
"Mohon maaf, Kak, untuk bulan ini beasiswa dihentikan sementara."
"Dihentikan? Kenapa ya, Mba? Saya sudah semua memenuhi syarat kok, nilai saya juga masih di atas syarat yang ditentukan walaupun ada penurunan sedikit dari semester lalu."
"Maaf banget, Kak, dari yayasannya diberi tahu untuk memberhentikan semua beasiswa pada semester ini. Untuk penjelasan lebih lanjutnya belum bisa kami beri tahu, sekali lagi minta maaf kak."
Danielle menggaruk kepalanya, tanda bahwa ia bingung. Tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba ia kehilangan biaya untuk kuliahnya begitu saja tanpa penjelasan. Namun, tidak ada yang bisa ia perbuat. Danielle meninggalkan meja information center yang sebenarnya tidak terlalu berguna karena tidak memberikan informasi apapun baginya.
Danielle memutuskan untuk menelpon Ayahnya setelah kurang lebih dua puluh menit lebih memikirkan bagaimana caranya ia memberi tahu kepada orang tuanya bahwa beasiswanya baru saja dihentikan dan ia tidak punya uang sama sekali untuk membayar biaya semester ini.
"Halo, Yah," sapa Danielle setelah Ayahnya mengangkat telepon.
"There's problem, isn'it?" tanya Ayah Danielle tanpa basa-basi.
Danielle hanya terkekeh pelan mendengar ucapan sang Ayah yang bahkan tidak menyapa salamnya, "Iya. Ada. Makanya Dan nelpon juga, hehe."
"Beasiswa Dan diberhentiin sementara. Alasannya gak tau apa, tiba-tiba aja." ujar Danielle sedikit tegang walaupun sebenarnya tidak ada yang harus ia takutkan.
"Oh..ya udah, Ayah transferin aja uang kuliah kamu semester ini," balas Ayah Danielle santai tanpa menanyakan kembali soal beasiswa lalu melanjutkan perkataannya, "Sekalian uang jajan kamu aja kali ya, mau berapa, Dan?"
"Gak usah, Yah, masih ada kok sisa bulan kemarin. Gak Dan pake juga."
Ayah Danielle menghela napas seakan sudah tahu reaksi anak semata wayangnya, "Dan, Ayahmu general manager di perusahaan yang lumayan besar loh, gak kekurangan uang sama sekali. Kalau kamu mau minta, minta aja Dan. Gak ada yang maksa kamu buat ikutan beasiswa juga, jangan maksain, Dan."
"Iya-iya tahu bapak manajer. Entar kalau Dan butuh uang pasti langsung nelpon Ayah atau Mama kok. Udah ya, Yah, aku matiin teleponnya. Makasih juga. Bye Yah!" balas Danielle sebelum mematikan teleponnya.
Danielle teringat ucapan announcer di acara berita tadi pagi yang mengatakan bahwa hari ini akan hujan setelah ia melihat langit yang mulai mendung. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha untuk mempercepat langkah karena takut kehujanan. Lagipula ia tidak membawa payung dan sedang menggunakan tas kain yang terdapat laptop dan berkas penting didalamnya.
Tik-tik-tik
"Sialan. Hujannya nanti aja bisa ga sih anjir," batin Danielle saat rintik hujan mulai turun membasahi kepalanya.
Orang-orang di sekeliling Danielle mulai berlarian. Ada yang menepi di gedung terdekat, ada yang membuka payungnya, ada pula yang bersantai karena mereka sedang berada di dalam kendaraan beroda empat masing-masing. Danielle yang tidak memiliki niatan untuk menepi di gedung dan juga tidak memiliki payung maupun kendaraan, memutuskan untuk berlari melawan hujan.
Hujan mulai deras. Pandangan Danielle yang sudah buruk karena ia tidak menggunakan kacamatanya -yang kebetulan rusak akibat tidak sengaja diinjak oleh Ardin, sepupunya- menjadi makin buruk karena derasnya curah hujan yang turun sore ini. Namun, Danielle tidak peduli karena ia harus segera sampai di tempat tujuannya dan demi mengamankan tas kain beserta isinya.
Bruk!
Seperti yang sudah diekspektasikan oleh seseorang yang berusaha menerobos derasnya hujan dengan kemampuan melihat yang jauh di bawah rata-rata mata normal, Danielle terjatuh akibat tersenggol pengemudi sepeda yang sama buru-burunya dengannya.
"Aduh.." ujar Danielle sembari meringis memegangi lengannya yang terbentur aspal.
Danielle melihat ke arah pengemudi sepeda itu lalu mencari tasnya yang terlepas dari genggamannya. Betapa terkejutnya Danielle melihat tas berbahan kain tersebut sobek dan laptop beserta berkas-berkas pentingnya terlempar ke dalam kubangan berisi air hujan.
"A-aduh itu.. lap- anjing lah."
Danielle menghela napasnya sebelum bangkit lalu mengambil laptop serta berkas-berkas yang setengahnya sudah basah. Perasaan dirinya mengatakan hujan tidak sampai lima menit tapi bagaimana kubangan itu telah terisi penuh oleh air hujan dan bisa berada tepat di dekat tempat ia terjatuh.
Karena keadaannya saat ini -baju kotor dan basah, tas robek, laptop yang kemungkinan rusak terkena air, dan berkas-berkas pentingnya yang sudah berbentuk bubur- tidak memungkinkan untuk ia melanjutkan rencana awalnya yakni pergi ke cafe milik Ara, tempat tujuannya setelah pergi ke information center. Danielle akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemennya untuk beristirahat setelah mengalami hari yang penuh kesialan ini.
...
"Tinggal kirim tugas, baru gue bisa tidur dengan tenang."
Danielle membuka laptopnya dan menekan tombol power. Layar laptop yang seharusnya menyala dalam hitungan detik itu masih menghitam. Gadis itu memiringkan kepalanya kebingungan sembari terus menekan tombol yang sama. Ia juga mencoba untuk mengecas laptopnya yang kunjung tidak menyala itu.
"Ini kenapa sih?" tanya Danielle kepada entah siapa karena hanya ada dirinya sendiri di apartemennya itu.
Gadis itu menghela napasnya dengan pasrah. "Beneran rusak dong ini laptop," ucap Danielle masih dengan nada yang cukup tenang. Tidak ada rasa panik sekalipun dalam nada ucapannya.
Danielle berusaha menyalakan laptopnya dengan menekan tombol power berkali-kali namun hasilnya nihil. Laptopnya tetap tidak ingin menyala. Padahal ia memiliki tugas yang harus ia kirim malam ini. Danielle menghela napasnya dengan pasrah untuk kesekian kalinya hari ini. Dengan tenang, ia beranjak dari laptop rusaknya menuju komputer yang berada di ujung ruangan kamarnya.
"Untung gue pinter, bisa inget semua ni essay. Coba kalo goblok, mati aja udah gak bakal ke kumpul nih tugas besok," ucap Danielle kepada dirinya sendiri sebagai penyemangat.
Untung saja Danielle bukan tipe orang yang mudah mengeluh jika hal buruk terjadi padanya. Lebih tepatnya, ia tenang dengan segala keadaan. Selama masih ada waktu untuk mengerjakan, ia bisa menyelesaikan semuanya tugasnya dengan sempurna seperti sedia kala.
Namun tentu saja jika takdir tidak mengizinkan ia untuk menyelesaikan tugas tersebut, apa boleh buat?
Jleb!
Semua gelap. Listrik yang kurang lebih selama dua tahun ia tinggal di apartemen ini tidak pernah mati tiba-tiba kehabisan masa jayanya. Iya, listrik mati ini berartikan komputer yang sedang digunakan Danielle untuk mengerjakan tugas yang deadlinenya dua jam lagi pun ikut mati.
Danielle tertawa. Tentu saja bukan tawa bahagia melainkan tawa tidak percaya bahwa kesialannya hari ini belum berakhir juga.
"****."