
"Terus jadinya gimana?" tanya Ara sembari menyerahkan segelas americano dingin kepada Danielle yang sedang menceritakan runtutan kejadian sial yang ia alami kemarin.
"Ke kirim sih, cuma telat sepuluh menitan aja," balas Danielle lalu meneguk americano dingin miliknya, "Untung tugasnya Bu Aurel, coba kalo dosen lain," lanjut Danielle yang sedang menggelengkan kepalanya karena tidak ingin membayangkan dosen lain yang akan menolak tugasnya yang hanya telat sepuluh menit itu.
"Apartemen lo kan mahal. Bisa-bisanya mati listrik," ujar Zena tak percaya.
Danielle hanya tersenyum mendengar perkataan Zena. Ia juga tidak menyangka listrik di apartemennya akan mati selama satu jam lebih yang membuat ia terhambat untuk mengerjakan ulang tugas yang hilang bersama laptop rusaknya.
Zena memasang wajah takjubnya, "Tapi salut gue sama lo sumpah. Kalo gue jadi lo nih ya pasti udah marah-marah gak jelas, mood rusak, terus gue tamparin orang-orang yang lewat depan gue."
"Namanya juga Danielle. Manusia paling sabar, tidak mudah mengeluh, dan tidak pernah banyak menuntut, pokoknya ciri-ciri princess disney deh," ujar Ara yang hanya dibalas dengan tawaan Danielle dan Zena.
Princess disney. Tentu saja para kartun itu memiliki banyak kesamaan dengan Danielle. Kisah hidup mereka selalu di awali dengan kemalangan. Jika melihat ke belakang di kehidupan Danielle, terlalu banyak kejadian-kejadian sial yang menimpanya. Bahkan yang memiliki efek jangka panjang.
Liburan akhir tahun lalu, Danielle harus menetap di bandara karena terkunci di toilet yang ternyata sudah bisa lagi di pakai. Sekitar beberapa bulan yang lalu, Danielle dirampok oleh geng motor yang membuatnya kehilangan barang penting dan juga mengalami cedera di bahunya. Tetapi Danielle tetap tenang dalam situasi-situasi tersebut. Ia hanya menganggapnya angin lalu dan melupakan segala kesialannya. Maka dari itu Danielle memiliki julukan princess disney.
Hanya saja, jika para putri dalam film kartun itu selalu memiliki harapan dan bertemu dengan pangeran untuk memutus tali kemalangan di hidup mereka, Danielle tidak memiliki itu atau bahkan berharap pun tidak. Ia tidak memiliki keinginan apapun dalam kehidupannya. Apa yang didapat langsung diterima oleh Danielle tanpa penolakan sedikit pun.
Danielle menatap langit siang hari yang cerah sejenak lalu kembali ke topik yang berkaitan dengan kejadian kemarin hari, "Tempat servis laptop yang cepet dan terjamin dimana ya? Gak mungkin gue pake komputer terus kan buat nugas."
"Biasanya di Kenanga, tapi jauh sih. Mahal juga lumayan," jawab Zena.
Danielle menolak tawaran Zena dengan menggelengkan kepalanya perlahan, "Kenanga yang tempat aneka elektronik itu? Kejauhan anjir. Males banget gue bolak-balik kesana."
"Di om gue aja. Murah, cepat, terus deket lagi di belakang apartemen lo tokonya," tawar Ara yang tiba-tiba menggunakan nada SPG.
"Beneran nih? Perasaan gak ada tempat servis di daerah gue."
"Ada. Letak tokonya agak tersembunyi gitu. Diluarnya toko barang antik tapi kalo lo masuk ada sekalian tempat servis elektronik kok," jelas Ara.
Danielle menatap Ara dengan wajah bingung, "Hah? Kok jadi toko barang antik,"
"Halah. Ada deh pokoknya. Lo tinggal dateng aja entar gue shareloc."
...
Danielle memperhatikan gedung berwarna cokelat gelap yang berada dihadapannya saat ini. Gedung bertingkat dengan gorden warna hitam menggantung di jendela depan dan dihiasi oleh pernak-pernik berwarna emas ini tidak terlihat seperti tempat servis elektronik melainkan seperti tempat pembaca tarot. Namun, Danielle teringat ucapan Ara bahwa tempat servis milik om nya menyatu dengan toko barang antik. Maka dari itu ia segera masuk ke dalam toko tersebut tanpa ragu-ragu.
Danielle terkejut melihat pemandangan awal toko ini. Barang-barang antik dengan warna-warna mencoloknya menarik perhatian Danielle. Ia bahkan sudah menandakan sebuah barang yang terletak di rak sebelah kanannya yang sepertinya cocok untuk hiasan kamar tidurnya.
"Abis ngasih ini laptop bisa kali ya gue liat-liat bentar," gumam Danielle lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju dalam toko.
"Permisi pak. Saya mau servis laptop," ujar Danielle begitu sampai di ruangan penuh dengan kabel serta benda elektronik. Bagian dari ruangan ini baru terlihat seperti toko servis elektronik.
"Temennya Ara ya, Dek? Sini saya liat dulu laptopnya," balas pemilik toko tersebut.
Danielle menyerahkan laptopnya, "Sempet jatuh terus kena air, Pak. Terus ga bisa nyala deh."
Setelah Danielle menjelaskan permasalahan yang terdapat pada laptopnya, ia diminta untuk menunggu sebentar sembari laptopnya diperiksa. Ia memanfaatkan waktu itu untuk mengelilingi toko barang antik yang tadi ia lewati.
Dengan hati-hati, Danielle mengambil barang-barang yang sudah diincarnya sedari awal ia masuk ke toko ini. Matanya yang cepat menangkap hiasan lucu yang sebenarnya tidak berguna ini mengakibatkan tangannya penuh oleh barang-barang antik yang bergelapan.
Harganya murah juga, so why not? , batin Danielle
Sadar akan butuh bantuan keranjang untuk menaruh barang-barang yang memenuhi tangannya, Danielle melihat sekeliling untuk mencari keranjang.
Bukannya keranjang yang ia temui, melainkan sebuah toples kaca bening dengan desain unik yang langsung menarik tubuh Danielle untuk datang menghampirinya.
"Cantik banget. Bisa nih buat naro permen-permen gue," ujar Danielle sembari mengelap debu dengan menggosok tangannya pada toples tersebut lalu mengorek tasnya untuk mencari tisu untuk membersihkan tangannya.
Dug!
Danielle yang tanpa sadar berjalan mundur saat sedang sibuk mencari tisu di tasnya tidak sengaja menabrak sesuatu dibelakangnya.
"Anjir kaget!" Danielle hampir menjatuhkan toples kaca yang ia pegang dengan satu tangannya karena terkejut dengan kehadiran sesosok pria yang secara tiba-tiba muncul dihadapannya.
Pria itu tersenyum saat Danielle akhirnya membalikkan diri dan menghadapnya. Danielle yang merasa tidak nyaman dengan senyuman dan tatapan pria yang ia tidak kenali itu akhirnya memutuskan untuk mundur menjauh.
Pria itu masih menatapinya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, "Ada apa ya?" tanya Danielle memecahkan keheningan.
"Lo yang panggil gue loh tadi," balas pria itu sembari mendekatkan dirinya pada Danielle.
Danielle mengerutkan alisnya tidak paham, "Hah?"
"Lo yang barusan ngegosok toples itu kan?"
"Iya... terus?"
Pria misterius itu menatap Danielle dengan seksama, "Ya gue keluar dari toples itu gara-gara lo."
Danielle terdiam sejenak. Barang antik, menggosoknya, lalu muncul pria misterius secara tiba-tiba. Ia merasakan sesuatu yang familiar terjadi disini.
"Hah... kayaknya gue tau deh alurnya..."
Pria itu kembali tersenyum, kali ini disertai tawaan kecil, "Iya Aladd-"
"Ah cerita snow white!" potong Danielle.
"Aladdin bego."
"Ah.. iya aladdin, hehe," ujar Danielle polos.
Pria yang sedari tadi menatap Danielle dengan tatapan manis kini berubah menjadi tatapan ingin memaki.
Danielle yang akhirnya tersadar dengan situasi tidak jelas ini menatap pria yang ada dihadapannya ini dengan tatapan bingung, "Kok jadi Aladdin sih? Bercanda ya?"
Pria itu menahan hasratnya untuk mengumpat pada Danielle. Ia kemudian berjalan mengeliling toko tersebut tetapi masih dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari Danielle.
"Tell me your wish," ujar pria itu secara tiba-tiba setelah kembali ke hadapan Danielle.
"Hah?"
"Hah-hah mulu lo dari tadi. Tell me your wish, kasih tau permintaan lo atau apa yang lo mau," jelas pria itu namun kali ini dengan nada tinggi.
Danielle untuk yang kesekian kalinya memasang wajah bingung, "Sorry, Mas. Saya ga ngerti."
"Gak perlu ngerti. Tinggal sebut permintaan lo, beres."
"Aduh gak jelas banget sih. Emang masnya siapa mau ngabulin permintaan saya?" tanya Danielle yang mulai muak dengan orang aneh yang terus mengajaknya bicara ini.
"Gue? Orang yang bisa ngabulin permintaan lo."