Wishing Upon You

Wishing Upon You
4. The Night is Longer Than The Day



Setelah melewati hari yang cukup panjang, Danielle akhirnya bisa merebahkan diri di kasurnya. Selain jadwal kuliahnya yang cukup padat hari ini, ia juga harus mengurus sebuah acara yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat ia melakukan magang. Belum lagi pertemuannya dengan pria aneh di tempat ia memperbaikki laptopnya. Memikirkan kejadian itu saja membuat setengah dari sisa energi ditubuhnya menghilang. Benar-benar hari yang melelahkan bagi Danielle.


"Udah selesai mandi gini enaknya tidur- Ah **** masih ada tugas," Sontak Danielle langsung terbangun dari kasurnya.


"Malem pun lo masih nugas? Gila sih ambis."


"ANJING!"


Danielle mengumpat sekencang-kencangnya ketika melihat sesosok pria serba hitam sedang berdiri menyender di pintu kamarnya. Danielle menyerngit, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah setelah ia melihat wajah pria tersebut dengan seksama. Pria itu adalah pria aneh yang ia temui di toko servis!


Rasa kaget sekaligus takut menyelimuti Danielle. Munculah berbagai pikiran negatif diotaknya. Bisa saja pria ini sakit hati karena ucapannya tadi siang atau mungkin pria ini sebenarnya seorang stalker yang sudah mengintainya sejak lama. Kemungkinan paling buruk adalah pria ini psikopat yang ingin membunuhnya. 


"Ngapain juga gue bunuh lo. Santai aja santai," ujar pria itu lalu duduk di ujung kasur Danielle.


Danielle yang masih terkejut dengan kehadiran pria aneh itu di rumahnya kembali terkejut saat pria tersebut mengucap kalimat tadi. Seakan-akan pria itu bisa membaca pikirannya.


"Lo kalo diem matung gitu terus gue yakin ga bakal bisa lo ngerjain tugas malam ini," kata pria menyadarkan Danielle.


"Ma-mau lo apa? Uang?" tanya Danielle terbata-bata.


"Nope. You know it." balas pria itu singkat.


Danielle menghela napasnya, "Gue gak tau dan semoga bukan apa yang lagi gue pikirin sekarang. Mending lo bunuh gue aja sekalian kalo gitu," jelas Danielle memberanikan diri.


Jika pria itu tidak ingin hartanya atau nyawanya, sudah dipastikan yang tersisa pada diri Danielle hanya tubuhnya. Danielle menggelengkan kepalanya berharap hal buruk setelah dibunuh itu tidak terjadi padanya. Lebih baik ia mati terbunuh daripada harus menyerahkan tubuhnya pada pria aneh itu.


"Ew. Bukan itu yang gue mau, Danielle. Dan lagi pula gue bukan makhluk rendahan kayak lo manusia yang gak bisa jaga nafsu. I'm on a different level, okay?" ujar pria itu kembali seolah-olah sedang membaca pikiran Danielle.


Pria itu menatap Danielle yang masih mematung, "Your wish. Udah, itu doang."


"Astaga lo gak cape bercanda mulu sama gue? Wash wish wash wish,  segini gabutnya ya lo sampe masuk ke rumah orang tanpa izin? Ini tindakan kriminal tau ga?!" teriak Danielle emosi karena ia kesal dan lelah sepanjang hari terus diganggu oleh pria ini.


Pria itu tersenyum sinis, "Telpon polisi kalo gitu, gue gak peduli. Paling pas polisinya dateng gue ngilang."


"Sumpah lo gak jelas banget tau gak!"


Pria itu menghampiri Danielle yang masih mematung di sudut kamar. Danielle yang sebenarnya merasa takut berusaha untuk melangkah mundur walaupun tubuhnya sudah menempel dengan tembok.


Pria itu mendekatkan wajahnya pada Danielle, "Gue harus gimana biar lo percaya? Gue juga cape harus ngejer-ngejer lo terus."


Danielle memberanikan diri untuk menghadapkan wajahnya ke wajah pria itu. Tatapan pria itu berubah yang sedari tadi menatapnya dengan sinis kini melembut.


Rasa takut Danielle menghilang begitu saja setelah melihat mata pria dihadapannya ini. Aneh memang. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Apalagi dengan pria yang sedari tadi menganggunya dan bahkan menerobos masuk ke rumahnya.


"Lo beneran bisa ngabulin permintaan orang?" tanya Danielle tidak lagi dengan emosi.


Pria itu hanya mengangguk pasrah lalu menjauhkan dirinya dari Danielle.


"Permintaan ya.." Danielle berpikir dengan keras tentang apa yang ia inginkan. Ia tahu ia akan terdengar bodoh untuk mempercayai pria yang katanya 'genie' ni, tetapi apa boleh buat.


"Ah, lo gak bisa sembarang minta permohonan, ada syaratnya. Pertama, lo gak bisa minta untuk wish lo ditambah, permintaan lo cuma bisa dikabulin sekali."


Danielle mengangguk tanda bahwa ia mengerti.


"Kedua, lo gak boleh minta buat matiin atau hidupin orang. Inget, gue pengabul permintaan bukan tuhan." Pria itu melanjutkan kalimatnya setelah melihat Danielle yang mengangguk, "Yang ketiga dan terakhir, lo gak bisa minta gue, pengabul permintaan, buat stay sama lo," ucap pria itu mengakhiri penjelasannya.


"Hah? Maksudnya?" tanya Danielle kebingungan.


"In case you feel 'something' towards me, and you want me to stay with you, sorry but you can't"


Ekspresi wajah Danielle menandakan bahwa ia tidak percaya ,"Sesuatu maksud lo kayak 'suka'? Emang ada orang yang pernah suka sama makhluk non manusia kayak lo?" tanya Danielle penasaran.


"Iya ada makanya dibuat peraturan juga. Tapi lo gak bakal minta permintaan yang terakhir ini kan," tebak pria itu yang tentu saja benar.


"Hmm.. apa aja kan ya. Ya udah, gue pengen kaya tujuh turunan."


Pria itu tertawa pelan mendengar permintaan Danielle, "Kalo cuma itu permintaan lo, daritadi kek gue gak usah cape-cape nyamperin lo kesini," keluh pria itu lalu tiba-tiba menggengam tangan Danielle.


Danielle yang terkejut berusaha melepaskan genggaman pria itu namun pria tersebut jauh lebih kuat darinya, "Gue lagi kerja. Gak usah geer," jelas pria.


Angin berhembus kencang secara tiba-tiba. Seolah-olah ada yang menaruh kipas angin berukuran besar dihadapannya. Ia melihat barang-barang disekitarnya bergetar. Sial. Cowok ini beneran bukan manusia? batin Danielle.


Hush...


Angin kencang itu berhenti. Danielle yang masih merinding tidak percaya hanya bisa mematung. Ia bahkan tidak sadar bahwa pria yang sedang menggengam tangannya itu menatapnya dengan kesal.


"Permintaan lo itu ngasal kan?" tanya pria itu ketus.


"Lah kenapa emang?"


"Gak bisa dikabulin kalau bukan permintaan yang lo bener-bener pengen, harus permintaan dari hati," jelas pria itu yang sebenarnya malas menjelaskan hal ini karena ia sendiri tidak mengerti kenapa syarat ini menjadi syarat wajib untuk bisa dikabulkannya permintaan.


Danielle menatap pria itu tidak percaya, "Dari hati? Ini lo nyalin cerita dari drama mana? Gak usah aneh-aneh deh."


Pria yang sama kesalnya dengan Danielle pun hanya bisa menjawab seadanya, "Bukan gue yang bikin peraturannya. Gue cuma jalanin aja, protes ke yang atas noh jangan ke gue."


"Coba pikir-pikir apa yang lo bener-bener pengenin. Pasti ada kan," lanjut pria itu.


Danielle terdiam. Keinginan. Ia tahu jawabannya. Ia tidak memilki keinganan apa-apa. Sekeras apapun ia menjelajahi pemikirannya, tidak akan ditemukan kata 'keinginan' di otaknya. Danielle sebenernya juga bingung dengan dirinya sendiri, mengapa ia tidak memiliki keinginan seperti orang lain.


Setelah berpikir cukup lama yang sebetulnya tidak menghasilkan pemikiran apapun apalagi permintaan, Danielle memberanikan diri untu bertanya, "Kalau gue gak punya keinginan, lo bakal ngikutin gue terus gitu?"