro hanya tersenyum melihat Danielle yang kesal lalu pergi begitu saja. Ia kemudian pamit dengan teman-teman Danielle dan menyusul wanita itu.