Vulnerable.

Vulnerable.
Hari pertama di kos.



Pagi ini Namira terbangun pukul 10.00 pagi. Suara bising di luar membangunkannya. Niatnya ia ingin keluar untuk mengecek, tapi dia urungkan. Namira memilih untuk mandi terlebih dahulu. Kemarin, setelah membereskan pakaian-pakaiannya, Namira langsung ketiduran dan baru bangun pagi ini. Jadi terakhir ia membersihkan diri adalah kemarin pagi. Ia tidak mau penghuni kos lain terganggu karena mencium aroma badannya yang kurang sedap. Jadi, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.


Setiap kamar di kos ini terdapat kamar mandi masing-masing. Namira bersyukur karena tidak perlu keluar kamar dengan tampilan buruk rupa seperti saat ini.


Namira mengambil beberapa baju untuk ia kenakan di dalam kamar mandi nanti. Sabun dan perlengkapan lainnya sudah Namira rapihkan semalem. Ia keluar sebentar untuk mengecek apakah pintu kosnya sudah terkunci apa belum. Jaga-jaga. Setelah memastikan bahwa pintu itu telah terkunci, Namira masuk ke dalam kamar mandi, tidak lupa juga ia mengunci pintu kamar mandi, kemudian memulai ritual mandinya. Di luar masih terdengar sangat ramai. Salah satu dari suara itu ada suara yang Namira kenali, Amara. Gadis itu entah berbicara apa, Namira tidak mendengar jelas. Tapi, suaranya tinggi dan memekik. Hal-hal seperti ini pasti akan ia lewati selama tinggal di kos ini.


...***...


Namira membuka pintu kamar kosnya. Suara bising masih terdengar meski tak sekencang tadi. Ia mendengar sayup-sayup suara orang yang tengah bercakap-cakap di lantai bawah, sepertinya ada seseorang yang tengah mengobrol di ruang tengah kos-kosan itu.


Namira menuruni anak tangga, dari anak tangga pertama Namira bisa melihat ada beberapa penghuni kos yang tampak tidak familiar baginya. Mungkin mereka penghuni kos yang baru saja kembali dari rumah orang tua masing-masing. Ada tiga orang lelaki dan satu orang perempuan yang Namira belum kenal, mereka bertujuh duduk membuat lingkaran di karpet bulu depan ruang televisi. Semuanya terlihat pandai bercakap-cakap. Bahkan, Amara yang masih penghuni baru sama seperti dirinya, sudah bisa berbaur dengan keempat penghuni yang baru Namira lihat. Namira sadar kekurangannya dalam bersosialisasi sangatlah kurang.


Amara menyadari keberadaan Namira, gadis itu sontak berteriak memanggil Namira dan mengajaknya untuk bergabung ke dalam lingkaran seru itu. Keempat penghuni kos lama juga ikut melambaikan tangan, mengajak Namira agar bergabung bersama mereka. Awalnya ia berniat untuk menggeleng, menolak. Namun, tidak jadi ia lakukan. Namira memutuskan untuk menghadapi meski dirinyalah yang paling kaku dan tidak asik diantara orang-orang.


Gadis itu sudah bergabung bersama, duduk diantara Amara dan Kalingga. Jujur saja ia gugup karena melihat keempat penghuni lama tersenyum terus menerus kepadanya. Ia hanya bisa membalas senyuman itu dengan sedikit menundukkan kepala dan senyum kikuk.


"Namira, ya?" lelaki berkulit putih dan berhidung mancung seperti pinokio bertanya lebih dulu.


Namira mengangguk membenarkan.


"Amara udah cerita tentang lo daritadi. Sebenernya pas jam delapan tadi kita mau datengin kamar lo, buat sekedar nyapa aja si, tapi Amara ngasih tau kalo lo masih tidur." Namira melemparkan pandangan, kali ini lelaki di sebelah Rakas yang berbicara. Namira sempat bingung melihat wajah lelaki itu mirip dengan wajah lelaki yang ada di sebelahnya. Tapi, setelah menyadari Namira hanya membatin. Ohh kembar, pikirnya.


"Iya tadi baru bangun jam sepuluh."


"Masih kikuk, ya? Gak papa kok kita semua gak ada yang galak, paling cuma emang ada beberapa bocah yang iseng aja," kata perempuan yang duduk di sebelah si kembar.


"Bocah siapa? kita udah legal semua!" Protes Rakas. Wajahnya kesal karena dia tahu kata bocah itu ditujukan untuk dirinya. Rakas memang yang paling muda diantara penghuni lama. Makanya perempuan tadi menganggap Rakas sebagai bocah.


"Berisik lu Rakas," Sahut Amara.


"Apaan si. Lo tuh gak diajak," balas Rakas tak kalah sewot.


Disela-sela perdebatan mereka, Namira tidak menyadari bahwa sejak tadi pandangan Kalingga tidak lepas darinya. Lelaki itu tersadar setelah si kembar terbatuk-batuk, menggoda Kalingga.


"Kenalan dulu lah, Namira emang udah tau nama kita-kita siapa?"


Namira menggeleng.


"Nama gue Abay." ujar lelaki yang hidungnya mirip seperti pinokio.


"Gue Abel," kata salah satu lelaki kembar yang badannya sedikit lebih besar daripada kembaran yang satunya. Namira yakin bahwa Abel pasti Adik. "Gue Abil."


Namira mengangguk lagi.


"Tau gak siapa yang Adek dan siapa yang Kakak?" Kalingga bertanya untuk pertama kalinya.


Namira menunjuk Abel sebagai tanda bahwa dia lah yang Adik. Baru setelah itu ia menunjuk Abil sebagai Kakaknya. Mereka bersorak ramai karena tebakan Namira benar. Rakas dan Amara mengaga takjub.


"Keren banget bisa tau." ujar Abay. Disusul dengan acungan jempol Kirani. Namira tidak mengerti kenapa mereka seheboh ini hanya karena dia bisa menebak siapa yang Adik dan siapa yang Kakak diantara dua anak kembar. Padahal, menurutnya itu suatu hal yang biasa saja. Karena kebanyakan anak kembar, yang Namira tahu, ukuran tubuh Adik lebih besar daripada Kakak. Ia banyak menjumpai di beberapa cerita novel yang Namira baca.


"Kok bisa tau?"


Namira melirik Rakas sekilas, "Biasanya tubuh Adik lebih besari daripada Kakaknya, soalnya gue sama Adik gue juga gitu. Dibuku novel yang gue baca juga kebanyakan begitu kok."


"Lo suka baca?" Kirani bertanya.


"Wah jangan ditanya, Kak. Lo coba masuk aja ke kamarnya, buku-buku udah berbaris rapih di meja belajarnya. Kemarin pas dateng ada kali dia bawa dua kerdus gede dan isinya semuanya buku." Amara menjelaskan dengan nada tak santainya. Seperti biasa. Amara akan selalu menjadi Amara.


"Eh keren banget! Gue baca jurnal kuliah satu baris aja udah masuk ke dunia mimpi," kata Abay takjub kepada Namira.


"Kirain dunia goib." Timpal Abel santai. Hampir seluruh orang yang ada di lingkaran itu tertawa karena ucapannya yang terang-terangan. Ditambah wajahnya tidak ada rasa bersalah sedikitpun.


"Sialan."


Mereka tertawa lagi setelah melihat respon Abay yang kesal.


"Lo jangan kaget, Ra. Di sini emang yang paling judes dan hobi ngeroasting si Abel." Abil memberitahu. Lantas penghuni kos yang lainnya mengangguk serentak, membenarkan. Abel berdecih karena merasa dipojokkan. "Gue terus."


"Emang elu Bel. Lu tuh paling nyebelin diantara kita-kita, tapi juga paling berguna. Jadi kita pada gak bisa marah kalo diroasting sama lo." ujar Rakas.


Setelah itu mereka mulai sahut menyahut. Satu persatu dari mereka mulai membeberkan perasaan kesal kepada Abel sejak dulu. Amara pun ikut-ikutan menyudutkan Abel, padahal gadis itu belum pernah berbicara pada Abel sebelumnya. Memang aneh.


Baru beberapa menit Namira bergabung, ia sudah bisa merasakan betapa kompaknya semua penghuni kos di sini. Dari cara mereka ngobrol hingga ribut satu sama lain benar-benar menandakan bahwa mereka memang sudah sedekat itu. Sudah seperti keluarga kedua. Namira tidak suka dikeramaian, tapi kalau bersama mereka berbeda. Namira merasa nyaman meski masih canggung untuk ikut bergurau bersama.


Hari itu Namira merasa bersyukur karena bisa mendapatkan teman-teman yang kompak dan ramah. Mungkin ini salah satu rencana Tuhan untuknya. Ia mungkin kehilangan keluarga yang sangat disayanginya. Tapi Tuhan menggantinya dengan teman-teman barunya ini.


Ia membatin dan mengucapkan, "Terima kasih, Tuhan."