Vulnerable.

Vulnerable.
D-day.



Hari ini akan jadi hari yang panjang untuk Namira, sebab hari ini adalah jadwal pindahan ke kos baru. Lumayan banyak barang-barang yang hendak Namira bawa. Seperti buku-buku, kulkas mini yang akan ia gunakan untuk menyimpan beberapa makanan dan air mineral, serta beberapa koper berisi baju-baju Namira. Di kos yang hendak Namira tempati sudah ada kasur beserta ranjang tempat tidur, lemari baju yang ukurannya lumayan besar (cukup untuk baju-baju Namira). Oh, Namira juga membawa beberapa alat masak seperti teflon, wajan, teko, botol minum, dan beberapa gelas. Sengaja ia membawa itu semua karena yang Namira tahu isi penghuni kos di sana mayoritas lelaki. Namira kurang nyaman kalau harus meminjam dan memakai barang yang sama barengan. Namira memang sangat pemilih.


Pak Suri membantu mengangkut barang-barang besar, Namira kesulitan membawanya karena ada beberapa barang berat. Meskipun Pak Suri sudah tidak muda lagi, beliau masih kuat mengangkat dua koper besar sekaligus.


Mbok Ti membantu Namira menata peralatan dapur lalu menaruhnya di kursi tengah mobil. Iya, Namira memang menggunakan mobil pribadinya sendiri untuk mengangkut barang-barang. Menurutnya selain praktis, barang yang hendak ia bawa juga barang-barang yang biasa saja, tidak seperti barang-barang besar kalau orang mau pindahan rumah.


Selang beberapa waktu, mereka bertiga telah selesai menyusun barang-barang ke dalam mobil dengan rapih. Lantas Namira bergegas berpamitan kepada Mbok Ti dan Pak Suri. Ia berterima kasih kepada dua orang tua ini karena selama satu minggu tlah membantu banyak. Meskipun Mbok Ti sudah melarang Namira untuk terus-terusan mengucap kata terima kasih, Namira tetap melakukannya, sehingga Mbok Ti dan Pak Suri tersenyum penuh haru. Mereka berdua sudah menganggap Namira seperti anak sendiri, jadi wajar saja kalau mereka terharu.


"Ra sering-sering dateng ke sini ya." Ujar Mbok Ti lirih. Wajahnya murung, sedih. "Iya, kamu harus sering-sering main ke sini. Rumah ini kebesaran kalau cuma dihuni sama Bapak dan Ibu." Pak Suri menimpali.


Namira mengangguk. "Aku berangkat, ya. Maaf kalo satu minggu ini aku ngerepotin."


"Yo ndak kata siapa kamu ngerepotin. Mbok sama Bapak malah seneng kalau direpotin sama kamu." Mbok Ti meraih lengan Namira. "Belajar yang bener ya, Mbok sama Bapak do'ain semoga Ra sukses, bisa gapai cita-cita. Aamiin."


"Aamiin."


"Aamiin."


Kemudian Namira masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin mobil, setelah itu mobil mulai melaju meninggalkan area pekarangan rumah.


...***...


Namira menatap Amara tak percaya karena melihat bawaan gadis itu yang benar-benar seperti sedang pindah rumah. Semua barang ada. Dua lelaki yang beberapa hari lalu memberikan kunci kamarpun menatap tak percaya Amara, Kalingga dan Rakas menggeleng kepala serentak, heran.


"Ini lo diusir apa gimana?" Rakas bertanya. "Gak sekalian lo bawa rumah-rumahnya.


"Ini tuh udah sedikit tau!"


"Ibu Tiwi gak bakal ngebolehin lo bawa barang sebanyak ini."


"Kata siapa?"


"Kata gue, Rakas."


Amara menyeringai, "Tapi sama Bu Tiwinya gak papa tuh." ujar Amara puas sebelum akhirnya ia berlalu keluar untuk mengecek beberapa barang bawaannya yang masih berada di mobil pick up.


Kali ini Namira, Kalingga, juga Rakas menggeleng serentak. Sudah bisa dipastikan kos akan ramai sekali dengan adanya beberapa bangku yang Amara bawa. Namira juga tak mengerti kenapa gadis itu membawa bangku kayu yang biasa disukai oleh Ibu-ibu penyuka furniture. Ia curiga kalau Amara benar-benar diusir dari rumahnya.


Merasa bawaanya juga lumayan banyak dan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menatanya, Namira memutuskan keluar juga menunu mobilnya. Tersisa beberapa kardus berisi buku saja karena koper-kopernya sudah dibawa Kalingga dan juga Rakas tadi. Kebetulan pada saat Namira tiba mereka sedang berada di halaman depan, berdebat dengan Amara karena membawa barang kebanyakan. Ia mengambil satu kardus berisi buku-buku, lalu membawa kardus itu ke dalam. Namira sedikit tertawa karena melihat Rakas dan Amara yang melanjutkan sesi debat yang sempat tertunda tadi. Mereka berdua kelihatan cepat bergaul.


Sampai di mana Namira melewati Kalingga, lelaki itu tengah berdiri di tempat mereka berdiri tadi, menatap Namira yang tengah membawa satu kardus besar dan berat. "Mau dibantuin?"


Lantas Namira menggeleng. Ia masih bisa membawa sendiri kalau hanya kardus berisi buku-buku saja. Tidak berat. Jadi Namira menggeleng pelan untuk memberi penolakan. Keduanya tampak canggung. Namira memang tidak pandai memulai obrolan, ia tidak bisa mengajak obrol seseorang secara duluan kalau tidak mendesak. Kebiasaan yang patut diubah.


Selepas menolak tawaran dari Kalingga, Namira menaiki anak tangga. Kamarnya berada di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Kalingga dan juga Amara. Di lantai dua ada tiga kamar dan di lantai tiga terdapat empat kamar, sedangkan di bawah hanya ada satu kamar. Masing-masing kamar sudah berpenghuni, tapi seperti yang dibilang Kalingga dan Rakas, mereka semua tengah pulang ke rumah masing-masing karena perkuliahan belum dimulai.


Namira membuka pintu kamarnya. Aroma ruangan kamar itu kurang mengenakan. Mungkin karena sudah lama tidak ada yang menempati, jadinya lembab. Namun, Namira tidak mempermasalahkan hal itu, dikasih pengharum ruangan juga nanti wangi. Lantas ia bergegas masuk, menaruh kardus berukuran besar ke atas bangku, lalu mulai mengeluarkan buku-bukunya. Sementara ini ia akan menata buku-buku miliknya di atas meja belajar yang memang sudah disediakan. Namira beryukur karena ia tidak perlu membeli rak-rak buku lagi. Dirinya mulai menatap sedikit demi sedikit sampai buku terakhir. Dengan cepat kardus itu sudah kosong. Semua buku sudah tertata rapih di atas meja, terlihat apik dan cantik. Namira selalu merasa senang kalau membereskan buku-bukunya. Wangi dari buku lama dan buku barunya tercampur. Dan Namira suka itu. Tidak ada yang bisa mengalahkan aroma wangi buku, terlebih kalau itu buku-buku lama. Wanginya khas.


Selesai dengan buku, Namira beralih ke dua koper miliknya, kemudian menghela napas panjang. Menyusun buku dan menyusun pakaian adalah dua hal yang sama. Sama-sama menyusun. Sama-sama merapihkan. Sama-sama menata. Namun, Namira jauh lebih malas ketika sedang menyusun pakaian, ia lebih suka menyusun ratusan buku daripada harus menyusun satu koper pakaian. Entah kenapa, tapi baginya menyusun pakaian adalah suatu hal yang paling membosankan. Rasa-rasanya ia tidak ingin mengeluarkan pakaian-pakain itu, biarkan saja mereka di dalam koper. Tapi, Namira berpikir lagi, kalau pakaian-pakaian itu berdiam saja di dalam koper, akan menyulitkan dirinya sendiri karena nanti susah kalau mau mencari baju atau barang lain yang ia butuhkan. Lagi-lagi ia menghela napas panjang. Kenapa hidup selalu harus memilih. Namira tidak suka memilih.


Dengan kemalasan yang teramat sangat Namira membuka tiga koper miliknya. Di bawah masih terdengar debatan-debatan Rakas dan Amara. Ia mulai menyusun sedikit demi sedikit pakaian-pakaiannya ke dalam lemari. Tidak banyak memang. Tapi, tetap saja malas.


Namira hanya berharap kegiatan menyebalkan ini cepat usai. Ia ingin tidur siang.