Wishing Upon You

Wishing Upon You
5. Like A Cloud Following The Wind



"Kalau gue gak punya keinginan, lo bakal ngikutin gue terus gitu?"


Pria itu menatap Danielle dengan tatapan tidak percaya. Setelah bertahun-tahun berada di bumi ini sebagai pengabul permintaan, baru pertama kali dalam hidupnya ia menemui seseorang yang tidak memiliki keinginan. Manusia adalah makhluk hidup yang dipenuhi dengan hasrat serta keinginan, jadi tidak mungkin wanita dihadapannya ini tidak memiliki keinginan apapun.


"Lo jangan nambah beban gue deh. Gak mungkin lo gak punya keinginan, coba pikir lagi. IP bagus, famous, lulus cepet, langsung kerja abis lulus, atau apapun, pasti ada kan?" tanya pria itu jengkel.


"Gak usah pake permintaannya juga gue bisa ngedapetin semua itu pake usaha gue sendiri," balas Danielle tanpa ada niatan untuk menyombongkan karena ia memang bisa mendapatkan semua hal yang disebut pria itu tanpa bantuan siapapun.


Percakapan dengan Danielle membuat energi pria melanjutkan pekerjaannya itu hilang ditelan bumi. Ia benar-benar ingin menghilang saja daripada harus kembali berbicara dengan Danielle yang ia yakini tidak akan ada habisnya.


"Tugas gue itu ngabulin permintaan lo dan kalo lo gak ngucapin permintaan lo sekarang, bakal gue ikutin lo sampe gue bisa nyelesain tugas gue."


Danielle bergidik ngeri saat mendengar pria itu akan mengikutinya jika ia tidak mengungkapkan permintaannya, lalu muncullah pemikiran kreatif yang berasal dari otaknya, "Kalau gue minta lo buat ga muncul lagi di kehidupan gue lagi gimana?"


Ide kreatif yang dilontarkan Danielle tidaklah buruk untuk dicoba. Dengan sigap, Pria itu menggenggam tangan Danielle, "Bisa tuh. Cepet ucapin dalem hati lo. Inget pake hati."


Pria itu dan Danielle memejamkan kedua mata mereka. Angin kencang kembali berhembus. Badan mungil Danielle hampir terbawa angin apabila tangannya tidak digenggam oleh Pria pengabul permintaan itu.


Dan angin kencang itu pun berhenti. Danielle berharap saat ia membuka matanya, Pria itu akan menghilang untuk selamanya dari pandangannya.


Sayangnya tidak.


Pria itu melepas genggamannya dengan kasar, "Lo sebenernya apa sih?" teriaknya kesal.


"Eh sumpah perasaan gue udah mohon dari hati gue yang paling dalem supaya lo gak ganggu gue lagi. Lo kali yang ngibul. Bukan genie kan lo?"


Pria itu menghela napasnya pasrah. Sudah keberapakalinya di hari ini ia menghela napasnya dengan pasrah. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Danielle lalu menatap mata perempuan itu dalam-dalam. Sedangkan Danielle hanya terdiam mematung saat Pria itu mendekatkan wajahnya untuk yang ke empat kalinya hari ini.


Hampa.


Seperti di tengah-tengah gurun, pikiran Danielle terlihat kosong. Pria itu benar-benar tidak bisa mempercayai apa yang dilihatnya. Manusia ini benar-benar tidak memiliki keinganan apa-apa dipikirannya. Ia bahkan sampai mempertanyakan kemampuan membaca pikirannya sudah memudar atau memang manusia ini saja yang aneh.


"Lo bener-bener gak punya keinginan apa-apa?" tanya pria itu memastikan.


"Yang gue mau sekarang cuma ngerjain tugas dan tidur. I bet you can't grant it," ujar Danielle yang sudah meragukan kemampuan makhluk jadi-jadian dihadapannya.


Benar yang dikatakan Danielle. Makan dan tidur merupakan kewajiban sehingga ia tidak bisa mengabulkan permintaan itu. Danielle bahkan tidak memiliki keinginan agar tugasnya bisa selesai sendiri atau semacamnya. Tidak ada harapan untuk Pria itu mengabulkan permintaannya.


"Gue bakal balik lagi besok. Gue harap lo udah punya keinginan pas gue datengin lo." tegas pria itu lalu menghilang bersama bintang yang gemerlapan di langit malan hari ini.


...


Terik panas matahari di siang bolong ini tidak menghentikan Danielle untuk melanjutkan lamunannya di kursi taman kampusnya. Ia memikirkan kejadian kemarin. Benar-benar seperti mimpi, batinnya. Ia ingin mempercayai bahwa itu hanya mimpi atau halusinasi belaka akibat kelelahan, namun barang-barang di apartemennya yang berantakkan akibat hembusan angin kencang setiap Pria itu mencoba mengabulkan keingannya membuat ia tidak memiliki pilihan selain untuk percaya.


"Lo ngelamunin apa sih, Dan," sahut Richard menyadarkan Danielle dari lamunan tak hentinya.


"Pas kelas juga ini anak satu ngelamun mulu anjir. Untung kagak ditegur Mba Ila." ujar Ara.


"Kalau lo pada dikasih kesempatan buat minta ke genie satu permintaan aja, lo bakal minta apa?" tanya Danielle dengan nada serius namun masih dengan tatapan kosong seolah ia tidak bisa berhenti untuk tidak melamun.


"Stres lo?" ujar Dion yang heran dengan pertanyaan aneh Danielle.


"Jawab aja anjir."


Zena yang sedari tadi sedang menyalin catatan Richard menjawab, "Minta wish nya dibanyakin dong."


Danielle menggeleng, "Kecuali permintaan itu."


"Gue mau kaya."


"Gue juga.


"Gue mau jodoh gue dateng sekarang."


"Kalo gue mau selesai aja dah ini kuliah, cape bat gak kuat."


Danielle memasang wajah tidak tertarik akan jawaban teman-temannya. Permintaan teman-temannya adalah permintaan umum yang akan dipikirkan oleh orang berusia 20 tahunan. Namun hal-hal itu sekalipun tidak pernah terlintas di pikiran Danielle.


"Yaelah jawaban lo semua pasaran bang-"


"Sayang!"


Ya. Pria si pengabul permintaan.


Pria itu menghampiri kursi Danielle lalu duduk disebelahnya, "Jadi makan siang bareng gak?" tanya pria itu sembari merangkul pundak Danielle.


Danielle mengerjapkan matanya bingung. Sadar akan tatapan teman-temannya yang seolah-olah meminta penjelasan padanya, Danielle pun melepaskan rangkulan pria tersebut.


"Hehe. Bukan kok bukan. Gak usah mikir yang aneh-aneh lo pada. Dah ah gue cabut dulu. Bye!" ujar Danielle lalu menarik pria itu menjauh dari teman-temannya.


.


.


.


"Apa-apaan sih lo?" tanya Danielle kesal karena pria itu berhasil membuat teman-temannya salah paham.


"Gak apa-apa. Bercanda aja gue." jawab pria itu santai.


Danielle yang masih kesal memilih untuk melangkah dengan cepat agar tidak berjalan sampingan dengan pria itu.


"Gak usah ngambek gitu dong, Yang. Aku minta maaf deh," canda pria itu yang membuat Danielle mengeluarkan sumpah serapahnya.


"Gak lucu bego."


Danielle yang berjalan terlalu cepat membuat pria itu menarik lengannya sehingga ia bisa berjalan bersampingan dengan Danielle.


"Jan pegang-pegang!" teriak Danielle.


"Gue kan udah bilang, sebelum gue ngabulin satu permintaan lo, secara terpaksa gue harus ngintilin lo terus," Pria itu kembali menjelaskan job desknya, "Dimana pun, kapan pun."


"Serius lo bakal ngikutin gue terus?"


Pria itu hanya mengangguk pelan. Danielle yang pasrah hanya bisa menerima keadannya dan berusaha untuk menciptakan sebuah keinginan diotaknya.


Danielle dan pria itu duduk di sebuah kursi yang berada di minimarket sekitar kampus. Danielle sibuk meniup kopi panasnya dan pria itu hanya menatap Danielle tanpa melakukan apapun. Tidak ada seorang pun yang membuka topik pembicaraan. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan kampus yang sedang bertengkar jika orang lain melihat mereka secara sekilas.


"Nama lo siapa?" tanya Danielle yang akhirnya membuka topik pembicaraan.


"Gak penting." balas pria itu singkat.


"Penting. Entar kalo gue mau manggil lo masa pake 'Oy', gak enak banget."


"Aduh udah ada niatan manggil gue ya lo. Panggil babe juga boleh, hehe."


Danielle melempar plastik bekas cemilan yang ia makan tadi ke wajah pria itu sedangkan pria itu hanya terkekeh sembari menangkisnya dengan santai.


"Juro." Pria itu akhirnya menjawab pertanyaan Danielle.


"Juro?" tanya Danielle memastikan.


"Ya, dan gak semua pengabul permintaan namanya Juro. Kita kayak manusia aja nama-namanya beda." jelas pria yang ternyata bernama Juro itu.


Danielle hanya mangut-mangut mendengar penjelasan Juro, "Baru gue mau nanya udah dijawab aja. Bisa baca pikiran ya lo?"


Juro hanya mengangguk membenarkan.


"Juro...hmm...orang Jepang?" tanya Danielle.


"Do i look like a japanese to you?" ujar Juro membalikkan pertanyaan karena sudah muak dengan pertanyaan aneh Danielle.


"Hmm... gak sih... muka lo lebih ke Asia Timur..."


Jika menyakiti manusia tidak dilarang, mungkin wajah perempuan dihadapannya ini sudah melepuh karena ia siram dengan kopi. "Jepang di Asia Timur bego. Aduh orang kayak lo kok bisa sih diterima di kampus bagus kayak gini," ujar Juro emosi.


Danielle tertawa puas melihat Juro yang sudah siap untuk melempar ia dengan kopi saking kesalnya.


"Yaelah bercanda doang kali. Gak usah ngatain juga," Entah mengapa nada santai yang dilontarkan oleh Danielle membuat Juro makin kesal.


"Gak lagi deh gue bercandain lo. Ampun-ampun dah ah." ujar Juro pasrah lalu menghilang dari hadapan Danielle.